
Setelah mereka menemukan bukti yang menunjukkan kalau Robert tidak bersalah, ada satu hal yang membuat dua orang itu belum puas yakni alat pendeteksi.
Alat itu sebelumnya sudah dimasukkan biodata Robert dan saat pisau dengan bercak darah dimasukan maka hasilnya Robert terbukti bersalah, namun Lexan telah mengubah sudut pandang dokter Sullivan yang menganggap Robert bersalah menjadi percaya kalau Robert dituduh.
Kini alat pendeteksi itu masih dengan data Robert yang melekat dan tidak bisa diubah. Tentu saja Lexan dan Sherine ingin membuktikan kalau Robert dituduh dengan memasukkan data Miranda.
Sherine baru saja sampai di kantornya dan melihat rekannya yang serius memperhatikan alat pendeteksi itu.
"Bagaimana alat itu?" Tanya Sherine sambil menaruh tasnya di meja.
"Kau sudah datang rupanya, entahlah aku sudah mencoba berkali-kali memasukkan data Miranda tapi tidak bisa."
"Kau tidak tanya pada dokter Sullivan saja?"
"Dia tidak ada dikantornya sekarang."
Sherine balas mengangguk. "Kalau begitu–kenapa kau tidak mencari bukti lain? kalau alat ini bermasalah kita bisa mengalihkannya dengan mencari hal lain kan, kau yang bilang."
"Kapan aku bilang?" Decak Lexan.
"Tentang Helen Loise, kau menyuruhku untuk mengalihkannya ke hal lain kan?"
"Benar juga, tentang Helen Loise. Bagaimana dengannya?"
"Sekertaris ku sudah memberikan nomer teleponku padanya."
"Dia diperbolehkan masuk?"
"Iya, Eli bilang waktu itu dia tidak sengaja menabrak Helen, jadi mereka saling kenal dan diperbolehkan masuk. Eli bilang Helen mendengar ringkas kejadian itu dibalik pintu, kalau dibilang saksi mungkin bisa jadi tapi–saat ditanya seperti ini dia kebanyakan berpikir."
"Tunggu, Helen mendengar ringkas kejadiannya?" Tanya Lexan.
"Helen bilang dia mendengar seseorang yang bertengkar dibalik pintu."
"Berapa orang?"
"Dia tidak bilang, yang dia tahu dia mendengar keributan."
"Informasi yang sangat sedikit, lalu–alasan dia mengantar tuan Robert?"
"Dia hanya disuruh."
Mereka berdua terdiam sejenak.
"Kau–curiga dengan seseorang yang sama denganku, kan?" Tanya Lexan.
"Ya."
"Kalau begitu kau tahu cara mengintai seseorang tanpa diketahui?"
"Namanya mengintai tentu saja tidak diketahui."
"Ya aku tahu, maksudku sama sekali tidak terlihat dan tentunya mudah."
Sherine mengerutkan keningnya. "Sama sekali?"
Lexan mengangguk. "Kalau begitu MATI saja!" Serunya.
"Aku serius, konyol!" Balas Lexan.
"Ada, memangnya kau tahu dia di mana?" Tanya Sherine.
"Biasanya jam segini dia pergi ke salon."
"Baiklah, ayo berangkat."
Ketika mereka berdua hendak pergi, Kyle tiba-tiba masuk ke ruangan mereka.
"Kyle?!" Ucap Lexan terkejut.
"Hai, kalian mau kemana?" Tanya Kyle.
Lexan menghela napas. "Lagi-lagi kau masuk tanpa permisi."
"Ayolah, aku biasa melakukan ini. Jadi–kalian mau kemana?"
Lexan berjalan melewatinya. "Ke suatu tempat."
"Tapi, kemana?"
"Tidak ada urusannya denganmu, Kyle."
"Hei Sherine, sebenarnya kalian mau kemana?"
"Kami–" Sherine melirik Lexan yang mengisyaratkannya untuk tidak memberitahu Kyle.
"Kenapa kau sangat ingin tahu?" Tanya Sherine bersikap biasa.
"Karena, aku hanya ingin tahu."
"Maksudmu kau mau ikut kami?"
"Dengan senang hati–kalau boleh," Ucap Kyle sambil menunjukkan senyumnya.
"Kau sudah berteman cukup lama dengan Parker, kenapa tidak beritahu saja."
"Kau benar," Ucap Kyle membenarkan.
"Menjalankan tugas sebagai seorang partner, kau mau ikut?"
"Oh tentu, aku bisa bantu kalian," Ucap Kyle senang.
"Hei–" Ucap Lexan tidak terima.
"Sudahlah Parker, dia temanmu, bukankah dia bisa membantu kita?"
"Kau tidak tahu, Kyle itu–"
"Apa kalian akan berbisik seperti itu terus?" Tanya Kyle.
"Baiklah, ayo," Ucap Sherine.
Kyle berjalan duluan, ketika Sherine hendak menyusul, Lexan menahan tangannya.
"Jangan beritahu apapun tentang rencana kita atau tentang kasus ini padanya," Bisiknya.
"Tenanglah, lagipula dia itu temanmu mana mungkin dia punya niat jahat."
"Kau belum tahu bagaimana Kyle itu."
"Aku?" Ucap Kyle.
Lexan berdeham. "Asal kau tidak menyusahkan kami, maka kau diajak."
"Ayolah sobat, rekanmu sudah mengajakku, bahkan dia lebih baik darimu."
Akhirnya mereka bertiga pergi ke sebuah tempat tinggi dan tak berpenghuni, lebih tepatnya sih gedung tua yang tidak terlalu tinggi. Gedung itu belum selesai dibangun karena suatu masalah, jadi hanya ada empat lantai. Walaupun begitu empat lantai saja sudah terlihat tinggi.
Dibawah gedung tua itu ada salon kecantikan yang jaraknya sangat dekat. Untuk melihat pintu masuk salon kecantikan itu, mereka bertiga harus naik tiga lantai, dengan begitu semua aktifitas terlihat dari pintu dan jendela kaca.
Salon kecantikan itu bertingkat, tapi tidak setinggi gedung tua didepannya dan tepat sekali target mereka berada di lantai dua sedang mengecat rambutnya.
"Memang, siapa target kalian?" Tanya Kyle.
Sherine dan Lexan tak menjawab, namun Kyle sangat histeris ketika melihat Sherine membidik sebuah benda ke arah blazer merah milik seorang wanita yang hendak masuk ke dalam pintu kaca.
"Hei, itu kan nyonya Miranda! mau apa–" Sontak Lexan menutup mulut Kyle.
"Diamlah!" Bentak Lexan dengan nada rendah.
"Hei kalian, pasang benda ini di telinga kalian masing-masing," Ucap Sherine memberikan sebuah earphone hitam.
Lexan dan Kyle memasang benda itu ke telinga mereka.
"Benda apa ini?" Tanya Lexan.
"Aku sudah menempelkan alat pengintai di blazer Miranda, apapun yang dibicarakannya semua terdengar di benda yang menempel di telinga kalian."
Keduanya ber-hmm mendengar penjelasan Sherine, tinggal menunggu saja.
"Kenapa kalian mengintai nyonya Miranda? ya–aku tahu kalian tidak akan memberitahu, tapi–bukankah harusnya dia berduka, kenapa malah pergi ke salon?"
"Itu bisa jadi alasan kami, Kyle," Ucap Lexan.
Didalam salon itu mereka bertiga mendengar Miranda berbicara dengan seorang karyawan salon yang sepertinya sudah sangat akrab.
"Saya dengar suami nyonya telah berpulang, bukankah harusnya anda menjalani masa berkabung?" Tanya karyawan salon itu.
"Ya, aku tahu. Aku sudah menjalani masa berkabung tapi aku tidak mau terus-terusan sedih tentang kepergian suamiku," Jawab Miranda.
"Oh begitu, anda orang yang kuat ya, kalau saya kehilangan pacar saja sudah tidak bisa makan seharian."
"Oleh karena itu Windy, kau harus siap dengan apa yang terjadi. Awalnya aku juga sama sepertimu tapi lama-kelamaan aku harus bisa menjadi istri yang kuat, karena suamiku orang yang sakit-sakitan dan tentu saja–" Omongannya terputus.
"Tentu saja–dia akan dipanggil entah kapan oleh Tuhan," Ucapnya meneteskan air mata.
"Ya ampun Nyonya aku benar-benar minta maaf," Ucap karyawan itu panik, lalu mengambilkan tisu untuk Miranda.
"Oh tidak apa-apa Windy, sebenarnya aku kesini untuk menghilangkan kesedihanku."
"Ya ampun Nyonya, aku tidak tahu itu alasanmu, sekali lagi tolong maafkan aku," Ucap pelayan itu masih dalam keadaan panik.
Setelah itu suara mereka jadi tidak terdengar lagi. Mungkin blazer milik Miranda telah dipindahkan ke tempat lain.
"Oh tidak suaranya menghilang," Ucap Sherine.
"Aku akan pergi ke tempat lain untuk mencari suaranya, mungkin lantai dua," Ucap Kyle.
"Ya kami juga," Ucap Sherine.
"Kyle sudah pergi."
"Ya begitulah."
"Kenapa sifatmu terlihat waspada?"
"Akhir-akhir ini dia tidak bisa dipercaya, kalau dia bilang atasan yang menyuruhnya– semua itu tidak mungkin."
"Kenapa tidak mungkin?"
"Dia jarang di kantor, kalau mendapat tugas juga tidak selama itu. Kyle selalu bilang kepadaku kalau dia mendapat tugas, tapi–kali ini berbeda," Jelas Lexan.
Sherine melepas earphone-nya dan mulai mendengarkan cerita rekannya.
"Tahun lalu, Kyle menghilang tanpa kabar, dia tidak memberitahu kemana dia selama itu. Kurang lebih–enam bulan."
"Itu waktu yang lama."
"Bukan lama lagi, malah dia hendak mengundurkan diri dari pekerjaannya. Dia tidak pernah bersikap seolah hidupnya tidak lama lagi, sifatnya periang kalau bertugas pun tidak sampai berbulan-bulan, tapi waktu itu dia sangat berbeda. Aku pernah menemuinya di jalan, pakaiannya tidak rapi dan–tidak terurus, aku hendak mendekatinya sekaligus bertanya padanya, tapi dia pergi menjauhiku, mungkin–dia bosan berteman denganku dan juga dengan pekerjaannya, mungkin."
"Sebelumnya kau bilang kalau Kyle itu?"
"Kurasa Kyle itu adalah mata-mata Timur yang sengaja mengacau rencana kita, karena sudah lama Kyle dan aku tidak bertemu lalu sekarang tiba-tiba saja dia datang dengan niat membantu tanpa tahu misi apa yang sedang kita kerjakan, benar kan? kau sepemikiran denganku kan?"
"Y-ya, tapi siapa tahu dia sedang ada masalah dan harus hiatus sementara," Ucap Sherine dengan pemikiran lain.
"Ayolah kau tidak curiga, selama aku bercerita tentang dia ada banyak tanda-tanda yang menunjukkan kalau dia adalah–"
"Parker, lalu kenapa kau memperbolehkannya ikut dalam misi ini?"
"Terpaksa," Ucapnya dengan wajah pasrah.
"Mungkin semua itu hanya pikiranmu saja, Parker."
"Sherine–"
"Hei, kalian!" Ucap Kyle lantang.
Mereka berdua pun menengok ke arah suara Kyle yang ada di tangga lantai dua.
"Suaranya kembali, ayo turun!" Ucapnya.
"Dengar Parker, waspada itu boleh tapi menuduhnya seorang mata-mata itu sangat tidak wajar," Ucap Sherine sebelum akhirnya turun menemui Kyle.
"Sial," Ucap Lexan sambil mengacak rambutnya.
Sherine menghampiri Kyle yang sudah memegang kamera di tangannya, ia telah menangkap gambar yang bisa dijadikan bukti ketiga.
"Bagus Kyle," Puji Sherine.
"Sudah kubilang aku bisa membantu kalian," Ucapnya bangga.
"Nyonya Miranda sudah keluar dari salon, lalu apa yang kau dengar tadi?"
"Tidak, alatnya masih menempel, coba dengarkan."
Samar-samar terdengar suara Miranda yang berjalan sendiri dan mengatakan sesuatu. "Harusnya aku tidak berjalan sendirian, ada banyak orang yang mengintai ku."
Mendengar itu Mereka bertiga tertegun. Bagaimana Miranda bisa tahu kalau dia sedang diintai? Sambungan suara itu langsung terputus, padahal Miranda tidak sadar kalau benda kecil bagaikan semut itu menempel di pakaiannya.
Walaupun mereka sudah tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan Miranda lagi, setidaknya Kyle telah menangkap gambar yang memperlihatkan Miranda berada di salon.
Karena target sudah pergi, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke kantor dan melihat hasil yang mereka dapat.
Di perjalanan, Sherine kagum dengan apa yang dilakukan Kyle, sebelumnya memang dia tidak berencana untuk memotret targetnya, sementara Lexan dengan sifat dinginnya menatap temannya itu dengan curiga.
"Bagaimana kau bisa kepikiran melakukan hal ini?" Tanya Sherine sambil melihat hasil jepretan Kyle.
"Aku tahu kau membutuhkannya."
"Kau hebat," Ucap Sherine memuji.
"Hehe, biasa saja," Ucap Kyle sambil menggaruk tengkuknya.
"Saat kita berangkat, aku tidak lihat kau membawa kamera ini? Darimana kau mendapatkannya?" Tanya Sherine.
"Oh, itu–kebetulan saja...."
"Kebetulan?" Sherine mendelik.
"Y-ya kebetulan."
"Kebetulan itu kan banyak, apa kau melihat seseorang membawa kamera ini lalu kau meminjamnya?"
"Nah, itu maksudku kebetulan, tadi saat aku pergi ke lantai dua, aku melihat ada seorang fotografer. Aku tahu kau pasti butuh foto ini untuk dijadikan bukti."
"Sungguh, aku tidak lihat ada fotografer yang melintas?" Tanya Lexan dengan tatapan menyelidik.
"Bagaimana ya, kalau aku bicara begini nanti kau tidak percaya."
"Oh ya?" Ucap Lexan tidak percaya sambil mengguratkan senyumnya seolah mengejek Kyle.
"Parker, kita sudah dapat bukti harusnya kau berterimakasih kepada temanmu!" Bentak Sherine dengan nada rendah.
"Sudahlah, Sherine. Aku biasa kok menghadapi orang seperti dia, oh ya kau harus mencetak fotonya segera, kamera itu mau ku kembalikan."
"Iya, terimakasih banyak ya sudah membantu kami."
"Sama-sama," Balas Kyle tersenyum.
"Kau mau kemana? buru-buru sekali," Tanya Sherine.
"A-aku ada janji dengan seseorang."
Kyle langsung pergi meninggalkan mereka.
Lexan dengan mata yang masih menatap temannya yang lama kelamaan menghilang oleh ramainya orang. Tangannya bersedekap, lalu mendekati Sherine dan melihat kamera itu. "Kau percaya dengannya?"
"Dia sudah membantu kita."
"Dan kamera itu, kau tahu Kyle itu tidak punya keahlian memotret," Ucapnya.
"Memangnya memotret itu ada keahliannya?"
"Kau tidak mengerti, dari bicaranya saja dia sudah menunjukkan sifat yang mencurigakan."
Sherine tak mendengarkan rekannya yang sewot itu dan tetap berjalan.
"Kau itu kan detektif, kau orang yang dipercaya negara, bagaimana kau tidak tahu jelas kalau Kyle menyembunyikan sesuatu?!"
Sherine berhenti mendadak. Lexan memutar menghadap pandangan rekannya itu. "Dia memintamu mencetak foto itu, karena–"
Telunjuk Sherine menunjuk ke arah pria sewot didepannya yang kini terdiam. "Aku tahu Parker, aku tahu. Tidak usah bawa-bawa nama negara dan siapa aku."
Sherine pun melangkahkan kakinya menjauhi Lexan. Namun langkahnya lagi-lagi terhenti.
"Dan, Kau ingin tahu kenapa daritadi aku terus meladeninya seolah aku percaya padanya?"
Lexan mendekat hingga berhadapan langsung dengan wajah Sherine. "Kau akan tahu jika kau mengikuti langkahku," Ucap Sherine dengan penuh yakin.
"Tidak masalah kau bilang aku lamban, justru yang cepat itu terkesan buru-buru sampai kau melupakan hal penting yang sering kau lihat," Lanjutnya.
Lexan mengguratkan senyumnya. "Baiklah, bagaimana kau menunjukkan itu didepan mataku?"
"Ikut aku."
*
Di sebuah lorong sempit, ada dua orang wanita berpakaian modis. Apa yang mereka lakukan di lorong sempit nan gelap itu?
Wanita dengan rambut cokelat kejinggaan yang sepertinya baru saja mengecat rambutnya. Ia mencabut sebuah benda sekecil semut itu dari
merahnya.
"Ini alat pelacak kan?" Tanya Miranda.
Wanita di depannya mengamati benda yang diberikan Miranda. "Hmm, benar ini alat pelacak, yang menempelkan benda ini pasti mendengar pembicaraan mu sebelumnya."
Wanita yang mengamati benda itu lalu membuangnya ke tanah dan menginjaknya dengan kasar.
"Sekarang Lexan Parker sudah tidak bisa mengintai mu lagi, dan harusnya kau tidak jalan sendirian kalau hal seperti ini terjadi lagi bagaimana?"
"Bla, bla, bla...." Ucap Miranda menyepelekan.
"Miranda!"
"Pevita! kau tidak ada hubungannya dengan kematian suamiku, selalu saja ikut campur urusanku!"
"Tentu saja ada! Suamimu telah menghancurkan reputasi Timur, karena sifat pedulinya terhadap gelandangan Barat membuat tuan Holder marah, sekarang bagaimanapun kau harus minta maaf dengan beliau," Bentak Pevita.
"Minta maaf? Itu semua salah Thomson, kenapa aku yang harus minta maaf?!"
"Karena kau juga terlibat dalam kasus ini, Miranda. Tidak hanya menghadapi Lexan Parker saja, tapi pengadilan!"
"Jangan sampai Lexan Parker dan Robert yang menang atas kasus ini, pokoknya Timur harus bisa menguasai Barat dengan langkah ini," Lanjut Pevita.
"Baik karena kali ini kau mau membantuku, aku akan dengarkan apa rencanamu, tapi kau tidak bisa terus menjadikanku bawahanmu, karena disini aku juga akan mengetuai semua anak buahmu," Ucap Miranda.
"Tentu saja, kau akan ada di sisiku terus saudariku. Dan, apa hanya Lexan Parker saja yang mengintai mu?" Tanya Pevita.
"Tidak, ada orang lain yang membantunya, dia adalah seorang detektif."
Mata Pevita membulat. "Sea?!"
"Dia bilang namanya Sherine Dawson, aku tidak yakin dia Sea."
"Kalau begitu, kau cari tahu siapa Sherine Dawson itu, kalau dia adalah Sea maka urusannya adalah kita dan Wind." Perintah Pevita.
"Baik, Madam," Ucap orang misterius yang ternyata berada di sana bersama mereka.