Affair With Prince Bastard

Affair With Prince Bastard
Menuju Lokasi Pendakian


Selepasnya dari butik, Anyelir memutuskan untuk berjalan-jalan mengelilingi kota Dubai. Sesekali dia melirik pada pria yang saat ini tengah menjadi sopir pribadinya, sudut bibir Anyelir berkedut samar melihat wajah tak berekspresi si pria. Sang Princess menahan kegemasannya, tapi lama-lama pada akhirnya dia tidak kuat dan memilih untuk mendekat lalu merengkuh lengan berotot yang berbalut kemeja hitam pas body.


"Kenapa kau diam saja? Apa kau tidak suka kalau aku mengajakmu jalan-jalan hari ini? Menghabiskan waktu berdua saja, karena semalam-,"


Anyelir melipat bibirnya rapat saat melihat lirikan mau yang pria itu tunjukkan. Tapi perlahan senyuman manisnya terbit seraya dengan uluran tangan berotot yang merengkuh tubuhnya agar keduanya kian merapat.


Kedua mata Anyelir terpejam saat merasakan kecupan dalam di area kepalanya, turun menuju pelipis dan daerah pipinya.


"Menyetirlah dengan benar, aku tidak mau berakhir di rumah sakit. Kita belum malam pertama, Ethan!" Anyelir kembali bersuara, dia mengarahkan kepala pria yang saat ini mulai mencumbunya mengarah kedepan, agar menatap fokus pada jalanan yang beruntungnya cukup lenggang.


Pria berjambang itu terkekeh, lalu kembali merengkuh tubuh Anyelir dan memberikan kecupan singkat di pelipis Sang Istri. Kedua tangan Anyelir merengkuh tubuh suaminya, menyandarkan kepalanya di dada bidang Ethan membiarkan pria itu menyetir dengan satu tangan, sedangkan tangan satunya sibuk mengusap punggung Anyelir.


"Kau ingin kita pergi kemana, hm?" Tanya pria itu lembut. Bahkan tidak sungkan meraih tangan Anyelir dan mengecupnya lembut bahkan terus saja mengecupinya tanpa henti hingga membuat gadis itu terkikik geli.


"Lihat kedepan, kita bisa menabrak orang nanti!" Perintah Anyelir tegas dan menarik tangannya dari kuasa Ethan, membuat pria itu mencebik.


"Ayo kita ke hotel!" Ajaknya seduktif.


Anyelir menaikan satu alisnya, senyumannya tertahan tapi tidak lama bibir tipis itu tertarik lebar, Sang Princess memukul pelan dada bidang Ethan namun tak urung mengangguk setuju. Astaga dirinya terlihat seperti wanita penggoda yang tidak sabar untuk disentuh oleh pria yang tengah dipeluknya erat ini, ya walaupun Sang pria adalah suami sahnya.


"Tapi sepertinya kita urungkan dulu, aku tidak mau ada orang yang mengenalimu dan melihat kita masuk ke dalam hotel. Kita lakukan itu di apartemen ku saja, bagaimana?"


Ethan menaikan sudut bibirnya, jujur sebenarnya dia belum siap untuk menyentuh tubuh istrinya terlebih dahulu sebelum masalah yang tengah mereka hadapi selesai, tapi dia juga tidak bisa mengabaikan gadis yang dicintainya itu. Kalau dirinya terus mengabaikan Anyelir dan enggan menyentuhnya, Ethan sudah bisa memastikan kalau Sang Princess akan bersedih lebih parahnya lagi gadisnya pasti kecewa.


Ethan akan melakukan kewajibannya sebagai suami, memanjakan Anyelir sebagaimana mestinya dan memberikan nafkah batin serta lahir dengan hati ikhlas. Hanya dia akan memastikan terlebih dahulu agar tidak membuat Anyelir hamil sebelum masalah pernikahan sialan itu tuntas.


"Tidurlah, nanti setelah sampai aku akan membangunkanmu," Usapan lembut Ethan membuat Anyelir terpejam kembali, gadis itu mengangguk patuh dan semakin mengeratkan dekapannya pada tubuh sempurna Sang suami.


πŸ’•


πŸ’•


πŸ’•


Senja mulai terlihat, awan menguning indah di ufuk barat yang menyinari padang pasir. Suasana kota Dubai masih sama, seakan kota megapolitan itu tidak pernah mati walaupun malam datang. Di sebuah apartemen mewah Anyelir masih memejamkan kedua matanya, sudah hampir dua jam lebih dia terlelap bahkan harus melewatkan makan siangnya yang tidak sempat dinikmati.


Senja yang menguning menerobos masuk lewat celah gorden, menerpa wajah cantik Anyelir hingga perlahan kedua kelopak mata indahnya berkedut, tidak lama netra biru itu terbuka. Anyelir bangkit, dia menelisik setiap sudut ruangan yang ditempatinya sekarang, ruangan yang sangat luas dengan background monokrom. Sepertinya dia tahu dimana saat ini berada, sudah di pastikan tempat yang dipijak nya sekarang adalah apartemen milik Ethan.


Dengan penuh semangat dia turun dari tempat tidur, berlari menuju kamar mandi dengan kaki telanjang. Ingin rasanya Anyelir membersihkan diri sekarang, tapi dia ingat kalau tidak ada pakaian ganti disini.


Sementara Anyelir sibuk membasuh wajah, Ethan masuk kedalam kamar sembari membawakan makanan. Dia khawatir karena istrinya itu tidak kunjung bangun dan melewatkan makan siang, walaupun dirinya juga melakukan hal yang sama.


Ethan mengantisipasi hal yang bisa membuat kebersamaan mereka saat ini di ketahui oleh orang yang mungkin saja mengenal Anyelir, karena wajah cantik gadisnya tidak tersamarkan tidak sepertinya.


"Aku ketiduran,"


Ethan tersentak saat pintu kamar mandi terbuka dan Anyelir keluar secara cepat, bahkan suara Sang princess berhasil membuat suaminya terkejut.


"Kau terlihat lelah, Sayang. Aku tidak tega membangunkanmu, sekarang habiskan makananmu. Kau melewatkan makan siang, ayo kemari!" Ethan melangkah lebar menuju balkon, pria yang bertelanjang dada itu menggeser pintu balkon hingga cahaya matahari yang jingga ikut masuk kedalam kamar.


Anyelir mengikutinya dengan senyuman lebar, dia terlihat begitu bahagia dan tanpa sungkan mendudukkan diri di dekat Ethan yang tengah menyiapkan makan siang mereka yang kesorean.


"Habiskan, kau perlu tenaga setelahnya." Cetus Ethan dengan kerlingan nakal.


Anyelir terkekeh dibuatnya, gadis itu mulai meraih sendok dan menyuapkan makanan yang terlihat sangat menggiurkan dimatanya. Terlihat sekali kalau Sang princess sangat kelaparan, dia menghabiskan semua makanan yang Ethan bawa dalam sekejap.


"Aku kelaparan, maaf." Gumamnya tidak enak hati.


Bukannya ilfil Ethan malah gemas dibuatnya, pria itu meraih pinggang Anyelir dan merapatkan tubuh keduanya sebelum memagut bibir Sang princess yang sedari tadi sudah memancingnya untuk beraksi.


"Sekarang bersihkan tubuhmu, aku akan membantu memijat mu Princess. Hari ini aku akan menjadi pelayan mu, siap melayani mu dengan senang hati." Bisik Ethan setelah melepaskan pagutannya. Tangannya terulur mengusap lelehan salivanya yang ada di bibir Anyelir.


Entah terhipnotis atau memang Anyelir juga menanti momentum indah itu, dia hanya diam menurut saat Ethan membawanya masuk dan menggiring nya kedalam kamar mandi. Ethan menyiapkan segala keperluan Sang princess, mulai dari air hangat untuk berendam komplit dengan sabun aroma terapi yang menenangkan serta memanjakan, juga lilin lilin aroma terapi yang akan semakin membuat suasana sore hari ini kian romantis serta hangat.


"Lepaskan pakaianmu!" Titahnya.


Anyelir masih diam mematung, bahkan tidak bisa berkedip normal saat melihat pria yang menikahinya beberapa hari yang lalu itu sudah meloloskan celana bahannya dan kini hanya menyisakan boxer ketat yang memenjarakan sisi liar seorang Ethan.


Gleek!


Susah payah Anyelir menelan cairan mulutnya, dia tidak berani bergerak dari tempatnya dan itu berhasil membuat Ethan menyeringai penuh kemenangan.


"Kemarilah My Princess, aku akan melayani mu dengan baik!" Ucapnya lagi dengan suara berat dan terdengar sexy di telinga Anyelir.


Sialan, aku malah takut sih!



ETHAN BIKIN ANYELIR MIMISANπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚