The Law

The Law
Bab 3


Sepanjang jalan pulang, Elizabeth tak henti-hentinya bercerita tentang dia dan Felix ketika masih berkuliah.


"Pantas saja kalian sangat akrab ternyata dulu satu kampus."


"Yap."


"Oh ya omong-omong kau sudah mengenal Lexan sebelum kita bertemu tadi?"


"Eum, sudah mungkin."


"Sudah?! dimana? kenapa kau tidak bilang padaku!"


"Kenapa kau sangat antusias?"


"Kau tanya kenapa? ya ampun, siapa sih yang tidak mau bertemu dengan Lexan secara langsung, itu pengalaman langka!"


"Yang kau lihat bukan sebenarnya."


"Maksudnya?"


"Walaupun kau melihatnya seperti manusia keren dan mempesona, sebenarnya sifat aslinya itu tak menggambarkan wajahnya."


"Hei, jaga mulutmu. Kau hanya tidak bisa menilai seseorang."


Sherine menyeringai. "Tidak percaya."


"Kalau kau atau semua gadis berandai-andai ingin sekali menjadi kekasihnya– aku, tidak akan melakukan hal bodoh itu." Lanjutnya sambil memegang setir.


"Kau bilang apa?! hal bodoh?"


"Kurasa menyukai seseorang yang tidak pasti akan menyukaimu balik itu percuma saja, ya– Lexan Parker contohnya."


"Ya sudahlah SEA, kau orang aneh yang pernah kutemui. Toh, lagipula kau tidak akan menyukai seseorang, ya kan?"


"Terserah kau saja lah."


"Ya sudahlah, aku tidak mau memperpanjang perdebatan."


Sherine ber-hm mengingat Elizabeth yang sudah lelah berbicara dengannya. Namun sekertarisnya ini tidak akan memberikan celah untuk keheningan.


Elizabeth kembali menatap Sherine dengan tatapan yang sepertinya memberikan kabar buruk baginya.


"Hei, Sherine."


"Apa?"


"Kau tidak menyukai Lexan kan?"


"Kenapa?"


"Selamat, kau akan menyelesaikan misi bersamanya dalam waktu yang lama. Hahahaha."


Sherine membalas dengan tawa kecil. "Eli, Eli, kau pikir aku ini siapa hah? Aku SEA dan secepatnya akan ku selesaikan misi ini dan membuat pengacara terkenal itu melongo dengan hasil yang ku peroleh."


"Oh ya, kau berani taruhan."


"Ku pikir kau gadis feminim yang tak akan melakukan itu."


"Cih, katakan saja kau takut."


"Baiklah, dalam waktu tiga bulan misi itu sudah selesai."


"Kalau belum selesai?"


"Aku akan mengabulkan permintaanmu, apapun."


"Ku pegang omonganmu."


...****************...


Paginya Sherine datang lagi ke kantor Firma hukum untuk hari pertamanya kerja. Semua orang menatapnya sinis, bingung dengan perlakuan banyak orang. Jangan-jangan mereka tahu kalau Sherine adalah SEA.


Akhirnya Sherine sampai didepan kantor Lexan. Nampak pintunya masih terkunci, Yap kedua pintu itu masih terkunci.


"Sial, bisa-bisanya dia belum datang." Ucapnya kesal.


Di sekitaran kantor Lexan yang sepi tak ada seorangpun yang lewat, harus bertanya pada siapa Sherine, dia juga tak mengenal siapapun.


Tiba-tiba, seseorang menghampiri Sherine.


"Pagi."


"Pagi." Ucap Sherine ragu.


"Kau detektif Sherine Dawson, ya."


"Betul. Dan kau?"


Gadis itu menyodorkan tangannya. "Aku Deana Francis, pengacara yang akan membatu misi kalian. Salam kenal."


"Salam kenal juga, mohon kerjasamanya."


"Aku kesini membawakan kunci, sudah kuduga Lexan datang terlambat. Ya– sebenarnya dia bukan tipikal orang yang terlambat tapi aku tahu kau akan datang lebih awal darinya."


Sherine masuk kedalam ruangannya yang dinding dan interiornya berwarna hitam, berbeda dengan ruangan Lexan yang dominan warna putih, ruangan Sherine punya nuansa hitam.


Saat melihat ke sekeliling, Sherine melihat sebuah lorong yang ada di dalam ruangan. Ia pun masuk ke dalam lorong itu. Amat terkejutnya dia, ternyata sebelah ruangannya adalah ruang kerja Lexan. Ruangan mereka dibatasi dinding transparan berwarna hitam dan ada celah pintu agar Sherine dan Lexan mudah berinteraksi. (maksudnya gak perlu keluar ruangan lagi, tapi tinggal masuk lewat celah pintu).


"Ruangan ku menyatu dengan ruangan–"


"Iya, jadi kalian mudah berinteraksi bukan."


"Itu artinya, kita akan bertemu setiap hari?!"


"Iya, memang begitu kan?"


"Lalu, kenapa harus ada dua pintu di depan kalau ruangan kita terhubung?"


"Lexan ingin kau masuk ke ruangan mu sendiri sih, ya begitulah Lexan tolong di maklumi ya." Ucap Deana sambil melontarkan tawa kecilnya.


"Oh ya, ini kuncinya."


"Terimakasih." Ucap Sherine datar.


"Omong-omong, kenapa ruangan ini terhubung?"


"Entahlah, ruangan ini sudah terhubung sejak dulu."


"Begitu ya."


"Aku akan keluar dari tempat ini secepatnya." Gumam Sherine.


"Apa?"


"Oh, tidak."


"Baiklah, Sherine kalau butuh apapun kau bisa bilang padaku, atau ada yang mau ditanyakan kau bisa tanya padaku. Aku cukup diandalkan walaupun masih magang."


"Anak magang rupanya." Ucap Sherine dalam hati.


"Semoga kita bisa jadi teman yang baik, oke?"


Sherine mengangguk dan tersenyum.


Menurut Sherine, Deana sangat mirip dengan Elizabeth hanya saja tidak cerewet, namun sifatnya yang mudah berbaur membuatnya bisa diandalkan. Deana seperti anak polos yang mengerjakan tugasnya dengan lugas dan senantiasa membantu orang lain.


"Kau orang yang ramah, kenapa tidak jadi sekertaris saja?"


"Benarkah?" Deana tersipu. "Awalnya memang itu mauku, tapi kalau dipikir-pikir aku lebih suka hal yang menantang seperti penyelidikan."


"Jadi kau masih magang? tapi sepertinya kau sudah mengenal banyak orang-orang disini."


"Tidak juga, tapi kalau mengenal mungkin iya. Entahlah atasan kami memang suka semena-mena. Oh iya, atasan kami tidak tahu kalau Lexan meminta bantuan detektif untuk kelancaran misinya."


"Kenapa dia harus tahu? Bukankah itu hal biasa, polisi saja membutuhkan bantuan detektif kan?"


Pintu berderit. Terlihat Lexan dengan mantelnya yang baru datang. Pria itu menatap Sherine sebentar.


"Kapan kalian datang?" Ucapnya dengan nada dingin.


"Sherine datang lebih pagi darimu." Ucap Deana.


"Oh."


"Kembalilah ke tempatmu, Deana."


"Apa ada hal lain yang harus ku kerjakan?"


"Baiklah."


Sherine menghampiri Lexan yang masih menyiapkan berkas-berkasnya. Ia menatapnya lamat-lamat. Ia pun mengalihkan pandangan pada Mading yang berada di depannya.


"Ya– setidaknya kau minta maaf soal kejadian kemarin."


Lexan berdecak. "Kenapa?"


"Sepertinya anggapan para wanita di luar sana itu salah, pria yang mereka idam-idamkan ternyata bukan orang yang bertanggung jawab."


"Itu salahmu karena melakukan penyamaran yang salah dan kabar buruknya berlian itu tidak bisa diselamatkan, bukan?" Ucap Lexan sambil tersenyum mengejek.


Sherine tertegun. "Kau tahu?"


"Aku yang menyelamatkan berlian itu."


"Oh, syukurlah kupikir berlian itu tidak bisa selamat."


"Harusnya kau kesal."


"Kenapa?"


"Aku yang menyelamatkan berlian itu dan pastinya kau di cemooh semua orang di organisasi."


"Benar, tapi aku bersyukur ada orang lain yang diandalkan organisasi bisa menyelamatkan berlian itu."


Lexan menatap Sherine tak percaya, niatnya yang ingin membuat Sherine kesal malah bersyukur. Kini orang yang ditatap sedang tersenyum padanya. Sontak Lexan mengalihkan pandangannya ke Mading.


"B-baiklah, ayo serius ke misinya."


"Kau sudah dengar beritanya?"


Sherine mengangguk. "Baiklah, aku akan menjelaskan ulang sekaligus mengapa aku meminta bantuanmu."


"Jadi, pada jam 12 tengah malam. Terjadi pembunuhan di rumah pejabat kaya, Thomson Hendrick. Pelakunya adalah tuan Robert Khiel asistennya sendiri. Tuan Robert membunuh tuan Thomson dengan menikamnya. Entah apa alasannya, tapi kita tidak membela korbannya."


"Ah, aku tahu– kita membela tersangkanya kan?"


"Iya dan itu hal buruk."


"Kurasa itu bukan hal buruk." Ucap Sherine sambil menyentuh dagunya.


"Bukankah itu yang akan dilakukan setiap pengacara. Hukum tak memandang bulu, itu motto kalian." Ucap Sherine yang hendak pergi dari ruangan.


"Hei, kau mau kemana?"


"Apa kau akan tetap berdiri di situ?"


"Jangan bilang–"


"Ayo berangkat."


...****************...


"Tuan Robert Khiel." Panggil sang penjaga lapas.


"Ah, iya anda memanggilku."


"Ada yang ingin bertemu dengan anda."


"S-siapa?"


"Keluarlah."


Tuan Robert berjalan menuju ruang pertemuan. Nampak lah Lexan dan Sherine yang sedari tadi menunggu.


Lexan dan Sherine berjabat tangan dengan tuan Robert.


"Saya Lexan Parker, pengacara anda dan ini detektif yang akan membantu kasus ini selesai."


"Saya Sherine Dawson, senang bertemu dengan anda."


"Senang bertemu dengan kalian berdua."


"Kami dengan senang hati membantu anda tuan Robert, namun sebelum itu bisa ceritakan kejadian saat pembunuhan, maaf jika saya mengingatkan hal yang membuat anda tidak nyaman tapi–"


"Tidak apa-apa." Ucap pria paruh baya itu.


"Waktu itu jam setengah 12 malam, aku keluar mencari hadiah untuk putriku yang akan berulang tahun. Namun, tiba-tiba ponselku berdering. Nyonya Miranda istri tuan Thomson menelpon-ku, dia memintaku datang selarut itu. Saat aku datang kesana, seorang pelayan rumah menyuruhku untuk langsung masuk ke ruang kerja tuan Thomson. Setelah itu kepala ku dipukul dari belakang, lalu aku tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Bangun dari itu, tiba-tiba saja aku sudah dituduh dan ditangkap oleh polisi."


"Jadi Anda tidak membunuh tuan Thomson?" Tanya Lexan.


"Sumpah, aku tak melakukan apapun tuan. Bahkan aku kaget saat melihat kondisi tuan Thomson yang berlumuran darah."


"Polisi melihat anda memegang pisau di tangan kanan anda, begitu juga dengan yang dilihat saksi." Ucap Lexan menegaskan.


"Tuan, aku bersumpah. Kalau aku punya niat membunuh seharusnya aku sadar telah menusuk tuan Thomson."


"Baiklah, kita ganti pertanyaannya."


Lexan berdecak. "Apa?!"


"Kita tidak bisa memaksa tuan Robert berbicara apa yang terjadi waktu itu." Bisik Sherine.


"Baik, tuan Robert. Anda bisa ceritakan silsilah keluarga tuan Thomson dan berapa karyawan yang bekerja disana."


"Tuan Thomson dan nyonya Miranda tidak punya anak, tapi kehidupan mereka sangat glamor, pokoknya nyonya Miranda selalu memiliki barang bermerk. Aku tidak tahu kenapa mereka tidak punya anak, usia mereka selisihnya tak jauh dari usiaku. Kalau karyawan– tak lain hanya satpam dan pelayan, lalu aku asisten tuan Thomson."


"Berapa banyak pelayan dan satpam di rumah tuan Thomson?" Tanya Sherine.


"Ada empat satpam dan enam pelayan yang bekerja di rumah yang cukup besar itu."


"Artinya ada sepuluh pekerja di sana ditambah anda jadi sebelas. Ah, saat malam itu– ada berapa karyawan yang ada di rumah tuan Thomson?"


"Aku tidak tahu pasti, tapi pelayan yang bekerja malam itu sangat sedikit. Sepertinya hanya tiga pelayan yang salah satunya menyuruhku langsung masuk ke ruangan tuan Thomson."


"Anda tidak curiga perihal pelayan itu saat kejadian itu terjadi?" Tanya Lexan.


"Aku– ya, sedikit. Aku tidak tahu, tapi dia biasanya selalu membawaku kedalam ruang kerja tuan Thomson jadi aku tidak curiga."


"Bagiamana perasaan anda saat tersadar dari pingsan dan didepan anda sudah ada tuan Thomson yang tak bernyawa, lalu pisau di tangan kanan anda?" Tanya Lexan.


"Aku kaget dan tak percaya. Waktu itu aku ingat, aku tidak dalam kondisi mabuk atau tak sadarkan diri, aku benar-benar sadar dan itu bukan mimpi. Tolong percayalah, aku tidak punya niat membunuh."


"Kami tidak memaksa anda untuk mengaku, tuan. Tapi kalau itu kenyataannya kami akan berusaha mencari informasi yang menguatkan alasan anda." Ucap Sherine.


Lexan menepuk bahu Sherine dan mendiskusikan alasan yang diberikan tuan Thomson.


"Kau percaya dengan alasan yang dibuatnya?"


"Oh ayolah, dia klien mu. Mencari kebenarannya adalah jalan keluar untuk percaya."


"Kau pikir mencari itu hal yang mudah?"


"Kau kan pengacara, kau yang lebih gigih dalam hal ini kan?"


"Percuma saja, se-gigih apapun usahamu kau akan kalah dari korban."


"Apa kau menyerah?"


"B-bukan–"


"Cih, anggapan para fans-mu itu salah besar. Lagipula kita bisa menyelidikinya bersama."


"Walaupun dalam persidangan kasus lain tersangka akan menang dari korban, tapi lihatlah tuan Robert hanyalah asisten yang digaji kecil, kalau kita membela-nya, pasti kita akan kalah telak karena tuan Thomson selaku korban merupakan orang berpunya yang kuyakini semua orang juga akan berpihak padanya. Jadi–"


"Jadi, kau akan menyerah semudah itu. Parker, kau lupa mengapa kau meminta bantuanku? percayalah padaku, kita bisa melakukan ini bersama. Oke?"


"Ee– permisi tuan dan nona." Sela tuan Robert.


Lexan dan Sherine pun kembali menengok ke tuan Robert.


"Sepertinya jam pertemuan kita sudah berakhir, penjaga sudah menunggu."


"Oh begitu ya, baiklah lain kali kami akan kembali kesini untuk menemui anda."


"Tapi sebelum itu, nona. Aku ingin memberi tahu kalian satu hal."


"Apa itu?" Tanya Lexan.


"Sebenarnya aku– kidal."


Lexan dan Sherine saling bersitatap.