Cinta Di Dalam Perjodohan 3

Cinta Di Dalam Perjodohan 3
Bab 172. Kejadian Memalukan.


Dengan gayanya yang centil, Fara terus melekat di atas pangkuan Riyan tepat di depan meja kerja. Sentuhan tangan mulusnya di dada bidang Riyan seketika mengganggu konsentrasi Riyan yang sedang fokus pada pekerjaannya. Dan lebih parahnya lagi, setelah mengalami kecelakaan itu, Riyan semakin berhasrat saat di dekati Fara seperti itu. Semua itu terlihat jelas dari hembusan nafas yang sudah mulai tidak teratur juga tatapan mata yang tiba-tiba aneh. Melihat keadaan Riyan yang mulai berubah, Fara pun langsung berpikir untuk menggodanya.


"Mas,, kamu kenapa? Mengapa kamu menatapku seperti itu?" Tanya Fara dengan senyum menggoda yang terukir di wajah cantiknya.


Mendengar pertanyaan Fara, Riyan akhirnya tersadar dengan situasi juga kondisi mereka saat itu. Dan tanpa menunggu lama, dia segera memalingkan wajahnya dari tatapan Fara.


"Jangan seperti ini! Ini di kantor. Kalau ada yang lihat kan malu." Jawab Riyan tanpa menatap Fara yang semakin melebarkan senyumnya.


"Aku kan istri kamu. Biar di lihat kariyawan kamu ngga ada salahnya kan? Lagian aku ngga ada niat apa-apa." Ujar Fara sambil mengusap-usap wajah Riyan yang sudah mulai merah dan menegang.


"Tapi kamu tubsudah menggangu konsentrasi aku. Aku tu harus kerja." Jawab Riyan sambil menatap Fara.


"Mas,, kamu saja yang berpikir terlalu jauh. Tapi kalau boleh jujur ni Mas, aku merasa sangat bahagia karena kamu hanya menginginkan aku seorang." Ujar Fara tanpa dia sadari ada yang mendengar semua pembicaraan mereka, dengan sebuah alat perekam berukuran kecil yang ada di bawah meja kerja Riyan.


"Kalau memang seperti itu, berarti mulai hari ini, jangan pernah menolak di saat Mas menginginkanmu, juga menginginkan anak darimu." Ujar Riyan sambil mengecup mesra kening Fara.


"Aku tidak akan pernah menolak mu sekarang dan untuk selamanya. Dan aku juga sudah siap untuk mengandung darah daging mu." Jawab Fara sambil memeluk Riyan.


Mendengar pembicaraan antara Fara dan Riyan, Dena merasa sangat kesal. Dia semakin menginginkan kehancuran rumah tangga Riyan dan Fara, setelah mengetahui kebahagian mereka setelah saudaranya telah menjadi korban. Sebagai seorang adik, Dena sangat tidak rela melihat kebahagiaan Riyan dan Fara setelah kepergian saudara laki-lakinya.


"Aku tidak akan membiarkan keinginan kalian bisa terwujud. Kalian tidak boleh bahagia di atas penderitaan kedua orang tuaku." Dena berkata-kata dengan tampang penuh kemarahan. Sambil menggenggam erat ponselnya, yang dia sambungkan dengan alat perekam suara yang ada di bawah meja kerja Riyan.


"Kamu tunggu sebentar di sana ya! Mas mau menyelesaikan pekerjaan Mas dulu. Setelah itu kita langsung pulang." Ujar Riyan sambil menunjuk ke arah sebuah sofa yang ada di dalam ruang kerjanya.


Pikiran Riyan yang sudah di kuasai dengan keindahan tubuh Fara, membuat dia begitu bersemangat mengerjakan pekerjaannya. Dia sampai tidak mengangkat muka sedikitpun saking buru-buru menyelesaikan apa yang sedang dia kerjakan. Keinginan batinnya sebagai seorang laki-laki, tidak bisa dia kendalikan di saat pikirannya sudah tidak bisa di hindari dari dengan khayalan yang membangkitkan hasratnya.


Hanya memakan waktu hampir satu jam, Riyan sudah selesai menyelesaikan pekerjaannya. Setelah merapikan berkas yang sudah dia tandatangani, Riyan pun langsung berdiri dari tempat duduknya dan berbalik menghadap ke arah sofa di mana Fara berada. Tapi dia seketika langsung mematung di saat melihat dress yang di gunakan Fara sudah terangkat melewati perutnya. Dan di saat dia sedang menatap Fara dengan begitu serius, terdengar suara ketukan pintu yang membuat dia seketika jadi panik.


"Tok...tok...tok.."


Dengan segera Riyan buru-buru menghampiri Fara untuk menurunkan dress yang sudah terangkat, sehingga membuat bagian bawahnya terpampang nyata. Apalagi posisi tidur Fara sangat tidak teratur di atas sofa berukuran besar yang terletak tepat di samping jendela ruang kerja Riyan.


"Fara... Ada orang yang akan masuk. Jangan seperti ini!" Riyan berusaha memberitahukan Fara yang tidak bisa diam di saat Riyan membenarkan posisi tidurnya juga menurunkan bajunya yang terangkat.


"Apa sih Mas..? Aku ngantuk Mas.. Mengapa kamu rakus seperti ini sih Mas..?" Fara bersuara sambil menarik lengan Riyan tiba-tiba tanpa sadar. Namun apa yang dia lakukan itu, malah membuat Riyan langsung tersungkur dan wajahnya tertempel tepat pada bagian bawahnya Fara.


"Astaga Pak Riyan... Apa yang Bapak lakukan..?" Suara teriakan sekretaris Riyan dengan tampang kagetnya karena melihat posisi Riyan.


"Ada apa Mba..?" Tanya Fara yang tiba-tiba terbangun karena mendengar suara teriakan sekretaris Fara.


"Itu Pak Riyan lagi ngapain di bawa?" Tanya sekretaris Riyan sambil menatap Riyan yang sedang terjepit dengan kedua paha Fara di bawah sana.


"Astaga Mas... Apa yang kamu lakukan..? Kamu ko mesum tanpa mengenal tempat sih Mas..?" Teriak Fara dengan tatapan kaget, sambil buru-buru bangun dari sofa.


Riyan yang begitu malu dengan apa yang terjadi, langsung mengangkat kepalanya kemudian memarahi sekrestarisnya tanpa berpikir panjang. Sedangkan Fara yang kebingungan dengan apa yang baru saja di lakukan suaminya, hanya menatap dengan mata terbuka lebar tanpa bisa bersuara.