
Ponsel yang retak, kaca lemari yang berserakkan di lantai serta aura hangat tiba-toba menjadi mencekam. Sebenarnya yang lebih menakutkan bukan sang ketua klan tapi sang adik lah, yang biasa emosinya selalu stabil tapi bila membuat pikiran nya kacau maka bersiap-siaplah memghadapi sang pemangsa sesungguhnya.
Sora sudah tidak bisa berkata-kata apa pun. Pikiran nya melayang ke Anzu kakak iparnya serta kedua keponakannya yang lucu.
Marah, saat ini Sora sangat marah khususnya terhadap kakaknya itu. ia tau kakaknya selalu berambisi melalukan hal yang di luar jangkauan. Selama ini Sora tidak terlalu mau ikut campur atau terlibat dalam urusan kakaknya karena kepekerjaannya saja sudah memusingkan kepalanya.
tapi sekarang Arlecia melibatkan istrinya dalam ambisi gilanya untuk memperkuat klannya.
Anzu memanglah mantan dokter sekaligus ilmuan muda yang jenius sebelum ia memutuskan untuk menikah dengan Arlecia.
Sora menjadi tau kenapa bisa kakaknya itu bisa terlibat lebih dalam organisasi di Italia. Obat itu memang berasal dari organisasi itu, belum selesaikan di kembangkan semua ilmuan yang di pekerjakan oleh organisasi itu di bunuh semua. Pengembangan sempat di hentikan karena ada konflik internal di organisasi itu. Arlecia yang mengenal baik orang kedua mempunyai kekuasan di organisasi melibatkan diri untuk membantu menyempurnakan obat itu.
"kalau saja kau bukan kakakku , akan ku tembak sekarang juga kepala mu" ucap Sora dengan wajah memerah menahan emosi agar masih bisa ia kendalikan. Sora sungguh tidak menyangka bila seorang Arlecia bisa melibatkan istrinya dalam hal yabg beresiko seperti ini.
"mana kecerdasaan mu? Bila di ketahui pihak lain, Anzu bakal di incar" Pekik Sora lagi.
Arlecia yang masih duduk dengan menyilangkan kakinya terlihat datar saja ia tau kemarahan adiknya itu. Jadi dibiarkannya saja.
Sedangkan para Asisten sudah memubarkan diri dengan alasan masih banyak pekerjaan yang harus di tangani, mereka harus menyelematkan diri dari amukan malaikat maut. Hanya Ken saja yang masih bertahan di dalam ruangan tersebut.
"kenapa juga Anzu dengan bodohnya mau melakukan itu, kau tidak memaksanya kan" Selidik Sora menatap kakaknya itu.
" aku bukan orang yang pemaksa, awalnya Anzu sendiri yang mengajukan diri. Ia mendengarku berbincanh masalah itu. Kau tau sendiri aku selalu terbuka pada nya" jawab Arlecia sambil terkekeh. Pikiran Arlecia langsung melayang ke istrinya karena saling terbukanya, ia selalu ingin membuka seluruh pakaiannya bila bersama istrinya itu.
"memang saat itu tidak ada pilihan lain selain melibatkan Anzu, hanya ia yang bisa di percaya" Arlecia berbicara tenang pada adiknya, jika menyinggung secara lebih bisa di pastikan Sora akan lepas tangan tidak akan membantunya. Saat ini orang-orang dari adiknya lah yang bisa ia andalkan karena ia merupakan ketua klan pergerakkannya tidak bisa leluasa kadi ia harus melibatkan adiknya itu.
Misi mencari keberadaan pengembangan virus yang di kabarkan ada di negara ini harus dilakukan secara tersembunyi takutnya pihak organisai lainnya ataupun dari pemerintahan tahu hal ini maka masalah semakin besar takutnya akan berdampak buruk bagi negara ini.
"kalian benar-benar sudah gila" Sora menghembuskan nafasnya dengn kasar, tampaknya emosinya sedikit mereda.
"bahkan kau lebih gila lagi" ucap Arlecia dalam hati. Kalau di ingat-ingat banyak hal gila yang di lakukan adiknya itu.
Ken juga ikut menganggukkan kepalanya, ia mengerti dan merasa senang karena ia lebih menyukai pekerajaan yang menantang dari pada mengharuskannya berteman dengan lembaran kertas-kertas dan menghadiri berbagai macam meeting. Pekerjaan seperti itu lebih cocok dengan pribadi Lian yang memiliki otak brilian serta cekatan dalam bekerja. Selama ini terbukti ia mampu mengatasi semua persoalan dan pekerjaan yang ada di One S.
" Tuan, apa ada seseorang yang di curigai terlibat?" Tanya Ken mencari informasi agar mempermudah pencariannya.
Tampak Arlecia berpikir, sejujurnya belum ada petunjuk apa pun yang bisa benar-benar mengarah dalam kasus ini untuk ia gali. Mike Miller sang tangan kanan dari organisasi Itali itu pun belum memberitahu secara akurat tentang siapa saja yang terlibat.
Hal pertama yang harus mereka lakukan terlebih dahulu adalah mencari tahu terlebih dahulu siapa ketua besar di organisasi Italia. Kebetulan atau tidak tempat persembunyian big boss itu juga berada di negara ini tapi entah dimana karena sampai saat ini Mike Miller menjaga dengan rapat informasi mengenai bos besarnya itu.
"aku tidak yakin, tapi aku sedikit curiga dengan kekasih mu" Arlecia menatap Sora yang berada di depannya sekarang.
"Ansell?...bukankan sebelumnya kalian saling kenal"
Arlecia dan Ansell memang sudah saling kenal dari dulu tapi hanya dalam dunia bisnis saja, dulu Arlecia sempat mendengar bahwa ada keterlibatan Ansell dengan salah satu organisasi bawah tanah tapi tidak tau lebih detailnya. Tapi selama di perhatikan tidak ada tanda-tanda Ansell terlibat dia hanya sibuk mengembangkan bisnisnya.
"aku memang cukup kenal dengan nya sebagai seorang teman dalam dunia bisnis tapi lebih detailnya tidak tau. Ia berasal dari Italia walaupun memiliki marga Qin. Tapi kehidupan masa lalunya tidak ada yang tau" Ucap kakaknya itu.
" tapi selama ini Tuan Ansell tidak pernah terlibat dalam organisasi hitam, ia hanya berkecimpung dalam dunia bisnis saja" sanggah Ken bukannya ia membela Ansell dari hasil penyelidikannya mengenai kehidupan Ansell yang sebagai kekasih nonanya tidak mungkin ada yang terlewatkan.
" emmm...tapi tunggu-tunggu...mungkin Ansell tidak sepolos itu hanya mengurus bisnisnya" Sora teringat pada saat ia mencari tahu khasus pemasok barang ilegal. "ia mengenal black rose"
Brakkk....
Kali ini Arlecia yang mengebrak meja, ia lumayan terkejut dengan apa yang di katakan oleh adiknya itu.
"jadi, kita harus menyelidiki Ansell duli, bukan kita mencurigainya tapi bila benar ia terlibat. Aku serahkan keputusan pada mu Sora" ucap Arlecia tegas dengan menatap tajam pada Sora.
"iya, aku tau" jawab Sora singkat. Pikirannya melayang pada seseorang pria yang sudah menjadi kekasihnya. Hubungan mereka memang belum berjalan lama belum ada perkenalan yang lebih dalam untuk di ketahui keduanya. Apalagi Sora selalu terlihat datar dan cuek, keluarganya terkesan tertutup membuat Ansell sendiri enggan menanyakan banyak hal yang terpenting buat pria itu sudah memiliki seorang wanita seperti Sora saja ia sudah senang.