The Law

The Law
Bab 2


Barat dan Timur awalnya merupakan satu negara yang dipimpin oleh presiden. Awalnya hubungan mereka baik karena pemimpin mereka yang adil dan sangat menyayangi rakyatnya. Hingga terjadi perpecahan akibat adanya pengaruh dari seorang komunis yang kini mengambil alih wilayah Timur.


Oleh karena itu, semua orang yang bergabung ke wilayah Timur dianggap berkhianat karena telah mendukung pergerakan komunisme. Timur juga tak segan-segan mencuri informasi Barat dan mengubahnya sehingga negara lain akan lebih mendukung Timur daripada Barat.


Timbullah sebutan WOE atau Wind Of East yang artinya kode bahaya dari Timur. Kode ini sering diucapkan oleh anggota organisasi Barat untuk menandakan bahaya. Sedangkan SOW atau Sea Of West adalah kode bahaya dari Barat. Kode ini juga sering dipakai untuk menandakan bangsa Barat yang masuk ke wilayah Timur.


[Kembali ke permasalahan]


Napas Sherine tersengal-sengal setelah karung yang menutupi wajahnya dibuka. Nampak pemandangan yang aneh, ia berada di ruangan yang gelap.


Dari belakang seorang penjaga mendorong tubuhnya menuntun jalan.


"Dimana aku?"


Sang penjaga hanya diam tak menggubris pertanyaan Sherine.


Hingga cahaya terang dari lorong menyinari wajah Sherine, namun dibalik sinar yang menyilaukan ada siluet seorang pria yang berdiri tegap. Seketika Sherine berhenti menghadap pria itu.


"Kau orang Timur yang waktu itu." Ucap Sherine memicingkan matanya.


"Timur? Hah, jangan mengelak hidupmu sudah tidak lama lagi."


Penjaga pun membawa Sherine ke tempat terbuka dimana tempat tersebut merupakan lantai teratas dari gedung tinggi. Lexan menuntun tubuh Sherine ke sebuah tiang yang di tengahnya terdapat tali.


Sherine tertegun melihat sebuah tali yang menggantung berjarak selangkah lagi didepannya. Ia menenggak ludah, malaikat maut akan menjemputnya.


Lexan mendorong tubuh Sherine lebih dekat dengan tali, lalu memasangkannya di leher. Pria itu menepuk bahunya.


"Aku malas mengatakan ini kepadamu tapi- apa kau punya kata-kata terakhir?"


"A-aku masih tidak mengerti kenapa aku dieksekusi di bangunan Barat?"


"Maksudmu?"


"Sejak kapan Timur mendapat izin mengeksekusi seseorang di bangunan Barat?"


"Hei, justru kau yang bangsa Timur kan!?"


"A-apa maksudmu? aku orang Barat."


Lexan mendekatkan wajahnya ke telinga Sherine. "Sudahlah kau tidak bisa mengelak lagi, kematianmu sudah ada didepan mata."


"Kalian orang Timur tidak punya lencana resmi untuk ditunjukan kepada kami."


"T-tunggu sepertinya kau--"


Lexan menjatuhkan tubuh Sherine dari atas gedung. Dirinya tersenyum.


"Cih, dasar penghianat."


Lexan membalikan badannya.


"Tuan, talinya terputus!"


Sontak Lexan langsung menengok kebawah.


"Tidak mungkin talinya renggang."


Lexan meraba tali yang terpotong.


"Tali ini sengaja dipotong!"


"Apa!?"


"Kerahkan seluruh pasukan untuk memastikan jazadnya masih ada!"


"Baik!"


Mendengar hal tersebut Felix langsung menghampiri Lexan yang berjalan terburu-buru.


"Ada apa?!"


"Talinya terputus."


"Bagus lah, itu tujuan kita kan?"Tanya Felix bingung.


Lexan terhenti. "Tolong jangan bercanda ya...Yang kita bunuh adalah mata-mata Timur, bisa jadi dia lolos."


Sang penjaga memanggil Lexan. Saat Lexan mendekat.


"Sebuah kelapa?"


Kelapa dengan rambut palsu yang mirip dengan rambut Sherine.


"Dugaan ku benar."


Sebelumnya saat Lexan mendorong tubuh Sherine, lehernya tercekik dan hampir tak bisa napas. Untungnya Sherine menyelundupkan pisau kecil dan langsung memotong tali yang mengikat lehernya itu. Ia tidak mati. Ingat kan, Sherine bisa terbang dengan bantuan tali otomatisnya.


Sherine mendarat dengan sempurna. Sebagai bentuk penipuan, Sherine menaruh sebuah kelapa dengan rambut palsu yang persis mirip seperti rambutnya.


"Cih, dia pikir aku akan mati secepat itu, akan kutandai wajahnya kalau kita bertemu lagi." Ucapnya kesal.


Berita buruknya ia tidak bisa menyelamatkan berlian itu. Namun karena atasan yang menanggung jawab kasusnya itu baik, jadi Sherine dimaafkan. Namun sifat orang disekitarnya menganggap Sherine terlalu berlebihan, sehingga semua orang menatapnya sinis.


"Ayolah, mereka hanya tidak tahu apa yang kau lakukan. sudahlah jangan diambil hati." Ucap Elizabeth menyepelekan.


Sherine mendengus kesal mendengar sifat sekertarisnya tak berbeda dari orang-orang yang menatapnya sinis tadi.


"Kau hanya tidak tahu rasanya dituduh dan hampir dihukum mati."


"Hahahaha, baru kali ini Sherine Dawson mengeluh." Elizabeth tertawa terbahak-bahak sambil menitikkan air matanya.


"Oh, ya kau dapat misi baru."


"Apa misinya?"


"Kau harus membantu seorang pengacara yang mengurus kasus pembunuhan di rumah pejabat kaya itu."


"Oh– yang mana?"


"Masa kau tidak tahu!"


"Ada berita terbaru ya?"


"Huh, dasar. Ini." Sambil menyodorkan koran yang berisikan berita pembunuhan di rumah Thomson Hendrick.


"Pengacara itu membutuhkan bantuanmu, besok kau harus datang kesana ya."


"Baik, siapa nama pengacaranya?"


"Tuan Lexan Parker."


"Oh, bisa tolong berikan–"


"Tepat sekali."


Elizabeth memijat pelipisnya kesal.


Besoknya...


Sherine dan Elizabeth berangkat ke kantor Firma hukum menaiki mobil. Di jalan juga Elizabeth membicarakan latar belakang pendidikan Lexan dan terkenalnya dia.


Sherine hanya manggut-manggut mendengarkan penjelasan Elizabeth yang rinci namun membosankan.


Sampai akhirnya mereka sampai di kantor Firma hukum. Tempatnya sangat ramai, tapi mereka tidak tahu kalau SEA berada di sana. Yap, siapa lagi kalau bukan Sherine.


Elizabeth mengetuk pintu ruangan pengacara yang akan menjadi partner Sherine.


"Permisi."


"Masuklah Elizabeth." Felix membuka pintu itu ramah.


Sherine memuji ruangan Lexan yang rapi dan dominan warna putih. Namun, amat terkejutnya Sherine saat melihat wajah yang waktu itu ia tandai.


Ia tertegun melihat seseorang yang kemarin mencoba membunuhnya. Begitupun dengan orang yang ditatap, wajah Lexan berubah drastis hingga dirinya beranjak dari duduknya.


Sherine keluar dari ruangan itu sambil menarik tangan Elizabeth.


"Hei, kenapa kita keluar?"


"Kau serius, dia Lexan?!"


"Iya, siapa lagi. Makanya dong baca berita!" Ucapnya sambil menarik tangan Sherine kembali ke ruangan, namun Sherine menahannya.


"Yang benar saja, bisa-bisanya aku bertemu dengannya lagi"


"Maksudnya? Oh kalian sudah pernah bertemu ya! Bagus kalau begitu."


Elizabeth menarik tangan Sherine paksa hingga memasuki ruangan.


Disisi lain juga Lexan tak kalah hebohnya dari Sherine, ia juga memarahi Felix saking tak percayanya.


"Yang benar saja, aku akan bekerja sama dengannya?!"


"Tentu saja, dia kan SEA. Seperti yang kau mau tuan"


Lexan mengusap wajahnya kasar. "Kau tahu dia itu orang yang waktu itu hampir kita bunuh!" Bisik Lexan.


Felix kaget tak percaya. "S-serius." Lexan mengangguk.


"Lalu bagaimana ini!?"


"Batalkan kontraknya!"


"Masalahnya– Elizabeth sudah menandatangani kontraknya dan sudah tidak bisa– dibatalkan, hehe." Mendengar itu Lexan makin gusar, bagaimana dia bisa menjalin hubungan baik dengan Sherine setelah apa yang dia lakukan.


"Apa SEA itu seorang pemaaf?"


"Entahlah, kurasa orang yang sabar pun kalau dituduh dan hampir dibunuh karena salah paham– pasti dia tak akan memaafkan mu secepat itu."


"Lalu, bagaimana sekarang!?"


"Maaf ya membuat kalian menunggu" Ucap Elizabeth yang berdiri di depan pintu sambil menggenggam tangan Sherine.


"Oh, t-tidak masalah. Maksudku silakan masuk." Ucap Felix kikuk.


"Tenang saja, hadapi dengan santai apapun yang terjadi–" Bisik Felix.


"Apa?"


"Ya sudah, itu nasibmu." Lexan berharap Felix memberinya ketenangan tapi malah membuatnya semakin gusar, ditambah lagi Sherine yang tiada hentinya menatap mereka dengan tatapan sinis.


"Baiklah tuan-tuan, apa sudah selesai berbincangnya?" Tanya Elizabeth.


"Ya kami sudah selesai." Jawab Felix semakin kikuk.


"Baik, aku sudah menandatangani kontrak kerja kita, tuan Lexan dan detektif terbaik kami, Sherine. Aku harap kita bisa bekerja sama dengan baik, iya kan Sherine?" Elizabeth menyenggol lengan Sherine yang sedari tadi menatap kedua manusia kikuk.


"Ya."


"Bagus." Elizabeth kembali menatap Sherine yang sangat tidak fokus dengan pertemuan ini.


"Hei, apa yang kau lakukan. Jabat tangannya!" Bisik Elizabeth.


"Hah?"


Dengan terpaksa Elizabeth mengambil tangan Sherine agar berjabat tangan dengan Lexan.


"Oh ya ampun Elizabeth, harusnya kamilah yang mengatakan itu– maksudku ucapan selamat datang. Hei ayo jabat tangannya!"


Sherine berdeham. "Sherine Dawson, senang bertemu denganmu." Ucap Sherine dingin.


Lexan pun membalas jabat tangan Sherine. "Lexan Parker."


"Mohon kerja samanya, tuan Parker dan Sekertarisnya– tuan Felix." Ucap Sherine yang wajahnya mulai tenang.


"K-kami juga nona Dawson."


"Sherine saja."


"Oh baik, kalau begitu panggil aku Felix dan panggil saja dia Lexan."


"Felix, tolong rahasiakan kalau kalian bekerjasama dengan SEA. Tidak boleh ada orang yang tahu."


"Beres."


"Baiklah kita sudahi hari ini, aku harap Sherine dan tuan Lexan bisa menjadi rekan yang baik." Ucap Elizabeth.


"Aku harap juga begitu." Ucap Felix.


Percakapan itu berakhir setelah Sherine menandatangani kontrak kerja mereka. Pada saat itu pun Lexan dan Felix merasa lega.


"Sepertinya SEA belum memaafkan kita." Ucap Felix gelisah.


"Kenapa harus takut? kita tuan rumah disini, dia yang harus menurut pada ku."


"Kau tidak boleh kasar padanya, Lexan. Perlakuanmu pada wanita sangat sensitif. Bahkan nona Jane saja tidak kuat menghadapi orang sepertimu."


"Jane itu lemah, tapi kurasa dia boleh juga."


"Maksudmu?"


"Lihat saja nanti."