Cinta Di Dalam Perjodohan 3

Cinta Di Dalam Perjodohan 3
Bab 44. Permintaan Yang Tidak Di Sangka.


Pria sejati akan rela melakukan apapun demi keluarganya, walaupun nyawa yang jadi taruhannya palagi hanya separuh darah yang mengalir dalam tubuhnya. Faris yang belum sempat beristirahat sejak semalam, rela mendonorkan darahnya demi keselamatan adik perempuan yang sangat dia sayangi.


Sebenarnya Faris dan Papa Fahri tidak ada rencana untuk berangkat ke Malaysia. Tapi karena Faris bermimpi buruk mengenai Melda, di saat dia tertidur sebentar di ruang kerjanya kemarin sore. Setelah bangun dari tidurnya, dengan segera dia langsung menceritakan mimpi buruknya itu, kepada Papa Fahri yang kebetulan berada juga di kantor saat itu.


Papa Fahri seketika jadi khawatir setelah mendengar cerita tentang mimpi buruk Faris. Dan tanpa berpikir panjang, Papa Fahri langsung memutuskan untuk memesan tiga tiket pesawat, untuk penerbangan jam 5 dini hari nanti. Faris yang mengalami mimpi, begitu sangat cemas memikirkan Melda, sampai-sampai dia tidak bisa untuk tidur malam itu. Almira juga ikut berangkat ke Malaysia. walaupun sudah remaja, tapi Almira tidak bisa sendirian tanpa ada salah satu dari orang tuanya.


Sikap Almira yang seperti itu, terjadi setelah kecelakaan yang membuatnya sakit karena terpisah dengan kedua orang tuanya. Setelah sembuh dari sakitnya, Almira tidak ingin di tinggal sama kedua orang tuanya. Bahkan di waktu malam, dia selalu tidur bersama Mama dan Papanya. Dan semua anggota keluarga Permana, memang sangat memanjakannya setelah dia sembuh dari sakitnya.


Setelah mendapatkan donor dari Faris, Melda langsung bisa di operasi dalam keadaan yang belum juga sadar. Dr yang menanganinya tidak bisa menunggu sampai dia sadar dari pingsannya sejak tadi. Karena keselamatan bayi di dalam kandungannya, tergantung dari operasi yang harus di lakukan secepatnya.


Ketegangan juga kecemasan masih tetap menyelimuti hati Reza dan keluarga Melda. Karena sejak tadi belum juga ada yang keluar dari ruang operasi persalinan. Tapi tiba-tiba terdengar suara tangisan seorang malaikat kecil, yang membuat mereka langsung terkejut. Namun mereka belum juga bisa untuk bernafas lega, sebelum mengetahui keadaan Melda di dalam sana.


Mereka semua menunggu di depan ruang operasi Melda sambil terus berdoa, untuk keselamatan Melda. Dan akhirnya mereka semua bisa bernafas legah, setelah Dr yang menangani Melda keluar dari ruang operasi, dan mengatakan kalau Melda juga putranya dalam keadaan baik-baik saja.


Ketakutan yang sejak tadi menyelimuti mereka semua, kini telah berganti dengan kebahagiaan yang tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata. Senyum bahagia seketika terpancar dari wajah mereka, setelah melihat bayi mungil yang di dorong dalam sebuah inkubator, oleh seorang perawat menuju ruangan khusus para bayi. Bayi Melda lahir tepat pada waktunya, tapi karena dia sedikit lemah karena tertahan sedikit lama di dalam perut ibunya, sehingga dia harus di masukan ke dalam inkubator untuk sementara waktu.


Setelah satu jam selesai operasi baru Melda sadarkan diri. Dia membuka matanya dan menatap semua yang sedang berdiri mengelilinginya, dengan tampang yang terlihat tidak bertenaga. Namun setelah menydari keberadaan keluarganya, Melda langsung tersenyum sambil memanggil Mama Alira, yang berada tepat di samping kepalanya.


"Maa,,, makasih atas doanya. Tadi aku melihat Mama di dalam mimpi sedang menangis dan mendoakanku." Melda berkata-kata sambil menatap Mama Alira, dengan air mata yang sudah menetes di wajahnya.


"Kamu ngga perlu berterima kasih sayang! Seorang Ibu akan selalu mendoakan anaknya, dan selalu menangis di saat melihat anak perempuannya mempertaruhkan nyawa, untuk melahirkan seorang malaikat." Mama Alira berkata-kata sambil mengusap-usap punggung tangan Melda, kemudian mengecup kening Melda.


Kasih sayang Mama Alira begitu sangat tulus, yang membuat Melda kembali merasakan memiliki cinta dan perhatian seorang Ibu. Begitupun dengan Papa Fahri. Dia selalu berusaha untuk membuat Melda tidak merasakan kehilangan seorang Ayah. Apapun mereka lakukan untuk Melda, asalkan dia bisa bahagia dan tidak merasakan kesepian.


"Kamu tadi pingsan karena kehilangan banyak darah. Dan itu yang membuat Mama menangis takut terjadi apa-apa padamu. Apalagi di saat Reza dan Aleta tidak mendapatkan pendonor." Jelas Mama Alira yang sudah berlinang air mata.


"Paa,, Papa yang donor darah buat aku?" Tanya Melda sambil meraih tangan Papa Fahri.


Melihat mata Melda sudah di bendung kristal bening yang semakin banyak, membuat Faris langsung melangkah menghampirinya, kemudian mengusap-usap kepalanya sambil berkata-kata.


"Mas akan melakukan apapun untuk kamu dan Almira. Demi keselamatan keluarga Mas, jangankan darah, nyawa pun akan Mas pertaruhkan." Ujar Faris sambil terus mengusap-usap kepala Melda yang sudah berlinang air mata.


"Mas,,, sudah dua kali Mas menyelamatkan nyawaku. Dan yang kedua ini bukan aku saja, tapi juga putraku. Mas masih mau kan? melakukan sesuatu lagi buat aku?" Tanya Melda sambil menatap Faris.


"Mas siap melakukan apapun demi keselamatan juga kebahagianmu." Jawab Faris tanpa tahu apa yang ingin di minta oleh Melda.


"Memangnya apa yang kamu inginkan?" Tanya Faris juga Mama Alira dan Papa Fahri secara bersamaan.


Semua yang ada di dalam ruangan itu berpikir, kalau Melda akan meminta sesuatu sebagai hadiah atas kelahiran bayinya. Tapi Melda malah meminta sesuatu yang sama sekali tidak terpikirkan, oleh orang-orang yang ada di sekelilingnya.


"Aku ingin Mas Faris memiliki seorang anak perempuan. Biar putraku di jodohkan saja dengan putri Mas Faris." Jawab Melda yang membuat wajah Faris dan Aleta jadi merah seketika. Sedangkan Mama Alira yang mendengar permintaan Melda barusan, langsung setuju dengan begitu bersemangat.


"Iya itu yang lebih baik menurut Mama. Jujur saja, Mama sudah sangat trauma dengan orang luar, yang belum kita tahu kepribadian mereka seperti Farel. Jadi Mama sangat mendukung. Ayo Faris! Kamu harus secepatnya punya anak perempuan!" Mama Alira berkata-kata dengan senyum yang mengembang di wajah cantiknya.


"Aal,, kamu mau ngga?" Tanya Melda kepada Aleta yang hanya senyum-senyum sendiri.


"Aku sangat setuju." Jawab Aleta.


"Kalau Papa gimana?" Tanya Mama Alira kepada Papa Fahri.


"Papa juga sangat setuju. Karena Papa juga sudah takut dengan orang luar yang belum kita ketahui perilakunya." Jawab Papa Fahri.


Mereka semua langsung menyetujui apa yang menjadi keinginan Melda. Melda melakukan semua itu karena dia sangat barsyukur, bisa melewati masa kritis bersama putranya karena pertolongan dari kakak laki-lakinya itu. Dan dia ingin putranya suatu saat bisa melakukan sesuatu untuk Faris.