DERITA ORANG KETIGA

DERITA ORANG KETIGA
KEPERGIAN YESHI


Sesampainya di rumah sakit, Tian menuju ruang ICU. Ia menghampiri Rean dan Rodeo yang sedang duduk di kursi tunggu.


" Rean apa yang terjadi pada Rebecca? Bagaimana bisa dia kecelakaan?" Tanya Tian.


" Kau nampak mengkhawatirkannya Bro." Bukannya menjawab malah Rean berkata seperti itu.


" Bukan begitu Yan, bagaimanapun dia masih istriku. Jawab saja pertanyaanku." Sahut Tian.


" Dia kabur dalam pengawasan Rodeo, tanpa sengaja ada mobil yang menabraknya. Keadaannya kritis, beruntung dia tidak mat! " Ucap Rean.


" Syukurlah." Sahut Tian.


" Lo ninggalin Yeshi dimana? Apa lo udah nganter dia sampai rumah dan memastikannya pulang dengan selamat?" Tanya Rean menatap Tian.


" Aku meninggalkan Yeshi di resto." Lirih Tian.


" Apa?" Pekik Rean.


" Sialan lo!" Rean menarik kerah Tian.


" Kenapa lo tinggalin dia sendirian di sana hah? Ini sudah malam, dia tidak terlalu hafal jalan pulang. Bagaimana kalau ada orang jahat yang mengganggunya? Kalau sampai adek gue kenapa napa lo akan tanggung akibatnya. Hanya demi wanita ibl!s itu lo ninggalin malaikat seperti adek gue. Bener bener nggak tahu di untung lo." Ucap Rean penuh emosi.


Brugh...


Rean mendorong Tian ke kursi.


" Tinggalkan laki laki bodoh ini Rodeo! Biar dia yang mengurus istri tercintanya itu." Ucap Rean berlalu dari sana di ikuti Rodeo dari belakang.


Tian menatap kepergian mereka berdua.


" Kenapa aku tidak kepikiran ke sana? Aku bahkan meninggalkan semua rencana yang aku rancang seindah mungkin hanya karena Rebecca. Bodoh kau Tian... Kau benar benar bodoh!" Tian memukul kepalanya sendiri.


" Aku akan menghubungi Yeshi dan menanyakan apa dia sudah pulang atau belum." Tian mengambil ponselnya. Ia segera menelepon Yeshi.


Tersambung namun tidak ada jawaban sama sekali. Ia mencoba menghubungi lagi namun bernasib sama. Lalu ia mengirim chat, hanya terkirim tanpa di baca.


" Yeshi kenapa kau tidak menjawab teleponku? Apa kau masih di perjalanan atau sudah sampai rumah? Apa kau marah padaku? Apa terluka karena hal ini? Aku minta maaf Yeshi." Monolog Tian menarik kasar rambutnya.


" Lebih baik aku pulang dulu untuk melihat Yeshi." Ucap Tian beranjak.


Saat Tian hendak melangkah tiba tiba seorang dokter memanggilnya.


" Tuan Christian."


" Iya Dok." Sahut Tian menatap dokter.


" Istri anda sudah sadar. Dia ingin bertemu dengan anda." Ucap dokter.


" Baik Dok." Sahut Tian.


Tian masuk ke dalam, ia menghampiri Rebecca yang terbaring lemah di atas ranjang. Berbagai peralatan medis menempel di tubuhnya.


" Tian maafkan aku! Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahanku lagi. Berikan aku kesempatan kedua untuk menjadi istri yang baik Tian. Aku mohon." Ucap Rebecca menggenggam tangan Tian.


" Jangan pikirkan itu Rebecca! Lebih baik pikirkan kesembuhanmu!" Ucap Tian.


" Aku akan cepat sembuh jika kau selalu bersamaku. Apa kau mau memenuhi keinginanku itu?" Tanya Rebecca.


Tian menatap mata Rebecca. Ia tidak tega menolak keinginan Rebecca, apalagi Rebecca tidak punya siapa siapa di dunia ini. Terlepas itu, Rebecca adalah wanita yang mengisi hari harinya selama beberapa tahun ini.


" Tian." Lirih Rebecca.


" Baiklah, cepat sembuh Rebecca." Ucap Tian membalas genggaman Rebecca.


Rebecca tersenyum ke arahnya.


" Ternyata kau memang pria terbaik di dunia ini Tian, aku menyesal telah menyia-nyiakanmu selama ini. Aku akan memperbaiki hubungan ini." Batin Rebecca.


" Istirahatlah Rebecca! Kau baru sadar jadi kau butuh banyak istirahat." Ucap Tian di balas anggukkan kepala oleh Rebecca.


Tian menemani Rebecca sambil sesekali melihat ponselnya. Barang kali Yeshi sedang online, ia ingin telepon dan berbicara padanya. Namun sampai tengah malam Yeshi tidak juga online. Akhirnya Tian pun memilih untuk tidur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi ini Rebecca di pindah ke ruang rawat. Dengan setia Tian menemani dan mengurusnya dengan baik. Selesai sarapan, Tian berbaring di sofa sambil memainkan ponselnya.


Yeshi apa kau baik baik saja? Balas chatku Yeshi... Aku mengkhawatirkanmu.


Maaf aku belum bisa pulang karena menemani Rebecca, Rebecca tidak punya anggota keluarga lain selain aku. Aku harap kamu mengerti ~Tian


Hanya centang dua, itupun berwarna hitam.


Yeshi apa kau marah padaku? Aku minta maaf jika aku melukai ataupun menyakiti hatimu. Setelah Rebecca mendingan aku akan pulang ~Tian


Statusnya masih sama dengan chat sebelumnya. Tian menghela nafasnya panjang. Ia bingung harus berbuat apa. Mau pulang Rebecca tidak mau di tinggal. Tidak pulang, pikirannya tidak tenang karena terus tertuju pada Yeshi. Tian mengacak rambutnya dengan kesal.


" Kenapa kelihatannya kau gelisah sekali Tian? Apa kau merindukan Yeshi? Kalau iya, kamu tinggal telepon Yeshi saja gampang kan? Tapi kalau pulang aku tidak mengijinkannya. Aku juga istrimu Tian, aku lebih membutuhkanmu di sini daripada Yeshi." Ucap Rebecca.


" Tidak perlu banyak berpikir Rebecca, aku baik baik saja." Sahut Tian.


" Aku tahu kau berbohong padaku Tian, aku harap cintamu tidak berpaling dariku. Aku tidak rela jika kau mencintai Yeshi. Lagian kalian harus segera berpisah, semua yang Yeshi beri sudah aku kembalikan. Saat ini aku hanya mau hidup bahagia bersamamu, terima kasih telah membuatku sadar jika aku hanya mencintaimu bukan Yoga." Batin Rebecca.


Di tempat lain tepatnya di rumah Tuan Reno. Saat ini Yeshi sedang berkemas. Rencana pergi dua hari lagi, ia percepat. Tapi ia tidak terbang ke Singapura melainkan ke Kalimantan. Ia hendak menemui temannya dulu di sana.


Tuan Reno berjalan menghampiri Yeshi.


" Sayang, apa keputusanmu sudah bulat Nak ingin meninggalkan Tian?" Tanya tuan Reno memastikan.


" Iya Om, aku tidak mau menghancurkan kebahagiaan mas Tian lagi. Sekuat apapun aku mencoba mencuri hatinya, pada kenyataannya aku gagal Om. Cintanya hanya untuk mbak Rebecca." Sahut Yeshi.


" Baiklah jika ini yang terbaik untuk kalian berdua, Om hanya bisa mendoakan semoga ke depannya kau hidup bahagia bersama seseorang yang kau cintai dan mencintaimu." Ucap tuan Reno.


" Amin, terima kasih Om." Sahut Yeshi memeluk tuan Reno.


" Sering sering kabari Om ya di sana. Om akan merindukanmu sayang." Ucap tuan Reno mengelus kepala Yeshi.


" Siap Om." Sahut Yeshi.


" Oh ya Om kalau nanti mas Tian pulang, sampaikan maafku padanya. Aku tidak sanggup berpamitan kepadanya Om, atau hatiku akan kembali ragu. Surat perpisahan ada di atas nakas Om, minta mas Tian segera menandatanganinya dan mengirimkannya ke pengadilan." Ujar Yeshi.


" Akan Om sampaikan." Sahut tuan Reno.


" Yeshi ayo berangkat! Penerbanganmu satu jam lagi, nanti kamu terlambat." Ujar Rean di depan pintu.


" Iya sebentar." Sahut Yeshi.


" Om aku berangkat ya, jaga kesehatan Om." Ucap Yeshi.


" Hati hati Nak." Ucap tuan Reno.


Yeshi menyeret kopernya keluar dari rumahnya. Setelah ia masuk ke mobil, Rean segera melajukan mobilnya menuju Bandara.


Kembali ke rumah sakit, Tian membuka ponselnya saat mendapat kiriman gambar dari tuan Reno.


Deg....


Jantung Tian terasa berhenti berdetak.


Gambar pertama foto Yeshi menyeret kopernya. Gambar kedua foto surat perpisahan yang sudah di tanda tangani Yeshi.


Tian segera keluar ruangan lalu menelepon tuan Reno. Alangkah kagetnya Tian saat tuan Reno mengatakan jika Yeshi akan melakukan penerbangan satu jam lagi. Tanpa pikir panjang Tian berlari menuju mobilnya.


Tian melajukan mobilnya menuju Bandara dengan kecepatan kencang. Ia berharap pesawat yang akan di tumpangi Yeshi belum lepas landas. Ia mencoba menelepon Yeshi namu tidak di angkat. Ia kembali menelepon Yeshi namun tangannya justru menekan mic di halaman chatnya.


" Yeshi jangan pergi! Kisah cinta kita bahkan belum di mulai sayang. Aku mohon jangan tinggalkan aku! Aku mencintaimu! Aku sangat mencintaimu Yeshi. Ketahuilah Yeshi akulah cowok tampan yang kau cari, aku lah Chris yang menjanjikan pernikahan padamu. Aku akan mewujudkan keinginanmu untuk menjadikanmu istriku. Namun kali ini aku akan menjadikanmu istriku satu satunya."


Dengan kesal Tian melempar ponselnya ke jok sebelah. Pikirannya kacau tak karuan. Yang jelas ia harus segera sampai di Bandara secepatnya.


" Jangan pergi Yeshi!" Gumam Tian.


Pergi nggak ya? Tunggu di bab berikutnya.


Tekan Like untuk mensuport karya author.


Terima kasih


Miss U all


TBC