
Suasana istana Al Faruq terlihat sepi, hanya ada para pelayan yang lalu lalang membereskan beberapa barang yang digantikan oleh barang baru.
Anyelir menyusuri lorong istana dengan perlahan, mata biru indahnya tidak lengah sedikit pun. Dia berjalan menuju luar istana, terarah pada lahan rimbun yang di penuhi tanaman bunga.
"Kemana semua orang?" tanyanya.
Sang princess berdecak, dia melebarkan langkahnya, mengangkat gaun panjang yang dipakainya untuk mempercepat laju kakinya. Sesampainya di luar kedua mata Anyelir mengedar luar, dia mencari sesuatu yang menarik perhatiannya.
Tidak ada yang menarik sejauh ini, hanya ada tanaman yang bergoyang di terpa angin. Helaan napasnya kembali terdengar, entah mengapa dirinya malah merasa diasingkan oleh penghuni istana ini, padahal dia adalah tamu spesial disini.
Menyebalkan!
"Dia kemana lagi?" gumamnya.
Kedua kaki Anyelir kembali melangkah, hingga akhirnya tidak lama sayup sayup dia mendengar suara dari arah lain. Dahi Anyelir mengernyit saat melihat beberapa pelayanan membawa anak panah serta makanan dan minuman ke asal suara.
Sedang apa mereka disana?
Perlahan Anyelir mendekat, tapi saat ekor matanya menangkap sesuatu dari arah kejauhan dia mengurungkan niatnya. Anyelir menoleh, matanya menatap lekat ke arah seseorang yang tengah menyeret sesuatu. Kedua kakinya reflek berbalik, dia sudah tidak lagi berminat untuk menghampiri orang orang yang tengah sibuk sendiri tidak ada yang sekedar mengajaknya, bahkan si Putra Mahkota abal abal itu pun sama saja padahal mereka masih terikat hubungan.
"Aku tidak peduli, si sialan itu mau melakukan apa dengar ular gurun itu!" desisnya.
Anyelir mempercepat langkahnya, dia menerobos masuk kedalam semak bunga yang tengah bermekaran. Menyusul langkah panjang seseorang yang sejak tadi dia cari, rupanya orang itu juga sama melupakannya seperti mereka.
Jarak diantara keduanya kian dekat, sang princess dapat melihat punggung lebar kekar berotot dengan kulit berwarna tan, sungguh pemandangan nakal itu membuat bulu kuduk nya meremang.
Ini terlalu sexy!
"Ekhem!" Anyelir berdehem cukup keras. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain saat ekor matanya melihat kalau orang yang sedang dibuntutinya menoleh.
Alis tebal itu naik satu baris, sudut bibirnya berkedut saat mendapati seseorang yang dari kemarin terlihat menarik ulur perasaannya, lebih tepatnya jinak jinak merpati.
"Berteduh lah, kau akan terbakar kalau tetap berada disini!" usir nya secara halus.
Kedua tangannya sibuk membongkar belitan tali tambang khusus yang akan dia gunakan saat memanjat tembok tinggi di depannya.
"Biarkan saja, bukannya kau lebih suka kulit coklat dari pada susu putih seperti ku?!" sarkas nya.
Pria berkaos tanpa lengan itu terkekeh, dia berbalik, tatapannya tertuju pada gadis bergaun peach yang masih saja memalingkan wajahnya ke arah lain tanpa ingin menatapnya. Padahal dia tahu kalau beberapa kali ekor mata sang princess mencuri pandang ke arahnya dengan malu malu.
Astaga nakal sekali, tapi dia suka!
Seringai kecilnya terbit, dia mendekat pada gadis yang masih saja menjual mahal harga dirinya, padahal dia tahu kalau sang gadis memiliki perasaan padanya.
Sreeet!
Dengan cepat pria itu membuka kaos tanpa lengan berwarna gelap yang dipakainya lalu meletakan benda itu diatas kepala Anyelir.
"Wajahmu memerah, Sayang. Kau akan pingsan kalau seperti ini terus." Ucapnya lembut. Bahkan dia juga memberikan usapan lembut di wajah Anyelir yang memerah. Bukan hanya memerah karena terpapar sinar matahari, tapi juga karena perlakuan manis yang di berikan oleh pria sexy yang sedang bertelanjang dada didepannya saat ini.
Anyelir ingin pingsan sekarang juga rasanya!
Mata nakal gadis itu bergerak dengan sendirinya, menyusuri pahatan sempurna pria yang dia inginkan sejak usianya belia. Tubuh itu terlalu indah untuk di lewatkan, bukan hanya eksotis tapi juga panas dan menggairahkan. Penolakan penuh sandiwara itu ternyata tidak mampu membuang rasa yang sudah terpahat abadi di dalam hatinya.
Oke dia berdosa karena sudah mencintai pria yang bukan calon suaminya.
"Berteduh lah disana, aku akan menyelesaikannya dengan cepat."
Ethan berbalik, dia meregangkan kedua tangannya dan bersiap untuk menaiki tembok tinggi yang membuat Anyelir harus menelan salivanya kasar. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau sampai jatuh dari atas sana, pasti sangat sakit atau bahkan bisa mati di tempat.
Tanpa membantah Anyelir segera mendekat pada pohon kecil yang lumayan bisa untuk dia jadikan tempat berteduh. Beberapa kali Anyelir mengedarkan kedua matanya, dia seperti tengah memastikan kalau tidak ada orang lain yang tahu keberadaannya di sini. Karena kalau sampai ada yang tahu akan banyak pertanyaan yang harus dia jawab nanti.
Mata biru laut itu terus saja bergerak, sesekali mencuri pandang pada punggung pria yang mulai melancarkan aksinya, dan kemudian bergulir ke arah lain. Hingga tidak sengaja Anyelir melihat sesuatu yang mengejutkan matanya, posisi dirinya yang sedang duduk di atas kaos milik Ethan membuat tubuhnya sedikit tersembunyi. Namun dia bisa melihat ada dua orang anak manusia yang tengah berjalan berdua memasuki wilayah taman ini.
"Si abal abal sama ular gurun mau kemana?" gumamnya.
MAU PENGSAN RASANYA😌😌
ULAR GURUN🤣🤣🤣