Tirta Jayakusuma

Tirta Jayakusuma
turun gelanggang


Cucu kyai Fakih ini masih sangat muda. Nama nya Naili, seorang gadis muda yang ceria dan lincah.


Dengan wajah penuh keceriaan dan imut khas gadis remaja yang baru menginjak dewasa.


Naili ini segera mempersiapkan dirinya dengan membuka kuda-kuda yang tampak sangat kokoh!


Tirta dengan tenang segera melangkah mendekati Naili.


"Salam kenal dik," sapa Tirta Sambil menangkupkan kedua tangan di dada.


"Salam kenal juga mas, " Jawab Naili renyah.


"Senang bisa mencoba kemampuan mas Tirta yang kata orang orang tua sangatlah hebat! " kata Naili..


"Ahh, aku hanya bisa sedikit ilmu Kanuragan saja dik Naili !" jawab Tirta merendah..


"Baiklah mas ! Awas bersiaplah aku akan mulai menyerang!" seru Naili khoirunail.


Tanpa ragu lagi Naili bergerak menyerang bagai burung walet, gerakannya sangat lincah dan ringan. Dalam sesat dia telah melancarakan puluhan tendangan dan pukulan..


Hijabnya berkelebatan mengikuti gerakan gerakannya yang cepat bagaikan burung camar.


Tirta bukanlah tipe pemuda yang senang menonjolkan diri dan senang akan pujian dari orang lain!


Dia lebih senang merendah dan menyimpan rapat- rapat kemampuannya.


Tirta hanya bergerak mengikuti arah serangan Naili Khoirunail saja.


Setiap serangan dari Naili yang tampak nya akan mengenai tubuh Tirta pasti selalu kurang satu jengkal atau satu kilak saja dari tubuh sang pemuda.


Tadinya para penonton dan Naili sendiri kurang menyadari akan hal ini! Tapi lambat laun Naili menjadi semakin sadar akan hal ini.


Setelah merasa bahwa dirinya tidak akan mampu mengalahkan sang pemuda akhirnya Naili melompat mundur.


"Ah, curang!" seru Naili manja!


"Mas Tirta curang eyang!" seru Naili merajuk pada eyang nya, Kyai Fakih.


"Sudahlah Naili, kamu memang bukan tandingan Mas Tirta ini!" jawab Kyai Fakih lembut.


"Baiklah aku mengakui kemampuan mu mas Tirta," kata Naili.


Sebenarnya banyak dintara para penonton banyak yang tidak puas dengan kemampuan Tirta ini, Karena Tirta hanya melompat kesana kemari menghindari serangan- serangan dari Naili saja tanpa membalas serangan dari gadis cucu Kyai Fakih ini.


Tidak seperti Mahardhika yang hanya dua kali gebrakan sudah berhasil mengalahkan Sawung, murid utama perguruan silat Watu Gunung.


Akan tetapi bagi ki Suromenggolo dan Ludiro yang memang sudah mengetahui kemampuan yang sebenarnya! hal ini bukan lah menjadi masalah .


Setelah penjajagan kemapuan Mahardhika dan Tirta Jayakusuma dirasa cukup , mereka kemudian segera naik ke lereng sebelah selatan gunung Ijen.


Ketika sampai di lembah ini ternyata sudah usai pertarungan pertama. Dan pada pertandingan kedua terlihat dua orang pria telah melompat dengan sigap ke atas arena!


Seorang diantaranya berusia tiga puluh tahunan sedangkan yang menjadi lawannya seseorang yang terlihat agak muda sedikit.


Seorang yang agak tua ini berperawakan sedang- sedang saja. Akan tetapi mudah bagi orang lain mengenalinya karena matanya terlihat seperti bersinar seperti mata binatang buas jika terkena cahaya senter dimalam hari. Ini menunjukkan kemampuan dalam penglihatannya terutama di malam hari.


Dan memang pada umumnya orang-orang yang mempunyai mata seperti ini, dia mendalami sebuah ajian yang sangat khusus sehingga bola matanya seperti binatang buas !


Keduanya segera terlibat pertarungan yang cukup seru, akan tetapi di tengah-tengah pertarungan mendadak salah seorang di antaranya yang terlihat lebih muda melompat menjauh dan menyatakan menyerah dan tidak melanjutkan pertarungan lagi! sehingga seorang yang mempunyai bola mata dan sorot mata seperti bintang buas dinyatakan sebagai pemenang nya.


Tampaknya orang-orang ini adalah orang- orang yang dicurigai oleh Ki Seno Aji, sebagai para penyusup, bisik Bayu pada Tirta, Adnan dan Mahardhika.


Ketiganya tampak setuju dengan ucapan Bayu ini.


Seorang Pemuda gagah segera melompat keatas arena di ikuti Mahardhika!


Keduanya segera saja terlibat dalam sebuah pertandingan . Akan tetapi tampaknya Mahardika tidak ingin bertarung terlalu lama, sehingga dalam empat kali gebrakan Mahardika sudah berhasil menjatuhkan lawannya dari atas panggung.


Selanjutnya Tirta yang mewakili padepokan silat Rogo Sukmo yang dipimpin oleh Kyai Fakih.


Tirta kali ini mengenakan masker hitam untuk menutupi mulut dan hidungnya, sehingga hanya terlihat kedua matanya yang tajam.


Seorang pria berusia empat puluhan sudah menunggunya di atas arena.


Begitu Tirta menginjakkan kaki di atas panggung, pria yang menjadi lawan dari Tirta Jayakusuma tanpa basa-basi langsung saja menyerang secara membabi buta.


Tirta yang memadai masker hitam tampak bergerak meliuk liuk menghindari hujan pukulan dan tendangan dari lawannya ini. Tirta bukanlah tipe pemuda yang dengan serta mengeluarkan segala kemampuannya untuk menjatuhkan lawannya dengan kejam !


Dia dengan pelan dan sebisa mungkin mengalahkan tanpa melukai sang lawan, apalagi diantara mereka tidak ada ikatan dendam ataupun permusuhan.


Demikianlah ketika suatu saat lawan sudah kecapekan dan gerakannya menjadi lemah dan melambat, Tirta dengan mudahnya menjatuhkan lawannya ini dengan sebuah dorongan ringan saja!


Tanpa ada perlawanan , si pemuda lawan Tirta Jayakusuma terjatuh dari atas arena..tanpa terluka, hanya saja dia tampak kepayahan sekali!


Selanjutnya pertandingan selanjutnya selesai sampai dengan pukul dua dini hari.


Tirta segera mengajak Bayu dan juga Adnan serta Mahardika dan anak buahnya untuk naik ke kawah Ijen!


Kali ini Mahardhika tidak bisa ikut dengan Tirta , Bayu dan Adnan karena dia ajak oleh Ki Maruto dan Sawung untuk mengunjungi perkemahan perguruan silat Watu Gunung.


Baiklah kalau begitu, kami akan naik dulu Dika!" kata Tirta yang segera berlalu bersama Bayu dan Adnan.


Dini hari ini, suasana nya cerah sekali , dari puncak Gunung Ijen Tirta Bayu Adan sejenak duduk-duduk di sebuah batu gunung hitam untuk melepas kepenatan sejenak.


"Lihat lah bintang-bintang diatas sana Bay, Adnan.! Mereka hanya setitik cahaya yang menerangi malam ini, bintang ini tidak seperti Matahari ataupun Bulan, tapi cahayanya mampu menentramkan hati ku," kata Tirta pada kedua sahabatnya ini.


Entah kenapa malam ini dirinya merasa galau ..


Dia teringat dengan kebersamaan nya dengan para gadis di sekelilingnya!


Bayangan Iza, Dinda , Nadine dan Nastiti silih berganti melintas di matanya!


"Hmm, kelihatannya hatimu sedang mellow Ta?!"


"Teringat Iza?" atau Dinda?!" goda Bayu.


"Entahlah Bay, hatiku mendadak seperti ini.. Aku tidak ingin menyakiti mereka, hatiku terlalu lemah untuk mengatakan tidak!


Aku sungguh sungguh tidak bernyali untuk mengatakan tidak dan aku tak mampu menghindar dari godaan Nadine! aku tak merasa berdosa pada Dinda!' lanjut Tirta sedih.


"Benar mas, Harta, Tahta dan Wanita akan selalu menjadi impian dari seorang Laki-laki ! " Tiba-tiba terdengar suara lembut seseorang yang menyela di antara mereka!


Tirta, Bayu dan Adnan segera terlonjak kaget karena ada suara asing di antara mereka.


Mereka segera bangun dan mencari arah asal suara tersebut.


Mereka segera mendapati seseorang yang sedang duduk-duduk santai di sebuah batu gunung tidak jauh dari mereka.


Dalam hati, Tirta sangat terkejut melihat keberadaan orang tua ini yang datang begitu saja tanpa di ketahui olehnya maupun kedua sahabatnya..


Dengan kemampuan nya saat ini sangatlah mudah mengetahui keberadaan seseorang di sekitarnya.


"Mohon maaf , siapakah kiranya eyang ini!?" sapa Tirta Jayakusuma hati-hati.