Tirta Jayakusuma

Tirta Jayakusuma
Selamat jalan Aryo Seto


Tirta Jayakusuma, Mahardhika, Bayu dan Adnan segera menuju pendopo padukuhan Wuni.


Dan ternyata di pendopo ini sudah


berkumpul Ki Wigati dengan para pendukungnya.


Juga Ki Sadewa, Ki Suromenggolo , kyai Fakih, ki Maruto dan juga beberapa pemimpin pasukan pengawal seperti Brangah dan Kerto.


Ketika Tirta Jayakusuma, Dika, Bayu dan Adnan memasuki pendopo, maka di dapatinya Nastiti sedang duduk di sebelah seseorang yang tampak terbujur di sebuah lincak.


Nastiti tampak memeluk tubuh kaku tersebut..


Begitu mendekat, mereka segera mengetahui sosok yang terbaring kaku di lincak, ya itu adalah Ki Ranu...


Tirta Jaya Kusuma tampak berdiri mematung begitu mengetahui orang tua yang juga gurunya ini sudah terbaring kaku ! terbujur tanpa ekspresi,,.. gugur!


Orang yang telah menurunkan ilmu ilmunya dan memberikan segalanya kepadanya!


Ki Ranu telah! pergi untuk selamanya!


Tiba- tiba saja Nastiti menoleh ke arah Tirta jayaKusuma.


" Eyang ,,, eyang mas Tirta,!". Hu,, huuu .hik, hik,,,, .


Tangis Nastiti kembali pecah!


Tirta segera mendekati Nastiti dan kemudian duduk di sebelah nya..


Dipeluknya nya Nastiti,,,


"Tambahkan hatimu Nastiti,, Biarlah eyang pergi dengan tenang! kata Tirta lembut,.


Walaupun Tirta Juga sangat sedih , tapi dia sebisa mungkin menghibur hati Nastiti sebisa mungkin.


Ini adalah pukulan. yang sangat berat bagi Nastiti.


Selama ini dia hidup hanya dengan eyangnya saja! dan Sekarang eyangnya sudah pergi untuk selama lamanya.


Beberapa saat kemudian Nastiti sudah bisa menguasai dirinya lagi. Dia menjadi lebih tenang apalagi ada Tirta Jaya Kusuma ada di sampingnya sambil memeluk erat dirinya.


Beberapa saat kemudian beberapa anak-anak muda dukuh Srengseng yang baru saja mendengar perihal gugurnya Ki Ranu, segera berdatangan untuk memastikan dan memberikan penghormatan terakhir nya.


Sesepuh, gegedug juga pelindung dari padukuhan Srengseng kini telah pergi...


pergi untuk selama- lamanya ,,


pergi menghadap sang pencipta !


pergi dimana seharusnya manusia kembali untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatannya semasa hidup di dunia.


Setiap mahluk yang bernyawa jika masanya telah tiba pasti akan mati juga .


***


Pagi itu Ki Sadewa memerintahkan orangnya untuk membawa pulang mereka -mereka yang menjadi banten (korban) dalam penyergapan kali ini, baik yang terluka maupun yang sudah meninggal..


Jarak antara padukuhan Srengseng sendiri dengan dukuh wuni hanyalah tiga sampai empat kilo meter saja.. Jika berjalan maka bisa di tempuh dalam waktu tiga puluhan menit.


Jadi mereka bisa tiap saat pulang dan pergi, tidak ada yang menghalangi atau melarang!


Sementara itu sebagian pengawal juga masih bertahan di dukuh Wuni ini, juga dengan orang-orang perguruan silat yang di bawa oleh Mahardhika.


Pagi itu terlihat kesibukan yang luar biasa dari para warga dukuh wuni, mereka bahu membahu membereskan semua kerusakan kerusakan yang terjadi akibat pertempuran tadi malam..


Mereka bersyukur, kelompok Aryo Seto bisa di kalahkan.. Dan sekarang dukuh wuni kembali di pimpin oleh Ki Wigati! pemimpin yang memang seharusnya membawa padukuhan wuni pada ketentraman yang diharapkan semua warga dukuh wuni ini..


mulai sekarang mereka harus menyembuhkan luka luka. yang sudah di tinggalkan oleh Aryo Seto..


***


Tirta Jaya Kusuma berjalan menuju rumah yang di gunakan untuk merawat orang-orang yang sedang terluka.


Tampak Bayu dan Adnan serta Nastiti mengikuti nya dari belakang


Mereka ingin melihat Aryo Seto,, melihat keadaan pemuda yang menyebabkan semua malapetaka ini.


Ketika mereka memasuki sebuah kamar, maka mereka segera melihat seorang pemuda yang terlihat sedang terbaring diam di sebuah dipan..


Tirta segera mendekati Pemuda ini yang ternyata adah sosok Aryo Seto si pembuat onar.


Tubuhnya terlihat lemah,, matanya tertutup rapat.. Nafasnya tampak tidak teratur.


Dalam kamar tersebut terlihat beberapa orang yang berbaring di dipan.


Dalam pertempuran tadi malam Aryo seto mengalami luka dalam yang sangat parah..


Dan dia masih bisa bertahan hidup sampai sekarang adalah suatu keajaiban.


Tiba-tiba Aryo Seto membuka kedua matanya..


Dipandangnya Tirta Jaya Kusuma di samping nya berdiri di samping dipan tempat Aryo Seto berbaring lemah!.


"Tirta, Kamu datang pasti Akan mengejekku!, iya kan! " kata Aryo Seto lemah..


"Aku sudah kalah Tirta, aku telah kalah segala-galanya dari kamu.!" kata Aryo Seto pelan.


"Nastiti,, kemarilah,,, !" panggil Aryo Seto begitu di lihat nya si gadis berdiri di belakang Tirta Jaya Kusuma.


Nastiti segera mendekati Aryo Seto dengan ragu-ragu.


"Nastiti,,! Maafkan kakang mu ini,,." Kata Aryo Seto pelan..


"Aku sangat mencintaimu Nastiti,,,!" bisik Aryo Seto Sambil menggenggam jari jemari Nastiti..


Tampak tangan Aryo Seto sangat lemah seperti tanpa tenaga.


"Nastiti, pilihan eyang mu tidaklah salah,! Tirta Jaya Kusuma adalah pemuda yang baik..!" bisik Aryo Seto pelan.


"Akulah yang terlalu memaksakan kehendakku ! aku pikir dengan kemampuan ku saat itu, aku bisa memilikimu ! memiliki hatimu! ternyata pikiranku ini salah...!" lanjut Aryo Seto lirih.


"Tirta,,, ! Tirta Jayakusuma ..! Jagalah Nastiti dengan sepenuh jiwa ragamu, jangan biarkan Nastiti tersakiti, jangan biarkan harapan harpannya hanya mimpi..!" bisik Aryo Seto makin lemah.


"Tirta, Nastiti ,, aku akan memberitahukan sedikit rahasia pada kalian.!" bisik Aryo Seto.


"Tahukah kalian? mengapa aku bisa bekerjasama dengan Mr Budiman?!" kata Aryo Seto lirih.


"Sebenarnya lah Mr budiman yang awalnya mengajakku untuk bergabung dengan nya,, !"


Dia menyuruh orang menghubungi ku .. Dia tahu di sini adalah padukuhan yang di huni oleh orang orang yang cukup hebat,,, ?


padukuhan tersembunyi!


Karena Mr Budiman sebenarnya adalah orang dari padukuhan Srengseng! Walaupun dia bukan asli Srengseng, paling tidak dia pernah punya keluarga di dukuh Srengseng !


"Mr Budiman bernama asli Rekso kromo.!" kata Aryo Seto tampak makin lemah.


Begitu mendengar nama Rekso kromo,, Nastiti sangat kaget...


"Rekso Kromo,,,! Rekso kromo!" bisiknya pelan...


Tampak wajah Nastiti berubah menjadi sedih.. Airmata tampak meleleh di kedua pipinya yang halus lembut.


"Ya dia adalah ayahmu Nastiti...! Ayah yang telah meninggalkan mu sejak kecil,,,!" bisik Aryo Seto yang nampak nafasnya semakin berat saja.


."Maaf Nasti ,, ti....


Tiba-tiba Aryo Seto menarik nafas agak panjang ,,, begitu nafas itu di lepas nya...


lepas pula nyawanya .


menuju ke alam lain......


Genggamannya pada jari kemari melemah dan lepas dengan sendirinya..


"Kakang.... kang Aryo Seto...!" seru Nastiti ...


Setelah kehilangan kakeknya yang merupakan keluarga satu-satunya.


kini dia harus kehilangan lagi orang yang dianggapnya kakangnya...


Walaupun karena nya pula malapetaka ini terjadi...


Yaa,,, manusia hanyalah bidak bidak kecil yang hanya menjalankan tugas!


Tugas yang sudah tertulis sebagai takdir.


Beberapa saat kemudian Tirta jayakusuma sudah berjalan keluar dari rumah judi yang di gunakan untuk menahan para tawanan.


Di sebuah rumah judi yang paling besar, tampak para tawanan sedang duduk duduk di ruangan tamu.


Total para tawanan ini ada kalau limapuluh orang! jadi lokasi tawanan ini ada di beberapa lokasi. tempat - tempat yang tadinya untuk tempat tempat maksiat kini di alihkan fungsi sebagai tahanan orang orang yang tertangkap atau pun menyerah!


Rumah yang di kunjungi kali ini adalah rumah judi yang menjadi ajang pertarungan hidup mati tadi malam antara anak buah Aryo Seto melawan serbuan orang-orang padukuhan Srengseng.