The Beast Beauty

The Beast Beauty
BAB 1. Gadis Berambut Pirang


"Arrrggh"


Suara jeritan seorang gadis menggema di ujung sebuah bukit, membuat burung burung yang ada di sekitar nya terbang menjauh, Matanya yang indah masih tertutup dengan air mata. Di tengah malam yang buta dia masih terisak seakan tidak bisa menerima takdir. Bulir bulir air mata seakan siap jatuh dari matanya yang sembab. Sudah lewat tengah malam namun Ia tidak beranjak masuk.


" Dasar manusia kejam, Terkutuk kalian semua" Sumpah serapah terus keluar dari bibirnya yang merah merona.


"Tak ... Tak... Tak" hantaman demi hantaman terus mendarat pada sebuah kayu besar yang biasa ia gunakan untuk berlatih. Keringat bercucuran membasahi tubuhnya di tengah malam yang sangat dingin.


Gadis itu baru saja kehilangan seseorang yang sangat berharga dalam hidupnya.


Nenek Maepong, Orang yang paling berjasa dalam hidupnya harus meregang nyawa karena penyakit langka.


Beberapa bulan terakhir gadis cantik itu telah berkeliling ke sana kemari untuk mencari pengobatan untuk sang nenek, Namun karena penyakit langka yang dideritanya, tak ada satu pun tabib yang bisa menolongnya.


Dia yang juga seorang tabib sebenarnya mampu membuat obat untuk sang nenek, namun ada dua jenis ramuan yang hanya bisa didapatkan di dalam istana. Namun sayangnya dia dan neneknya hanyalah orang biasa yang tidak mungkin diizinkan untuk masuk dan mendapatkan pengobatan di istana. Selain itu, konflik antara dirinya dengan sang kekasih, membuat Ia kesulitan memasuki istana.


Dia kembali mengingat bagaimana kebengisan prajurit penjaga istana saat mengusir dirinya yang ingin meminta pertolongan. Dia mengepalkan tangannya seakan ingin segera membalas dendam.


Bulan purnama kembali bersinar terang saat awan hitam berlalu pergi, kini wajah cantik yang masih dibasahi air mata terlihat jelas di bawah sinar bulan, Rambut panjangnya yang berwarna pirang seakan bersinar ditengah kegelapan malam.


Dialah Arumeey, gadis berambut pirang yang hidup di atas bukit, jauh dari perkampungan. Dia sudah hidup di sana sejak berusia delapan tahun, tepat setelah kedua orang tuanya terbunuh. Nenek Maepong merawat dan melatihnya sehingga menjadi wanita yang sangat tangguh.


Di usianya yang ke 16 tahun Nenek Maepong berhasil memasukkan Arumeey ke perguruan tinggi Hwangguna. Tentu saja itu bukan hal yang mudah, mengingat latar belakang keluarganya. Nenek Maepong harus mencari cara agar cucunya diterima menjadi salah satu murid di perguruan tinggi itu.


Setelah Berhasil masuk ke perguruan tinggi, Arumeey harus meninggalkan sang nenek yang sudah tua hidup seorang diri di atas bukit yang jauh dari perkampungan. Arumeey berkali kali menolak keinginan sang nenek, namun nenek bersikeras agar cucunya mau menempuh pendidikan agar menjadi orang yang berguna suatu hari nanti.


Di balik wajahnya yang Anggun Arumeey menyimpan ketangguhannya, selama ini dia hidup dan berlatih dengan keras, Arumeey mampu bertarung dengan menggunakan pedang dan juga mampu memanah sambil berkuda. Keahlian utamanya adalah memanah. Dia sangat giat berlatih karena berniat membalaskan dendam untuk kematian orang tuanya yang sampai saat ini masih menjadi misteri.


Dua belas tahun yang lalu, Arumeey dan ke dua orang tuanya tinggal di sebuah kota kecil yang dekat dengan istana. Ayah dan ibunya Adalah tabib kepercayaan raja Hwangguna.


Pada suatu malam yang kelam tanpa sinar bulan, ketika semua orang sudah terlelap, terjadi pertumpahan darah di rumah yang ditempati oleh Arumeey dan ibu bapa nya. Suara berisik dari orang yang sedang bertarung membuat Arumeey terbangun dari tidur nyenyak nya. Dia segera turun dari ranjangnya dan melihat apa yang terjadi.


Dari celah pintu Arumeey menyaksikan beberapa orang tengah bertarung dengan kedua orang tuanya yang tentu saja bukan lawan yang seimbang bagi kedua orang tua Arumeey. Arumeey yang ketakutan hanya bisa menangis di balik pintu.


Arumeey berjalan seorang diri di tengah malam gelap gulita. Dia kembali mengingat apa yang telah ia saksikan. Dia tidak tahu siapa orang orang itu, dia hanya melihat sebuah simbol seperti kepala burung elang yang terbuat dari benang bewarna merah.


Arumeey berjalan hingga Ia merasa sangat lelah, Anak perempuan berusia delapan tahun berjalan sendirian di tengah gelap nya malam. Di sisi lain, para penjahat terus memburunya.


Arumeey berhasil menemukan sebuah pohon besar, dia yang kelelahan memutuskan berdiam di balik pohon itu. Dengan matanya yang masih basah Arumeey pun tertidur lelap.


Ketika matahari mulai menyapa wajahnya, Arumeey terbangun dari mimpi buruknya. Dia kembali mengayunkan langkahnya menuju ke sebuah bukit untuk menemui satu satunya keluarganya yang tertinggal.


Sesampainya di kaki bukit, Arumeey mulai merasakan nyeri pada kedua kakinya. Matahari sudah berada tepat di atas kepalanya. Perutnya pun mulai meminta diisi meskipun sebenarnya ia telah kehilangan selera makanya. Di saat tubuhnya mulai melemah, Arumeey kehilangan keseimbangannya hingga terjatuh dan tak sadarkan diri.


Ketika Dia membuka mata, dia sadar dia telah berada di sebuah rumah, Yang tak lain adalah rumah nenek Maepong, ibu dari Ayahnya.


Setiap hari ia habiskan dengan berlatih. Nenek Maepong adalah petarung handal di masa mudanya.


Mulai dari hari itu Arumeey tidak pernah kembali ke kota hingga dia berusia enam belas tahun.


Saat pertama kalinya Arumeey kembali ke kota, Ada kepedihan yang terlihat jelas di raut wajahnya yang anggun. Gadis berambut pirang itu masih mengingat apa yang terjadi pada kedua orang tuanya. Hiruk pikuk dan lalu lalang orang orang tidak terlewatkan dari pandangannya yang terus berusaha mencari siapa orang yang telah melakukan kekejian itu.


Dia bertanya tanya siapa gerangan dan apa arti simbol dari elang merah itu, Bahkan Nenek Maepong pun tidak tahu menahu tentang simbol itu.


Dia masih ingat di mana letak rumahnya. Dia berjalan menyusuri kota yang berada tidak jauh dari istana. Melewati keramaian pasar yang berada di pusat kota sehingga sampailah ia di depan sebuah rumah tua yang terlihat suram dan tidak terawat. Ya, itulah rumah yang menjadi saksi bisu tragedi di malam itu, malam yang tidak akan pernah ia lupakan.


Dia mencoba membuka pintu yang ternyata tidak terkunci. Arumeey melihat ke segala sudut bangunan yang sudah mulai penuh dengan sarang laba laba. Dia terlihat sedang mencari sesuatu.


Dia masuk ke bilik kedua orang tuanya, semua barang terlihat berantakan dan sebagian sudah rusak dimakan rayap. Dia menatap langit langit rumah dan mencoba memanjatnya, sesampai di atas dia melihat sebuah kotak dan segera membukanya. "Ternyata masih ada" gumamnya. Dia segera memasukkan kotak itu kedalam tas kain yang ia bawa.


Setelah keluar dari rumahnya Arumeey membeli beberapa keperluan untuk memulai hidup di Asrama perguruan tinggi Hwangguna.


tbc...