Affair With Prince Bastard

Affair With Prince Bastard
Otak Cabul


Anyelir berjalan pelan sembari terus saja menyunggingkan senyuman tipisnya, bola mata birunya bergerak pelan saat menangkap siluet seseorang di belakangnya. Tanpa perlu menoleh pun dia sudah tahu siapa orang itu, rupanya mangsa sudah memakan umpan, padahal umpannya masih dalam katagori amatiran.


'Sekali bajingan tetap bajingan!' desisnya dalam hati.


Sang princess berbelok, dia membawa langkahnya menuju balkon yang ada di lantai satu. Gadis itu meletakkan kedua tangannya di pembatas besi, mata biru lautnya menatap hamparan bunga yang tengah bermekaran di area taman istana.


"Ekhem!"


Suara deheman keras itu tidak mampu membuat atensi Anyelir beralih dari pemandangan indah di depannya, dia tetap setia menatap ribuan bunga Anyelir bermekaran yang tengah disirami oleh tukang kebun istana.


"Sejak kapan kau memakai gaun seperti itu, Princess?" suara ngebass itu terdengar mendekat, mengikis jarak dengan Anyelir hingga akhirnya berdiri tepat di sisi sang princess.


"Sejak aku pertama kali datang di istana ini, aku sudah memakainya Yang Mulia. Bukankah Permaisuri sendiri yang memerintahkan pelayan untuk memberikan gaun gaun itu padaku?" sarkas nya.


Sudut bibir Anyelir terangkat, ekor matanya melirik pada pria yang saat ini tengah terang terangan menatap ke arahnya. Lebih tepatnya pada belahan paha yang sangat tidak nyaman untuknya, tatapan itu terlihat cabul seakan ingin menerkamnya.


"It's oke, aku suka. Terlebih penampilan mu hari ini, sungguh berbeda. Kau terlihat lebih cantik dan panas," bisiknya diakhir kalimat.


Bahkan Anyelir dapat merasakan hembusan napas hangat menembus permukaan kulitnya. Dia masih bisa melihat seringai kecil yang saat ini tengah ditunjukan oleh Sang Putra Mahkota.


Cih Putra Mahkota! Pria ini sangat tidak pantas menyandang predikat itu. Selain predikat Putra Mahkota hasil curian, nama besar itu pun tidak cocok dimiliki oleh pria berotak cabul sepertinya.


"Aku tidak sabar untuk segera menikah denganmu, Sayang." ucapnya lagi.


Anyelir sontak menoleh pada pria yang terlihat berani merengkuh pinggang kecilnya. Merapatkan tubuh mereka berdua, hingga membuat sang princess kian risih dibuatnya.


Menikah? Heh, mungkin kalau dirinya belum mengetahui bagaimana busuknya pria manis dan lembut ini, Anyelir akan terpesona bahkan mengiyakan ajakannya. Tapi maaf untuk kali ini dia tidak sudi menikah dengan keparat yang berhasil membuat Ethannya menjauh darinya.


'Kau dan Pak Tua keparat itu memang harus di beri pelajaran. Enak saja bermain hati dengan princess Albarack.' sungut nya dalam hati.


"Bagaimana, apa kau ingin kita menikah lebih cepat, hm?" bisiknya lagi.


Anyelir belum merespon, dia masih berusaha menjauhkan dirinya dari Erlan. Menelan salivanya sudah payah saat pria bajingan itu kian mendekatkan wajahnya dan menyasar ke arah bibir tipis miliknya.


Sialan, Erlan hendak menciumnya, apa yang harus dirinya lakukan sekarang? Kalau dia menghindar atau menolak, pria ini pasti akan merasa aneh bahkan curiga padanya. Tapi kalau di biarkan, dirinya tidak sudi untuk menerima ciuman keparat sialan ini dan semua rencananya pasti berantakan, sialan.


Dirinya harus apa Tuhan?


'Ethan, help me!' jerit nya dalam hati. Hanya nama pria itu yang sekarang melihat di pikirannya, Anyelir berharap Ethan akan datang dan menyingkirkan bajingan ini darinya.


Kedua mata Anyelir perlahan tertutup, bukan karena ingin menikmati situasi intim ini, tapi lebih ke rasa takut dan tegang. Kedua tangan sang princess bergetar dan berkeringat, ingin sekali dia mendorong tubuh Erlan saat pria itu sudah meraih tengkuknya, namun tidak bisa, dia tidak bisa hingga-


"Maaf, Yang Mulia Putra Mahkota, Tuan Besar memanggil anda untuk segera pergi ke ruang kerjanya."



GIMANA SI ABAL ABAL GAK KEJET KEJET🤣🤣🤣