
mabar yuk.yuk yuk yuk.carry aku, aku mau ngefeed ama ngetrol ae
.
.
.
.
mengawali pagi dengan masih bergibah di dunia mimpi, Anne yang melihat Nona yang dilayaninya masih tertidur segera membangunkan paksa Aarin.ia membuka tirai jendela membuat sinar matahari langsung menusuk di mata Aarin.
"ugh, silau.." gumamnya lalu menutup seluruh tubuhbya menggunakan selimut.Anne yang melihat kelakuan Nonanya itu lalu membuka paksa selimut Aarin.
"ayo Nona bangunlah, matahari sudah muncul" ucapnya.
Aarin langsung bangun, tapi dia masih tetap menutup matanya mencoba mengumpulkan sisa-sisa nyawa nya.Anne langsung menuntun Aarin menuju bak mandi.setelah mandi, kesadaran Aarin sepenuhnya kembali.
setelah itu, Anne membantu memakaikan Aarin pakaian dan Aarin pun pergi ke ruang makan.
untuk apa?
MAKAN LAH!! YAKALI MABAR
memasuki ruang makan, Aarin melihat Ravier yang memasang wajah biasa, Duchess yang memasang senyum, dan Duke yang terlihat seperti orang yang habis teraniaya.
"selamat pagi semuanya" sapa Aarin.
""selamat pagi kak/sayang/putriku/"" sahur bersamaan Ravier, Duchess dan Duke.
setelah Aarin duduk, mereka pun memulai sarapan.setelah selesai makan, Duchess berbicara kepada Duke.
"suami ku, aku dan putri ku nanti akan pergi berbelanja" ucap Duchess dengan senyuman.
"eh? tapi kan anak-anak baru saja pulang, tidak mereka-"
**swuiing..
jleb**!
tiba-tiba, tepat beberap senti dari wajah Duke, melesat sebuah pisau makan yang menancap tepat di dinding.
seketika, seluruh orang di dalam ruangan itu terkecuali Duchess, tercengang dan merinding.
"aduh, maaf suami ku tangan ku tadi terpeleset~" ucap Duchess tanpa rasa bersalah sambil tersenyum.
"yah, kau tau kan.aku dan putri ku ini sudah lama tidak bertemu, jadi aku hanya ingin menghabiskan waktu dengannya.dengan kau mengatakan hal seperti tadi aku sediiiiiiikit kesal.jadi, lain kali berhati-hati ya suamiku~" ujar Duchess Xevinch.
"b-baik...." dan Duke Xevinch hanya bisa diam dalam rasa gugup.
"jadi Aarin, apakah kau ingin berbelanja dengan ibu mu ini?"
"errr, hei Vier bagaimana jika kau-"
"tidak!"
"eh? tapi kan-"
"tidak"
"ish ikut ya-"
"tidak, terima kasih"
Aarin kesal, bukan karena adiknya itu tidak ingin ikut tapi karena tidak ada yang akan menderita bersama dengannya.
"jadi Aarin, kau harus ikut! tidak ada kata 'tapi' atau 'tidak.mengerti?!"
"ya bu" dan Aarin hanya bisa pasrah ikut Duchess Xevinch.
\=\=\=\=\=
di sebuah toko pakaian kelas atas di distrik perbelanjaan, Aarin saat ini sedang menderita.sejak satu jam, Duchess Xevinch terus mencoba kan berbagai macam gaun pada Aarin.Aarin yang harus lepas pakai lepas pakai terus itu pun tentu saja merasa lelah.
"ibuuuu, sudah yah.aku tidak masalah kok memakai yang mana saja" ucap Aarin lelah.
"tidal tidak tidak, putri ku harus memiliki gaun yang menawan seperti dirinya.tolong bawakan yang lain dari seri yang seperti ini dengan warna yang berbeda" ucap Duchess Xevinch pada karyawan toko itu.
"baik nyonya"
'asli capek banget.gini nih kalo emak-emak belanja bawa anaknya.disiksa nya anak'
setelah beberapa jam lewat dan setelah Aarin mencoba berbagai gaun, pakaian santai, sepatu, topi, aksesoris, perhiasan dan lain-lain, akhirnya saat matahari menampakkan cahaya jingganya, mereka berdua pulang dengan keadaan Aarin yang lelah fisik dan mental.
\=\=\=bersambung\=\=\=
author timee
PENDEK YAH?! IYA PENDEK KEK UMUR KITA YANG MAKIN LAMA MAKIN PENDEK