DERITA ORANG KETIGA

DERITA ORANG KETIGA
AKHIRNYA AKU MENEMUKANMU


Sudah dua hari Yoga berkeliling di kota P di provinsi Jawa Tengah itu, namun ia belum juga menemukan Rebecca. Ia bahkan menunggu di tempat yang ia duga sebagai lokasi Rebecca foto saat itu. Ia membuka foto itu lagi untuk memastikan kesamaan foto tersebut.


" Aku yakin di sini lokasinya, tapi di dalam foto ini nampak kebun sayuran hijau yang indah. Tapi di sini hanya ada lahan kosong dan sayurannya nampak porak poranda gini. Bener nggak ya ini tempatnya?" Monolog Yoga memperhatikan sekitar.


" Ya Tuhan... Berikan petunjukMu ya Rob." Ujar Yoga duduk di atas gundukan tanah.


Tak berselang lama, nampak dua ibu ibu melintas di depannya. Kalau di lihat dari baju yang mereka pakai, sepertinya mereka hendak berkebun.


" Maaf ibu ibu! Saya mau numpang nanya." Ujar Yoga mendekati mereka.


Kedua ibu itu saling melempar pandangan.


" Nanya apa ya Mas?" Tanya seorang ibu yang memakai baju putih.


" Apa di sekitar sini ada pendatang baru? Dia seorang wanita yang sedang hamil." Ucap Yoga.


Mereka berdua kembali saling melempar pandangan.


" Ecca masuk kamu?" Tanyanya lagi.


" Ecca?" Yoga mengerutkan keningnya.


" Ah iya mungkin di sini panggilannya itu, dimana dia tinggal Bu?" Tanya Yoga.


" Kamu siapanya?" Tanya ibu yang memakai baju hitam.


" Saya suaminya Bu, kami sedang ada masalah. Biasalah kehidupan rumah tangga selalu ada kesalah pahaman, dan dia pergi tanpa pamit." Ujar Yoga jujur membuat ketiga ibu ibu itu menganggukkan kepalanya.


" Dia ada di rumah mbak Lami. Rumahnya lumayan jauh dari sini, kamu jalan aja terus ke sana. Nanti di sana ada gang masuk ke kanan, kamu masuk aja. Rumahnya pinggir jalan cat warna hijau." Ujarnya sambil menunjuk jalanan menuju sana.


" Baiklah terima kasih Bu." Ucap Yoga.


" Biasanya dia ada di sini untuk memanen sayur, tapi kemarin ada angin ****** beliung yang memporak porandakan daerah sini, makanya sayuran kami pada rusak semua." Ujar ibu berbaju hitam.


" Apa? Memanen sayuran?" Yoga mengerutkan keningnya.


" Iya, dia membantu budhenya bekerja memanen sayuran. Dia anak yang rajin Mas dan ramah sama semua orang. Kalau di sini mah pekerjaan para wanita ya itu Mas, panen sayuran. Kalau para pria kerja di grajian kayu." Ujar ibu berbaju putih.


" Owh gitu ya Bu, ya udah sekali lagi terima kasih ya Bu. Saya akan langsung ke sana." Ujar Yoga.


" Iya iya silahkan." Sahut mereka bersamaan.


Yoga berjalan menuju mobilnya.


" Ya Tuhan... Kau bekerja keras mencari uang selama ini Rebecca. Aku tidak tahu kau bisa berubah secepat ini, kau berubah menjadi wanita yang lebih baik. Maafkan aku! " Batin Yoga.


Yoga melajukan mobilnya perlahan ke arah jalan yang di tunjuk ibu ibu tadi. Setelah mendapati gang, ia membelokan mobilnya menyusuri gang sempit itu. Ia mengedarkan pandangannya mencari rumah bercat hijau sampai...


Deg... Deg... Deg...


Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat saat melihat Rebecca yang sedang menyapu halaman. Dengan menggunakan daster payung di bawah lutut membuat perutnya terlihat membuncit. Tak terasa senyum Yoga mengembang di sudut bibirnya.


" Aku menemukanmu sayang." Gumam Yoga.


Yoga terus memandang Rebecca dari mobilnya. Nampak wanita paruh baya keluar dari rumah lalu menghampiri Rebecca.


" Ecca." Panggil Bu Lami.


" Ya Budhe." Sahut Rebecca.


" Budhe curiga sama tuh mobil, dari tadi berhenti di sana tapi orangnya nggak keluar keluar, apa dia tidak tahu kalau gang di sini tidak bisa berpapasan dengan mobil lainnya, nanti kalau ada mobil yang masuk gimana coba." Ujar Bu Lami.


Karena penasaran, Rebecca melihat ke mobil yang di maksud oleh budhenya itu.


Deg...


Jantung Rebecca berpacu dengan sangat cepat.


" Yo... Yoga." Gumam Rebecca terhuyung ke belakang.


" Eh hati hati to Nduk! Seperti tidak pernah lihat mobil bagus saja sampai gelelengan gini." Ucap Bu Lami menopang tubuh Rebecca.


" Atau kau mengenal mobil itu? Kenapa kelihatannya kamu begitu terkejut? Kenapa wajahmu nampak pucat begini? Apa kau takut?" Tanya Bu Lami.


Sebenarnya bukan pucat karena takut atau sebagainya tapi karena saking terkejutnya dan saking bahagianya. Tidak dapat Rebecca pungkiri jika dirinya bahagia melihat Yoga bisa menemukannya.


" Itu.. Itu... "


Yoga turun dari mobil, ia berjalan ke arah mereka.


" Wah gantenge... Tobat jian...... Agi kiye mbok budhemu ndheleng wong guanteng Ca. Mirip oppa oppa sing ana nang tivi kae loken." Ucap bi Lami dengan logat Jawa plus ngapaknya.


Rebecca hanya diam saja.


" Pagi Bu." Sapa Yoga menatap bu Lami.


" Sampeyan sekang ngendi Mas? Goleki sapa? Apa sampeyan lagi goleki enyong?" Tanya Bu Lami membuat Yoga nyengir kuda karena tidak paham maksudnya. Begitupun dengan Rebecca.


" Maksudnya apa ya Bu?" Tanya Yoga.


" Apaan sih Budhe ini, ngomong nggak jelas gitu mana aku sama Yoga tahu artinya Budhe." Timpal Rebecca.


" Yoga?" Bu Lami mengerutkan keningnya menatap Yoga.


" Jadi dia suami kamu?" Tanya bu Lami menatap Rebecca.


" Iya Bu, kenalkan saya Yoga. Suaminya Rebecca." Ucap Yoga menyalami bu Lami dengan takzim.


" Ah iya." Sahut Bu Lami.


" Maksud kedatangan saya kemari ingin menjemput Rebecca Bu. Maaf saya terlambat karena baru sekarang saya ke sini. Saya baru mendapatkan alamat kalian kemarin." Ujar Yoga melirik Rebecca yang saat ini hanya bisa menundukkan kepala.


" Silahkan masuk dulu nak Yoga! Kamu pasti capek dari Jakarta kemari." Ujar Bu Lami.


" Terima kasih Bu." Ucap Yoga.


" Jangan panggil Bu! Budhe aja seperti Ecca."


" Sebenarnya kalau di sini panggilnya Wa' tapi karena budhe bukan asli orang sini jadi panggil budhe saja ya." Ujar Bu Lami.


" Iya Budhe." Sahut Yoga.


Mereka bertiga masuk ke dalam. Bu Lami mempersilahkan Yoga duduk di sofa yang lumayan jauh dari kata empuk.


" Ca, buatkan teh hangat untuk suamimu. Dia pasti kedinginan apalagi kan di Jakarta cuacanya panas." Ujar Bu Lami.


" Iya Budhe." Sahut Rebecca beranjak ke dapur.


Yoga menatap kepergianya dengan tatapan entah.


" Merindukan Ecca ya?" Goda Bu Lami.


" Sangat." Sahut Yoga tanpa sadar.


Bu Lami tersenyum mendengarnya.


" Eh enggak, bukan begitu." Yoga menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Tidak apa, Budhe memahaminya kok. Budhe dulu juga pernah muda." Sahut Bu Lami.


" Iya Budhe, terima kasih." Sahut Yoga.


Rebecca meletakkan segelas teh hangat di depan Yoga. Ia kembali duduk di samping Bu Lami.


" Kalian bicaralah berdua! Budhe mau main ke rumah Warti dulu." Ucap Bu Lami.


" Iya Budhe hati hati! Terima kasih sudah memberi kami waktu untuk berdua." Ucap Yoga di balas anggukkan kepala oleh Bu Lami.


Setelah kepergian Bu Lami, Yoga menatap Rebecca begitupun sebaliknya.


" Bagaimana kabar anakku? Apa dia baik baik saja?" Tanya Yoga.


" Dia baik." Sahut Rebecca.


" Lalu bagaimana dengan dirimu? Apa kau bahagia hidup jauh dariku?" Tanya Yoga lagi.


" Aku bahagia." Sahut Rebecca.


" Kau bisa mengatakan itu kepada orang lain, tapi tidak denganku. Aku tahu fisikmu baik baik saja tapi batinmu tetap tersiksa karena berada jauh dariku." Ucap Yoga.


" Kenapa kau begitu percaya diri seperti itu? Apa kau kira aku merasa tersiksa karena jauh darimu? Tidak Yoga.. Aku bahagia di sini karena aku di kelilingi orang orang yang menyayangiku." Ucap Rebecca menatap Yoga.


" Aku minta maaf! Aku telah melakukan kesalahan yang mungkin tidak bisa di maafkan. Tapi bukankah aku berjanji kalau aku akan berubah? Aku akan menyayangimu sepenuh hatiku? Lalu kenapa kau malah pergi?" Tanya Yoga meminta penjelasan.


" Aku..


" Ecca... "


Belum sempat Rebecca menjawab ucapan Yoga seorang pria datang menghampirinya.


Siapa dia?


Siapa ya? Ha ha ha


TBC...