
Suasana sejuk pagi hari terasa sangat menusuk. Arumeey bangun dan membuka jendela kamarnya, pemandangan berkabut menyapanya dari luar. Langit terlihat begitu muram, seakan ingin menumpahkan air yang sangat banyak.
"Uhuk uhuk"
Terdengar suara batuk yang begitu serak dari arah luar. Arumeey tersentak dari lamunannya. Ia segera bangkit dan merapikan topengnya di depan sebuah cermin kusam yang ada di kamarnya.
Arumeey berjalan cepat dan membuka pintu. Terlihat raja Shaka yang sudah siuman dan sedang mencoba untuk bangkit. Melihat itu, Arumeey segera berlari ke arahnya dan menghentikan tubuh raja Shaka yang tengah berusaha bangkit.
"Berbaring lah dahulu. Lukamu sangat parah. Kau jangan banyak bergerak"
Raja Shaka menatap lekat wajah Arumeey yang hanya berjarak dua jengkal saja dari dirinya. Dengan cepat Arumeey tersadar dan bergerak mundur. Raja Shaka mungkin saja terkejut karena wajahnya sekarang seperti monster.
"Kau siapa?" suaranya terdengar lemah namun tegas.
"A-aku Hazzel. Kau sekarang berada di rumahku" Arumeey mencoba menyembunyikan identitasnya.
"Berbaringlah dahulu. Aku akan membuatkan sup untukmu" Raja Shaka segera memalingkan wajahnya dari Arumeey. Ia berbaring dengan tatapan kosong.
Arumeey segera beranjak ke dapur meninggalkan nya sendiri.
"Kenapa aku jadi tergagap. Ini rumahku. Kenapa aku harus merasa segan dengannya" gerutu Arumeey sambil menyiapkan sup bawang putih.
Aroma sup yang sangat lezat segera merambat hingga ke hidung yang Mulia Raja. Perutnya yang kosong meronta ronta minta segera di isi.
Tidak berapa lama, Arumeey muncul dengan membawa nampan yang berisi nasi, sup, air putih dan secangkir obat. Iya meletakkannya di atas meja yang berada di samping raja Shaka.
Raja Shaka kembali mencoba untuk duduk, namun dengan sigap Arumeey mencegahnya.
"Jangan habiskan tenaga anda tuan. Aku akan membantumu makan."
Raja Shaka tampak menurut dengan tatapan tajam yang terus menatap Arumeey. Arumeey merasa sedikit tidak nyaman dengan tatapan itu.
"Jangan menatap ku seperti itu tuan. Apakah kau merasa tidak nyaman dengan wajahku?"
Raja shaka menyunggingkan sebuah senyuman sinis dan kemudian mengalihkan pandangannya. Arumeey menunjukan wajah yang sedikit kesal terhadap reaksi raja Shaka. Suapan demi suapan mulai masuk kedalam mulut raja Shaka. Ia makan dengan lahap seakan akan sudah lapar sejak setahun lalu.
Satu mangkuk sup berhasil masuk ke dalam perut raja Shaka, Arumeey mengambil cangkir yang berisi obat dan menyuapkannya ke mulut raja Shaka.
"Apa ini?. Kau ingin membunuhku?" Ia segera menepisnya ketika rasa pahit menyentuh lidahnya.
"Jika aku ingin membunuhmu, untuk apa aku bersusah payah membawa mu kemari!. Minumlah. Jika kau ingin hidup dan segera pulih!" jawab Arumeey dengan ketus.
"Apakah kau tahu siapa aku?" selidik raja Shaka.
"Tentu saja aku tahu. Kau adalah tuan sekarat yang keras kepala!" Arumeey berpura pura tidak mengenalinya.
"Kau benar benar lancang" dengan wajah kesal Ia terpaksa meneguk obat yang disodorkan oleh Arumeey.
"Sudah berapa lama aku tertidur?"
"Kau tidak sadarkan diri selama hampir dua bulan"
"Apa??? Kau bercanda!" dengan mata terbelalak raja Shaka tentu saja tidak percaya dengan apa yang didengar nya saat ini.
"Beristirahat lah. Kau harus segera pulih dan pergi kemanapun asal bukan rumah ku" Arumeey bangkit dan membawa semua piring kotor.
"Kau!" raja Shaka kesal dengan sikap tidak hormat dari nona buruk rupa yang ada di hadapannya.
Setelah membersihkan semua piring kotor, Arumeey ingin mencari udara segar di luar rumah. Dia merasa tidak nyaman berada satu rumah dengan raja Shaka yang sudah siuman.
Saat melewati raja Shaka, Arumeey sempat melirik pria itu sekilas. Tampak raja Shaka terbaring dengan tatapan kosong.
Dia segera berjalan melewatinya. Baru saja ia membuka pintu, angin kencang serta hujan yang lebat seakan menyuruhnya untuk tetap berada di tempatnya.
"Sial. Kenapa harus turun hujan saat aku butuh keluar rumah" gerutu Arumeey dalam hatinya.
"Tentu saja. Kau tidak lihat?" Arumeey yang memang tidak menyukai raja Shaka sedikit merasa aneh harus bicara dengannya.
"Jika kau tahu siapa aku, mungkin kau akan melembutkan suara mu"
"Bersyukurlah kau masih hidup tuan. Jangan terlalu menyanjung diri sendiri"
Mereka terdiam sejenak. Namun Arumeey yang sebenarnya penasaran dengan peristiwa yang menimpa raja Shaka akhirnya memutuskan untuk mecoba menanyainya.
"Tuan, sebenarnya apa yang terjadi pada mu?" tanya Arumeey setelah duduk di samping tempat tidur raja Shaka.
Raja Shaka melirik sekilas wajah Arumeey yang antusias.
"Kau tidak perlu tau itu, nona" jawabnya tidak ingin Arumeey mencampuri urusan nya.
"Kau ini!. Sudah hampir mati pun masih bersikap angkuh!"
"Kau!. Uhuk uhuk uhuk"
Arumeey segera mengambil segelas air putih dan meminum kan ke mulut raja Shaka.
"Kau baik baik saja?, apakah sakit?" Arumeey merasa sedikit khawatir melihat tubuh raja Shaka yang lemah tak berdaya.
Raja Shaka hanya diam dan menutup matanya.
"Baiklah. Sebaiknya kau istirahat saja. Aku tidak akan bertanya lagi" Arumeey bangkit dan meninggalkan raja Shaka beristirahat sendirian.
Hujan mulai reda. Suasana sejuk masuk dari segala celah. Arumeey bersiap siap untuk turun ke kota.
Dengan kuda hitam yang tangguh, Arumeey tiba di kota taraka dengan cepat. Saat memasuki pasar, Arumeey segera menuju ke tokonya. Ishika tampak sedang merapikan barang barang.
"Nona, berikan beberapa obat luka"
Ishika tampak menatap sekilas wajah Arumeey yang sedikit mengerikan, lalu Ia mulai mengambil beberapa obat obatan. Arumeey melihat lihat beberapa obat obatan lainnya.
"Nona. Apa ada lagi yang nona inginkan?. Jika sudah tidak ada, saya hendak menutup toko" ucapnya dengan sopan.
"Tutup. Bukankah ini masih terlalu siang!"
"Nona. Kau sungguh tidak tahu?. Setelah tengah hari, semua kegiatan harus dihentikan pada hari ini"
"Apa ada yang terjadi?"
"Kau benar benar tidak tahu?" Ishika sedikit terkejut dengan sikap Arumeey yang tidak tahu apa apa.
"Ada apa?. Apa yang sedang terjadi di kota ini?" tanya Arumeey mencoba mendapatkan informasi dari Ishika.
"Yang mulia raja Shaka akan dimakamkan sore ini. Semua orang akan ikut berduka di seluruh penjuru negeri. Tidak berapa lama lagi iring iringan peti jenazah akan melewati jalanan utama. Semua orang akan memberikan penghormatan terakhir padanya" terang Ishika.
"Apa??. Raja Shaka mati?. Bagaimana mungkin!" Arumeey sangat terkejut dengan yang didengarnya.
"Benar nona. Dan apakah kau tahu? Orang yang membunuhnya sekarang sedang diburu di seluruh negeri."
"O-orang yang membunuhnya?. Siapa?"
"Lihat saja papan pengumuman di belakang mu!" tunjuk Ishika pada sebuah papan yang ada di belakang Arumeey.
Arumeey membalikkan tubuhnya dan sangat terkejut dengan apa yang sedang ditangkap oleh matanya. Dia seakan tidak dapat percaya dengan semua yang sedang terjadi, dia juga masih belum mengetahui siapa di balik semua permainan itu.
"Hadiah yang fantastis bukan?" Ishika membuyarkan lamunannya.
"Dengan hadiah sebesar itu, aku yakin semua orang tidak akan segan segan membawa kepala gadis malang itu ke istana!"
bersambung..