
Dalam perjalanan pulang menuju Amerika, Riyan terlihat begitu cuek terhadap Fara yang hanya sibuk dengan istri Semi membahas tentang segala hal. Bahkan di dalam pesawat, kedua wanita itu memilih untuk duduk berdua, terpisah dari suami mereka masing-masing. Apalagi malam yang ingin di jadikan Riyan sebagai malam berbulan madu di villa, gagal total karena Fara terlalu heboh berkaroke dengan Aurel. Tanpa memperdulikan dia dan Semi, yang hanya mendengarkan nyanyian mereka yang sangat tidak jelas.
Sampainya di apartemen setelah dari bandara, Riyan langsung memilih untuk mandi tanpa memperdulikan Fara, yang memilih untuk terbaring di atas tempat tidur. Dan selesai mandi Riyan pun segera bergegas berpakaian, karena dia akan keluar menemui beberapa temannya di tempat biasa mereka nongkrong.
"Mas,, kamu mau kemana?" Tanya Fara sambil menatap Riyan yang sudah selesai bersiap-siap.
"Aku mau keluar sebentar." Jawab Riyan tanpa menatap Fara.
"Mau keluar kemana di siang hari seperti ini?" Tanya Fara sedikit bingung.
"Mau ketemuan sama teman-teman." Jawab Riyan yang sedang menyemprotkan parfum ke beberapa bagian tubuhnya.
"Teman kamu laki-laki atau perempuan?" Tanya Fara dengan tatapan mencari tahu.
"Dengan teman laki-laki. Sejak kapan aku berteman dengan perempuan?" Tanya balik Riyan sambil terus menatap cermin yang ada di depannya.
"Mana aku tahu,, kemarin saja kamu bertemu dengan wanita itu diam-diam tanpa memberitahuku." Jawab Fara sambil memalingkan mukanya dari Riyan.
"Dia itu pacar temanku waktu di SMA dulu. Malam itu dia ingin menceritakan tentang pacarnya. Jadi buat apa kamu mau tahu masalah pribadi orang?" Ujar Riyan sambil melirik Fara dari cermin yang ada di depannya.
"Apapun yang berkaitan dengan kamu harus aku tahu. Aku kan istrimu. Siapa tahu wanita itu punya maksud lain?" Ujar Fara tanpa menatap Riyan.
"Aku tu sebenarnya curiga sama wanita itu. Dan aku sangat kesal setelah mendengar kalua kamu pergi menemuinya." Tambah Fara dengan tampang yang terlihat kesal.
"Lagian malam itu kan kamu terlalu sibuk dengan Aurel. Jadi aku pikir kamu ngga mau perduli dengan apa yang aku lakukan." Ujar Riyan sambil berbalik menatap Fara yang sudah mulai berekspresi aneh.
"Jangan berpikir yang macam-macam! Karena pemikiran yang salah, bisa menjadi masalah untuk kita. Lagian dia itu pacar dari sahabatku. Jadi tidak mungkin dia punya tujuan yang buruk terhadapku.
"Dia memang tidak punya tujuan buruk padamu. Tapi mungkin saja dia punya tujuan buruk padaku. Kalau tidak, kenapa dia tidak langsung saja menemui kita di villa? Malah dia memintamu untuk menemuinya." Ujar Fara yang membuat Riyan mulai kesal.
"Sudahlah Fara..! Kamu itu terlalu berpikir negatif terhadap Rena. Dia itu wanita baik-baik. Dan dia itu pacar dari sahabat baikku." Ujar Riyan dengan nada suara yang sudah mulai naik.
"Sebagai seorang istri, wajar kalau aku berpikir seperti itu. Tapi tidak perlu kamu berteriak seperti itu padaku..!" Jawab Fara dengan tatapan yang begitu tajam ke arah Riyan.
Dengan tampang yang terlihat begitu datar, Riyan melangkah pergi tanpa berpamitan ataupun melirik Fara, yang sedang menatapnya dengan ekspresi tidak kalah datar. Fara sedikit kesal karena tidak terima dengan Riyan yang membetak nya hanya karena membela wanita lain yang bukan siapa-siapa.
"Semoga saja tidak akan terjadi hal yang buruk dengan rumah tanggaku. Tapi mengapa aku begitu khawatir dengan kehadiran wanita itu?" Fara berkata-kata dengan tampang penuh kekhawatiran.
Walaupun belum pernah mengenali wanita yang bernama Rena, tapi Fara tiba-tiba merasa sangat khawatir dengan kehadirannya. Apalagi dia akan berkuliah di universitas yang sama dengannya juga Riyan, sebagai mahasiswi pindahan seperti dirinya. Namun Fara hanya bisa berharap semua kekhawatirannya itu hanya perasaannya saja. Yang begitu takut untuk kehilangan suaminya.
Di dalam perjalanan menuju sebuah restoran, Riyan melajukan mobil mewahnya sambil memikirkan Fara yang menurutnya terlalu berlebihan, dalam menilai orang yang belum dia kenali. Karena waktu di villa malam itu, Riyan dan Rena hanya membahas tentang keadaan Firman, sahabat sekaligus pacar Rena yang berada di Malaysia.
Sampainya di restoran yang dia tuju, Riyan pun langsung melangkah masuk setelah keluar dari mobilnya, yang sudah terparkir di depan restoran tersebut. Setelah memasuki pintu, Riyan langsung melambaikan tangannya setelah melihat kedua orang temannya, yang juga sedang melambangkan tangan untuknya.
"Aku ada sedikit urusan keluarga." Jawab Riyan berbohong.
"Ooo,, aku pikir kamu lagi liburan." Sambung Exel.
"Mau minum apa Yan?" Tanya Exel dan Erlando secara bersamaan.
"Sama seperti kalian saja." Jawab Riyan dengan tampang khasnya.
"Yan,, dengar-dengar ada dua mahasiswi pindahan di Kampus kita. Yang satu dari Indonesia, dan yang satunya lagi dari Malaysia." Ujar Exel yang selalu mengetahui semua informasi, tentang wanita-wanita cantik di Kampusnya. Tapi Riyan sama sekali tidak bergeming mendengar apa yang di katakan oleh Exel.
"Apa kamu sudah tahu nama mereka?" Tanya Erlando penasaran.
"Sudah dong,, apa sih yang tidak buat aku?" Jawab Exel penuh percaya diri.
"Hey bro,, ko kamu datangnya telat sih?" Ujar Erlando setelah melihat Arlan yang sedang melangkah menghampiri mereka.
"Aku tu bangunnya kesiangan." Jawab Arlan.
"Yan,, kamu ko baru kelihatan?" Tanya Arlan sambil menarik kursi yang mau dia duduki.
"Aku ada urusan keluarga selama beberapa hari ini." Jawab Riyan tetap berbohong.
"Terus saudara kamu di mana?" Sambung Exel.
"Ada di hotel. Biasa orang sibuk. Jam segini ngga bisa kemana-mana." Jawab Arlan sedikit menyombongkan saudaranya yang bernama Deni. Laki-laki yang sudah pernah mengarang cerita bohong mengenai Fara.
"Eh Lan,, kata Exel ada dua mahasiswi pindahan." Ujar Erlando sambil tersenyum menatap Arlan.
"Oh ya..? Mereka pindahan dari mana?" Tanya Arlan dengan ekspresi yang sangat tidak sabar.
"Yang satunya dari Indonesia, kalau ngga salah semester empat. Dan yang satunya lagi dari Malaysia. Yang dari Malaysia itu namanya Rena. Dia ngga terlalu cantik. Kalau yang dari Indonesia itu, katanya jelmaan bidadari.." Jelas Exel yang membuat kedua sahabatnya semakin bersemangat.
"Aku ngga sabar mau cepat-cepat kuliah. Soalnya aku mau melihat jelmaan bidadari yang kamu bilang itu." Ujar Erlando yang terlihat begitu bersemangat.
"Iya,, aku juga tidak sabar ingin cepat-cepat ke kampus." Sambung Arlan tidak kalah semangat.
"Sabar,, sabar,,! Besok kita sudah aktif di Kampus. Dan kita lihat, siapa yang duluan mendapatkan hati jelmaan bidadari itu." Sambung Exel.
Exel, Erlando, dan Arlan begitu bersemangat membahas mahasiswi pindahan di Kampus mereka. Dan tanpa mereka sadari, ekspresi Riyan sudah seperti tembok mendengar percakapan mereka sejak tadi. Karena ternyata, orang yang di sebut jelmaan bidadari itu tidak lain adalah Fara bidadari di hati Riyan. Siapapun yang berada di posisi Riyan akan merasa kesal, di saat mendengar kecantikan istrinya menjadi bahan pembicaraan laki-laki lain.