
Ansell masih berdiri kaku, karena dia tidak habis pikir kenapa wanitanya punya peliharaan hewan buas. Bagaimana hewan itu nantinya malah menyerang Sora, ia tidak bisa membayangkan itu. Pikir Ansell.
"Ansell, keluar sebentar aku ingin menganti pakaian ku" Ucap Sora yang sudah selesai memoles kembali wajahnya dengan riasan yang sedikit tebal dengan warna lipstik warna merah menyala sangat kontras dengan wajahnya yang putih mulus.
"Ansell keluar lah" pinta Sora karena Ansell tidak beranjak dari tempatnya.
"No. Kalau ingin ganti baju, silahkan saja. Aku sudah pernah melihat tubuhmu cuma belum pernah memasukinya saja" Sahut Ansell ceplas ceplos.
Bukkk... Bantal mendarat di wajah Ansell.
"Daras otak sekarat, itu saja yang kau pikirkan". Ucap Sora lalu ia menghubungi Jimi. "Jim kemarikah aku ingin menganti pakaian ku"
Ansell yang mendengar apa yang di ucapkan Sora pada Jimi langsung mengambil telpon yang ada di tangan Sora.
"jangan kesini atau ku patahkan kaki mu" Ancam Ansell pada Jimi di telpon. Sedangkan Jimi hanya mendengarkan saja ia tau bahwa Ansell selalu posesif terhadap Sora.
"Jangan seenaknya menghancam Asistenku" Ucap Sora menatap Ansell.
"aku bisa melalukan lebih dari itu Honey, kalau ada yang menyentuhmu atau melihat tubuhmu" Geram Ansell.
"itu sudah tugasnya"
"sekarang kau milik ku tugas yang itu dihapuskan. Pelayanan secara pribadi tidak berlaku lagi" Ucap Ansell dengan penuh penekanan.
"Aku sebagai kekasih mu calon suami mu kau usir saat kau ingin menganti baju, tapi malah memanggil orang lain untuk membantu menggunakan baju" Sambung Ansell yang emosinya selalu di uji bila berada dengan Sora tapi ia sangat memcintai wanita itu, jadi harus tau resikonya.
Sora yang malas berdebat hanya menarik nafasnya dalam-dalam, tanpa mempedulikan keberadaan Ansell ia mengambil baju di lemari.
"mau kemana?" tanya Ansell menahan tangan Sora.
"kekamar mandi, menganti pakaian ku" jawab Sora yang ingin menuju ke kamar mandi.
"Ganti di sini saja" Tahan Ansell.
Lagi-lagi Sora menarik nafasnya, menatap Ansell dengan tatapan tajam.
Sora mulai melucuti dress yang di pakainya kini hanya pakaian dalamnya saja yang masih melekat di tubuh indahnya.
Ansell seperti patung tidak berkedip sedikit pun menatap keindahan yang ada di depan matanya.
Saat Sora ingin memakai pakaian barunya Ansell dengan cepat merebutnya melemparnya kesembarang arah.
Ansell langsung memeluk Sora menciumi leher jenjang Sora yang dari tadi sudah menggoda naluri seorang Ansell.
Seperti seorang musafir di tengah gurun pasir Ansell begitu bersemangat menjelajahi leher Sora.
"jangan biaran kucing itu menjilati mu lagi, hanya aku saja yang boleh" Ucap Ansell di sela-sela aktivitasnya.
"Hentikan Ansell, aku sudah lapar" berontak Sora berusaha terlepas dari dekapan Ansell.
Bukannya berhenti, Ansell terus mengerayangi leher Sora bahkan tangannya sudah masuk kedalam b** milik Sora.
Kini Ansell beralih ke bibir Sora, ciuman yang lembut membuat Sora tak kuasa untuk tidak membalasnya. Bahkan ia sempat mengeluarkan suara yang bisa menambah keinginan lain Ansell.
Cukup lama bibir mereka saling bertautan. Keduanya saling menatap wajah masing-masing.
"Honey, bolehkah?" Pinta Ansell dengan mata yang sudah penuhi dengan gairah untuk bercinta.
Sora tersenyum membelai wajah tampan yang tiada celah itu. "Belum saatnya, lagian aku tidak mau melakukan itu pertama kalinya dengan mu di tempat ini" Bujuk Sora.
"terus dimana?"
"nanti ku pikirkan, kini aku sudah sangat lapar"
Ansell melepaskan pelukkannya dari tubuh Sora lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
Sora kembali tersenyum, jarang sekali ia tersenyum dengan wajah datarnya itu. "Tunggu sebentar aku memakai bajuku"
......
Tepat saat Sora dan Ansell keluar dari ruang istirahat datang Lian membawa beberapa dokumen di tangannya.
"Selamat siang Tuan Ansell Qin" Sapa Lian.
"Selamat siang" balas Ansell.
"Nona, apa ingin di siapkan makan siang?" Tanya Lian.
"Tidak Perlu, aku makan siang di luar dengan Ansell" jawab Sora.
Ansell merangkul pinggang Sora dengan posesifnya bila berhadapan dengan para Asistennya. Padahal ia sendiri tau Asisten Sora bukanlah ancaman atau saingan baginya tapi ia ingin selalu memperlihatkan hubungan nya dengan Sora.
Walaupun begitu Sora tetap tidak mau secara terang-terangan memperlihatkan hubungannya dengan Ansell. Menurutnya itu sangat merepotkan pastinya hubungan mereka akan menjadi topik di media masa maupun di perusahaannya sendiri.
"honey, kau sangat jarang sekali terlihat di apartement mu. Apa kau punya tempat tinggal lain" Tanya Ansell secara tiba-tiba saat keduanya lagi dalam perjalanan menuju sebuah restoran untuk maman siang.
"Aku selalu ada di apartement, tapi aku lebih banyak menghabiskan waktu di kantor. Kadang aku lebih sering tidur di hotel. Ganti suasana maksudnya" kilah Sora.
"oh begitu..." Sahut Ansell.
'kau pikir aku percaya. Terlalu banyak rahasia di dirimu honey. Karena aku sangat mencintaimu jadi ku biarkan saja, ada saat nya nanti kau cerita kepada ku' . Batin Ansell.
"Soal Zeo, apa kau tidak ngeri memelihara hewan buas. Aku takut harimau itu melukaimu" Ansell mengalihkan topik pembicaraan agar suasana menjadi aman. Kerena ia tau Sora bukan wanita yang akan memulai pembicaraan santai.
"Tenang saja, ia tidak akan melukaiku. Zeo adalah hadiah dari Arlecia. Aku sangat senang memilikinya, Zeo sangat lucu dan mengemaskan" ucap Sora dengan senyum samar di wajahnya. Dari nada bicara Sora, Ansell sudah bisa menilai bahwa Sora sangat menyukai hewan buas itu.
'apa aku harus memberi dia Beruang, Singa atau Serigala sebagai hadiah. Ia terliat senang memiliki hewan buas dari pada memiliki tas buas ( tas terbuat dari kulit hewan dengan harga fantastik)' batin Ansell.
" Apa ada hewan lain lagi yang kau inginkan, untuk jadi peliharaan mu?" tanya Ansell.
"ya"
"apa itu?"
"Dinosaurus"
"ya Tuhan, itu sudah punah. Apa kau mau fosilnya saja?" Tanya Ansell.
"untuk apa memelihara sebuah tulang" ketus Sora. Lalu keduanya tertawa bersama sambil berbincang hal lainnya agar keduanya semakin dekat.
Sesampainya direstoran tradisional china, Saat di parkiran ada seorang pemuda yang menyapa Sora. Sora mengenal pemuda itu berusaha membalas dengan sopan sapaannya.
"Anda kesini untuk makan siang Nona Zhang?" Tanya pemuda itu yang bernama Lie Chan. Salah satu pengusaha kaya dan juga memiliki wajah tampan. Jelas Sora adalah penikmat pria tampan tapi ia bukan wanita murahan, wajar bukan wanita suka melihat pria-pria tampan bukankah sebaliknya pria juga suka melihat wanita cantik itu sudah lumrah dan normal hanya sekedar kagum.
"Iya, apa Tuan Lie juga makan siang di sini?" Tanya kembali Sora.
"Aku sudah selesai makan siang, coba saja ku tau Nona Zhang makan di sini juga maka aku akan memperlambat makan ku" Canda Lie Chan dengan senyuman manis terpancar di wajah tampannya.
"Eheemm,,," Ansell mendehem karena merasa di abaikan.
"Oh Tuan Qin, Maaf aku terlaku fokus dengan Nona Zhang. Betapa beruntungnya anda bisa makan siang bersama wanita cantik ini" Ucap Lie Chan yang bisa membaca raut wajah Ansell tidak suka ada yang mendekati Sora.
"Maaf Tuan Lie sepertinya kami harus masuk kedalam" kata Ansell agar bisa cepat menghindar dari para kumbang yang ingin merebut bunganya.
"Oh baiklah, Nona Sora semoga lain kali kita bisa makan siang berdua" Ucap Lie Chan yang memprovokasi Ansell yang menahan kekesalannya.
Tanpa mempedulikan Lie Chan, Ansell menarik tangan Sora untuk membawanya masuk kedalam restoran.
"Ada hubungan apa di antara keduanya, Kau wanita yang menarik Sora Zhang banyak yang menginginkan mu" Gumam Lie Chan yang masih berdiri menatap Ansell dan Sora berjalan masuk kedalam restoran.