The Beast Beauty

The Beast Beauty
BAB 37. Seperti Anjing dan Kucing


Pangeran ke dua melangkah dengan cepat menuju kediaman utama yang ada di istana Hwangguna. Dia tidak percaya bahwa gadis yang sangat Ia cintai kini sedang diburu oleh semua orang yang ada di negeri itu.


Sesampai di depan kediaman raja, pangeran kedua segera menerobos masuk, seakan tidak melihat ada penjaga yang sedang berjaga di depan pintu.


"Yang mulia raja sedang istirahat." kasim Shohun menghentikan langkah pangeran kedua.


"Dia beristirahat? Katakan padanya aku ingin menemuinya!"


"Maaf pangeran, sebaiknya anda--"


"Biarkan dia masuk!" terdengar suara raja Shaka memotong perkataan kasim Shohun dari dalam kediamannya.


Para penjaga membukakan pintu untuk pangeran kedua.


Pangeran kedua melangkah masuk setelah pintu berukiran emas itu bahkan belum terbuka lebar. Raja Shaka tampak duduk sambil menikmati aroma bunga kwasoh yang di panaskan di dalam sebuah cawan kecil.


"Apa yang kau inginkan?" tanpa basa basi raja Shaka memulai pembicaraan.


Pangeran kedua duduk berhadapan tanpa dipersilakan terlebih dahulu.


"Yang mulia. Tindakan mu saat ini sangat berlebihan. Kau akan membahayakan istana hanya untuk mencari seorang gadis." dia memberi ucapan tegas dengan menatap wajah raja Shaka yang terlihat cuek dengan kehadiran pangeran kedua.


"Apakah kau sudah tidak punya tugas lagi? Kenapa kau sangat suka mencampuri urusan ku!"


"Yang mulia. Aku berhak atas keamanan istana ini--"


"Heh.. Kau sebaiknya tetap diam dan tidak bertindak seperti seorang pahlawan. Kau lupa? Kau tidak memiliki lencana utama. Jadi sebaiknya kau tidak ikut campur dengan keamanan istana." raja Shaka tidak memberikan kesempatan untuk pangeran kedua menyelesaikan kalimatnya.


Pangeran kedua menahan amarahnya. Dia tidak ingin bertindak gegabah, raja Shaka bisa saja bertindak lebih bodoh lagi. Suasana di ruangan itu terasa sangat tidak mengenakan. Beberapa detik kemudian kasim Shohun berteriak dari luar.


"Ibu suri datang menemui yang mulia Raja"


Dua orang yang bersitegang itu mulai mencair ketika pintu terbuka dan terlihat sesosok wajah yang teduh berada dibalik pintu berukiran emas itu.


"Kalian berdua ada di sini?" Ibu suri tidak menyangka melihat kedua putranya berada di tempat yang sama, Ia juga jadi penasaran apa yang sedang mereka bicarakan.


"Silakan duduk ibu" pangeran kedua bangun dan memegang tangan ibu suri.


"Ibu, apa yang membawamu ke sini?" raja Shaka penasaran dengan kedatangan ibunya.


"Anak ku apakah kau benar benar mengirim setengah pasukan untuk mencari gadis itu?"


"Ibu. Aku sudah mengirim mereka. Ibu jangan khawatir. Gadis itu akan segera ditemukan dan para prajurit akan segera kembali mengisi tempatnya"


"Tapi anak ku. Kenapa kau sangat ingin mencari gadis itu?. Aku bisa mencarikan gadis yang lebih baik lagi untukmu!"


Pangeran kedua seketika menatap raja Shaka, seakan sedang menunggu sebuah jawaban. Ia juga sangat penasaran kenapa raja Shaka sampai sedemikian ingin memiliki Arumeey.


"Ibu. Gadis itu sudah lancang. Dia juga menyerang ku. Aku ingin memberinya pelajaran!"


Mendengar jawaban raja Shaka membuat dada pangeran kedua memanas.


"Kau bertindak berlebihan yang mulia. Dia hanya seorang gadis--"


"Aku tidak meminta pendapat mu" raja Shaka tidak ingin mendengarkan pangeran kedua, dia segera memotong kalimatnya.


"Kau jangan berani menghalangi aku. Atau kau akan menerima akibatnya. Aku tidak perduli kau siapa. Akan aku hancurkan siapapun yang menghalangi aku" ucap raja Shaka yang dibuat marah dengan ucapan pangeran kedua.


Mereka berdua saling adu mulut dihadapan ibu suri.


"Hentikan pertengkaran kalian wahai anakku. Kenapa kalian tidak pernah bisa akur?"


"Ibu. Kau lihat sendiri kan. Dia sangat iri dengan posisiku. Itu yang membuatnya tidak pernah bisa akur denganku!"


Mendengar penuturan raja Shaka membuat langkah pangeran kedua terhenti. Darahnya mendidih karena emosi yang meluap.


"Aku tidak pernah berfikir untuk memiliki posisi mu. Aku hanya tidak suka dengan kebodohanmu. Hanya karena keegoisan mu, kau telah meletakkan istana dalam bahaya. Aku sendiri yang akan mencari gadis itu. Jika benar dia melakukan kesalahan, dia berhak menerima hukuman sesuai kesalahan yang dilakukannya" pangeran kedua melangkah keluar tanpa melihat ke belakang.


Setelah keluar dari kediaman utama raja shaka, pangeran kedua seakan kembali bisa bernafas dengan lega. Dia yang selama ini sangat membenci kakaknya kini menjadi semakin bertambah membencinya.



"Arumeey. Kau dimana?. Maafkan aku. Aku bahkan tidak memberikan kesempatan untukmu menjelaskan semua yang terjadi diantara kita. Kini aku sendiri yang menyesali tindakanku. Aku sungguh sangat menyesali keegoisanku" setetes embun tidak terasa jatuh dari matanya. Pangeran kedua sangat menyesali tindakannya yang telah mengabaikan Arumeey.


Sementara itu Raja Shaka menahan emosi di depan ibu suri. Ia mengepalkan kedua tangannya dan tak terima jika pangeran ke dua ikut campur dengan urusan Arumeey.


"Ibu, aku akan mengantar mu ke kediaman mu. Kau harus istirahat"


Raja Shaka membawa ibu suri kembali ke kamarnya. Ibu suri hanya menurut dengan raut wajah muram. Ia sangat sedih melihat kedua putranya tidak pernah akur. Sejak kecil, belum pernah sekali pun mereka terlihat akur dan saling merangkul.


Setelah mengantar ibu suri pulang, raja Shaka memanggil pengawal pribadinya untuk menghadap padanya.


"Awasi dan ikuti pangeran kedua. Jangan sampai Ia mendapatkan gadis itu!" perintahnya pada pengawal Yungsha.


"Baik yang mulia. Kami akan terus mengawasi pergerakan pangeran kedua." kedua pengawal pribadinya meninggalkan raja Shaka dan mulai mengawasi pangeran kedua.


..........................


Arumeey berjalan dengan hati hati dan waspada, dia sangat takut jika ada yang mengenalinya. Dengan selendang berwarna hitam Arumeey menutupi wajahnya sedikit agar tidak ada yang mengenalinya. Beberapa kali dia bertubrukan dengan orang orang yang lalu lalang ditengah pasar utama kota taraka.


"Hey nona. Kau ini!. Perhatikan langkahmu" bentak seorang pria berjanggut tatkala Arumeey menabrak tubuhnya.


"Maaf tuan. Aku terburu buru"


"Hey, sepertinya aku pernah melihatmu" orang itu tampak curiga dengan wajah Arumeey.


"Anda salah mengenali orang tuan. Maaf saya sedang terburu buru" Arumeey segera melangkah pergi meninggalkan orang itu. Dia sangat takut kalau kalau orang itu mengenalinya.


"Hey. Kau lihat gadis itu, bukan kah dia terlihat mirip dengan gadis yang sedang diburu oleh raja" bisik pria itu pada pria yang ada disebelahnya.


"Aku rasa kau salah orang. Gadis itu berambut coklat. Sedangkan gadis yang diburu raja memiliki rambut yang berwarna pirang"


"Ya, kau benar. Mari kita pergi"


Arumeey merasa sedikit lega. Namun dia tetap merasa tidak aman.


Arumeey segera mengambil kudanya dan segera meninggalkan kota Taraka. Setelah melewati desa dan hutan, Ia akhirnya sampai di rumahnya.


bersambung lagi... jangan lupa baca kelanjutan nya ya....