The Law

The Law
Bab 12 ;Sherine Note


Sebulan sebelum semua bukti terkumpul, aku–Sherine Dawson, memikirkan resiko besar yang akan kami hadapi. Ya, resiko karena kita telah menantang organisasi Timur. Thomson dan Miranda adalah anggota organisasi Timur yang paling dihormati dan disegani. Oleh karena itu, Parker berpikir kami akan kalah melawan mereka.


Oke, pertama; mari pikirkan bagaimana cara agar Robert bisa terbukti tidak bersalah, kami sudah mengumpulkan bukti, yaitu sebuah sidik jari yang bukan milik Robert dan kartu kependudukan yang menunjukkan kalau Miranda dan Thomson bukanlah asli orang Barat.


Kedua; Para organisasi Timur pasti akan mengusik penyelidikan kami karena untuk mempertahankan kepercayaan rakyat kalau Thomson dan Miranda adalah korban dan Robert adalah tersangka sesungguhnya. Tak terkecuali–Wind. Dia adalah kaki tangan atau bahkan yang sangat diandalkan Timur.


Oleh karena itu–apa rencanamu?


Aku berbicara pada diriku sendiri, berharap diriku yang lain akan menjawab pertanyaan itu, tapi pasti mustahil. Aku tidak bisa bekerja sendiri, aku butuh orang lain.


Masalahnya–rekanku sendiri malah sibuk dengan urusan pacarnya. Aku bingung bagaimana harus bicara baik-baik padanya. Ah terserahlah, yang penting selama tiga bulan misi ini harus selesai. Harus!


Sudah tiga jam aku berputar-putar di kamarku yang sepi dan sunyi hanya untuk memikirkan kasus ini. Lalu aku melihat jam dinding.


Gawat! Aku terlambat!


Aku harus menjemput kakakku di stasiun. Mungkin dia sudah menunggu lama.


Aku bergegas pergi ke stasiun yang jaraknya sangat jauh, dan sialnya aku belum menemukan taksi yang lewat. Bahkan aku hampir tertabrak.


"Hei Nona, perhatikan jalanmu!"


"Bisakah kau mengantar ku ke stasiun?"


"Oh baik."


Untungnya dia supir taksi, jadi aku tidak usah mencari lagi sampai menabrak untuk beberapa kalinya.Dan akhirnya aku sampai di stasiun.


Semua penumpang kereta api turun, aku menengok kesana kemari mencari keberadaan kakakku yang entah turun dari gerbong mana.


Mataku tertuju kepada pria bertopi cokelat yang hendak berjalan ke arahku. Kenapa wajahnya tak menunjukkan rasa antusias saat melihatku?


Ya, seperti dugaan ku, dia melewati adiknya sendiri.


"Apa ini? Tidak mungkin Jeff lupa wajah adiknya sendiri?" Gumamku sambil menatap punggung tegap itu berjalan.


"Tuan Dawson," Panggilku.


Dia menengok. "Oh, ada yang bisa ku bantu?"


Aneh, padahal dia melihatku, tapi–kenapa di tidak mengenalku?


Lalu, dia menyipitkan matanya. "Sherine?! Ini kau?" Tanyanya.


"Siapa lagi?"


"Astaga, kau sudah tumbuh dewasa rupanya," Ucapnya sambil memelukku.


"Kau tahu itu, kan?"


"Seingatku kau masih anak kecil pendiam yang duduk di atas pohon."


Dia melepas pelukannya. "Waktu berjalan sangat cepat."


"Kalau begitu biar ku bawakan tas mu."


Dia Jeffreyan Lynn Dawson, kakak pertama dari tiga bersaudara. Aku memanggilnya Jeff, terkadang aku sering menggodanya dengan panggilan Mr. Jefferson, itu lebih cocok dengan nama panggilannya.


Aneh, kenapa dia bisa lupa kalau adiknya sudah tumbuh dewasa, kita kan tumbuh dalam satu rumah yang sama?Setelah pulang dari luar kota sifatnya jadi aneh.


Jeff duduk di sofa, tangannya seperti menggenggam sesuatu, matanya pun tak berpaling dari benda yang dipegangnya.


"Sherine," Panggilnya.


Aku yang sedang membuat teh menengok ke arahnya. "Ya."


"Kemarilah."


Aku duduk di sampingnya. "Ada apa?"


"Lihat," Jeff memperlihatkan sebuah kalung yang bahan dasarnya adalah logam.


"Kalung yang indah," Pujiku, kalung itu lebih mirip seperti uang koin yang diberi tali, di kalung itu ada ukiran inisial JD yang artinya Jeffreyan Dawson, mungkin.


"Darimana kau dapatkan kalung ini?"


"Seseorang memberi itu padaku, aku kaget karena inisial kalung itu mirip seperti namaku."


"Siapa?"


"Tidak tahu, tapi dia orang yang baik."


Jeff menyeruput teh yang ku buat.


"Sebenarnya, aku dirawat di luar kota, temanku yang mengantarku. seingatku saat aku meninggalkanmu kau masih sangat kecil, Sherine."


"Memangnya kau kenapa? Seperti lupa ingatan?"


"Perihal penyakitku."


Sekitar 12 tahun yang lalu, Jeff menderita penyakit yang aneh. Dia sering batuk, beberapa hari kemudian dia sembuh, namun besoknya batuk lagi tatkala batuknya mengeluarkan darah. Sempat dibawa ke rumah sakit, tapi dokter pun tak tahu dia menderita penyakit apa. Penyakitnya itu sering kambuh, jadi dia tidak bisa pergi jauh tanpa di dampingi.


"Setelah pulang dari rumah temanku, tiba-tiba kepala ku sakit, pandanganku buram dan tubuhku seketika jatuh, temanku bilang kepalaku terbentur aspal. Lalu saat bangun, aku kaget ternyata sudah di rumah sakit, ada banyak orang yang menungguku, pakaian mereka rapi. Salah satu dari mereka memanggil dokter, tak lama dokter datang dengan seorang pria paruh baya."


"Rupa pria itu bagaimana?"


"Usianya sekitar 40 tahunan, tinggi, gagah, ada uban di samping rambut hitamnya dan–dia memakai kalung ini," Sambil menunjukkan kalung berinisial JD kepadaku.


"Dia bilang uang rumah sakit dia yang bayar, aku sangat tertolong karena ada orang yang membantuku, lalu pria itu memberikan kalung ini sebagai kenangan."


"Kalian kan tidak saling kenal, untuk apa kenang-kenangan?"


"Ya–mungkin itu ungkapan agar aku cepat sembuh. Pria itu bilang, aku sudah di rumah sakit selama seminggu–mungkin bisa dibilang koma, tapi itu waktu yang cepat untuk dibilang koma, makanya aku tidak ingat."


"Pria itu tidak bilang apa-apa lagi, hanya memberi kalung itu lalu pergi?"


"Iya, padahal aku belum bilang terimakasih."


"Hei, kau tidak boleh begitu, ibu mengajari kita untuk bilang terimakasih pada siapapun yang menolong kita," Sambil mengelus kepalaku.


Aku menyingkirkan tangan Jeff dari kepalaku. "Aku curiga dengan pria itu. Lho kau memakainya?!" Ucapku kaget saat melihat Jeff memakai kalung itu.


"Iya, ini bagus lho, sekaligus inisial ku."


"Tapi–"


"Sherine, jangan menaruh curiga kepada orang yang telah menolongmu, atau jangan-jangan–kau iri karena hanya aku yang dapat kalung ini?" Goda Jeff.


"Iri? Yang benar saja, aku sudah dewasa kenapa harus iri, lagipula–"


"Lagipula apa?"


"Ah tidak."


Jeff mendelik. "Istirahatlah, kau baru sembuh, lain kali kalau mau keluar kota aku akan ikut bersamamu."


"Kenapa? Aku bukan anak kecil lagi, Sherine."


Aku menoyor kepalanya. "Kalau penyakitmu kumat lagi bagaimana?!"


"Aduh, iya-iya kau sudah seperti ibu saja," Padahal toyoran yang kuberikan sangat keras sampai membuatnya mengaduh, tapi bisa-bisanya dia menggodaku.


"Aku memang anak ibu."


Aku menarik tangan Jeff yang tidak mau bangun dari duduknya dengan paksa. Setelah berhasil memasukan pria bergelar kakak itu masuk ke dalam kamarnya, dia bertanya.


"Kau sedang menangani kasus, ya?" Tanya Jeff.


"Iya," Jawabku singkat.


"Ya, sepertinya aku tidak bisa bicara banyak, nanti kita bicara lagi ya, aku ingin mendengar cerita-mu."


Aku hanya mengangguk, lalu menutup pintu kamar itu berharap penghuninya bisa tidur nyenyak



Jam menunjukkan pukul 10 dini hari, sepertinya Jeff sedang menagih janji padaku, dia duduk di ruang makan tanpa melakukan apa-apa.


Aku langsung duduk di kursi sebelahnya, tanpa bertanya.


"Ku pikir kau sudah tidur," Ucap Jeff.


"Harusnya aku yang bilang begitu."


"Habisnya kau menyuruhku istirahat terus, sepertinya aku akan terjaga malam ini."


Aku hanya melontarkan senyum tanpa menatapnya. "Sepertinya kau tahu alasanku masih ada disini."


"Jadi, kasus apa yang sedang kau tangani?"


"Itu, tentang kematian Thomson Hendrick, si pejabat kaya."


"Thomson? Kenapa bisa?"


Aku menceritakan panjang lebar tentang awal mula pembunuhan, lalu aku dan Parker menyelidiki bersama hingga menemukan bukti terkait Thomson dan istrinya merupakan orang Timur yang tinggal di Barat. Sampai puncak masalah dimana kasus ini tidak hanya menyangkut tentang Thomson dan Robert, tapi juga organisasi Timur yang akan turun tangan untuk membantu Miranda.


"Selama ini yang ku tahu, Thomson adalah orang baik, tidak mungkin kalau dia orang Timur."


"Awalnya kau akan bicara begitu, tapi setelah kau melihat kebenaran, kau akan tahu sifat baiknya itu hanyalah kebohongan untuk memanipulasi rakyat Barat."


"Bagaimana kau tahu mereka orang Timur?"


"Kartu kependudukannya, Bu Hudson memberikan petunjuk itu padaku."


"Itu artinya–kau menyusup ke rumah Hendrick?!"


"Benar."


Aku bisa melihat raut wajah Jeff yang kaget mendengar adiknya yang nekat masuk ke rumah orang dan mengambil bukti itu.


"Itu mutlak bagiku."


"Ya, karena kau adalah detektif. Berhati-hatilah Sherine, penyamaran mu itu bisa membuat orang Barat mengira kau adalah mata-mata."


"Ya, sebenarnya memang sudah terjadi," Ucapku dengan nada rendah.


"Apa katamu?"


"Ah, tidak," Untung Jeff tidak dengar.


"Masalahnya sekarang adalah organisasi Timur dan–"


"Wind?" Jeff memotong ucapanku.


"I-iya, karena Thomson adalah orang Timur dan Miranda memiliki saudara perempuan yang merupakan orang kepercayaan Joan Holder, mereka pasti akan melakukan apapun untuk menang di pengadilan nanti."


"Tidak hanya di pengadilan, sebelum hari itu terjadi mungkin–kami akan dijatuhkan lebih dulu," Lanjutku.


"Tidak akan," Aku menengok ke arah sumber suara.


"Kau adalah SEA dan kau kuat, bahkan lebih kuat dari sebelumnya karena ada banyak orang yang akan membantumu dalam misi ini. Dan juga–orang Timur tidak bisa menyakitimu, karena kau adalah ombak besar yang akan menerjang mereka, daripada angin kencang yang hanya bisa menerpa orang hingga menjauh dari wilayahnya, maka–ombak air laut bisa menenggelamkan bahkan membuat orang itu tidak bisa bangkit saking dalamnya laut itu."


"Tapi, angin bisa jadi topan yang tidak hanya menerpa, bahkan bisa menghilangkan seseorang."


"Karena dia percaya pada kemampuannya. Kau juga harus. Harus percaya pada kemampuanmu kalau kau bisa mengalahkannya. Bukan SEA namanya kalau sudah menyerah duluan," Ucapnya sambil mengelus kepalaku.


"Angin dan air bisa menjadi teman jika mereka menyatukan kekuatan. Saking kencangnya hembusan angin, maka semakin besarlah ombak lautan," Lanjutnya.


Nb:


Air dan Angin adalah SEA dan WIND, julukan untuk Sherine dan ***


Kira-kira siapa Wind itu?