Transmigrasi Gadis Culun(Pembalasan Dendam)

Transmigrasi Gadis Culun(Pembalasan Dendam)
bab10


Wiu.. wiu..


Suara sirine ambulance yang tengah melaju dengan kecepatan diatas rata-rata membelah padatnya jalanan sore itu untuk membawa pasien yang berada didalamnya dengan segera kerumah sakit agar dapat mendapatkan pertolongan dengan segera.


Sesampainya di depan IGD rumah sakit para petugas dengan cekatan memindahkan tubuh seorang gadis yang berlumuran darah kearah brankar untuk mendapatkan pertolongan.


"Keluarga korban sudah dihubungi?" Tanya perawat yang merawat pasien.tengah memeriksa kondisi gadis tersebut.


"Tidak ditemukan ponsel di saku ataupun tasnya. Kami hanya tahu identitasnya dan sekolahnya saja" jawab petugas yang mengantarkan Nada kerumah sakit.


Iya gadis yang tengah tergolek diatas brankar dengan darah yang mengalir di telinga serta pelipisnya adalah dena. Agaknya benturan yang dialami oleh dena sangat keras hingga darah juga keluar dari kedua telinganya.


"Hubungi pihak sekolah tanyakan tentang keluarganya, pasien harus segera menjalani operasi" seru dokter yang menangani dena kepada perawat yang ada disampingnya.


"Dokter saya sudah menghubungi pihak sekolah dan ternyata pasien ini adalah anak yatim piatu dokter" kata perawat tadi sambil menatap iba pada dena.


"Wali lainnya?" Tanya dokter


"Tidak ada dokter, dia tinggal sendirian" jawab perawat itu kembali.


"Baik kita bawa pasien ke ruang operasi sekarang"


"Tapi dokter wali pasien?"


"Saya yang akan bertanggung jawab ini kondisi yang darurat"


Operasi perjalan cukup lama karena kondisi Nada yang cukup parah. 8 Jam lebih dokter berjibaku mengoperasi perdarahan dikepala dena.


"Saya berharap kamu bisa pulih Nak" ucap Dokter bedah yang memeriksa kondisi dena dan melakukan tindakan operasi kepada Nada.


----------------


Sementara di ruang VVIP dikamar rawat Clarissa terdapat seorang perawat yang tengah Menganti pakaian Clarissa setelah selesai menyeka badan Clarissa.


"Ibu untuk tangan dan kaki mbak Clarissa sering-sering digerakkan seperti ini ya" ucap perawat tersebut sambil memberikan contoh kepada Mama Anisa yang tengah menunggu Clarissa.


"Agar peredaran darahnya lancar, jadi nanti kalau mbak Clarissanya sadar otot-ototnya tidak kaku. Sambil diajak bicara mbak Clarissanya. Diberi motivasi dan semangat untuk sembuh. Karena meskipun dalam kondisi koma pasien tetap bisa mendengarkan suara orang-orang disekitarnya" kata perawat tersebut ramah. Sambil masih memberikan pijatan-pijatan lembut pada badan Clarissa.


"Saya permisi ya Bu" pamit perawat tersebut setelah selesai melakukan tugasnya.


"Huh biarin aja ototnya kaku kalau bisa lumpuh lebih bagus, atau mati sekalian lebih bagus lagi" omel Mama Anisa sesaat setelah perawat yang bertugas keluar ruangan.


"Eh kamu anak sial. Kenapa nggak langsung mati aja sih. Pakai koma segala. Kamu pikir perawatan dirumah sakit ini gratis. Cepet mati sana biar kamu nggak habisin duit Papa kamu" kata Mama Anisa sambil memandang kearah Clarissa yang tengah koma.


"Saya jadi nggak bisa shopping gara-gara harus nungguin kamu dirumah sakit. Emang anak nyusahin kamu itu. Jelas aja Mama kamu milih mati setelah ngelahirin kamu ketimbang ngurusin kamu. Karena dia nggak mau ngurusin anak penyakitan kayak kamu" lagi-lagi Mama Anisa mengomel di hadapan Clarissa yang tidak sadarkan diri.


"Ma gimana kabarnya, masih bertahan aja adik nggak tahu diri ini" ucap Aurel yang baru datang dengan masih memakai seragamnya.


"Iya nih, nggak tahu Mama betah banget dia tidur disini. Kenapa nggak langsung mati aja" kesal Mama Anisa.


"Apa kita sabotase aja alatnya itu ma" ucap Aurel sambil menunjuk alat yang berfungsi sebagai menyokong fungsi tubuh Clarissa.


"Jangan nanti kalau ketahuan bisa bahaya. Kamu tekan aja mental dia biar dia drop" bisik Mama Anisa pada Aurel.


"Sip Ma" Aurel mengacungkan ibu jarinya


"Mama keluar dulu ya, ganti kamu yang jaga. Suntuk mama disini terus. Mau nyalon dulu" Ucap Mama Anisa sambil meraih tas selempang miliknya.


"Ok, tapi ntar bawain Aurel makanan ya Ma"


"Hmm, bye".


"Halo Clarissa yang cantik apa kabar" tanya Aurel dengan suara yang dibuat semanis mungkin.


"Eh lo kan lagi nggak sadar ya. Mau gue kasih kabar yang lagi hot nggak di sekolah. Lo masih ingat kan sama Regan. Regan tunangan lo itu. Tapi kayaknya Regan nggak inget sama lo. Lihat aja 2 hari lo masuk rumah sakit dia nggak ada khawatir - khawatirnya sama lo. Malahan dia nggak tahu kalau lo masuk rumah sakit. Lo tahu kenapa, karena sekarang Regan lagi deket sama Amanda teman satu kelasnya itu. Jadi dia udah lupa sama lo. Ya meskipun gue kesel sih tapi it's okay yang jelas sekarang dia udah nggak perduli sama elo" ucap Aurel sambil melirik kearah monitor disamping Clarissa yang menunjukan fungsi alat vital Clarissa.


"Emang sih anak pelakor kayak lo nggak pantas buat diperduliin. Ups keceplosan gue" ucap Aurel sambil menutup mulutnya.


Mata Aurel berbinar saat melihat detak jantung Clarissa yang sedikit meningkat dalam monitor tersebut.


"Gue kasih tahu ya. Ini rahasia. Lo itu bukan anak Mama Anisa. Anak Mama Anisa cuman gue. Lo itu anak pelakor yang udah mati saat ngelahirin lo" bisik Aurel ditelinga Clarissa.


"Kenapa gue bilang pelakor, karena nyokab lo ngerebut Papa Damian dari Mama gue. Lo tahu dong kita selisih umur nggak sampai 1 tahun. Karena mama kita beda, bukan karena Mama kebobolan. Papa sama Mama itu udah pacaran dari lama. Tapi saat Mama hamil Papa ninggalin Mama dan Nikah sama Mama kamu".


Tit tit tit tit


Terdengar bunyi monitor yang semakin nyaring, seakan memberikan semangat Aurel untuk bercerita lebih lagi.


"Mama yang nggak terima saat tahu Papa nikah dengan Mama kamu datang sambil bawa aku yang baru berusia 2 bulan dan mengatakan pada Mama kamu bahwa aku adalah anak Papa Damian. Awalnya sih Papa Damian mengelak, namun karena hasil tes DNA mengatakan kalau gue benar anak Papa Damian jadi mau nggak mau Papa Damian harus akuin gue sebagai anaknya".


Tit tit tit tit tit


Tersenyum senang Aurel mengamati monitor dengan mata yang berbinar. Tidak ada niatan untuk sekadar menekan tombol panggilan ke perawat atau mencari dokter.


Dengan senyum mengembang Aurel meneruskan ceritanya. " Mama lo yang nggak terima dengan kenyataan langsung terlibat cekcok dengan Papa Damian. Dan naasnya Mama lo yang tengah marah berlari keluar rumah dan terjatuh dalam kondisi tengah hamil 7 bulan. Dan lo bisa nyimpulin sendiri kan kelanjutannya. Mama lo mati saat lo dilahirkan, karena kondisi lo yang lahir belum cukup umur ngebuat lo punya sakit jantung. So lo adalah penyebab Nyokab kandung lo mati. Dan gue sama Mama Anisa benci sama lo karena lo anak pelakor".


Tubuh Clarissa kejang dengan air mata yang mengalir di pelupuk matanya yang tertutup. Dengan senyum iblisnya Aurel melihat kondisi tubuh Clarissa yang tengah kejang tersebut lalu dengan bersenandung dia mengambil tombol panggil darurat dan menekannya setelah 1 menit Clarissa mengalami kejang.


Dengan wajah panik Papa Damian berlari di koridor rumah sakit. Dia meninggalkan meetingnya saat mendapat kabar bahwa kondisi