
Diseberang sana Ken mengerutkan alisnya setelah membaca pesan yang di kirim oleh Ansell, sebenarnya ia sudah ingin menghubungi Ansell untuk berbicara dengan Sora mengingat ponsel wanita itu rusak tapi di urungkan nya karena Ansell terlebih dahulu mengiriminya pesan.
Lalu ia membuka aplikasi untuk mengetahui lokasi Sora berada. Kini ia tersenyum kecut. “pekerajaan apa didalam kamar hotel” guman Ansell.
“ada apa?” tanya Dion yang masih bersama dengan Ken. Keduanya memilih makan di restoran yang tidak jauh dari perusahaan Ansell.
“sepertinya bos kita berdua ada pekerjaan tambahan jadi tolong antar aku ke kantor One S” ucap Ken.
“maksudnya?” tanya Dion bingung.
“sudah jangan banyak tanya, antarkan saja aku”
“ bisa naik taksi ”
“gak pernah naik taksi”
Dion langsung menatap Ken yang duduk di depannya. “Sok kaya”
“aku memang kaya” sahut Ken dengan Santai.
“jangan angkuh”
“aku memang angkuh” mendengar sahutan Ken, Dion langsung berdiri dari duduknya.
“kau yang bayar, anggap aja ongkos antar ke kantor One S” Dion pun langsung beranjak pergi menuju mobilnya terparkir.
...
Kembali lagi ke kamar hotel, Sora beberapa kali sudah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ansell yang melihat hanya tersenyum licik, tunggu saja sampai pagi tidak akan ada yang menjemput ucap Ansell sambil tertawa di dalam hati.
“kau yakin sudah mengirim pesan pada Ken. Kenapa sudah satu jam ia belum datang juga” tanya Sora yang sedang duduk dengan anggun dengan menyilangkan kaki jenjangnya.
“Emm...” itu saja tanggapan dari Ansell.
Tiba-tiba ia Sora teringat sesuatu, ia pun langsung menerjang duduk disamping Ansell yang memang sedang duduk di depannya.
“mana kunci mobil, bukankah kita tadi menggunakan mobil ku” pinta Sora sambil mengadahkan tangan nya.
Sial, Pikir Ansell ia lupa tadi pergi menggunakan mobil milik Sora.
“aku akan mengantar mu ke kantor mu dulu, setelah itu aku ke One S sendiri”
Ansell tidak menjawab ia lagi sedang berpikir, bagaimana caranya menahan wanita ini. Ia mencari alasan yang terbaik.
“atau kau mau tetap di sini, nanti asisten mu yang menjemput?” Tanya Sora lagi tapi masih belum ada tanggapan dari Ansell.
“Ansell” Sentak Sora. “kau mendengar ku atau tidak, oh iya kuncinya ada di Resepsionis kan? Ok, aku akan turun” Sora pun meraih tasnya dan meranjak mau pergi.
Tapi belum sempat melangkah Ansell sudah menarik tangannya sehingga tubuh Sora terjatuh di pangkuan Ansell.
“Sora, i love you” hanya itu saja kata-kata yang ada pikiran Ansell saat itu. Lalu ia mencium bibir Sora dengan lembut. Awalnya Sora ingin memukul kepala Ansell tapi ia urungkan kini ia pun mulai membalas permainan lidah sang kekasih.
Ciuman yang awalnya begitu lembut kini menjadi semakin liar dan panas. Tangan Ansell sudah berhasil melepas setengah dari pakaian yang melekat pada tubuh Sora. Lelaki itu menuntun dengan pelan tubuh Sora menuju keranjang yang tersedia dalam ukuran besar di kamar tersebut.
"Sora, aku menginginkan mu" bisik Ansell dengan wajah yang penuh dengan hasrat untuk melahap habis wanita di bawah tubuhnya saat ini.
"kau percaya pada ku?" tanya Ansell pada Sora dengan tatapan yang bisa menembus relung hati. Yang ditanya memilih diam justru berbalik menatap Ansell.
"setelah ini, aku akan mendatangani pengalihan saham perusahaan ku sepenuhnya untuk mu. Agar kau percaya kesungguhan ku padamu, kau nyawaku Sora" ucap Ansell dengan kesungguhan hatinya. Mungkin di masa lalu ia pernah bermain dan bertemu berbagai macam wanita cantik tapi baru kali ini seorang Ansell bertemu dengan wanita yang bisa membuatnya berlekuk lutut bahkan ia rela kehilangan apa pun asal seutuhnya wanita itu miliknya.
"benarkah itu?" Akhirnya Sora bersuara juga. Jemarinya yang lentik mengelus lembut rahang kokoh Ansell.
"semuanya, ku berikan semuanya" jawab Ansell dengan keyakinannya yang besar.
"apa kau sadar, kau akan terjerat dengan ku selamanya. Kau tidak bisa lari dari ku kecuali aku yang meninggalkan mu"
"itu yang ku inginkan terjerat lebih jauh dan tak ku biarkan kau pergi meninggalkan ku"
"kalau begitu lakukan sesuka hati mu".
Tanpa banyak bicara lagi Ansell yang sudah mendapatkan persetujuan langsung kembali ******* bibir ranum milik Sora.
Sora pun merespon dengan mengalungkan kedua tangannya di leher Ansell.
Saat ini Ansell merasa sangat senang sekali, bahkan rasa senangnya bisa mengalahkan perasaan ketika ia memdapatkan proyek milyaran. Ia tidak akan melepaskan wanita ini sampai kapan pun. Bukan karena ia berasal dari keluarga nomor satu di negara ini tapi karena wanita itu adalah seorang Sora dengan kepribadian yang kuat, datar, dan tentunya unik menurut pandangan Ansell.
Setelah puas bermain di bibir Sora, kini Ansell berpindah menjelajahi leher dan pundak yang selalu menggoda itu.
"honey, bisa tolong bukakan kancing kemeja dan ikat pinggang ku" Pinta Ansell dengan suara yang serak.
Sora pun langsung melaksanakan apa yang di pinta oleh prianya. Tidak bisa di pungkiri Sora seorang wanita normal yang juga sangat menginginkan Ansell. Karena pria itu lah pria pertama yang bisa membuat Sora mengakui kegagumannya dengan tubuh yang di miliki oleh Ansell.
"Honey, aku akan menjadikan malam ini adalah malam yang panjang untuk kita berdua"
"aku sangat mencintaimu Sora"
Sora seperti biasa tidak menanggapi ucapan Ansell, pria itu cukup mengerti sekarang dengan salah satu sifat wanitanya itu. Yang terpenting ia selalu jujur dalam mengungkapkan apa yang ia rasakan.
Tangan Ansell sudah berkeliaran diseluruh tubuh Sora, kesempatan inilah yang di nantinya memiliki seutuhnya wanita arogan ini. Sesampainya tangan di tempat paling sensitif bagi kaum wanita, Ansell dengan hasrat yang mengebu-ngebu kini memainkan area itu tapi tetap dengan sentuhan lembut.
"kau basah honey"
"Aghhh..." hanya itu tanggapan Sora. Ansell tersenyum puas nampaknya kekasihnya itu menikmati setiap sentuhannya.
Cukup lama melakukan pemanasan kini Ansell tengah siap-siap memposisikan dirinya untuk memasuki Sora untuk pertama kalinya. Sora dengan tubuh polosnya hanya mengangguk saat Ansell meminta izin untuk memulai lebih intim.
"Oh shittt...you are still a virgin, honey?" Ansell baru menyadari ketika ia dengan susah payah menembus masuk. Ia sungguh merasa surprise mana kala mendapati dan mengetahui kekasihnya masih perawan.
"Tentu saja, kau beruntung Ansell" jawab Sora dengan raut wajah meringis karena merasa perih dibagian intinya.
Ansell pun menghadiahkan bertubi-tubi kecupan di wajah Sora. Senyum hangat dan rasa bangga jelas terukir di wajah tampan Ansell saat ini. Benar kata Sora ia sungguh beruntung, padahal ia bahkan tidak peduli bila wanita yang di cintainya tidak perawan lagi. Karena di zaman sekarang bagi Ansell bukan sebuah keperawanan yang jadi tolak ukur cinta seseorang.
"terima kasih Sora, i love you" Ansell sudah tidak tau lagi menggambarkan kebahagiannya saat ini, fakta bahwa ia adalah orang pertama bagi Sora.
"kau selamanya milikku"