
Keadaan Fara pagi itu terlihat lebih segar dari hari kemarin. Selesai bersiap-siap, Fara pun segera turun menuju lantai bawah menyusul Riyan yang sudah duluan turun setengah jam yang lalu. Sampainya di lantai bawah, Fara seketika bingung karena tidak menemukan keberadaan Riyan di ruang kerja maupun di tempat sarapan. Melihat Fara yang hanya terdiam di ruang keluarga, salah seorang Bibi langsung menghampirinya kemudian bertanya.
"Non,, apa Non mencari Den Riyan?" Tanya Bibi sambil membawa segelas susu untuk Fara.
"Iya Bi. Apa Bibi lihat di mana Mas Riyan berada?" Tanya Fara.
"Den Riyan sudah berangkat pagi-pagi tadi ke kantor Non. Tadi ada yang menelponnya dan katanya ada pertemuan penting hari ini sama klien bisnis Den Riyan." Jawab Bibi.
"Apa hari ini Non mau ke Kampus?" Tanya Bibi.
"Iya Bi. Hari ini aku harus ke Kampus. Aku harus mengikuti mata kuliah hari ini." Jawab Fara dengan tampang yang sudah mulai redup.
"Ya sudah,, kalau gitu Non sarapan dulu. Kata Den Riyan, Non harus sarapan sebelum berangkat ke Kampus." Ujar Bibi dan Fara hanya mengangguk tanda setuju.
Selesai sarapan, Fara pun langsung berangkat di antar supir pribadinya. Dalam perjalanan dia tidak berhenti menghubungi satu persatu temannya untuk memberitahukan kehadirannya hari itu di Kampus. Tadinya dia sempat tidak bersemangat karena merasa kesal dengan Riyan yang pergi meninggalkannya. Tapi setelah melihat suasana jalanan yang begitu ramai, Fara kembali bersemangat karena akan menemui teman-temannya setelah dua hari tidak ke Kampus.
Di kantor Riyan yang ternyata hanya sebentar untuk menandatangani kontrak kerja sama dengan beberapa klien bisnisnya, kembali memasuki mobil dan melaju menuju Kampus setelah menanyakan Fara kepada orang rumah.Mengetahui Fara sudah dalam perjalanan menuju Kampus, Riyan semakin tidak betah berada di kantor. Dalam perjalanan dia terus menghubungi nomor Fara. Namun nomor yang dia hubungi sedang sibuk karena berada di panggilan lain.
"Semoga dia tidak bertingkah yang aneh-aneh. Jangan sampai dia lupa pada keadaannya saat ini. Aku tidak ingin terjadi apa-apa sama dia juga kandungannya." Riyan yang mulai cemas mulai berkata-kata sendirian sambil menambah kecepatan mobilnya.
Jarak yang di tempuh Riyan lebih dekat dari jarak rumahnya menuju Kampus. Setelah sampai di parkiran Kampus, Riyan langsung buru-buru keluar mencari keberadaan mobil yang membawa Fara. Tapi tidak lama, dia di kagetkan dengan suara klakson mobil dari arah belakang. Dengan segera Riyan pun segera berbalik dan langsung melangkah menuju pintu mobil saat melihat Fara melambaikan tangan dari dalam mobil.
"Fara,, kamu ngga apa-apa kan?" Tanya Riyan sambil membuka pintu mobil dengan tampang penuh kekhawatiran.
"Pak Radit,, tadi ngga ngebut kan di jalanan?" Tanya Riyan kepada supir pribadi Fara yang baru dua bulan bekerja pada Riyan.
"Ngga Pak. Saya jalannya hati-hati. Saya juga tidak mau mengambil resiko kalau sampai terjadi apa-apa sama Ibu Fara." Jawab Pak Radit sambil tersenyum.
Setelah Fara turun dari mobil, Riyan langsung menyuruh Pak Radit supir pribadi Fara untuk pulang. Riyan memutuskan untuk pulang bersama Fara walaupun harus kemalaman di jalan karena dia masih ada banyak urusan hari itu. Demi kebaikan Fara juga ketenangannya, dia berpikir untuk membawa Fara bersama dalam semua urusannya hari itu.
"Mas,, aku langsung ke ruangan aku ya,," Ujar Fara sambil menatap Riyan yang sedang melangkah di sampingnya.
"Nanti biar aku antar. Mulai sekarang kamu ngga boleh ke ruangan kamu sendirian. Aku tidak mengizinkan kamu naik turun tangga sendirian. Di Kampus maupun di rumah." Ujar Riyan yang membuat Fara langsung menatapnya bingung.
"Astaga Mas,, ko sampai begitu amat,,? Aku bukan anak kecil lo Mas. Aku ini sudah dewasa, dan ngga lama lagi akan menjadi seorang Ibu." Tutur Fara sambil melangkah dengan gaya centilnya.
"Ya ampun Mas,,, aku ini istri kamu, bukan tahanan. Aku akan merubah semuanya sesuai yang kamu inginkan. Tapi kamu juga harus janji, untuk selalu ada di saat aku butuhkan." Permintaan Fara yang membuat Riyan langsung berbalik menatapnya.
"Kenapa,,? Kamu ngga bisa kan? Secara kamu kan sibuk banget setiap harinya. Ngga mungkin bisa ada setiap kali aku butuh." Tanya Fara dengan senyum mengejek.
"Siapa bilang ngga bisa? Bila perlu aku cuti dari semua aktivitasku setiap harinya, asalkan bisa menjaga kamu juga bayi kita." Jawaban Riyan dengan sigapnya.
Melihat sikap Riyan yang sangat berubah hampir seratus persen, membuat Fara malah merasa sangat tertekan. Fara yang selalu ingin di perhatikan dan selalu di temani laki-laki tampangnya itu, seketika mulai khawatir karena merasa tidak bisa bebas seperti biasanya. Sambil melirik Riyan, Fara pun mulai bergumam di dalam hatinya.
"Ya ampun,, ko Mas Riyan sampai begini amat,,? Apa benar ini Mas Riyan? Atau ini siluman yang menjelma menjadi suamiku? Tidak,,,tidak,,,tidak,,, mana ada siluman berkeliaran di siang bolong seperti ini?"
Fara yang sudah mulai berpikiran macam-macam, semakin terlihat seperti orang bodoh di samping Riyan. Dia yang begitu kebingungan menerima sikap aneh suaminya, sampai tidak menyadari keberadaan teman-temannya di atas sana. Yang sedang menatapnya sambil tersenyum karena melihat kemesraan antara dia dan Riyan.
"Fara..." Suara Anita yang membuat Fara langsung kaget dan memeluk kencang lengan Riyan.
"Astaga Nit... Kamu jangan teriak seperti itu dong.. Aku jadi kaget tahu ngga?" Ujar Fara sambil menatap beberapa temannya yang sudah menanti kedatangannya.
"Kamu kenapa? Kenapa kamu kaget seperti itu?" Tanya Riyan bingung.
"Aku tu lagi berpikir buruk Mas." Bisik Fara tepat di samping telinga Riyan tepat di hadapan teman-temannya.
Mendengar jawaban Fara, Riyan hanya terdiam sambil menatap Fara dengan kening berkerut tanda tidak mengerti. Dan Fara yang mengerti tatapan suaminya, kembali mendekatkan bibirnya ke telinga Riyan dan kembali berkata-kata.
"Aku tadi sempat berpikir kalau yang berdiri di samping aku ini siluman bukan kamu Mas. Abis sikap kamu aneh banget." Ujar Fara dan langsung tertawa lepas.
"Hahahaha..." Suara tawa Fara membuat Riyan juga teman-temannya langsung menatapnya bingung.
"Kamu kenapa sih Ra? Kamu ko aneh banget?" Tanya Anita bingung.
"Hahahaha..." Fara yang merasa lucu akan sikap suaminya yang semaki terlihat datar karena ulahnya, malah tertawa semakin keras.
"Fara,, hati-hati! Di balik keceriaan itu akan ada kesedihan." Sambung Priscil yang membuat Riyan langsung bereaksi.
"Fara sudah cukup kamu tertawa! Sana masuk ke ruangan kamu. Aku mau ke bawah." Ujar Riyan dan langsung melangkah menuruni tangga.