
Trus kenapa, elo mau ngadu ke Om Damian kalau gue nggak mau anter lo. Ngomong aja, ntar tinggal gue bilang kalau gue udah nggak tahan sama tingkah manja dan suka suruh lo itu".
"Kakak kok gitu" kata Clarissa sambil menahan Isak tangisnya.
"Re lo anter dulu deh, kasian anak orang nangis tuh" ucap Amanda yang merasa kasihan dengan Clarissa.
"Biarin aja. Emang suka ngedrama ni anak. Udah katam gue. Sampe bosen. Yuk cabut" Regan berjalan meninggalkan Clarissa tanpa peduli dengan keadaan Clarissa lagi.
"Kenapa Kak Re berubah, disini cuma Kak Re yang ngertiin Clarissa. Kalau Kak Re juga nggak mau sama Clarissa terus Clarissa sama siapa" monolog Clarissa sambil memandang punggung Regan yang berjalan menjauh darinya.
"Cla kok pulang sendiri, Regan mana" Tanya Anisa Mama dari Aurel dan Clarissa.
"Kak Regan ada tugas kelompok Ma, jadi nggak bisa anter Cla pulang" jawab Clarissa sambil mencium tangan Anisa.
"Tapi kayaknya akhir-akhir ini dia jarang anter jemput kami lagi ya" selidik Anisa.
"Iya Ma, mungkin karena Kak Re sudah kelas XII jadi banyak urusan Ma" Clarissa masih berusaha untuk menyembunyikan kerenggangan hubungannya dengan Regan.
"Benar begitu. Bukan karena ada masalah diantara kalian berdua kan?
"Nggak kok Ma, hubungan kami masih baik-baik saja" jawab Clarissa.
"Kak Aurel mana Ma?" Tanya Clarissa mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Aurel tadi sih bilangnya mau ngerjain tugas kelompok dirumah temannya" jawab Anisa.
"Oh.. kalau gitu Clarissa ke kamar dulu ya Ma. Mau mandi trus istirahat".
"Iya sayang" jawab Anisa sambil mengusap kepala Clarissa.
Setelah mandi Clarissa merebahkan tubuhnya diatas ranjang miliknya.
"Ada apa ya dengan Kak Re, perasaan tidak ada yang berubah dengan tingkah lakuku, apa memang aku manja dan terlalu menuntut Kak Re sehingga dia merasa tidak nyaman. Tapi kan memang harus seperti itu, Kak Re kan tunangan aku harusnya Kak Re selalu menuruti apapun keinginanku" ucap Clarissa sambil menatap langit-langit kamarnya.
"Mungkin Kak Re sedang banyak"Oh.. kalau gitu Clarissa ke kamar dulu ya Ma. Mau mandi trus istirahat".
"Iya sayang" jawab Anisa sambil mengusap kepala Clarissa.
Setelah mandi Clarissa merebahkan tubuhnya diatas ranjang miliknya.
"Ada apa ya dengan Kak Re, perasaan tidak ada yang berubah dengan tingkah lakuku, apa memang aku manja dan terlalu menuntut Kak Re sehingga dia merasa tidak nyaman. Tapi kan memang harus seperti itu, Kak Re kan tunangan aku harusnya Kak Re selalu menuruti apapun keinginanku" ucap Clarissa sambil menatap langit-langit kamarnya.
"Mungkin Kak Re sedang banyak pikiran karena sudah kelas XII, besok pasti balik lagi seperti Kak Re yang biasanya".
Tok
Tok
Tok
Ceklek
"Cla kamu tidur" Tanya Anisa yang tengah berdiri didepan pintu kamar Clarissa.
"Enggak Ma, ada apa?".
"Ayo makan Cla, ini sudah waktunya kamu minum obat".
"Iya Ma".
"Ini makan yang banyak ya" ucap Anisa setelah Clarissa duduk di meja makan.
"Lali ini obatnya Jagan lupa diminum" kata Anisa sambil meletakkan beberapa butir obat serta segelas air putih disamping Clarissa.
"Harus rutin minum obat sayang" ucap Anisa sambil tersenyum pada Clarissa.
"Iya deh, minum obat terus tapi Clarissa ya tetep nggak bisa sembuh" keluh Clarissa sambil meminum obat yang telah disiapkan oleh Anisa.
"Anak pintar" ucap Anisa sambil mengusap puncak kepala Clarissa sambil tersenyum smirk yang tidak disadari oleh Clarissa.
"sudah Mah. Clarissa kekamar ya mau belajar dulu" ucap Clarissa setelah selesai makan sore dan minum obat.
Memang perkara makan dan minum obat harus sesuai jam yang sudah direkomendasikan oleh dokter. Hidup Clarissa penuh dengan aturan yang harus ditaati dan ini membuat Clarissa kadang merasa jenuh. Serta sang Papa yang sibuk dengan pekerjaannya yang jarang bisa memberikan perhatian pada Clarissa membuat dia mencari perhatian pada orang sekitarnya termasuk Regan.
"Bosen ngapain ya enaknya. Kak Regan di telpon nggak diangkat, lihat Kak Aurel aja deh" ucap Clarissa yang merasa bosan berada dikamar setelah selesai mengerjakan tugas sekolahnya.
"Tenang saja sayang, nggak lama lagi tujuan kita akan tercapai. Kamu tenang saja. Mama pastikan setelah ini hanya kamu yang akan menjadi satu-satunya" terdengar suara Anisa.
"Iya Mah. Aurel sudah nggak sabar lagi" jawab Aurel antusias.
Clarissa yang mendengar percakapan Mama dan Kakaknya mengernyitkan dahinya. Menerka apa yang tengah diperbincangkan oleh Mama dan Kakaknya itu.
"Tapi apa Ndak apa-apa Ma, nggak bakalan ketahuan kan?"
"Tenang saja, semua aman. Obat yang Mama kasih bukan racun atau apa. Itu hanya obat biasa tidak ada efek apapun ditubunya. Dan itu artinya dia tidak mendapatkan pengobatan selama ini. Jadi tinggal tunggu waktu saja".
"Ok sekarang hubungan dia sama tunangannya juga udah renggang, salah sendiri jadi anak bodoh banget. Mana ada cowok yang mau disuruh apalagi diancam kalau nggak mau menuruti keinginannya. Dasar anak manja tukang ngadu" kekeh Aurel
Clarissa menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Bagaimana bisa Mama dan Kakak yang ia percayai selama ini ternyata memakai topeng didepannya.
"Nanti kalau dia sudah mati. Tinggal gue minta sama Papa buat gantiin si bodoh itu jadi tunangannya Regan" ucap Aurel.
"Boleh sayang, pasti keluarga Regan nggak bakalan nolak. Karena mereka juga mendapatkan investasi yang banyak dari Papa kamu"
Badan Clarissa melemas, dadanya terasa sakit mendengar kenyataan. Ternyata kedua orang yang disayang oleh Clarissa mengharapkan kematiannya. Apa salah Clarissa selama ini. Dia merasa sudah menjadi anak yang baik. Bukankah selama ini justru mereka yang memanjakan Clarissa dan mendukung semua perbuatan Clarissa.
Prang
Tubuh Clarissa terjatuh dan menyenggol hiasan vas bunga yang ada disampingnya.
"Clarissa?" Teriak Anisa.
"Ke-kenapa Ma?" Tanya Clarissa dengan wajah pucat dan keringat dingin diwajahnya.
"Kenapa ma-ma?"tanya Clarissa lagi sambil menekan dada sebelah kirinya yang terasa sakit.
"Kamu... Kamu mendengar pembicaraan kami?" Tanya Aurel.
"I-iya, ke-kenapa Kak?" Tanya Clarissa dengan napas yang mulai tersengal.
"Mah gimana ini" kata Aurel panik.
"Biarkan saja Rel, justru semakin bagus
Karena sebentar lagi keinginan kita tercapai "ucap Mama Anisa sambil menatap datar Clarissa yang tengah kesakitan.
"Astaghfirullah non Clarissa" teriak mbok Nah salah satu ART dirumah Clarissa.
"Nyonya ini non Clarissa bagaimana" Tanya Mbok Nah panik.
"Saya juga panik ini mbok, sudah telpon ambulan kita tunggu saja" ucap Mama Anisa mulai bersandiwara.
"Aduh apa Ndak sebaiknya dibawa ke rumah sakit pakai mobil sendiri nyonya" terlihat wajah panik Mbok Nah yang menyanggah kepala Clarissa.