Tirta Jayakusuma

Tirta Jayakusuma
pemuda ringkih yang mengejutkan


Malam berikutnya di lembah lereng gunung Ijen.


Suasana malam yang gelap gulita dan berkabut, membuat pandangan sangat terbatas, akan tetapi tidak menyurutkan niat para peserta dan penonton untuk datang ke arena pertandingan di lembah hijau di lereng gunung Ijen ini.


Tirta, Bayu dan Adnan sudah sampai di lokasi, sedangkan Mahardika berada di tengah-tengah kawan- kawan barunya dari padepokan Watu Gunung.


Mahardhika sudah seperti pemimpin saja di antara orang-orang Watu Gunung !


Dia di sanjung- sanjung dan di subyo-subyo oleh orang-orang Watu Gunung itu.


Malam ini akan ada lima pertandingan terakhir dan selanjutnya akan di teruskan ke babak ketiga.


Ki Seno Aji kali ini memanggil nama Jadug ! dari padepokan Gagak Seto dari gunung Raung.


Sedangkan lawannya adalah seorang pria dari perguruan silat Jolo Setro!


Jadug segera melompat ke atas arena! matanya yang berkilat-kilat terlihat sangat menakutkan di malam yang pekat ini.


Benar-benar mata dari seekor binatang buas yang sedang mengincar mangsanya! mata macan tutul ataupun mata harimau ganas!


Malam yang pekat di tambah turunnya kabut membuat suasana benar-benar mencekam.


Jarak pandang hanya berkisar lima sampai sepuluh meter saja. Selebihnya dari itu hanya terlihat bayangan samar saja.


Mereka segera berhadap-hadapan.


Pria dari padepokan Jolo Setro segera merasakan aura yang menakutkan dan mencekam yang tidak dapat di lukiskannya . Aura ini berasal dari pria bermata seperti mata binatang buas di hadapannya!


Udara yang tadinya sejuk mendadak berubah menjadi panas dan membuat sesak dadanya.


Dalam keadaan demikian tiba-tiba saja Jadug sudah melancarkan serangan dengan kaki kanannya!


Suara angin yang menderu karena tersibak oleh tendangan Jadug, sungguh membuat pria dari padepokan Jolo Setro ini tergetar hatinya.


Dan...


"Blamm!" Suara tendangan membentur pertahanan pria dari padepokan Jolo setro di Gunung Wilis ini..


Akibat benturan ini sungguh sangat mengejutkan para penonton yang hadir di tempat itu!


Tubuh pria dari gunung Wilis ini terlempar dan jatuh dari panggung arena..


Sesaat dia terdiam!


Beberapa saat kemudian tampak dia mulai tersadar dengan keadaannya.


Dia berusaha untuk bangkit! Tapi ketika kedua tangan nya mau di gunakan untuk bangkit dan di gunakan untuk menopang tubuhnya !


Dia kembali jatuh terlentang!


Tampaknya kedua lengannya telah patah dan dia telah terluka di dalam.


Luka yang cukup parah!


Kawan-kawannya segera memapahnya untuk segera mendapatkan perawatan.


Hanya dalam satu serangan Jadug sudah mampu mengakhiri perlawanan dari padepokan Jolo Setro.


Ki Seno Aji, Kyai Fakih, Kyai Syahroni, Ki Suromenggolo tampak sangat terkejut.


Kemampuan dan kekuatan Jadug benar-benar di luar nalar mereka!


Dan pada pertandingan berikutnya adalah Tirta Jayakusuma dari padepokan Rogo Sukmo.. yang di panggil oleh Ki Seno Aji dan Sondong dari padepokan Jakawuru.


Sondong telah melompat ke atas Arena terlebih dahulu, di ikuti oleh Tirta Jayakusuma yang mengenakan masker hitam, sehingga banyak dari para penonton yang hadir menjadi penasaran di buatnya.


"Huh, sok rahasia !" seru Sondong yang mengetahui kalau lawannya kali ini hanya pemuda agak ceking dan jangkung.


Sondong pun kemudian menyerang dengan cepat, Dia merasa lawannya kali ini bisa di selesaikan nya dengan cepat dan mudah seperti membalik telapak tangan saja!


Satu serangan,,,,..


Dua Serangan,,,,, ...


Sondong tak habis mengerti!


Pemuda yang menutup mukanya yang tampak ringkih ini selalu saja bisa menghindari setiap serangannya.


Setiap kali serangannya yang diperkirakan akan mengenai sasarannya ternyata selalu kurang sejengkal saja !


Kejadian ini terus berlangsung, walaupun Sondong mulai menambah kecepatan dan kekuatan dari serangannya!


Bahkan ketika dia sudah melandasi setiap serangannya dengan tenaga batin! lawan nya ini tetap tidak tersentuh olehnya!


"Segera habisi bocah itu Ndong!" seru Jadug yang tampak mulai tidak sabar menyaksikan pertarungan Sondong ini.


Jadug menganggap Sondong kurang serius dan ingin bermain-main dengan pemuda lawannya itu.


Sementara Sondong sudah mulai berkeringat, aji sejenis Bayu Bajra dan Kidang kencana juga sudah di kerahkan sehingga kecepatannya benar benar luar biasa, ditambah dengan Aji yang lain yang membuat serangannya seakan-akan seperti terjangan ****** beliung saja.


Pertarungan semakin lama semakin seru, dan selama ini pula Tirta Jayakusuma hanya melompat dan menghindar, dan hanya sekali-kali menangkis dan membalas secara asal-asalan saja!


Jadug menjadi semakin tidak sabar melihat pertandingan ini. Dia berteriak- teriak tidak karuan dari bawah panggung arena.


Sementara Sondong semakin lama semakin merasa bahwa pemuda lawannya ini seperti sengaja mempermainkannya.


Keringat sudah membasahi seluruh tubuhnya !


Para penonton pun terlihat terkejut, pemuda yang tampaknya seperti pemuda yang ringkih saja ternyata bisa bertarung sedemikian lamanya melawan Sondong! Bahkan dalam pandangan para tetua yang hadir, Tirta Jayakusuma tampak belum mengeluarkan kemampuan yang sesungguhnya.


Sementara di arena pertandingan telah terjadi perubahan pertandingan.


Tirta tampak mulai menambah sedikit tenaga nya.


Kali ini dia mulai sengaja menyentuh tubuh Sondong ! Semakin lama semakin sering.


Ujung jarinya menutul dengan pelan, lama- kelamaan sentuhan menjadi semakin keras saja, seperti sentuhan besi membara! terasa panas ketika menyentuh tubuhnya.


Ternyata Tirta Jayakusuma telah mengerahkan aji tapak Geni di ujung jarinya, sehingga membuat tubuh sondong seperti tersentuh bara ketika jari jari tangan Tirta Jayakusuma menyentuh tubuhnya.


Tubuh Sondong mulai melepuh di beberapa tempat, makin sering Tirta menyentuhnya, semakin banyak bagian tubuh Sondong yang melepuh, hingga rasa panas dan sakit yang tidak tertahankan membuat Sondong berteriak kesakitan ketika tubuhnya tersentuh jari jari tangan Tirta Jayakusuma yang telah di aliri aji Tapak Geni.


Dan ketika Sondong sudah tidak mampu menahan rasa sakitnya, dia melompat turun dari atas arena pertarungan.


Sondong kalah dengan memalukan!


Jadug terlihat sangat marah mengetahui Sondong dengan sengaja turun dari arena pertarungan.


"Maaf Jadug, aku sudah kalah!" kata Sondong mengakui kekalahannya! sambil meringis menahan sakit di sekujur badannya.


Tampak baju Sondong hangus terbakar di banyak tempat, asap masih mengebul di baju yang hangus tersebut.


Luka bakar menghiasi seluruh tubuh Sondong!


Jadug yang menyaksikan ini sangat terkejut.


Tidak tampak kalau pemuda bercadar hitam yang tampak demikian ringkih nya mempunyai kemampuan yang mengejutkannya. Bahkan bisa mengalahkan orang keempatnya!


"Ya, sudah Sondong! Rawatlah dirimu! akan. aku balas kekalahanmu nanti!" geram Jadug sambil mengepal kan tangannya kuat-kuat.


Selanjutnya Ki Seno Aji kemudian memanggil seorang perwakilan dari padepokan Pringsewu yang bernama Fatih.


Dan seorang lawannya yang bernama Cemani! dari padepokan Cemoro Kandang .


pemuda yang bernama Fatih ini adalah seorang pemuda bersorban, seperti nya dia adalah seorang santri.


Fatih melompat keatas arena dengan cepat dan di ikuti seorang pemuda yang terlihat kecil, akan tetapi gerakannya tampak gesit dan lincah!


Pemuda kecil mungil ini tampak berkulit sangat gelap dan memakai pakaian silat berwarna hitam pula.


Sehingga di malam gelap pekat dan berkabut seperti malam ini hampir sulit mendeteksi keberadaan nya!


Kecuali jikalau si Cemani ini memperlihatkan gigi giginya ! barulah orang akan mengetahui keberadaan pemuda kecil ini..