Affair With Prince Bastard

Affair With Prince Bastard
Rencana


Kedua kaki Anyelir melangkah mengendap-endap keluar dari kamarnya. Setelah berhasil melepaskan diri dari cengkraman Ethan akhirnya dia bisa keluar tanpa membangunkan pria itu.


Rasa lapar yang tengah melilit perutnya membuat Anyelir terpaksa keluar dari kamar karena dia tidak mungkin menyuruh pelayan mengantarkan kesana, bisa heboh istana ini.


"Sayang, kau sudah bangun?"


Gerakan kaki Anyelir terhenti mendengar suara seseorang dari arah belakang tubuhnya, gadis bergaun floral selutut itu menegang kala melihat senyuman manis yang terpatri dibibir pria yang menjadi tunangannya tersebut.


"Kau mau kemana, hm? Kenapa wajahmu pucat sekali, apa kau tidak tidur dengan baik?" Ucapnya lagi. Tangan besarnya terulur mengusap sebelah pipi milik Anyelir, masih dengan senyuman maut yang dulu berhasil membuatnya mengambil keputusan yang salah.


Mungkin kalau dirinya belum mengetahui bagaimana busuknya seorang Erlan Al-Faruq, Anyelir akan merasa dicintai dan didambakan oleh pria ini. Kemungkinan besar pula dia akan segera melupakan cinta pertamanya, tapi setelah tahu semua sikap manis yang ditunjukkan Erlan hanyalah manipulasi belaka, Anyelir muak melihatnya. Ingin sekali dia menjejalkan sepatu yang dipakainya pada mulut pria sialan ini.


"Aku hanya merasa lapar, mungkin karena itu wajahku pucat." Sahutnya ringan.


Anyelir segera menghindar, bahkan tangan Erlan yang tadi mengusap wajahnya terlihat melayang di udara. Pria itu terlihat terkekeh, senyuman manis yang tadi ditampilkan berubah menjadi seringai kecil. Matanya terus saja mengarah pada tubuh belakang Anyelir, terfokus pada kedua kaki jenjang sang princess yang saat ini tidak tertutup padahal biasanya selalu tersembunyi.


Erlan menyeka bibir bawahnya dengan ibu jari, sebelum dia mengikuti langkah Anyelir yang menuju ruang makan.


Sementara didalam kamar, Ethan terlihat menggeliat. Mata hitamnya menyipit, tangannya meraba untuk mencari sesuatu tapi sayang dia tidak menemukan apapun.


"Sial, dia meninggalkan ku!"


Ethan bergegas bangkit dan berlari menuju pintu kamar, tapi belum sempat dia membukanya pria itu kembali merutuki kebodohannya sendiri. Beruntung dia belum sempat membuka pintu itu, kalau otaknya tidak berpikir cepat pasti dirinya dan Anyelir akan mendapatkan masalah.


Dengan kondisi yang masih belum bugar sepenuhnya setelah tertidur pulas dipangkuan sang princess, Ethan berjalan menuju balkon kamat, matanya mengamati sekitar sebelum dia cosplay menjadi siluman Laba-laba.


Disisi lain, Margareta terlihat mondar-mandir didalam kamarnya. Wanita bergaun hitam dengan belahan dada rendah itu terlihat tidak sabaran saat orang yang tengah dia hubungi saat ini tidak kunjung menerima panggilannya.


"Astaga kau kemana saja, brengsek?!" Amuknya dengan suara tertahan.


"Jangan menjelaskan apapun, sialan. Sekarang lakukan tugasmu dengan benar kalau kau masih ingin menikmati wanita di dunia ini!" Desis Margareta dengar bola mata terus bergerak seakan tengah mengawasi sekitar.


"Ah baiklah, ternyata sudah dimulai ya. Apa rencananya masih sama? Apa aku boleh sedikit mencicipinya nanti?" Gelak tawa terdengar dari seberang telepon, orang yang Margareta hubungi terdengar senang dan tidak sabaran sepertinya.


"Terserah, apapun yang kau lakukan padanya aku tidak peduli. Asalkan singkirkan dia serapih mungkin jangan sampai meninggal jejak, buat kejadian itu sealami mungkin. Kau tidak bodoh dalam melakukan hal itu bukan?"


Tawa orang yang tengah Margareta hubungi kembali terdengar, dia terlihat begitu senang dan sudah bersiap menerima tugas yang selama ini di tunggunya. Ya walaupun ini bukan tugas pertama dari Margareta tapi dirinya benar-benar tidak sabar.


"Ah... Margareta aku merindukanmu. Bisakah kita bertemu setelah aku menyelesaikannya?"


Giliran Margareta yang tertawa kecil, tawa yang terdengar remeh dan sinis.


"Aku ini calon Permaisuri Al-Faruq, aku tidak ingin memiliki urusan lagi dengan mu setelah semuanya selesai. Kerjaan dengan baik, aku tidak akan segan melenyapkan mu kalau sampai gagal!"


Tanpa berbasa-basi lagi Margareta segera mematikan ponselnya, dia meremas erat benda itu, wajah cantiknya terlihat mengeras, wanita itu sedang menahan amarahnya.


"Aku yang akan menjadi Permaisuri, tidak Wanita tua itu ataupun kau Princess Anyelir!" Gumamnya penuh ambisi.


🪞


🪞


🪞


BERSAMBUNG...