Affair With Prince Bastard

Affair With Prince Bastard
Masalah Terselesaikan


Tubuh Anyelir bergetar didalam dekapan Oceana. sang princess menangis tertutup, berusaha untuk tidak mengeluarkan isakan tapi tetap saja itu tidak bisa. Tangisannya semakin menjadi saat Oceana sang Mommy terus saja mengucapkan banyak kata kata penenang.


Sang Permaisuri Albarack itu tahu kondisi putrinya saat ini, Anyelir pasti shock dan ketakutan karena beberapa saat yang lalu nyawanya hampir saja melayang akibat ulah wanita gila yang menjadi simpanan Tuan Al-Faruq serta Erlan putranya. Kedua pria yang berstatus sebagai ayah dan anak tersebut ternyata memiliki wanita simpanan yang sama, sangat menjijikkan.


"Sudah, mereka sekarang sudah pergi dan Mommy yakin mereka tidak akan bisa lagi untuk mengganggu kamu. Ada Daddy sama Ethan suami kamu yang akan menjaga kamu, ada Mommy juga." Oceana terus saja menenangkan, walaupun Anyelir masih menangis sesegukan didalam dekapannya.


Sementara Dahliara dan Jiddah Yasmine hanya bisa menatap sendu dengan bola mata yang memerah pada Anyelir. Begitu juga dengan para anggota keluarga dari Indonesia, ada Berliana sampai Davina istri dari Gavyn beserta sang Putri semata wayang mereka turut hadir.


Para wanita masih sibuk menenangkan Anyelir, sementara para pria tengah menyelesaikan sesuatu yang memang belum terselesaikan. Ketiga manusia itu memang sudah terusir dari istana Al-Faruq bahkan Dubai, tapi sepertinya itu tidak semudah yang di bayangkan.


Cukup lama Anyelir menangis hingga akhirnya wanita yang masih menggunakan gaun pengantin tersebut terlelap di dalam pelukan Oceana. Wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu membelai lembut kepala putri semata wayangnya, sesekali menggumamkan kata kata yang semakin membuat Anyelir terlelap.


Semua keluarga pun merasa lebih tenang, mereka menghela napas pelan lalu terlihat mengalihkan pandangan kearah lain dimana para pria mulai kembali ke ruangan yang mereka tempati sekarang.


"Bagaimana?" Tanya Dahliara cepat saat melihat Lionel mendekat kearahnya lalu merangkul pinggangnya tanpa canggung.


Kenapa nih Si Singa tua?


Dahi Dahliara mengernyit tidak mengerti, tapi dia membiarkan Lionel terus saja menempel padanya. Sang Putri Albarack bahkan membalas pelukannya dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Lionel.


"Kita bawa Anyelir pulang terlebih dahulu. Setelah Ethan menyelesaikan semuanya Anyelir bisa kembali ke sini. Permaisuri Al-Faruq juga akan ikut bersama kita, dia perlu menenangkan diri terlebih dahulu. Aku yakin besan kita itu masih shock dengan apa yang terjadi tadi. Memang kedua bajingan itu benar-benar menjijikkan bisa bisanya mereka berbagai satu wanita di ranjang bahkan merencanakan sesuatu yang bisa membahayakan keselamatan Anyelir!" Lord Erkan datang dengan wajah yang sulit untuk diartikan. Dengan cepat dia mendekat pada istri serta putrinya, dia mengambil alih Anyelir dari tangan Oceana lalu menggendongnya.


Dia membawa Anyelir keluar dari istana Al-Faruq diikuti oleh semua anggota keluarganya. Mereka memutuskan untuk pulang ke kediaman Albarack, sementara Ethan dan juga Elvier masih menyelesaikan masalah besar ini dengan para tetua. Membahas bagaimana kedepannya, tindakan apa yang akan mereka ambil.


🐣


🐣


🐣


Anyelir memijat pelipisnya yang berdenyut. Selama dua jam lebih dia tertidur dan saat terbangun ternyata dia sudah berada di dalam sebuah kamar yang tidak asing. Kamar miliknya di istana Albarack, Anyelir yang masih mengumpulkan nyawanya belum bisa bergerak bebas.


Terlebih denyutan di kepalanya kian menjadi saat dirinya banyak bergerak, bahkan untuk mengingat Ethan pun belum sempat. Anyelir belum menyadari kalau pria yang menjadi suaminya tersebut tidak ada di sampingnya.


Saat ini bayangan dimana Margareta tengah mencekik hingga mendorongnya kearah pembatas rooftop kembali hadir membuat rasa takutnya seketika muncul. Tubuh Anyelir bergetar, keringat membasahi dahi serta tubuhnya, beruntung tidak terlalu lama wanita itu berada dalam bayangan mengerikan tersebut, karena tiba-tiba saja ada dua buah tangan besar segera memeluk tubuhnya erat seraya terdengar bisikan lembut menenangkan mengalun hingga membuat Anyelir perlahan berangsur-angsur membaik.


Tubuhnya tidak lagi bergetar, suhu tubuhnya perlahan normal, bahkan rasa khawatir serta takut yang tadi menyerangnya mulai menghilang. Anyelir membalas pelukan hangat itu, menyandarkan kepalanya di tubuh hangat yang terasa familiar baginya.


"Sudah tenang, hm? Jangan khawatir, aku ada disini. Tidak akan terjadi apapun padamu selama aku masih hidup, sekarang kau istirahat lagi oke. Keluarga besar kita sedang menyiapkan makan malam, sepertinya mereka sengaja mengadakan makan malam sampai barbeque juga di halaman belakang." Orang itu terkekeh pelan, pelukannya kian mengerat di tambah lagi kecupan hangat yang terus saja di berikannya.


Tanpa berucap apapun Anyelir perlahan terlelap, jujur dia memang begitu lelah, bukan hanya hari ini tapi juga hari hari sebelumnya terlebih saat mereka mulai merencanakan rencana yang sudah matang dan siap untuk di eksekusi.


Beruntung semua rencana berjalan mulus, walaupun pada akhirnya banyak mengundang drama hingga membuat nyawanya hampir terancam bahkan bukan lagi terancam tapi sudah berada di tangan orang gila yang memang ingin sekali menghabisinya.


"Tidurlah, aku akan menemanimu disini. Jangan takut, mimpikan aku, jangan mimpikan yang lain!" Bisiknya terdengar lembut namun sarat akan peringatan.


Sedangkan dilantai bawah keluarga besar Anyelir sedang sibuk membuat berbagai makanan, hanya makanan yang mudah dan tidak memakan banyak waktu terlebih jam semakin cepat bergerak dan mereka tidak memiliki banyak waktu panjang untuk menyiapkan semuanya.


"Kamu yakin mau ikut Uncle ke Indonesia? Uncle tinggal di kampung loh bukan di kota, lagi nanam cabe, terus ngajar ngaji juga buat anak-anak kampung. Uncle enggak yakin kamu bakalan betah disana Tiger, kenapa enggak ikut sama Eyang Gentala atau Om Davyn aja di kota?"


Semua orang terlihat mengalihkan atensi mereka pada kedua orang pria berbeda usia yang terlihat tengah berbicara serius dalam logat Indonesia yang kental sembari menyiapkan panggangan.


"Aku serius Uncle, aku enggak peduli dimana tinggalnya! Ada sesuatu yang harus aku pastikan, aku ingin memastikannya sendiri. Karena aku sudah enggak percaya lagi sama orang yang katanya berniat membantu!" Sahut si pria muda, seraya melirik pada sepasang suami-istri yang tidak lain adalah kedua orangtuanya sendiri.


Pemuda yang sudah beberapa bulan ini terlihat seperti orang yang tidak waras itu sepertinya sudah tidak mempercayai orang-orang yang menjadi bawahan sang Papa. Orang-orang yang di tugaskan untuk mencari seorang gadis, sudah berbulan-bulan masa iya belum juga ketemu padahal setahunya alamat yang mereka miliki akurat.


Pasti ada kong kalikong diantara mereka!


Lihat saja, dia akan menemukan gadis itu dengan tangannya sendiri bahkan kalau bisa dirinya akan langsung menikahinya tanpa memberitahu siapapun terlebih sepasang suami-istri yang saat ini terpantau mesra tapi tidak tahu tempat dan suasana.


BERSAMBUNG...


SEE YOU MUAACCHHH😘😘😘😘