
Astaghfirullah, kenapa ini bisa terjadi" terlihat Papa Damian mengusap wajahnya dan memandang sendu.
"Kalau begitu Papa menemui dokter dulu Ma" Pamit Papa Damian pada istrinya.
Beruntung Papa Damian sudah kenal akrab dengan dokter yang menangani Clarissa. Sebab sejak dari kecil kondisi Clarissa ditangani oleh Dokter Farhan.
"Pak Damian, silahkan duduk" ucap dokter Satria pada Papa Damian saat memasuki ruang praktek Dokter Farhan.
"Bagaimana Dokter?" Tanya Papa Damian dengan wajah lesunya.
"Saya langsung ke intinya saja ya Pak. Kondisi Clarissa sudah sangat mengkhawatirkan. Saya tidak tahu kenapa. Tapi obat-obatan yang dikonsumsinya selama ini sepertinya tidak memberikan efek sama sekali pada pengobatan Clarissa"
"Bagaimana bisa dokter? Bukanya selama ini kondisi Clarissa bisa dikatakan stabil".
"Benar Pak, apa ada kemungkinan Clarissa tidak mengkonsumsi obatnya secara rutin?"
"Tidak mungkin Dokter, karena istri saya selalu menyiapkan obat Clarissa tepat waktu" sanggah Papa Damian.
"Kalau begitu kemungkinan dosis obat yang dikonsumsi sudah tidak memadai dalam artian harus diganti Pak".
"Lalu ара kondisi Clarissa bisa pulih kembali" tanya Papa Damian.
"Maaf sebelumnya Pak Damian. Karena Clarissa sempat terkena serangan jantung dan juga jantungnya yang sempat berhenti beberapa saat. Mengakibatkan kondisi jantung Clarissa semakin memburuk. Jalan satu-satunya dengan mencarikan donor jantung secepatnya".
"Baik saya akan usahakan mendapatkan donor jantung untuk Clarissa secepatnya".
Pagi hari di SMA smk12, dena berjalan menuju kelasnya dengan perasaan yang tidak nyaman. Karena banyak mata yang memandang aneh padanya.
"Hey cewek miskin, segitu pengennya ya lu mau ngerusak nama baik sekolah bolos segala lagi cihh ,sampai Lo bebuat salah .ucap wati . salah satu teman cantika di kelas XII IPs1.
dena mengernyitkan dahinya mendengar perkataan dari wati.
"Kenapa? Heran ya gue bisa tahu darimana?" Tebak cantika.
"Sudah can, jangan seperti itu kasihan" ucap wati yang duduk disamping wati didepan kelas XII Ips1.
Memang jam pelajaran pertama belum dimulai sehingga banyak anak yang masih berkeliaran dikoridor kelas.
"Biarin ajalah wat, emang dia udah biar bolos kok, untung aja bisa segera ketahuan" sindir can,
"Yakin lo gue blos?" Tanya dena.
"Yakinlah orang ada buktinya".
"Darimana lo tahu kalau ada buktinya?" Tanya dena.
"Ya kan nggak mungkin Pak hasan bilang kalau lo ngelakuin cepu kalau nggak ada buktinya" jawab cantika ngegas.
"Oh jadi lo tahu berita itu dari Pak hasan sendiri"
"Iyalah dari sumber yang terpercaya" sombong cantika.
"Yakin, perasaan Pak hasan bukan orang yang suka ghibah" ucap dena sambil mengangguk - anggukan kepalanya.
"Ya pokoknya emang lo ketahuan curang dan didiskualifikasi kan, lain kali yang sportif dong kalau mau ikut olimpiade. Hampir aja temen gue yang cerdas ini jadi korban" ucap wati sambil menepuk pundak cantika
dena hanya menatap cantika dengan senyum smirk meremehkan.
"Lo yakin temen lo ini korban" tanya dena dengan tatapan tajam kearah wati.
"Jelaslah. cantika kan bukan lo yang suka main cepu.
"Coba lo pikir lagi deh, yang selama ini jadi omongan guru disekolah ini siapa. Yang selalu jdi omongan guru siapa, gue apa temen lo ini" tunjuk dena dan cantika.
"Pikir pake otak lo yang cuma seupil itu. Jangan pakai dengkul" sarkas dena.
"Gue nggak bilang gitu deh kayaknya, gue cuma nyuruh elo buat mikir secara logika" jawab dena.
"Dan elo, silahkan berbangga diri menjadi tukang cepu nanti. Tapi gue yakin elo nggak bakalan dapat apa-apa. Karena lo nggak mampu" ucap denaa sebelum pergi meninggalkan wati dan cantika.
"Dasar anak miskin sialan" maki cantika pada dena yang diacuhkan oleh dena. Sedangkan wati terlihat mengepalkan kedua tangannya dengan wajah yang memerah.
Jam pelajaran pertama dan kedua dilalui dena dengan tenang. Tak dihiraukannya tatapan dari teman sekelas padanya.
Ada tatapan mencemooh, ada tatapan iba dan ada yang melihat dena acuh tak acuh. dena tidak ambil pusing dengan anggapan orang lain mengenai dirinya. Karena dia yakin bahwa dia tidak melakukan hal itu.
"dena.lo baik-baik aja kan" tanya Nadia saat jam istirahat tengah berlangsung.
"Gue? Baik" jawab dena.
"Em soal masalah bolos itu. ." tanya Amel ragu.
"Udah biarin aja. Gue nggak ngerasa ngelakuin hal itu. Terserah kalian percaya atau nggak" jawab dena cuek.
"Oh ok" jawab Amel.
"Ke kantin yuk" ajak Nadia kepada Amel dan dena.
"Hayuk" jawab dena semangat.
"Loh Amel mana?" Tanya dena sambil membawa pesanan makanan untuk mereka.
"Mau ke toilet katanya tadi" jawab Nadia
"Ini bakso sama es jeruk punya lo" dena menyerahkan semangkok bakso dan es jeruk pesanan Nadia.
"Lama bener Amel ke toiletnya, lagi boker apa gimana tuh anak" kata dena setelah menghabiskan bakso miliknya.
"Anjir omongan lo den, bikin gue nggak napsu makan" kesal Nadia yang batal menyendok baksonya yang masih ada setengah.
"Gue cari Amel dulu deh, Lo lanjut aja makannya" kata dena sambil berdiri dari duduknya.
dena berjalan keluar kantin sambil mengedarkan pandangannya kesekeliling mencari keberadaan Amel. Bukannya khawatir Amel kenapa-napa, cuma mubazir aja baksonya jadi dingin apalagi sampai nggak jadi dimakan kan sayang mending dikasih buat dena aja ya kan. Lumayan butuh asupan lebih untuk menghadapi kenyataan hidup.
"Mana tu anak, kagak ada ditoilet" ucap dena setelah mengecek toilet yang lokasinya berada dekat dengan kantin.
"Eh itu Amel kak, ngapain dia kesana?" Heran dena yang melihat Amel sedang menaiki tangga ke arah rooftop gendung sekolah.
"Tuh anak lupa apa gimana ya jalan ke kantin masak nyasar kesana" gerutu dena sambil berjalan menyusul Amel.
"San kok elo nggak bilang kalau tumpukan kertas yang elo suruh gue masukin ke loker dena itu soal-soal buat seleksi peserta olimpiade". Terdengar suara Amel yang sedang berbicara dengan seseorang.
"Emangnya kenapa? Toh lo juga udah terima duitnya kan. Gue lihat malah udah lo pakek buat shopping sama temen lo" jawab sebuah suara yang sepertinya dikenali oleh dena.
"Tapi kan gue nggak tahu kalau niat elo buat ngefitnah si dena" suara Amel terdengar lagi kali ini.
Karena merasa ada sesuatu yang janggal Nada segera menyalakan recorder pada ponselnya.
"Elo aja yang bego. Mau-mau aja gue suruh".
Gue ngerasa bersalah sama dena, apalagi Meli koar-koar kalo dena kema salah gara gara. Lo cepu ke guru guru. Padahal yang curang kan lo, biar lo bisa cepu dena
dena mematung mendengar perkataan dari Amel yang merupakan temannya sejak mereka masuk ke SMA 12.
Bagaimana bisa Amel dengan teganya menusuk dena. Padahal Amel tahu kalau denaa ingin ini karena ia ingin bisa melanjutkan kuliahnya nanti di luar negeri.
"Terus lo mau apa sekarang. Mau bilang kalau Gue yang udah ngefitna dena gitu, emang lo punya bukti?. Kan elo sendiri yang naruh