
Terdengar suara pintu yang terbuka mengalihkan atensi dena. dena mebuang napas kasar saat melihat siapa yang datang.
"Lo udang bangun" tanya Regan yang datang bersama dengan Aurel kakak Clarissa.
'emang lo g liat nih mata gue kebuka. Pake nanya segala' omel dena dalam hati.
"Cla ini Regan datang lagi kok lo masih cuek gitu sih, kan kemarin Kakak udah bilang dia tunangan kamu" kata Aurel dengan suara lembut.
'Cih dasar rubah betina, sok-sokan baek tapi aslinya busuk' gerutu dena dalam hati sambil melemalingkan wajahnya.
"Cla kok lo gitu sih" ucap Aurel yang melihat dena memalingkan wajahnya.
"Udah Rel biarin aja, Clarissa emang masih belum bisa ingat kan. Jangan dipaksa" kata Regan.
'Hello gue bukannya nggak ingat sama kalian. Emang gue aslinya nggak kenal sama kalian. Gue kan bukan Clarissa' dena masih mengomel dalam hati. Malas rasanya kalau harus berbicara dengan si rubah betina dan tunangan bejat seperti Regan.
Gimana dena bisa tahu kalau Regan itu tunangan bejat.
Selain dari cerita Clarissa. dena juga bisa menilai sendiri dari sikap dan tingkah laku Regan pada Clarissa yang terkesan cuek dan dingin. Dan ditambah saat Clarissa sadar 3 hari yang lalu kalau Regan memang sayang dengan Clarissa pasti dia langsung datang. Namun kenyataannya nihil.
Besoknya Regan baru datang menjenguk Clarissa, itupun dengan teman-temannya yang lain. Dan bukannya memberi perhatian pada Clarissa ia malah sibuk ngobrol dengan teman wanitanya yang bernama Amanda.
Cemburu tentu tidak. Karena dia dena bukan Clarissa.
"Gue mau istirahat. Kalian kalau mau ngobrol diluar aja. Gue keganggu" ucap dena sebelum memejamkan matanya.
"Lo kok aneh si Cla, kita kan kesini buat nemenin lo. kok lo usir kita. Trus sekarang kok bahasa lo pakai lo - gue, biasanya aku-kamu" Kata Aurel lembut yang terdengar menyebalkan untuk Nada.
"Ck banyak omong lo. Gue pengen tidur berisik" kesal dena.
Nada merubah posisi tidurnya menghadap ke tembok kamar dan menarik selimutnya sampai atas kepala. Dia benar-benar malas berurusan dengan 2 makluk tidak tahu diri yang berada didalam kamar rawat inapnya.
Cukup lama dena tertidur. Mungkin akibat efek dari obat-obatan yang masih harus dikonsumsinya pasca menjalani transplantasi jantung. Sebenarnya sudah tidak ada keluhan yang dirasakan oleh dena. Yang ada sekarang tubuhnya terasa pegal-pegal karena sebagian besar aktivitasnya hanya dihabiskan dengan berbaring saja.
"Kamu sudah bangun Nak?" Tanya Mama Anisa yang duduk di sofa dalam ruang rawat Nada.
"Hmm" gumam Nada.
"Mau makan" dengan ramah Mama Anisa menawarkan makan pada Nada.
Nada hanya memandang jengah pada sikap yang diperlihatkan oleh Mama Anisa didepan Papa Damian. Topeng yang bagus sekali. Padahal dari cerita Clarissa si nenek lampir ini selalu berkata kasar dan mengharapkan kematian Clarissa saat Clarissa terbaring koma.
"Cla ada apa? Apa ada yang sakit" tanya Papa Damian sambil berjalan mendekati Nada.
Haduh Nada masih belum terbiasa dengan panggilan itu. Masih merasa kalau dirinya adalah Nada dan bukan Clarissa. Masih aneh juga saat mendapatkan perhatian dari Papa Damian.
"Eum Cla.. baik Pa" ucap Nada yang mulai memanggil namanya dengan nama Clarissa.
"Cla belum lapar. Pa kapan Clarissa bisa pulang? Bosen dirumah sakit terus" keluh Nada aka Clarissa.
"Tunggu sampai beberapa hari lagi ya. Dokter masih memantau hasil transplantasi jantung kamu. Ada efek sampingnya atau tidak" jawab Papa Damian sambil mengusap pucuk kepala Clarissa.
"Cla udah baik-baik aja Pa. Malahan kalau disuruh lari 10 km Clarissa juga kuat" kata Clarissa dengan semangat.
"Hahaha kamu itu nggak pernah ikut olahraga Cla. Jadi Papa tidak yakin kalau kamu kuat lari 10 km" kata Papa Damian sambil tertawa.
"Dih Papa nggak percaya, perlu bukti?" Tanya Clarissa yang kini berusaha bangun dari tidurnya.
"Kalau gitu Clarissa mau pulang ya.. ya.. udah kangen sama rumah, kangen sekolah juga" rengek Clarissa.
"Emang udah inget sama teman-teman kamu?" Selidik Papa Damian.
"Hehehe ya belum Pa.
Mangkanya pengen masuk sekolah lagi biar cepet inget sama teman-teman di sekolah" kekeh Clarissa.
"Oke nanti Papa konsultasi sama dokter Farhan dulu ya. Apa kamu sudah boleh pulang atau belum" jawab Papa Damian sambil tersenyum ramah pada Clarissa.
'Duh ni bokapnya Clarissa cakep banget anjir, disenyumin doang rasanya ambyar hati adek Abang. Ups inget itu Bokapnya Clarissa woi yang artinya sekarang bokap Lo juga' kata Clarissa kata dena sambil menggelengkan kepalanya.
"Ada apa Cla, kamu pusing"
"Nggak Pa, cuma nggak sabar pengen cepet-cepet pulang" elak Clarissa sambil tersenyum kikuk.
Akhirnya setelah dilakukan pemeriksaan dan kondisi Clarissa yang dinyatakan stabil. Clarissa diijinkan untuk pulang kerumah.
Sekarang Clarissa tengah duduk bersandar pada kepala ranjang tempat tidur sambil memainkan game di ponselnya. Menunggu Papa Damian yang tengah menyelesaikan administrasi.
Meskipun Clarissa tidak
sendirian dikamar itu. Melainkan ditemani oleh Mama Anisa dan Aurel tapi dia tidak perduli. Dia juga tidak ada niat untuk mengakrabkan diri. Toh mereka juga bersikap manis saat ada Papa Damian saja.
Ceklek
Dengan antusias Clarissa mengalihkan pandangannya kearah pintu yang tengah terbuka. Berharap bahwa Papa Damian yang masuk setelah menyelesaikan administrasi. Namun saat mengetahui bahwa yang datang adalah orang lain Clarissa kembali menyibukkan diri dengan ponselnya.
"Assalamualaikum. Clarissa gimana kabarnya" sapa seorang wanita anggun seumuran dengan Mama Anisa yang masuk bersama Regan dan seorang pria dewasa.
"Wa'alaikum salam Tante, Clarissa baik" jawab Clarissa dengan ekpresi datar membuat wanita anggun tersebut mengerutkan dahinya heran.
"Ma, Regan kan udah bilang kalau Clarissa hilang ingatan" ucap Regan yang menyadari ekpresi kebingungan Mamanya.
"Mama lupa" Ucap Mama Regan sambil tersenyum dan menyapa Mama Anisa serta Aurel yang duduk di sofa.
"Ini Mama Tania sayang. Mamanya Regan" ucap wanita tersebut sambil duduk disebelah ranjang Clarissa.
"Iya Tante" jawab Clarissa disertai senyum canggung.
"Kok Tante, biasanya kamu manggilnya Mama. Seperti Regan manggil Mama Cla"
"He..he Cla ngerasa aneh Tante" jawab Clarissa, dia merasa tidak sedekat itu dengan Tante Tania sehingga harus memanggilnya Mama. Toh Clarissa asli tidak menuntutnya untuk bersikap seperti Clarissa kan.
Ceklek
"Pa gimana? Udah bisa pulang?" Tanya Clarissa antusias saat Papa Damian masuk kedalam kamar rawat Clarissa.
"Sudah sayang, kamu nggak sabar ya pengen cepat pulang".
"Iya" jawab Clarissa sambil menanggukan kepalanya berulang-ulang. Yang membuat Papa Damian serta Tante Tania yang berada disamping Clarissa tertawa.
"Kamu sembuh dari koma jadi lebih ceria ya" kata Tante Tania.