
Di perjalanan pulang mereka berdua kembali mengkulik pengakuan tuan Robert.
"Tuan Robert, bilang kalau dia kidal, padahal polisi menemukan pisau itu di tangan kanan tuan Robert." Ucap Lexan membuka percakapan.
"Sudah jelas kalau dia dituduh melakukan pembunuhan."
"Aku satu pemikiran denganmu."
"Dan sepertinya hal itu sudah direncanakan. Aku curiga kepada pelayan yang waktu itu menyuruh tuan Robert langsung masuk ke ruang kerja. Dan juga pengakuan tuan Robert yang bilang kalau dia dipukul. Bukankah itu sudah jelas?"
"Iya, tapi kita harus punya bukti yang menguatkan, aku tahu semua orang dipersidangan akan bilang tuan Robert hanya beralasan agar hakim tak menghukumnya."
"Kau masih berpikir kita akan kalah?"
"Iya." Jawab Lexan ragu.
"Se-kaya apa tuan Thomson itu dan mengapa kau beranggapan kalau tuan Robert akan kalah dalam persidangan?"
"Tuan Thomson sudah tidak diragukan lagi, dia pejabat pajak kaya raya dan harusnya tidak hanya enam pelayan atau empat satpam yang bekerja di sana. Oleh karena itu, aku tidak percaya dengan perkataan tuan Robert."
"Lalu bagaimana dengan tuan Robert, kau tahu latar belakangnya?"
"Aku tahu dari Rossa, tuan Robert adalah asisten yang membantu pekerjaannya, dia sudah dianggap keluarga oleh tuan Thomson."
"Selain itu? kau tidak tahu kalau dia meminta jasa pengacara, artinya dia berpunya juga kan?"
"Aku khawatir dia adalah orang Timur. Soal apa yang tadi kau katakan, tuan Robert adalah orang berpunya yang mampu membayar pengacara namun sifatnya seperti orang biasa yang bekerja untuk orang yang lebih besar darinya," ucap Lexan.
"Begitukah orang Timur?"
Lexan mengangguk. "Ya."
"Itu ciri-ciri yang dikatakan organisasi. Orang timur kebanyakan berpunya semua dan mereka pergi ke Barat menjadi orang biasa yang hartanya tak setara dengan apa yang mereka punya saat di Timur." Jelas Lexan.
(Harta tak setara: memiliki sedikit uang padahal di wilayah lain mereka kaya)
Sherine terdiam sejenak. Keheningan pun muncul diantara mereka.
"Parker, kau bilang– mau menjelaskan mengapa kau meminta bantuanku?" Tanya Sherine, walaupun agak canggung setidaknya ada obrolan sebelum akhirnya mereka sampai di kantor.
"Ah, aku hampir lupa. Apa Deana menyampaikan sesuatu kepadamu?"
"Dia bilang, atasan kalian semena-mena dan– atasan tidak tahu kalau kau meminta bantuan kepada detektif."
"Aku adalah duta besar dari perhimpunan pengacara yang ditunjuk oleh organisasi. Dan atasan ku, tuan Hans Cornwell selalu mengandalkan ku dalam setiap misi. Termasuk kasus ini."
Lexan berhenti sejenak lalu melanjutkan ceritanya.
"Saking diandalkannya, atasan mengira aku adalah tameng baja yang senantiasa melindungi tanpa khawatir, kalau tamengnya bisa saja lecet. Ah, aku malah curhat." Sambil mengusap wajahnya.
Sherine tersenyum. "Tidak apa, lanjutkan."
Lexan menghela napas berat. "Atasan tidak ingin aku dibantu oleh siapapun, oleh karena itu keberadaan-mu sangat rahasia. Tapi menurutku tidak ada yang perlu dirahasiakan lagi, apa kau melihat banyak orang yang menatapmu sinis?"
"Iya."
"Hiraukan saja, mereka hanya iri karena namanya tidak terdaftar di organisasi."
"Hal itu sering terjadi padamu setiap hari?"
"Aku sudah biasa melihat mereka menatapku seperti itu."
Hening sementara.
"Besok kita temui tuan Robert lagi dan mencari identitas pelayan yang waktu itu menyuruh tuan Robert masuk ke ruangan tuan Thomson, dan satu hal lagi– Nyonya Miranda." Ucap Lexan.
"Keberadaannya tak diketahui lagi sejak kejadian itu terjadi."
"Dia seperti bersembunyi dibalik kasus– tidak, positif thinking saja mungkin dia sedang berduka." Ucap Lexan yang tiba-tiba berubah pemikiran.
"Sepertinya kau ragu menyampaikan keadaan nyonya Miranda, entah dia sedang berduka atau sedang bersembunyi. Bukankah hal itu patut di cari tahu?"
Lexan mengangguk. "Pokoknya kita harus menelaah lebih dalam lagi, sebelum diadakannya rekonstruksi."
(Rekonstruksi: reka adegan suatu kejadian)
...****************...
Besoknya Sherine kembali ke kantor Firma hukum, tujuan utamanya setelah lama tak kembali ke kantor organisasi.
Seperti biasa, banyak orang yang menatap Sherine. Orang-orang hanya tidak percaya pengacara yang sering diandalkan atasan meminta bantuan kepada detektif, namun seperti yang Lexan katakan agar menghiraukan tatapan itu.
Sherine sampai di ruangannya. Terlihat pintu ruangan Lexan yang terbuka bersama Felix didalamnya yang sibuk membereskan berkas yang berserakan.
Sherine menghampiri Felix sembari membantunya.
"Sepertinya bos-mu datang lebih awal dariku." Ucap Sherine sambil membereskan berkas itu.
"Oh, Sherine kapan kau datang. Kau tidak perlu repot-repot, biar aku saja yang membereskannya."
"Tidak apa, jangan sungkan begitu. mau bagaimanapun aku rekanmu sekarang."
"Terimakasih banyak." Ucap Felix menyusun berkas itu di map.
"Hari ini Lexan ada tugas di organisasi, jadi dia tidak bisa pergi bersamamu menemui tuan Robert."
"Tidak masalah, aku bisa pergi sendiri."
"Mau ku temani? Ini termasuk kewajiban ku juga sih."
"Kau juga ada tugas penting kan?"
"Iya juga, kalau begitu apa mau kupanggilkan Deana?"
"Tidak usah repot-repot Felix, aku bisa pergi sendiri. Lagipula akan lebih menyenangkan jika mengunjungi tuan Robert sendirian, kau tahu Parker sangat tidak sabaran tentang informasi itu."
"Dia memang begitu, selalu ingin buru-buru. Kalau begitu berhati-hatilah, semoga semuanya lancar."
"Terimakasih, setelah ini aku akan berangkat."
Sherine bergegas menuju ke kantor polisi menemui tuan Robert.
Setelah bersalaman, Sherine langsung membuka pertanyaan terkait pelayan yang biasanya mengantarkan tuan Robert ke ruang kerja tuan Thomson.
"Soal pelayan kemarin, bisakah anda beritahu aku siapa namanya?"
"Dia Helen Loise. Dia sebatang kara dan tinggal di perumahan Edelweis."
"Berapa usianya?"
"Masih muda, kira-kira 18 tahun. Dia sudah bekerja selama dua tahun."
"Itu artinya dia tahu tempat-tempat yang ada di rumah tuan Thomson?"
"Benar, dia juga pelayan termuda dari pelayan-pelayan lain."
"Apa nyonya Miranda atau tuan Thomson sering meminta bantuannya?"
"Karena dia baru di rumah tuan Thomson, biasanya nyonya Miranda yang sering bersamanya. Mungkin bisa dibilang pelayan setia."
"Di usia 18 tahun, itu artinya dia sudah berhenti sekolah?"
"Aku tidak tahu pasti, tapi bisa jadi karena aku selalu melihatnya berada di rumah tuan Thomson bahkan setiap hari."
"Anda tidak terlalu dekat dengan Helen?"
"Iya, kami hanya bercakap-cakap saat berjalan ke ruang kerja tuan Thomson saja, selebihnya tidak. Dia gadis yang jarang bicara."
"Kalau dia baru bekerja selama dua tahun? berarti sebelumnya ada pelayan lain yang ditugaskan seperti itu?"
"Iya, tapi pelayan itu sudah pensiun karena dia sudah tua."
"Apa anda yakin hanya pelayan dan satpam saja yang bekerja di rumah sebesar itu?"
"Aku yakin nona, nyonya Miranda menolak banyaknya pekerja, jadi semuanya dibatasi."
"Begitu ya."
"Jadi ini perumahan Edelweis." Gumamnya.
Sherine mencoba bertanya pada petugas satpam yang berjaga di sana.
"Permisi pak."
"Ada yang bisa saya bantu, nona?"
"Aku ingin bertanya, dimana kediaman nona Helen Loise?"
"Oh, Helen Loise. Rumah nomor 17 di bagian kiri."
"Terimakasih pak."
Setelah mendapatkan informasi tersebut, Sherine langsung bergegas menuju kediaman Helen.
Mengingat semua rumah yang ada di perumahan Edelweis sama semua, Sherine mencari dengan teliti agar tidak ada yang terlewat.
Hingga akhirnya ia sampai di rumah nomor 17. Rumah tersebut seperti tidak dibersihkan, halaman depan yang kotor karena tanah, tanaman yang layu, langit-langit atap yang dipenuhi debu dan sarang laba-laba.
"Ini benar kediaman Helen Loise?" Tanya Sherine bingung.
Tiba-tiba, seorang Nenek tua menghampiri Sherine.
"Selamat siang."
"Siang, Nek."
"Mencari Helen ya?"
"I-iya, apa benar ini rumah Helen?"
"Benar, tapi akhir-akhir ini dia jarang keluar."
Sherine mengangguk. "Kalau boleh tahu, kau temannya Helen?" Tanya Nenek.
"I-iya benar." Ucap Sherine tergagap.
"Bagus kalau begitu, Helen sepertinya tidak ingin dikunjungi oleh orang lain, tapi mungkin dia akan membukakan pintu jika bertemu dengan temannya."
Nenek itu pun menawarkan diri untuk mengetuk pintu rumah Helen.
"Helen, kau didalam? Ada temanmu nih."
Hening...
"Helen? Ayo buka pintunya, aku sangat mengkhawatirkan mu."
Setelah diketuk beberapa kali dan tak ada jawaban, Akhirnya nenek itu pun berhenti.
"Aku tahu kau kecewa nak, aku pun sama. Helen bukan orang yang selalu menyendiri di rumahnya seperti ini."
"Sudah berapa hari dia di dalam rumah?"
"Sejak mendengar berita kematian bos-nya, siapa namanya ya– ah tuan Thomson, dia jadi jarang keluar rumah bahkan menolak siapapun yang datang."
"Selama bekerja di rumah tuan Thomson, apa dia jarang tinggal di rumah?"
"Karena Helen anak yang sebatang kara, jadi dia menginap di rumah bos-nya. Hanya pada saat hari libur saja dia berada di rumahnya."
"Sepertinya tindakan Helen saat ini benar, awak media atau polisi pasti mencarinya karena dia merupakan saksi dari kematian bos-nya."
"Aku jadi semakin mengkhawatirkannya."
"Anda tidak perlu khawatir, Nek. Semuanya akan baik-baik saja."
Nenek mengangguk dan tersenyum.
"Kembalilah lagi kesini, Nak. Kalau Helen masih tidak ingin keluar, kau boleh berkunjung ke rumahku untuk istirahat, aku bisa menyuguhkan mu makanan kecil dan minuman."
"Terimakasih banyak, Nenek. Aku tidak mau merepotkan mu."
"Hahaha, tidak apa. Aku suka menyambut tamu yang datang kesini."
Percakapan itu berakhir.
Nihil. Seperti dugaan Sherine diawal, Helen tak membuka pintu untuknya.
Dari rumah yang berantakan sampai pengakuan nenek yang tak melihat Helen setelah peristiwa pembunuhan Thomson, Sherine berpikir bahwa Helen hanya bersembunyi dari awak media atau polisi.
Namun, Sherine menduga kalau Helen memang terlibat kasus dan alasan dia bersembunyi bukan karena sebagai saksi melainkan sebagai pelaku yang menjebak tuan Robert.
Dan juga– Nyonya Miranda...
Sang nyonya rumah yang tak terlihat bagaimana kabarnya akhir-akhir ini.
...****************...
Asap rokok mengepul memenuhi ruangan gelap yang hanya diterangi oleh satu lampu gantung yang remang.
Sekumpulan orang sedang terduduk mengelilingi meja bundar. Berbincang sambil bermain kartu, namun sepertinya itu bukan perbincangan biasa.
Ada sekitar enam orang yang yang ditengahnya adalah wanita yang kira-kira berusia 30 tahun mengenakan dress merah dan topi dengan warna senada berhias bulu putih diatasnya.
"Diam!!!" Tegas si wanita.
Semua orang yang ada di sana langsung memperhatikan.
"Kalian ini berisik sekali! aku mengundang kalian kesini untuk membahas hal penting!" Ucap Wanita itu dengan nada marah.
"Mau membahas apa lagi, Pevita? soal kekalahan?" Ucap Charles, pria paruh baya yang mengisap rokoknya.
"Bukan soal berlian yang berhasil direbut kembali oleh Barat, tetapi soal pembunuhan di rumah Thomson."
Sontak semua orang disitu kaget.
Pevita Parr, seorang wanita yang mengenakan dress merah tadi merupakan orang yang dihormati oleh keenam orang yang berkumpul di meja bundar itu.
Pevita merupakan wakil organisasi pertahanan wilayah Timur yang selalu merencanakan kekacauan Barat, contohnya seperti pencurian berlian. Dan keenam orang yang berkumpul merupakan anggota organisasi Timur.
(Organisasi Timur meliputi; Mata-mata, militer, Pasukan tembak.
Wilayah Timur tidak menggunakan kata 'Intel' untuk orang yang terpilih atau duta perwakilan dari setiap tiga profesi diatas)
"Mengapa kau mau membahas soal itu, Madam?" Tanya Aimee.
"Itu berita yang mencengangkan Barat, apalagi pengacara terkenal Barat yang membela tersangka." Jelas Pevita.
"Oh, Lexan Parker."
"Jangan anggap, Lexan Parker remeh! Kalian tahu, berlian yang kita curi itu?! Dia yang ambil kembali!" Bentak Pevita.
"Ya ampun Pevita, sehebat apapun dia. Thomson masih bisa menjadi pemenang." Ucap Charles.
"Bagaimana kau tahu?" Tanya Pevita.
"Robert hanyalah rakyat kecil, tentu saja semua orang di pengadilan akan menganggap Robert sengaja melakukan itu dengan alasan tertentu yang dipercaya hakim. Benar kan? Kalian setuju bukan?" Ucap Charles meyakinkan.
"Hmm … aku setuju denganmu. Lexan pasti akan kalah telak di persidangan." Ucap Aimee setuju.
Satu ruangan itu penuh dengan kerasnya tawa, karena ucapan tuan Charles.
Pevita memegang dagunya. "Apakah Thomson sebegitu dipercayanya oleh masyarakat Barat?"
"Aku akan kirim mata-mata untuk meyakinkanmu, Madam Pevita." Tawar Jhon salah satu orang yang tidak tertawa oleh ucapan tuan Charles.
"Benar, lakukan itu. Kau lebih meyakinkan dari Charles yang hanya bermodal ucapan." Ucap Pevita menatap Charles sinis.
Charles yang kesal, menaruh gelas kasar.
"Kenapa kau mau mencari tahu tentang pembunuhan Thomson, Madam?" Tanya Jhon.
"Kirimkan saja mata-mata terbaikmu, aku akan beritahu nanti."