Affair With Prince Bastard

Affair With Prince Bastard
Apa Yang Harus Aku Lakukan


Anyelir kembali tertawa di buatnya, dia menepuk keras pundak Tiger. Kedua wanita beda usia ini memang sangat senang mengganggu ketentraman baby singa yang satu ini.


Hingga tawa Anyelir perlahan terhenti saat ekor matanya tidak sengaja bersinggungan dengan bola mata seseorang. Sang princess berdehem, entah mengapa aura yang di keluarkan oleh si pemilik mata tersebut terasa mengerikan.


"Sayang, aku akan menemui Ayah sebentar. Kau tak apa kan kalau aku tinggal?"


Anyelir tersentak, dia menoleh pada Erlan yang saat ini sudah berada disisinya. Dia menarik napas pelan, berusaha menyunggingkan senyumannya dan mengangguk mengizinkan. Erlan tidak membuang kesempatan, dia segera berpamitan pada calon keluarga barunya dan pergi meninggalkan Anyelir bersama mereka. Selepas kepergian sang Putra Mahkota, Anyelir kembali berbincang dengan orang orang tersayangnya, hingga dirinya merasakan kalau kantung kemihnya penuh dan harus segera ke toilet.


"Mom, aku ke toilet dulu ya," izinnya.


Anyelir segera bergegas, dia masih sempat memberikan senyuman pada orang orang yang menyapanya, terkesan menjilat dan berusaha dekat itu yang Anyelir tangkap dari gerak gerik mereka.


"Astaga, kenapa aku merasa toiletnya jauh sekali?" gerutunya.


Heels tinggi yang dia pakai sedikit menyulitkan langkahnya, di tambah lagi dengan gaun yang panjangnya semata kaki. Jujur saat ini ingin rasanya Anyelir mengangkat gaunnya tinggi dan melepaskan kedua heels yang sejak tadi menyiksa dirinya.


Napas leganya terdengar saat dia menemukan apa yang di perlukan nya saat ini. Toilet cukup sepi, dia bergegas masuk kedalam tanpa melihat ke area sekitar, hingga pada akhirnya Anyelir tidak sadar kalau ada seseorang ikut masuk kedalam bersamanya.


Tapi setelah sekian menit ditunggu, tidak kunjung ada jeritan atau pun teriakan dari dalam toilet. Didalam toilet Anyelir menyudahi kegiatannya, dia bergegas keluar dari closet dan menuju ke arah wastafel. Dia sedikit perlu merapihkan penampilannya saat ini, kedua mata biru Anyelir menatap ke arah kaca dengan tenang.


Namun ketenangannya sirna saat dia melihat dengan jelas siapa yang saat ini sedang berdiri sembari bersandar di tembok dengan wajah datar dan tidak ada rasa bersalah sedikit pun.


"Pa-Pangeran ke-,"


Bibir Anyelir terlipat ke dalam saat seseorang tiba tiba saja mendekapnya dari arah belakang. Netra keduanya bertemu didalam cermin, Anyelir dapat melihat seringai kecil yang ditunjukan oleh orang yang tengah mendekapnya tanpa izin saat ini.


Soalnya hati, otak serta raganya bertolak belakang. Ingin rasanya dia memberontak dan memukul keras wajah tampan yang selalu membuatnya serba salah itu, namun hatinya tidak mengizinkan.


"Kau sudah memikirkannya, hm?" bisiknya pelan.


Bulu kuduk Anyelir sampai merinding di buatnya, terlebih tangan besar berurat dan berotot itu tanpa izin mengusap pelan permukaan perut ratanya. Walaupun masih terhalang kain, tapi tetap saja ada belajar aneh yang kian merasuk.


"Memikirkan apa?" Anyelir menjawab dengan tenang, walaupun kenyataan tidak seperti itu.


Pria yang ada di belakangnya menghela napas pelan, dengan cepat dia membalikan tubuh Anyelir hingga keduanya saling berhadapan tanpa ada penghalang.


"Sekarang aku sudah bisa melindungimu, kembalilah." ucapnya lagi.


Dahi Anyelir kian mengerut mendengar ucapannya, kedua mata birunya menatap lekat pada pria yang sekarang terlihat menyendu. Anyelir dapat mencium bau alkohol dari aroma mulutnya, dia yakin pria ini sedang mabuk sekarang.


Anyelir mencoba menjauhkan Ethan, tapi sayang usahanya sia sia. Perbedaan tubuh serta tenaga keduanya yang sangat jauh tidak membuat pria itu bergeser dari tempatnya.


"Maaf," ucapnya lagi.


"Untuk?" ayolah Anyelir sudah jengah, sudut matanya terus saja terarah pada pintu kamar mandi. Dia takut ada seseorang masuk lalu memergoki keduanya disini.


Ini salah! Terlebih disini sekarang ada keluarganya.


"Semuanya, penolakan itu dan-,"


"Lupakan! Itu sudah berlalu dan aku tidak ingin-,"


"Aku tidak mungkin melupakannya. Kau milikku, dari dulu sampai nanti aku tidak akan pernah melepaskanmu."


Tawa remeh Anyelir terdengar, dia bahkan menepuk salah satu pipi Ethan pelan, seakan tengah menyadarkan pria itu kalau tindakannya saat ini begitu konyol.


"Tapi kau sudah menolakku Pangeran Ethan. Bukan hanya sekali, tapi berkali kali, kau bahkan mempermalukan ku di acara prom night saat itu dan dari sanalah aku berpikir kalau semuanya sudah tidak berguna lagi, semuanya berakhir. Aku menyerah dan berharap tidak akan lagi bertemu dengan-,"


"Saat itu aku tidak bisa berbuat apa pun. Saat itu aku tidak sekuat sekarang, saat itu aku belum bisa melindungimu!" bentaknya.


Beruntung toilet ini kedap suara jadi cukup untuk meredam suara teriakan dari dalam yang Ethan keluarkan tadi. Anyelir terdiam, dia membatu, kedua matanya menatap lekat pada pria yang dulu selalu dia kejar namun terus saja menjauh dan menjaga bentangan jarak yang cukup jauh.


"Kembalilah padaku, Sayang." lirihnya.


Anyelir memalingkan wajahnya, dia terlalu lemah saat mendengar tiga kata yang Ethan keluarkan.


"Itu tidak mungkin, aku dan kakak mu akan segera menikah. Pernikahan kami hanya tinggal menghitung pekan, aku tidak mungkin mengkhianatinya. Maaf Ethan, aku tidak bisa!"


Anyelir menghentak kasar lengan kekar yang sejak tadi mengurungnya. Perasaannya saat ini tidak sedang dalam keadaan baik, ini terlalu mendadak dan kenapa harus sekarang? Kenapa tidak sedari dulu, kenapa?!


Anyelir terus saja meraung dalam hatinya sembari melebarkan langkah dengan mengangkat gaunnya agar tidak tersandung.


Apa yang harus dia lakukan sekarang?



MERANA DIAπŸ€£πŸ€£πŸ€£πŸ™ˆπŸ™ˆ