The Beast Beauty

The Beast Beauty
BAB 22. Pohon Suci Paveera


Arumeey kembali ke perguruan tinggi Hwangguna dengan hati yang di selimuti awan hitam. Kesedihan nya karena perubahan pangeran kian terasa menyakitkan, kini ditambah lagi dengan sakitnya nenek Maepong.


Arumeey menyimpan sampel darah nenek Maepong di dalam lemarinya. Dia akan menelitinya nanti. Sebenarnya ia sangat malas masuk ke ruang racik karena harus bertemu dengan guru Ang, namun dia harus melakukannya karna harus meneliti darah nenek Maepong.


............


Hari ini ujian pertama akan dilangsungkan. Arumeey mencoba untuk tetap semangat demi neneknya.


Satu persatu pertanyaan berhasil ia jawab. Setelah semua mata ujian berhasil ia lewati, Arumeey keluar dari ruangan ujian. Saat berada di depan ruang ujian langkah Arumeey seketika terhenti.


Di hadapannya ada orang yang sangat ia rindukan. Hati Arumeey terasa panas. Ingin rasanya ia menghambur dan memeluk Pangeran yang ada di depannya saat ini. Pangeran ke dua juga menatapnya sesaat sebelum terus melangkah mengabaikan Arumeey.


Kepala tabib istana yang berjalan beriringan dengan pangeran memberikan sebuah senyuman yang mengejek Arumeey.


Ketika pangeran melewati dirinya, air mata Arumeey mengalir membasahi pipinya yang lembut. Rasa sesak di dadanya kian terasa menyakitkan. Arumeey menoleh ke belakang berharap kekasihnya juga melakukan hal yang sama. Namun pangeran hanya berlalu begitu saja.


Arumeey tidak dapat menahannya lagi. Dia berlari ke asrama anggrek putih dan menghempaskan tubuhnya ke atas kasurnya. Arumeey menangis tersedu sedu. Sakit sekali. Apa yang ia rasakan saat itu begitu sakit.


...................


"Lihatlah laporan tahunan ini yang mulia. Ada tujuh puluh murid yang akan lulus tahun ini" ucap guru besar Hongdang seraya menyerahkan buku laporan tahunan.


Pangeran kedua hanya melihat buku itu dengan tatapan kosong. Pikirannya dipenuhi oleh gadis yang baru saja ia abaikan. Dia bertanya tanya kenapa hatinya terasa sakit sekali ketika ia mengabaikan Arumeey.


"Ada Dua puluh murid dari jurusan obat obatan. Jurusan itu yang paling banyak lulus tahun ini" lanjut guru besar Hongdang.


Pangeran ke dua segera menutup buku itu tatkala matanya membaca sebuah nama tertera di situ. Sebuah nama yang telah menghancurkan hatinya berkeping keping. Dadanya terasa sesak karena menahan sakitnya dikhianati.


"Aku ingin melihat laporan itu" ucap Kepala tabib istana.


Guru besar Hongdang menyerahkan buku itu pada Kepala tabib istana.


Setelah membuka beberapa lembar, Kepala tabib istana menutup buku itu dan meletakkannya di atas meja.


"Bukankah terlalu cepat memastikan mereka semua lulus?"


"Para murid telah mendapatkan semua penilaiannya nyonya. Ujian akhir ini hanya untuk mengisi nilai untuk mendapatkan murid terbaik" jawab guru besar Hongdang.


"Baiklah. Ini sudah aku stempel. Aku harus kembali ke istana" ucap Pangeran kedua.


Pangeran ke dua segera pergi meninggalkan perguruan tinggi Hwangguna.


...............


Arumeey bangkit dari tempat tidurnya sambil mengusap air matanya. Dia pergi meninggalkan perguruan tinggi Hwangguna. Arumeey menyewa sebuah kuda dan menungganginya menuju pohon suci paveera.


Arumeey segera turun dari kudanya setelah ia sampai di paviliun pohon paveera. Tidak banyak orang yang datang hari ini. Hanya terlihat beberapa orang di sana.


Arumeey berjalan mendekat ke tempat pohon suci itu. Bunga bunga kecil terlihat menutupi ranting ranting pohon besar itu.


"Kau berjanji akan melihat bunga paveera bermekaran bersamaku. Tapi dimana kau sekarang? Kau tidak ada di sini." ucap Arumeey dengan wajah mendung seraya mencium aroma harum yang dipancarkan oleh bunga pohon paveera.


Arumeey melihat benang biru yang pernah ia ikat di sana. Air matanya tumpah tak tertahankan. Dia berjalan mendekat ke ranting itu. Semua kenangan dari tahun lalu kembali memenuhi pikirannya.


"Kau telah berjanji tidak akan mencampakkan aku. Tapi mengapa sekarang kau terasa menjadi orang asing bagiku" Arumeey terisak di bawah indahnya pohon paveera. Dia duduk menangis sambil memeluk lututnya.


Pohon yang sangat besar itu memberikan ruang untuknya bersembunyi dan menangis. Yang tidak di ketahui Arumeey bahwa di balik pohon itu ada seorang pria yang juga sedang bersemayam dalam kesedihannya. Pangeran ke dua Hwangguna duduk bersandar pada pohon besar itu seraya memandang setangkai bunga paveera yang baru saja ia petik.


Keduanya tidak menyadari kehadiran satu sama lain. Dua hati yang sama sama terluka tengah berteduh di dua sisi pohon yang berlawanan. Pohon suci paveera hanya menjadi saksi bisu dari tangisan kerinduan yang sama sama dirasakan oleh dua hati itu.


....................


Malam harinya Arumeey bersiap siap untuk pergi ke ruang racik. Dia mengambil sampel darah nenek Maepong dan memasukkan nya ke sakunya.


"Kanayan. Kau sedang apa?" tanya Arumeey pada gadis cantik yang sedang duduk di atas tempat tidur nya.


"Aku hanya sedang menghayal Arumeey. Ada apa?"


"Apa aku mengganggu mu?" tanya Arumeey.


"Tentu saja tidak Arumeey. Aku bisa menghayal lagi nanti. Ada apa? Apa kau butuh sesuatu?" Tanya Kanayan penuh selidik.


"Sebenarnya aku ingin mengajakmu untuk menemaniku, jika kau tidak keberatan?"


"Menemanimu? Kemana?"


"Ke ruang racik. Ada yang harus aku teliti" ucap Arumeey.


"Kau ini aneh sekali. Bukankah kau sudah terbiasa pergi sendiri ke ruang racik. Tapi baiklah.. Aku akan menemanimu. Hitung hitung cuci mata" ucap Kanayan sambil menggosok gosokkan tangannya.


"Cuci mata? Apa kau sedang sakit mata?" tanya Arumeey penuh kepolosan.


"Ckk. Arumeey. Itu hanya kalimat kiasan. Aku akan menemanimu agar bisa bertemu dengan guru Ang yang tampan itu" ucapnya.


Arumeey terdiam sebentar.


"Baiklah. Terserah kau saja. Cepat ganti pakaianmu" ucap Arumeey


Kedua gadis itu melangkah menuju ruang racik perguruan tinggi Hwangguna. Sesampainya di ruang racik tampak beberapa orang sedang mengerjakan tugas di sana. Arumeey bersyukur karena dia tidak sendirian.


Guru Ang menatapnya ketika ia melangkah masuk ke dalam. Arumeey mencoba sebisa mungkin untuk menghindari tatapan itu.


Sesampainya di sebuah meja. Arumeey segera mengambil alat yang ia butuhkan.


"Aku rasa guru Ang tidak melepaskan tatapannya dari mu Arumeey" ucap kanayan setengah berbisik.


"Aku tidak perduli Kanayan. Aku hanya akan melakukan ini dengan cepat" jawab Arumeey seraya mempersiapkan alat itu.


"Kau ini. Jangan terlalu cuek begitu. Kecuali kau sudah pacaran dengan seorang Pangeran. Kau boleh bersikap cuek" ucap Kanayan dengan mulut cemberut.


Arumeey menghentikan tangannya ketika mendengar kata Pangeran. Dia sedih. Namun berusaha mengabaikan nya. Dia kembali sibuk dengan alat itu.


Arumeey mengambil sampel darah nenek maepong dan meneteskannya ke atas kaca tersebut. Kemudian ia melihat dengan kacamata pembesar dan memutar alat pembesar objek.


Arumeey tersentak dengan tubuh gemetaran ketika melihat apa yang ada didalam darah nenek maepong. Dia sangat syok. Kakinya terasa lemas. Dia tidak menyangka neneknya terpapar virus penyakit langka.