DERITA ORANG KETIGA

DERITA ORANG KETIGA
MISTERI


Hari ini Yoga kembali menemui Yeshi untuk mencari tahu keberadaan Rebecca. Mereka bertiga duduk di sofa ruang tamu. Yoga menatap Yeshi dengan tatapan memelas.


" Yeshi aku mohon! Katakan padaku dimana Rebecca! Aku harus segera bertemu dengannya demi anakku Yesh." Ucap Yoga.


" Anak?" Yeshi mengerutkan keningnya.


" Apa kau yakin kau tidak tahu akan hal ini?" Selidik Yoga.


" Aku tidak tahu Yoga, mbak Rebecca tidak memberitahuku soal ini." Sahut Yeshi.


" Berarti dia memberitahumu dimana dia sekarang." Ujar Yoga.


Yeshi menghela nafasnya pelan.


" Dia hanya bilang kalau dia ke rumah tantenya Ga. Aku tidak tahu dimana alamatnya." Sahut Yeshi.


" Kalau begitu minta Rodeo untuk melacaknya, aku yakin kemarin kau membohongiku. Kau tidak meminta Rodeo untuk melakukan pekerjaan itu. Rebecca membawa ponselnya karena di rumah sakit tidak ada. Sudahi bermain main denganku Yeshi, aku cukup sabar selama satu bulan ini. Tapi sekarang tidak lagi, ini menyangkut keselamatan anakku. Ternyata Rebecca tidak keguguran Yeshi, anak kami berhasil di selamatkan. Dia membawa anakku pergi bersamanya." Ucap Yoga penuh penekanan.


Yeshi menghela nafasnya pelan, ia menatap Tian yang menganggukkan kepala.


" Baiklah aku akan memberitahumu." Ucap Yeshi.


Yeshi mengambil ponselnya, ia membuka ponselnya lalu menunjukkan foto Rebecca yang ada tag lokasinya.


Yoga menatapnya dengan mata berkaca kaca. Foto dimana Rebecca sedang di perkebunan sayuran sambil mengelus perutnya yang sudah terlihat membuncit. Tanpa sadar ia mengelus layar ponsel.


" Kemarin mbak Rebecca mengirim foto itu, semoga bisa menjadi petunjuk untukmu. Di sana tertulis lokasi dimana mbak Rebecca sekarang." Ujar Yeshi.


" Alhamdulillah dia terlihat sehat, perutnya sudah terlihat membesar Yesh. Padahal baru empat bulan." Ujar Yoga.


" Pertumbuhan bayinya berkembang dengan baik Ga, mungkin saat di sini dia stress memikirkan sikapmu padanya. Kalau di sana mungkin pikirannya tenang. Karena faktor utama yang bisa menghambat perkembangan janin yaitu stress. Itu sebabnya dokter selalu mengingatkan kita untuk tidak boleh stress karena beresiko untuk janin kita." Ujar Yeshi.


" Lalu aku harus bagaimana jika sudah bertemu dengannya?" Tanya Yoga.


" Kau harus menyayanginya, buat dia bahagia! Apalagi sekarang kehamilan mbak Rebecca memasuki Tri semester kedua, bayi kalian sudah bisa memahami apa yang terjadi di sekitarnya." Sahut Yeshi menatap Yoga.


" Baiklah aku akan memperlakukannya dengan baik, aku akan membuatnya bahagia. Dan aku tidak akan mengabaikannya lagi." Ujar Yoga mengembalikan ponsel Yeshi kepada Yeshi.


" Kirim foto itu ke nomerku, aku akan berangkat menjemput Rebecca sekarang." Ujar Yoga.


" Oke, hati hati! Semoga berhasil." Ucap Yeshi.


" Harus berhasil." Sahut Yoga.


" Aku pergi, terima kasih sudah membuatku seperti orang gila selama satu bulan ini." Sindir Yoga keluar meninggalkan rumah Yeshi.


Yeshi menghembuskan kasar nafasnya, ia menatap Tian.


" Aku mengingkari janjiku pada mbak Rebecca Mas. Apa dia akan marah padaku?" Tanya Yeshi.


" Kalau marah itu pasti, tapi hanya sesaat itu saja. Kau sudah melakukan hal yang benar sayang. Kau menyatukan ayah dan anaknya. Jangan pikirkan kemarahan Rebecca! Pikirkan saja hal baik untuk keduanya." Ucap Tian merangkuk pundak Yeshi.


" Iya Mas." Sahut Yeshi menganggukkan kepalanya.


" Hari ini mau makan apa?" Tanya Tian.


" Aku ingin makan sayur sop ayam, sama capcay basah yang banyak baksonya." Sahut Yeshi.


" Baiklah akan Mas masakkan untukmu." Sahut Tian.


" Emang bisa? Kenapa tidak menyuruh bibi saja Mas?" Ujar Yeshi.


" Mas masak dulu ya, kamu tunggulah di kamar!" Ujar Tian.


" Mas setelah makan nanti aku ingin ke rumah om Reno. Aku ingin tahu perkembangan kasus Rean dan keadaan om Reno." Ucap Yeshi.


" Mas akan mengantarmu ke sana." Sahut Tian beranjak menuju dapur. Yeshi menunggunya di kamar.


Tiga puluh menit Tian menyelesaikan masakannya. Yeshi makan dengan lahap. Setelah makan mereka pergi ke rumah tuan Reno.


Lima belas menit mereka sampai di kediaman Charlos. Tian menggandeng tangan Yeshi masuk ke dalam rumah.


" Assalamu'alaikum Om." Ucap Yeshi menghampiri tuan Reno yang sedang duduk di ruang keluarga.


" Wa'alaikumsallam. Om kira kamu sudah lupa kalau kamu punya om di sini." Sahut tuan Reno.


" Apa maksud Om berbicara seperti itu?" Tanya Yeshi sambil mengerutkan keningnya.


" Kalian berbahagia atas kehamilanmu sedangkan Om bersedih karena kehilangan Rean. Kenapa kau melakukan ini Yeshi? Rean saudaramu, kenapa kau tega menjebloskan dia ke penjara? Apa kasih sayangnya kepadamu selama ini tidak berarti apa apa untukmu sehingga kesalahan kecil seperti itu tidak pantas di ampuni?"


Yeshi mengerutkan keningnya, ia tidak menyangka jika tuan Reno lebih memihak pada Rean.


" Kesalahan kecil kata Om?"


" Rean menggelapkan dana perusahaan dan mengkambing hitamkan mas Tian Om, dia juga menculikku supaya dia bisa menikahiku. Apa itu masih bisa di sebut kesalahan kecil?" Tanya Yeshi tidak percaya.


" Dia melakukannya karena dia punya alasan Yeshi, tapi tidak sepatutnya kau menghukumnya seperti itu. Dia satu satunya yang Om punya di dunia ini. Kau bukan lagi milik Om, sekarang kau milik suamimu. Itulah sebabnya kau lebih memilih suamimu di banding saudaramu." Ucap tuan Reno.


" Om tidak mengharap ini darimu, kau mengambil keputusan tanpa meminta pendapat Om. Kau sudah tidak menganggap Om sebagai orang tuamu lagi. Sekarang kau bisa berdiri sendiri dengan di dampingi suamimu. Om kecewa padamu Yeshi." Ujar tuan Reno menghapus air mata di sudut matanya.


Yeshi melongo menatap Tian. Tian membalasnya dengan tersenyum.


" Lalu aku harus bagaimana Om? Aku terpancing emosi saat dia mengancamku untuk menghentikan pengobatan Om. Dia juga mengaku jika dia bukan anak kandung Om. Dia bahkan memberiku pilihan untuk memilih antara Om dan mas Tian. Aku tidak bisa memilih salah satu dari kalian berdua Om. Kalian berdua sangat berarti bagiku. Aku mengirim Rean ke penjara supaya dia bisa menyadari kesalahannya. Apa yang dia lakukan sangat merugikan orang lain. Bukan karena aku tidak menyayanginya atau menyayangi Om. Tapi sekarang aku akan mengikuti kemauan Om, jika Om bahagia Rean berada di samping Om, maka aku akan mencabut tuntutan itu. Aku melakukannya demi kebahagiaanmu Om." Ujar Yeshi panjang lebar.


Tuan Reno menghembuskan nafasnya kasar. Ia memijat pelipisnya dengan pelan.


" Kembalikan Rean pada Om, cabut tuntutanmu dan kita bisa kembali bahagia seperti dulu lagi." Ujar tuan Reno.


" Tidak bisa!!"


Semua orang menoleh ke asal suara.


" Yoseph."


" Bang Yoseph." Ucap Tian dan Yeshi bersamaan.


" Kau jangan tertipu lagi dengan kasih sayang palsunya Yeshi." Ucap Yoseph menghampiri mereka.


" Siapa kau? Siapa yang memberimu hak untuk ikut campur dalam urusanku?" Tuan Reno menatap Yoseph dengan tatapan menyelidik.


" Aku Yoseph, Papa Joshua memberikanku hak sepenuhnya untuk melindungi Yeshi dari orang orang serakah sepertimu tuan Reno." Sahut Yoseph membuat tuan Reno terkejut.


" Pa.. Papa." Yeshi mengerutkan keningnya.


" Memangnya siapa kau? Kenapa kau memanggil papaku dengan sebutan papa?" Tanya Yeshi menatap Yoseph.


Siapa hayo...


Jawabannya di next part ya..


TBC