
Hari ini Tian di periksa di kantor polisi terdekat untuk di mintai keterangan. Berdasarkan saksi dan bukti bukti yang ada, memang Tian lah yang bertanggung jawab atas semua itu. Entah darimana bukti bukti itu berasal, Tian pun tidak tahu soal itu.
" Dengan terpaksa anda kami tahan Tuan."
Yeshi memejamkan matanya menahan sesak di dadanya. Ia tidak tega melihat Tian yang hanya pasrah dan diam saja.
" Selama sidang belum berlangsung, anda bisa mencari bukti untuk menyangkal tuduhan ini Nona Yeshi." Ucap polisi.
" Baik Pak, saya mohon jangan sakiti suami saya selama dia berada di sini. Saya akan segera memberikan bukti itu kepada anda." Sahut Yeshi.
" Anda tidak perlu khawatir Nona."
Yeshi menatap Tian dengan mata berkaca kaca.
" Jangan menangis sayang! Mas tidak rela air matamu menetes karena masalah ini. Hiduplah dengan baik selama Mas tidak bisa mendampingimu. Mas minta maaf karena Mas telah mencemarkan nama baik keluargamu." Ucap Tian.
Yeshi mendongak menatap atas sambil terus menahan air matanya agar tidak menetes di pipinya. Ia harus terlihat kuat demi memberikan kekuatan pada suaminya.
" Aku tidak akan menangis karena hal ini Mas. Aku akan mengumpulkan bukti jika kau tidak bersalah. Aku akan selalu mendukungmu apapun yang terjadi. Kita harus membuktikan dan menunjukkan bagaimana kekuatan cinta kita kepada orang itu. Kita tidak boleh lemah dalam hal ini Mas. Mari kita berjuang bersama sama." Ujar Yeshi menggenggam tangan Tian.
" Iya sayang." Sahut Tian.
" Mari Tuan!"
Polisi membawa Tian ke dalam tahanan. Yeshi menatap Tian dengan perasaan sedihnya. Ingin sekali ia menjerit meminta polisi untuk tidak menahannya, tapi ia harus kuat.
Setelah Tian hilang dalam pandangan, Yeshi segera keluar dari sana. Dengan setia Rena selalu menemaninya.
" Yeshi kamu mau kemana?" Tanya Rean menatap Yeshi.
" Aku butuh waktu sendiri Yan, jangan tanyakan apapun saat ini!" Sahut Yeshi masuk ke dalam mobil.
" Baiklah." Rean menatap kepergian Yeshi dengan perasaan cemas.
Yeshi melajukan mobilnya menuju rumah ketua tiger. Seorang pria yang menjadi pimpinan tiger intelegent. Seorang pria yang Yeshi yakini bisa mengumpulkan bukti bukti nyata kebenaran yang ada. Pria itu bernama Yoshep.
Sampai di rumah Yoseph, Yeshi segera turun dari mobil. Ia masuk ke dalam rumah Yoseph di sambut oleh pelayan.
" Dimana tuanmu?" Tanya Yeshi.
" Tuan Yoseph ada di ruang kerjanya, mari saya antar Nona." Ucapnya.
Yeshi mengikuti pelayan itu menuju ruang kerja Yoseph.
Ceklek...
" Silahkan Nona!"
" Terima kasih." Sahut Yeshi.
Yeshi masuk ke dalam menghampiri Yoseph yang sedang fokus pada laptopnya.
" Selamat datang adikku tersayang, sudah lama sekali kita tidak berjumpa. Aku sangat merindukanmu." Ucap Yoseph tanpa mengalihkan pandangannya.
Yoshep Andalas, seseorang yang dekat dengan kedua orang tua Yeshi. Ia berumur sepuluh tahun lebih tua dari Yeshi. Namun otaknya sangat genius. Hanya Yeshi yang tahu keberadaannya, bahkan tuan Reno tidak mengenal Yoshep.
" Tapi sayangnya aku tidak merindukanmu Kak." Sahut Yeshi duduk di sofa.
" Aku tidak menyangka kita bertemu setelah sekian lama, sekarang kau sudah dewasa. Terakhir bertemu kamu masih sangat kecil. Bahkan kamu masih suka minta gendong saat itu. Apa sekarang kau juga mau minta gendong?" Goda Yoseph.
" Diam kau Kak! Sekarang berikan yang aku minta. Siapa dalang di balik semua ini?" Ucap Yeshi.
" Kau akan terkejut Yeshi jika mengetahui siapa dalang di balik semua ini. Aku tidak akan memberitahumu tapi aku akan memberitahu siapa yang terlibat dengan masalah yang menimpa suamimu saat ini. Kau bisa cari tahu dalangnya lewat orang itu." Ujar Yoseph menatap Yeshi.
" Kenapa harus memberitahuku melalui teka teki Kak? Harusnya langsung kau katakan saja, biar semuanya jelas. Aku tidak punya waktu sebanyak itu untuk menjawab teka teki itu Kak. Aku mohon katakan saja siapa orangnya maka aku akan langsung menemuinya dan meminta pertanggung jawaban kepadanya." Ujar Yeshi.
" Tidak Yeshi, aku tidak mau membuatmu terluka karena kenyataan ini. Lebih baik kau mendengarnya dari mulut orang lain." Ucap Yoseph.
" Arnold."
" Arnold?" Yeshi mengerutkan keningnya.
" Ya." Sahut Yoseph.
" Jika aku harus bertanya pada Arnold, berarti ada seseorang di balik Arnold." Yeshi nampak sedang berpikir. Ia kembali menatap Yoshep.
" Siapa kira kira orang itu Kak? Cepat katakan! Apa aku mengenalnya? Apa dia orang terdekatku? Atau aku sama sekali tidak mengenalinya?" Tanya Yeshi.
" Sudah aku katakan, tanyakan saja pada Arnold. Dia akan memberitahumu segalanya." Ujar Yoshep.
" Bagaimana kalau dia tidak mau mengatakannya? Atau dia mau memberitahuku tapi dengan syarat? Apa yang harus aku lakukan kak?" Yeshi kembali bertanya.
" Aku sudah memegang semua bukti jika Tian tidak bersalah, kau hanya perlu tahu siapa dalang di balik semua ini. Sebenarnya pengakuan Arnold tidak berarti apa apa, biar kau tahun saja siapa orang yang telah mengirim suamimu ke penjara. Aku akan menyerahkan bukti bukti itu kepadamu jika kau sudah tahu siapa orang itu. Jadi sekarang lebih baik kau temui Arnold!" Ujar Yoshep.
" Baiklah aku akan menemui Arnold sekarang juga, terima kasih telah membantuku Kak. Aku percaya padamu jika kau pasti akan memberikan bukti itu padaku, dan aku harap bukan kau orang yang mengkhianatiku." Ucap Yeshi membuat Yoshep terkekeh.
" Aku tidak akan mengkhianati adikku sendiri. Justru aku akan selalu membantumu. Sekarang pergilah! Sebelum ada yang tahu jika kau kemari menemui aku. Besok lagi kalau mau menemuiku sebaiknya kau naik taksi saja, jangan membawa mobilmu. Karena aku yakin orang itu pasti mengawasi gerak gerikmu." Ucap Yoshep memberikan saran.
" Iya Kak, aku pergi dulu." Ucap Yeshi undur diri.
Yeshi segera meninggalkan rumah Yoshep. Ia menuju kantor polisi dimana Arnold di tahan. Tiga puluh menit kemudian Yeshi sampai di tempat tujuan. Ia segera masuk ke dalam menemui polisi yang sedang berjaga di sana.
Tak lama penjaga itu kembali bersama Arnold.
" Yeshi, ada apa kau menemuiku?" Tanya Arnold duduk di depan Yeshi.
" Katakan! Siapa yang bekerja sama denganmu untuk menjebak suamiku." Ucap Yeshi to the point. Ia terlalu malas berlama lama melihat wajah Arnold.
Arnold tersenyum simpul menatap Yeshi.
" Untuk apa kau ingin mengetahuinya? Lebih baik kau cari bukti kebenaran tentang suamimu itu." Sahut Arnold.
" Aku sudah mendapatkan semua buktinya, aku hanya ingin tahu siapa dalang di balik semua ini selain dirimu." Ujar Yeshi.
" Kalau kamu sudah mendapatkan buktinya, segera tunjukkan ke kantor polisi agar suamimu bebas. Kau tidak perlu membuang waktu untuk mengintrogasiku, karena sampai kapanpun aku tidak akan memberitahumu." Ucap Arnold.
" Kecuali kalau kau mau memberikan penawaran kepadaku, maka aku akan mempertimbangkannya." Sambung Arnold.
" Penawaran seperti apa maksudmu? Kau ingin bebas dari sini? Baiklah akan aku kabulkan, tapi katakan siapa orang yang bekerja sama denganmu." Ucap Yeshi.
" Sepertinya informasi ini sangat penting untukmu. Bagaimana jika aku mengajukan penawaran yang sedikit menguntungkanku. Aku akan mengatakan siapa orang itu asalkan kau mau menikah denganku."
" Jangan berbicara omong kosong Arnold! Katakan siapa dia, atau aku akan membuatmu semakin lama mendekam dalam penjara." Ancam Yeshi.
" Aku tidak akan mengatakannya, sekarang pulanglah! Kau membuang waktumu saja." Arnold beranjak dari kursinya.
" Arnold."
Arnold menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah Yeshi.
" Aku....
Apa hayooo...
Jangan lupa tekan like koment vote dan hadiahnya buat author...
Terima kasih untuk readera yang telah mensuport author semoga sehat selalu...
Miss U All...
TBC....