Tirta Jayakusuma

Tirta Jayakusuma
Bayu Bajra


Beberapa saat kemudian ki Ranu membuka kedua matanya. Wajahnya terlihat letih dan pandangannya sayu, akan tetapi tampak rona kebahagiaan menyelimuti wajahnya yang sudah tua dan keriput.


"Anak Mas Tirta sudah mewarisi ilmu Suryo Dahono dalam diri anak mas, tinggal melatihnya supaya mapan dalam diri anak mas," kata ki Ranu.


"Selain itu juga ada ilmu-ilmu lain yang eyangmu ini titipkan kepadamu, yaitu Bayu Bajra!" lanjut ki Ranu.


Ki Ranu segera menerangkan ilmu Bayu Bajra dan cara mengerahkannya.


Bayu adalah angin dalam bahasa Jawa atau Sansekerta dan Bajra adalah petir atau guntur,, bisa diartikan Bayu Bajra adalah angin yang sangat kuat dan mengandung petir.


Ilmu ini bisa digunakan oleh pemiliknya supaya bisa bergerak seperti angin dan seringan kapas, juga bisa di ubah menjadi sebuah pukulan pamungkas yang maha dahsyat.


Pukulan yang di lambari oleh aji Bayu Bajra ini seperti angin topan yang sangat kuat yang akan menyapu semua yang ada di depannya juga mengandung kekuatan petir di dalamnya..


"Dan satu hal lagi anak mas! aku titipkan padukuhan Srengseng kepadamu, beserta para penghuninya ! jagalah meraka seperti anak mas menjaga keluarga sendiri, juga demi eyangmu ini," kata ki Ranu.


Kemudian ki Ranu berdiam sejenak, ki Ranu agaknya ingin berkata sesuatu lagi tapi tampak masih ragu untuk mengatakannya..


Akhirnya kata- kata yang hampir terlontar ditelannya kembali.


Tirta juga tau ada sesuatu yang masih mengganjal di hati ki Ranu, tapi Tirta tidak mau mendesak ki Ranu untuk mengatakannya.


"Cobalah aji Suryo Dahono lebih dulu anak mas,!" agar eyangmu ini tau kekurangan-kekurangan yang perlu di perbaiki," kata ki Ranu.


"Baik Eyang ", jawab Tirta Jayakusuma, yang segera bangkit dari semedinya.


Dia segera melakukan kuda-kuda dengan kokoh dan mengerahkan tenaga batin yang bersumber dari ki Ranu. Dipusatkannya di telapak tangan kanannya kemudian dilontarkannya kearah sebuah pohon besar yang ada di sekitar gumuk kecil itu.


"Duarr,,,,!" suara menggelegar seperti petir yang cukup keras memecahkan kesunyian .


Tirta segera mendekati pohon itu untuk melihat akibat dari pukulan Suryo Dahono yang untuk pertama kali dilepaskannya.


Terlihat batang kayu pohon bagian luar terlihat kering , dan daun-daun sebagian layu, akan tetapi masih ada hawa kehidupan di sana..


Ki Ranu segera memberikan arahan dan petunjuk dalam pengerahan aji Suryo Dahono ini..


Tirta segera mencoba beberapa kali lagi aji Suryo Dahono!


Pohon-pohon di sekitar gumuk kecil itu pada layu dan mati terkena terjangan aji Suryo Dahono yang di lepaskan oleh Tirta Jayakusuma.


Beberapa saat kemudian Ki Ranu dan Tirta Jayakusuma menghentikan latihan ketika sudah memasuki waktu subuh.


"Cukup anakmas, kita kembali ke padukuhan dulu, hari sudah mulai terang," kata ki Ranu.


kemudian mereka berdua berjalan menyusuri jalanan kecil di lereng Tengger, kembali ke padukuhan Srengseng.


Di tempat lain, di ujung padukuhan


di antara pohon-pohon pinus, Adnan dan Bayu terlihat berkelebatan cepat mengejar bayangan putih yang seperti melayang-layang menembus kabut pagi yang cukup pekat.


Bayangan putih itu adalah Nastiti ! Yang oleh eyangnya di minta untuk mengajarkan aji "Kidang Kencono" kepada Bayu dan Adnan.


Karena Tubuh Bayu yang memang besar dan gendut, membuat gerakannya tidaklah secepat Adnan.


Tapi dengan dilandasi aji Kidang Kencono , kemampuan Bayu dalam bergerak sudah menjadi sangat luar biasa cepatnya..


Terlebih Adnan!


Sekarang ini untuk menangkap burung yang terbang rendah pun dia mampu melakukannya.


***


Para pemuda telah berkumpul, juga para sesepuh padukuhan.


Ada kurang lebih seratusan pemuda!


Juga warga yang berumur tigapuluh sampai empatpuluh tahun.


Ada pula yang berusia lebih tua lagi tapi masih terlihat kuat.


Ternyata mereka mereka ini adalah para penjaga padukuhan Srengseng yang sudah di bekali olah kanuragan oleh ki Amongraga dan ki Ranu sendiri.


Ki Amongraga yang merupakan orang kedua setelah ki Ranu tampak memberikan pengarahan pada anak-anak muda yang sudah berkumpul di pendopo rumah ki Ranu, mereka duduk beralaskan tikar pandan.


Dalam susunan pemerintahan di dukuh Srengseng ini, ki Amongraga menjabat sebagai Jagabaya, yang bertanggung jawab terhadap keamanan dan ketentraman warga dukuh Srengseng.


Sedangkan ki Sentanu bertugas menangani kehidupan sehari-hari warga padukuhan.


Dari masalah pertanian , perdagangan juga yang berhubungan dengan dunia luar.


Dalam kesempatan itu ki Amongraga menyampaikan pada para pemuda pengawal padukuhan akan ancaman yang di tebarkan oleh Aryo Seto.


Dimana sebagian besar dari pemuda ini telah mengenal Aryo Seto sebagai murid kinasih dari Ki Ranu, kepala dukuh Srengseng ini, yang sempat bergaul dengan warga padukuhan ini beberapa tahun lamanya.


Tampak wajah- wajah khawatir dan cemas di antara mereka, karena tahu Siapa itu Aryo Seto dan bagaimana sepak terjangnya selama ini..


Ki Amongraga menangkap kegelisahan dari para pemuda ini.


Untuk memberikan rasa percaya diri dan meredakan kegelisahan para pemuda ini, kemudian ki Amongraga segera berkata;


"Jangan kawatirkan tentang Aryo Seto,, kalian harus tetap percaya pada ki Ranu , karena ki Ranu telah mempunyai caranya sendiri untuk menghadapai Aryo Seto!" seru ki Amongraga!


"Tugas kalian adalah menghadapi orang- orang di belakamg Aryo Seto, yaitu orang-orang padukuhan Wuni. Karena tampaknya Aryo Seto sekarang ini sudah menguasai dukuh Wuni secara keseluruhan."


"Apakah yang di maksud ki Amongraga bahwa ki Ranu mempunyai cara menghadapi Aryo Seto dengan mengandalkan bocah- bocah itu!?" tanya seorang pemuda tinggi besar, sambil menunjuk kearah Tirta, Bayu dan Adnan yang memang ikut serta berkumpul si situ mendengarkan pengrahan ki Amongraga.


Tampaknya pemuda tinggi besar ini ikut berkumpul di pendopo rumah ki Ranu malam tadi, segingga dia tahu tentang halnya Tirta, Bayu dan Adnan.


Tampak sekali dia sangat meremehkan Tirta, Bayu dan Adnan dilihat dari cara dia bertanya.


"Benar,!" kata ki Amongraga tegas.


Ki Amongraga segera memperkenalkan Tirta , Bayu dan Adnan pada para pemuda pengawal padukuhan Srengseng ini.


"Ini adalah anak mas Tirta, Tirta Jayakusuma," kata ki Amongraga sambil menunjuk kearah Tirta.


"Dan ini anak mas Bayu," lanjut ki Amongraga," dan ini adalah anak mas Adnan !"


"Mereka ini yang akan menghadapi Aryo Seto ,dan juga para pembantunya!"


"Kalau kalian masih ragu dengan kemampuan mereka, silahkan kalau mau mencobanya," lanjut ki Amongraga lagi.


Tirta, Bayu dan Adnan tampak terkejut juga dengan perkataan dari ki Amongraga ini, yang secara tidak langsung ingin mencoba kemampuan mereka saat itu juga.


Sebenarnya dalam hati ki Amongraga juga ada rasa penasaran dan ingin membuktikan kemampuan dari ketiga anak muda ini, terutama Tirta Jayakusuma yang begitu di segani oleh ki Ranu.


"Baik ki Amongraga! aku yang akan mencobanya terlebih dahulu," kata sipemuda tinggi besar itu.


"Silahkan Wulungan," ki Amongraga mempersilakan si pemuda tinggi besar yang ternyata bernama Wulungan.


Sebenarnya Wulungan ini adalah anak didik dari ki Amongraga yang memang sangat di andalkan oleh ki Amongraga selain beberapa pemuda lagi yang memang menjadi pemimpin kelompok kelompok kecil dari pengawal padukuhan Srengseng ini.