
Intan terjatuh dengan keras! tulang bahunya tampak cedera dan lengannya terkilir.
Dia pingsan seketika..
***
Berikutnya, Mahardika naik ke atas arena, di ikuti oleh Roy.
Keduanya sama-sama tampan, berkulit terang! potret pemuda masa kini yang banyak di gilai para gadis.
Postur mereka hampir mirip, tinggi dan cukup berisi. Khas pemuda jaman sekarang yang rata-rata bertinggi badan 175 /180 cm.
Ketika Ki Seno Aji memberikan aba-aba untuk mulai, maka Mahardhika segera melompat menyerang, begitupun dengan Roy.
Mereka segera terlibat pertarungan yang seru..
Kekuatan dan kecepatan di kerahkan tanpa ada keraguan.
Dengan aji Lembu sekilan dan Tameng Waja untuk melindungi tubuh dan aji Tapak Geni sebagai andalan dalam menyerang, membuat arena pertarungan seperti diselimuti udara panas.
Roy pun juga sudah mengerahkan segenap kemampuan nya untuk mengimbangi tandang dari Mahardhika yang ngedap- edapi.
Keduanya bertarung dengan cepat, tidak bisa di bedakan lagi mana Roy dan mana Mahardhika.
Bayangan keduanya saling libat dan berputaran. Seperti dua buah ****** beliung yang saling menerjang yang kadang kadang saling menjauh dan kadang menjadi satu.
Beberapa kali panggung itu tergetar keras sebagai akibat benturan tenaga raksasa dari keduanya!
Walaupun keduanya sama- sama menguasai aji kebal dan tenaga batin, beberapa kali pukulan dan tendangan dari keduanya mulai saling menyentuh lawan.
Beberapa kali tubuh dari Mahardhika tertembus oleh serangan dari Roy dan demikianpun sebaliknya..
Kekuatan dan daya tahan mereka ini benar-benar luar biasa..
Walaupun sudah bertarung satu jam lebih, kekuatan dan kecepatan mereka tidak menjadi surut.
Mahardika sudah mulai tidak sabar, lawannya ini benar benar ulet dan tangguh.
Wajah yang keliatan seperti anak kota tampan dan metrosex, ternyata menyimpan kekuatan yang menyulitkannya.
Sedangkan di pihak Roy pun merasa pemuda tampan yang jadi lawannya ini benar-benar tangguh luar biasa.
Roy tadinya befikir kalau dia mampu menaklukkan pemuda tampan yang menjadi lawannya ini. Akan tetapi ternyata setelah sekian lama bertarung, keyakinannya semakin surut.
Beberapa kali pertahananya jebol.. walau dirinya juga berhasil menyentuh tubuh lawannya, akan tetapi tampaknya lebih sering dirinya yang tersentuh serangan lawan.
Dan efek dari pukulan yang di terimanya semakin lama semakin menyakitkan!
Aji Tapak Geni yang di kerahkan oleh Mahardhika semakin lama semakin kuat.
Suatu saat terjadi benturan lagi, lagi dan lagi..
Tubuh Roy mulai kelihatan limbung!
Benturan-benturan mulai menyakiti nya.
Lengan yang di gunakan untuk menahan gempuran Mahardhika menjadi semakin bengkak dan terlihat mulai mengelupas kulitnya akibat efek panas dari aji Tapak Geni yang di gunakan Mahardhika.
"Kelihatannya aku tak kan mampu melawan lebih lama," Pikir Roy..
"Daripada harus terluka lebih parah lagi , mending lompat turun saja," pikir Roy.
Dan ketika serangan Mahardhika datang, kembali benturan terjadi!
Dan ..
"Duarr,,, !!!"
Aji tapak geni dari Mahardhika kembali berbenturan dengan pertahanan Roy!!
Lengan bersilang di depan wajah Roy tergetar keras...
"Ahh,!!!" Roy berteriak keras yang seakan akan dia kesakitan ! dan dia dengan sengaja melontarkan dirinya kebelakang dan jatuh di luar arena pertarungan.
Benar-benar cerdik si Roy ini!
Demikianlah pada malam itu
pertarungan di babak ini selesai dengan Tirta Jayakusuma, Jadug dan Mahardhika yang keluar sebagai pemenang .
Pertandingan terakhir akan di laksanakan esok malam dengan cara bertanding bergantian!
Mereka bergantian bertarung.
Dan di batasi waktu tigapuluh menit.. dan dalam waktu tiga puluh menit, istirahat sebentar berganti lawan lagi !
Sampai orang terakhir yang berdiri (last man standing) yang menjadi pemenangnya!
***
Ya hari ini adalah akhir pekan dimana para pendaki dan wisatawan berdatangan untuk menikmati keindahan kawah gunung Ijen yang memang sangat terkenal dengan Blue Fire nya.
Dan di pagi yang sejuk dan cerah, tampak Kyai Sahroni sudah datang ke tenda Tirta dan kawan-kawan nya..
Wajah kyai Syahroni tampak tegang dan khawatir..
Dia sejak tadi dengan ditemani Topan dan seorang keponakannya menunggu di depan tenda, tampak keraguan membayang di wajahnya.
Akhirnya dia memutuskan untuk membangunkan Tirta yang masih tidur pulas bersama kawan -kawannya.
"Mas, mas Tirta, ! mas !" seru Kyai Syahroni mengguncang-guncang tubuh ceking Tirta.
"Mmh,, !" Tirta masih saja belum bangun..
Kyai Syahroni segera mengulang mengguncang-guncang tubuh Tirta yang masih saja tertidur...
Setelah beberapa saat mengguncang tubuh, akhirnya Tirta terbangun juga.
"Syukurlah mas Tirta sudah bangun!" seru kyai Syahroni girang.
"Ohh,, maaf maaf Kyai!" Tirta tampak terkejut akan keberadaanKyai Syahroni di sampingnya..
"Ada apa Kyai, sapa Tirta sambil mengucek kedua matanya yang terasa masih berat.
Tirta dan kawan kawannya barusan saja turun dari kawah gunung Ijen dan barusan tertidur, jadi terasa berat sekali matanya.
"Maaf mas Tirta, sudilah mas Tirta melihat keadaan Intan !" Kata Kyai Syahroni.
"Ada apa dengan Intan kyai ?" tanya Tirta kaget.
"Tampaknya luka Intan sangat berat Mas Tirta,!" kata Kyai Syahroni.
"Ayo mas Tirta, segeralah melihat kondisi Intan !" ajak Kyai Syahroni tampak setengah memaksa, maklum sebagai orang tua dari anak gadis satu-satunya.
"Iya, kyai..." Tirta segera memakai bajunya, karena kebiasaan dia tidur dalam keadaan bertelanjang dada walaupun udara yang sangat dingin menusuk tulang.
Tirta segera mengikuti langkah kaki kyai Syahroni, kemudian diikuti Topan dan sepupu jauh Intan.
Beberapa saat kemudian langkah kaki Kyai Syahroni berhenti di depan sebuah tenda yang tidak terlalu besar..
"Ayo mas Tirta, masuk saja!" ajak Kyai Syahroni.
Tirta segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam tenda.
Didalam terlihat Intan tidur meringkuk, wajahnya terlihat kuyu dan ada bekas-bekas tangisan di kedua pipi halusnya.
"Silahkan mas Tirta," kata Kyai Syahroni.
Tirta segera berjongkok di sebelah Intan..
Dipegangnya tangan Intan,
Ketika merasakan ada tangan yang memegang pergelangan tangannya, Intan segera membuka kedua kelopak matanya matanya..
"Tirta ,,,!?" serunya lemah, dia berusaha untuk bangkit , akan tetapi di cegah oleh Kyai Syahroni..
"Tetaplah berbaring Nduk! Biarlah mas Tirta Jayakusuma meriksa keadaan mu ," kata Kyai Syahroni lembut dan sangat berkhawatir akan keadaan putri semata wayangnya ini.
Dengan kekuatan tenaga batin yang mumpuni, Tirta menyusuri aliran darah dalam tubuh Intan.. Tirta segera merasakan aliran darah di beberapa tempat di tubuh intan mengalami penyumbatan...
Beberapa saat tenaga batinnya menyelimuti tubuh Intan..
Ternyata Tadi malam Jadug telah memberikan pelajaran yang cukup keras pada gadis angkuh dan sombong ini!
Sebuah pukulan yang tampaknya hanya sederhana telah membuat tanda merah darah di punggung intan.
"Maaf Kyai Syahroni, Aku ingin memeriksa punggung Intan," kata Tirta ragu.
"Oh silakan mas Tirta,," jawab Kyai Syahroni..
"Tapi kyai, .." kata Tirta masih saja ragu ..
"Tidak apa mas,, demi keselamatan Intan!" kata Kyai Syahroni tegas..
"Sebaiknya Kyai yang membantu melepaskan baju Intan," kata Tirta masih saja ragu..
Beberapa saat kemudian punggung mulus, putih dan lembut terpampang di depan mata Tirta, akan tetapi kemulusan itu di kotori oleh sebuah bulatan merah seperti warna darah yang membayang di punggung halus itu.
"Silakan diperiksa mas Tirta," kata Kyai Syahroni..
Intan dengan malu menutupi tubuh bagian depannya dengan baju yang sudah dilepas.
Walaupun sudah ditutupi dengan kedua lengannya akan tetapi Tirta masih sempat melihat dua bola tenis itu tertekan oleh kedua lengan yang di gunakan Intan untuk menutupinya...