UPSCALE LOVE

UPSCALE LOVE
KETERLIBATAN ARLECIA


Di gedung yang megah menjulang tinggi ke langit, didalamnya terlihat banyak karyawan yang berlalu lalang untuk memulai aktivitas mereka masing-masing. Tapi tiada yang menyangka pagi ini mereka akan melihat pemandangan yang menyegarkan mata.


walaupun setiap harinya kedatangan Sora dan kelima Asistennya sudah membuat kesegaran di One S tapi kali ini kesegaran itu bertambah berkali lipat. Bagaimana bisa?


Pagi ini Arlecia sengaja menginjakkan kakinya ke One S bersama sang adik. Sudah lama sekali ia tidak berkunjung di perusahaan yang ayahnya dirikan, terakhir saat dua tahun yang lalu ketika masih membantu paman Leo menangani One S.


Bagi yang sudah lama bekerja di One S pasti sudah mengetahui siapa Arlecia Anak sulung dari pendiri One S itu. Walaupun di ketahui sudah mempunyai istri dan anak tapi parasnya tidak turun satu level pun untuk menjadi bahan sanjungan kaum hawa.


Langkah kaki yang seirama serta hentakkan yang tegas mengambarkan berkarismanya kedua pimpinan perusahaan besar beda Negara itu. Sora yang menggunakan setelan blazer merah menyala yang sangat kontras dengan kulit putihnya menambah kecantikkan dan keanggunannya. Begitupun juga dengan Arlecia yang menggunakan setelan Jas biru gelap bergaris membuat tubuh tegapnya terbungkus dengan sempurna. Tidak lupa dengan para Asisten yang menggunakan jas warna hitam mengikuti langkah kedua atasan di depan tak kalah menampakkan aura pelindung yang kokok, siap melindungi kapan saja sang pemimpin.


"ehem...Nona, ini ada telpon dari tuan Ansell" Ken memperlihatkan layar ponselnya yang tertera nama Ansell.


Sora mengeryitkan alisnya, menatap layar ponsel Ken dengan sebal. Ken memiringkan kepalanya dengan menaikkan alisnya sebagai pertanyaan 'mau berbicara atau tidak?'


Dengan terpaksa akhirnya Sora mengambil alih ponsel Ken. Bertepatan sampai nya mereka di sebuah pintu yang bertuliskan Club Sora, Sora masuk langsung mendudukkan bokong seksinya di sofa.


Sedangkan sang kakak dari tadi hanya mengelengkan kepala melihat tingkah Adiknya yang terbilang angkuh.


"Emmm" sapaan awal Sora pada orang yang menelpon. Helaan nafas Ansell terdengar, pria itu sudah menduga wanitanya tidak akan bisa memulai dengan kata-kata yang menyenangkan.


"honey, miss you..." Terdengar rengekan Ansell yang membuat gatal telinga Sora.


" Astagaaa...Ansell, kamu menelpon hanya mengatakan itu" pekik Sora.


"kenapa ponsel mu gak aktif" Tanya Ansell dia tidak mempedulikan protesnya Sora.


"belum sempat ku aktifkan, kalau hanya itu yang ingin kamu katakan aku tutup telponnya. Aku banyak kerjaan"


"No honey, aku sungguh rindu pada mu. Astaga aku bisa gila seperti ini" Ucap Ansell sedangkan Sora diam saja tanpa berucap.


"apa di kantormu masih ada ruangan kosong? rasanya aku ingin berkerja di kantor mu saja, agar setiap detik bisa liat kamu"


" crazy, kita baru saja bertemu. Aku baru saja sampai di ruangan ku. Ayolah Ansell jangan mengusik hari ku. Banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan" Sora berbicara sesekali melirik ke arah kakak yang terkekeh melihat Sora.


"dari pada aku bertambah gila, sekarang aku akan ke kantor mu. Seharusnya tadi aku yang mengantar mu ke kamtor"


" No Ansell" Sora cukup tau Ansell cukup nekat dan selalu serius dengan ucapan nya " Emm begini, aku akan mengirimkan sesuatu ke kantor mu, jadi tunggu saja jangan datang ke kantor ku" Sora berdoa dalam hati agar si Ansell termakan bujukan nya, Sialnya Sora sungguh buruk dalam memujuk orang.


"kamu memberi ku hadiah"


" bisa di artikan seperti itu"


" ok honey, akan ku tunggu. kalau begitu sampai ketemu nanti malam" Terdengar suara riang Ansell. Sora terdengung sesaat tidak menyangka bujukkan nya berhasil. Baguslah.


Setelah mengakhiri telpon nya, Sora menatap kakaknya.


" apa?" tanya Sora karena Arlecia menunjukan seringaian di wajah tampannya.


" astaga, kau membuat sang raja bisnis berlekuk lutut pada mu. Tapi bersikap manis lah wahai adik ku, jangan terlalu cuek dan angkuh"


"tapi ia kekasih mu" Arlecia terkekeh, ia terlalu malas untuk menanggapi hal yang sepele banyak pekerjaan yang penting harus ia kerjakan.


Sora menatap Lian yang juga menatap Sora. " apa?" tanya Lian yang bingung.


"kirim sesuatu ke kantor Ansell" perintah Sora.


" Hahh...aku harus mengirim apa? Bunga? Coklat?"


"entahlah..."jawab acuh Sora, ia sendiri tidak tahu harus mengirim apa. Tadi ia hanya asal bicara saja.


"kasih saja foto mu yang baru di cetak JJ, piguranya juga sudah ada" Saran Ken yang duduk santai sambil membaca dokumen di tangannya.


"Astaga ide yang bagus, cepat kirim Lian nanti ia akan menganggu ku lagi" Sora tersenyum samar, Ansell pasti akan menyukai foto yang akan di berikannya itu. Padahal foto itu akan di pajang di dalam ruangan kerjanya itu. Tapi tidak apa-apa ia bisa cetak lagi. Yang penting tidak ada sang penganggu.


Setelah Lian keluar dari ruangan untuk melaksanakan perintah dari Sora. Kini admosfir dalam ruangan menjadi sedikit memanas. Arlecia mungkin satu minggu atau lebih akan berkantor di One S. Ia memerlukan sumber tenaga dari orang-orang hebat yang di miliki oleh Adiknya itu.


Arlecia yang merupakan ketua klan kini terlibat dalam organisasi hitam yang ada di Italia. Keterlibatan ini bukan tidak di sengaja, karena Arlecia sendiri lah yang melibatkan dirinya sendiri. Arlecia mengetahui bahwa organisasi hitam di Itali sedang mengembangkan obat doping untuk meningkat stamina kuat menjadi 3 kali lipat untuk para agen serta anggota organisasinya tapi terpecahnya organisasi menjadi dua kubu membuat komposisi dalam obat itu sendiri di curi oleh kubu yang memang menginginkan obat itu bisa memperluas kekuasan nya. Sedangkan kubu yang satunya memang ada kerja sama dengan pemerintahan Itali untuk meningkatkan kekuatan tentara pertahanan Negara.


Kini Obat doping itu bukan hanya sekedar obat peningkat stamina tapi sekarang sudah di kembangkan menjadi virus yang berbahaya. Sialnya pengembangan virus itu ada di Negara China. Dari itu lah Arlecia ingin mencari tau dan akan menghancurkan virus itu sebelum tersebar.


"ku pikir pembuatan obat itu hanya omong kosong mu saja di tahun-tahun kemarin" ucap Sora tangannya sambil memainkan game di ponselnya. Aduhhh wanita ini katanya banyak kerjaan malah bermain game. Tapi suka-suka dia lah, ia bosnya.


"aku tidak pernah bicara omong kosong, teman ku yang di sana menceritakan semuanya. Obat itu berpotensi meningkatkan Klan, tapi keburu organisasi nya terpecah menjadi dua kubu gara-gara ketua organisasinya mengasingkan diri di Negara ini"


" di Negara ini? Siapa?" tanya Sora penasaran siapa bos besar Mafia Italia itu.


Arlecia menggelengkan kepalanya. "sampai sekarang aku tidak tau dan dimana keberadaan bos mafia itu. Teman ku yang menjadi tangan kanannya pun menutup mulutnya dengan rapat tidak akan membocorkan keberadaan bosnya demi keamanan"


"Arlecia lebih baik kau jangan melibatkan dirimu lebih jauh, Klan dan Keluarga mu terlindungi itu sudah cukup. Mafia di Itali bukan ranah mu"


" Benar Tuan, kasus ini cukup membahayakan Klan dan juga perusahaan kita" Timpal Ken yang setuju dengan perkataan Sora.


" tidak bisa Sora, ini ada kaitannya dengan Anzu"


Seketika tubuh Sora menegang perubahan wajahnya terlihat jelas. Sora langsung menggeleng-gelengkan kepalanya dengan manatap kakaknya dengan tajam bercampul kesal.


"jangan kau katakan Anzu lah pengembang obat itu" Tanya Sora dengan tangan yang sudah mengepal erat.


"ia, ialah yang mengembangkan obat itu"


Braaakkkk....


Ponsel di tangan Sora di leparnya dengan keras kearah kakaknya. Tapi dengan cepat Arlecia menghindar akhirnya lemparan itu mengenai lemari kaca yang ada di belakang Arlecia.


"Tuhan lindungi kami, Devil nya sudah keluar" Doa JJ yang terperanjat kaget di samping Ken.