
" Arnold."
Arnold menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah Yeshi.
" Aku sudah tahu siapa orangnya. Tanpa kau bicara aku sudah bisa menebaknya." Ucap Yeshi.
" Bagus kalau kau sudah tahu, kirim dia ke sini untuk menemaniku!" Ucap Arnold berlalu dari sana.
" Sial... Dia tidak mau mengatakannya, aku harus berubah menjadi detektif dadakan kalau seperti ini." Gumam Yeshi.
Yeshi segera meninggalkan kantor polisi itu. Ia melajukan mobilnya menuju rumah tuan Reno. Sampai di sana ia masuk ke kamarnya lalu istirahat.
Tok tok...
Suara pintu di ketuk dari luar.
" Yeshi ini aku Rean." Teriak Rean dari luar.
" Masuk." Sahut Yeshi.
Ceklek...
Rean masuk ke dalam menghampiri Yeshi yang sedang berbaring di atas ranjang.
" Ada apa?" Tanya Yeshi.
" Kamu dari mana saja? Kenapa baru kemari?" Tanya Rean duduk di tepi ranjang.
" Aku jalan jalan cari udara segar agar tidak sesak Yan. Aku terlalu kaget menghadapi masalah yang sedang menimpa mas Tian, ini terlalu mendadak buat aku." Ujar Yeshi.
" Kau harus tetap tenang! Aku yakin Tian pasti baik baik saja." Sahut Rean.
" Apa kau sudah menemukan bukti jika Tian tidak bersalah?" Tanya Rean.
" Sepertinya jalanku buntu, Arnold bekerja sama dengan seseorang."
" Apa?" Pekik Rean.
" Da.. Darimana kau tahun soal itu? Apa kau menemui Arnold? Lalu siapa orang yang bekerja sama dengannya?" Rean memberondong Yeshi dengan beberapa pertanyaan.
" Aku tidak tahu siapa dia, aku harap aku bisa menemukan orang itu." Sahut Yeshi.
" Apa Arnold yang mengatakan seperti itu? Apa dia bilang kalau dia bekerja sama dengan orang lain?" Tanya Rean.
" Ya." Sahut Yeshi.
" Mungkin saat ini Arnold sedang membodohimu Yeshi, mungkin sebenarnya dia bekerja untuk dirinya sendiri tapi untuk mengelabuhimu dia bilang kalau dia bekerja sama dengan orang lain." Ujar Rean.
" Lebih tepatnya ada orang yang membayarnya. Tapi kau tenang saja! Aku pasti akan menemukan orang itu." Ujar Yeshi.
" Memang apa yang akan kau lakukan jika kau bisa menangkap orang itu?"
Yeshi duduk bersila menatap Rean.
" Kenapa aku merasa kau sedang mengintrogasiku? Kau seperti penyidik yang sedang menanyai seorang tersangka." Ucap Yeshi tersenyum sinis.
" Bukan begitu Yeshi kau jangan salah paham! Aku hanya ingin tahu langkah apa yang akan kau ambil, aku harus memastikan jika kau tidak akan berbuat sesuatu yang merugikan dirimu sendiri." Sahut Rean.
" Tenang saja! Aku bukan anak kecil lagi. Aku tahu apa yang harus aku lakukan." Sahut Yeshi.
" Baiklah, sekarang istirahatlah! Aku keluar dulu." Ucap Rean keluar dari kamar Yeshi.
Yeshi merasa ada yang aneh dengan Rean. Ia diam diam membuntuti Rean yang saat ini sedang berjalan menuju roftoop rumahnya.
Rean mengambil ponsel di sakunya lalu menelepon seseorang.
" Halo, berikan telepon ini kepada Arnold."
Deg...
Jantung Yeshi berdetak kencang.
" Kenapa Rean menelepon Arnold? Apa hubungan Rean dengan Arnold? Sepertinya mereka berdua tidak sedekat itu." Gumam Yeshi dalam hati. Ia kembali fokus pada pengintainya.
.......
" Apa yang kau katakan padanya hah? Kenapa kau bilang jika kau bekerja sama dengan orang lain. Apa kau mau menyebutkan namaku di depan Yeshi?
Jeduar....
Bagai di sambar petir tubuh Yeshi mendadak menjadi kaku. Apakah Rean terlibat dalam hal ini? Apakah Rean orang di balik semua ini? Pikir Yeshi.
" Kalau kau sampai memberitahu Yeshi yang sebenarnya, maka aku tidak akan segan segan membunuhmu. Aku tidak mau Yeshi sampai tahu kalau aku terlibat dalam hal ini. Kita sama sama mengharapkan Yeshi jadi kita harus bersaing secara sehat." Ucap Rean menutup teleponnya.
" Maafkan aku Yeshi, aku terpaksa melakukan ini karena aku tidak bisa menahan perasaanku lagi." Monolog Rean.
Rean membalikkan badannya tiba tiba...
Deg...
Jantung Rean terasa berhenti berdetak. Ia menatap Yeshi yang saat ini sedang menatapnya dengan tatapan penuh kekecewaan.
" Ye.. Yeshi... Kau ada di sini?" Ucap Rean gugup.
" Kenapa kau melakukan semua ini padaku?" Tanya Yeshi.
" Me... Melakukan apa Yeshi?" Tanya Rean memulai sandiwaranya.
" Kau tahu pasti apa maksud ucapanku Rean, sekarang jelaskan padaku kenapa kau tega melakukan semua ini padaku!" Tekan Yeshi.
" Aku tidak tahu apa maksudmu Yeshi."
" Jangan berbohong lagi Rean!!!" Bentak Yeshi membuat Rean berjingkrak kaget.
" Kau dalang di balik semua ini, kaulah orang yang bertanggung jawab atas apa yang menimpa mas Tian saat ini. Kau jahat Rean, kau jahat." Teriak Yeshi menunjuk wajah Rean.
" Kau salah paham Yeshi, aku tidak melakukan apapun, aku bisa menjelaskan semuanya padamu." Ujar Rean.
" Aku tidak perlu penjelasan apapun darimu Rean, semuanya sudah jelas. Apa yang aku dengar sangatlah jelas. Aku tidak menyangka kau bisa melakukan hal serendah ini Rean. Kau pura pura baik di depanku, kau menunjukkan rasa kepedulianmu padaku. Kau bersikap seolah olah kau selalu mendukungku. Tapi ternyata apa? Kau bahkan dengan keji menusukku dari belakang. Aku tidak menginginkan semua ini darimu Rean, aku tidak mengharapkan semua ini darimu Rean, aku tidak mengharapkannya." Teriak Yeshi.
" Hiks.... Hiks... Hiks... " Isak Yeshi.
" Yeshi aku minta maaf." Rean menyentuh kedua bahu Yeshi.
" Jangan sentuh aku!!" Bentak Yeshi menepis tangan Rean.
" Aku tidak sudi berhubungan denganmu lagi, aku tidak mau bertemu ataupun melihat wajahmu lagi. Setelah ini jangan temui aku! Aku memutuskan hubungan denganmu Rean. Kita bukan saudara lagi." Ucap Yeshi hendak beranjak pergi namun Tian mencekal tangannya.
" Lepas!" Bentak Yeshi memberontak.
Rean menarik kasar tangan Yeshi hingga..
Grep..
Rean memeluk erat tubuh Yeshi.
" Lepas Rean!!" Teriak Yeshi mendorong tubuh Rean namun tidak berhasil. Rean justru mengeratkan pelukannya.
" Maafkan aku! Aku terpaksa melakukannya karena aku mencintaimu Yeshi. Aku ingin kamu berpisah dengan Tian, aku ingin kau membenci Tian, dengan begitu aku bisa mendekatimu. Aku akan menjadi penawar rasa sakitmu. Dan aku akan menikahimu sebagai pengganti Tian dalam hidupmu."
" Aku berpikir kamu akan melakukan semua itu, tapi aku salah. Kau justru lebih percaya pada Tian. Cintamu pada Tian membuatmu tidak meragukan Tian sama sekali. Aku gagal dengan rencanaku karena kau mengetahuinya lebih dulu. Maafkan aku!" Ucap Rean panjang lebar.
Dengan sekuat tenaga Yeshi mendorong Rean hingga pelukannya terlepas. Yeshi menatap tajam ke arah Rean dengan penuh amarah.
" Kau jahat Rean, kau tega melakukan ini kepada adikmu sendiri. Aku tidak tahu kesalahan apa yang telah aku lakukan padamu sehingga kau melakukan semua ini padaku. Aku membencimu." Ucap Yeshi meninggalkan Rean sendiri dalam penyesalannya.
Tubuh Rean luruh ke lantai.
" Yeshi... Maafkan aku! Jangan marah padaku! Aku tidak bisa menerima kemarahan dan kebencianmu. Aku melakukan semua ini demi mendapatkanmu. Aku mencintaimu sejak dulu, saat aku tahu kau kembali ke sini aku sangat bahagia. Aku berniat untuk mengungkapkan perasaanku padamu. Tapi ternyata aku terlambat. Kau sudah memilih pria lain untuk menjadi suamimu. Pria payah dan miskin itu telah merebutmu dariku. Aku tidak terima itu, aku ingin merebutmu kembali dengan menyingkirkannya lebih dulu. Tapi aku gagal, yang aku dapatkan justru kebencian darimu... Hiks... " Rean mengusap air matanya.
" Setelah sejauh ini aku tidak akan mundur lagi, aku akan mendapatkanmu apapun yang terjadi. Aku tidak mau menyerah begitu saja, aku pasti akan mendapatkanmu Yeshi. Bagaimanapun caranya, aku akan menggunakan papa untuk membuatmu menjadi milikku." Ucap Rean tegas. Ia tersenyum smirk setelah mendapatkan ide yang terlintas di pikirannya.
TBC.....