
Arumeey mengenakan gaun berwarna hijau toska yang dihiasi beberapa bunga kecil berwarna pink pudar. Dia menghias rambut nya dengan bunga bunga kecil. Berwarna senada.
"Arumeey. Kau cantik sekali." puji Kanayan ketika melihat Arumeey sudah bersiap.
"Kau juga cantik, Kanayan." Arumeey balas memuji Kanayan.
"Sudahlah. Ayo kita pergi. Aku sudah tidak sabar" ucap Kanayan seraya menarik tangan Arumeey.
Mereka berjalan cepat menuju Aula utama. Semua orang tampak telah hadir. Gaun gaun indah menghiasi gadis gadis yang ada di dalam ruangan Aula utama.
Makanan makanan enak dan mewah dihidangkan di atas meja meja panjang.
Arumeey hanya fokus pada meja yang dipenuhi oleh makanan makanan itu. Dia tidak terlalu bersemangat untuk ikut berhura hura.
"Arumeey, ayo ikut menari" ucap Kanayan.
"Kau saja Kanayan. Aku ingin makan. Aku sangat lapar"
"Baiklah. Jangan menghabiskan semua makanan mewah ya" canda Kanayan pada sahabatnya.
Arumeey tersenyum seraya berjalan menuju meja makanan.
Dia mengambil sebuah piring besar berwarna putih polos dan melihat lihat hidangan istimewa itu.
Arumeey mengambil sepotong daging sapi bakar, cumi cumi lada hitam, jamur goreng, semangkuk nasi putih dan juga semangkuk sup ayam bawang. Setelah itu Arumeey mengambil beberapa buah buahan dan juga air perasan buah apel putih.
Arumeey berjalan ke sebuah meja kosong yang ada di sudut ruangan dekat dengan jendela besar yang terbuka. Dia duduk dan menaruh makanannya.
"Wah, tanpa sadar aku telah mengambil banyak sekali makanan. Aku seperti orang yang ingin mukbang saja" gumam Arumeey.
Arumeey mengambil peralatan makan dan mulai memotong daging panggang. Saat hendak memasukkan potongan daging ke mulutnya, Arumeey dikejutkan oleh kehadiran seorang gadis cantik. Gadis itu duduk di hadapan Arumeey.
Arumeey segera bangun dan memberi hormat.
"Bukankah anda putri ke tiga kerajaan Babasal" ucap Arumeey kembali duduk.
"Kau mengingat ku" ucap putri Azarrin yang tampil dengan gaun yang menawan.
"Aku minta maaf telah mengganggu makan malam mu" lanjutnya menatap makanan Arumeey.
"Apa ada yang ingin anda sampaikan. Anda datang jauh jauh dan duduk di sini dengan ku, di tempat yang tidak dinginkan oleh orang lain" ucap Arumeey seakan sadar ada yang aneh dengan kehadiran putri Azarrin.
"Aku rasa aku sangat ingin duduk di tempat mu duduk. Kau tahu itu. Tempat yang nyaman. Yang sebenarnya diinginkan oleh semua orang. Namun kau datang terlebih dahulu." ucap putri Azarrin penuh makna.
Arumeey segera paham dengan apa yang ia sampaikan.
"Aku tahu. Kau mempunyai tempat yang spesial di hati pangeran Zhumma. Aku juga tidak tahu bagaimana menyingkirkan mu dari sana" lanjutnya.
"Kau gadis biasa yang luar biasa. Aku banyak mendengar tentang dirimu. Bahkan beberapa kali aku mendengar langsung dari mulut pangeran Zhumma. Aku mengenalnya lebih dulu dari dirimu. Kami sudah berteman sejak saat masih kecil. Namun hanya dengan waktu singkat kau telah ada dalam hatinya." putri Azarrin tak berhenti bicara.
"Arumeey. Aku ingin kau meninggalkan pangeran Zhumma. Aku tahu kalian saling mencintai. Aku tidak bermaksud menyakiti hatimu. Namun aku dan pangeran akan segera bertunangan. Aku ingin dia hanya melihat ku saja"
"Anda terus bicara dari tadi putri. Anda sebaiknya juga mendengarkan ku. Agar anda tidak salah paham." ucap Arumeey memotong pembicaraan putri Azarrin.
Putri Azarrin terdiam dengan tangan meremas gaunnya.
"Anda tidak perlu takut aku mengambil posisi anda. Hubunganku dengan pangeran, tidak sejauh yang anda pikirkan. Namun untuk menempati hati pangeran ke dua, anda harus mempunyai hati yang pas untuk ditempatkan di sana. Sekarang aku ingin pamit dari sini. Silakan anda duduk di meja ini" Arumeey mengambil makanannya dan pindah ke meja yang lain.
Putri Azarrin hanya terdiam di tempat duduknya. Tidak beberapa lama beberapa putri bangsawan datang menghampiri nya.
Arumeey terdiam menatap makanan yang ada di hadapannya.
"Hey, Arumeey. Kau baru saja meninggalkan putri Azarrin sendirian. Ada apa?. Apa yang ia bicarakan?" tanya Kanayan ingin tahu.
"Entahlah. Aku juga tidak tahu apa yang ia katakan." ucap Arumeey tidak ingin memberi tahu Kanayan.
"Aku pikir orang orang besar seperti dia tidak akan datang memenuhi undangan pesta di perguruan kita" ucap kanayan seraya mengambil makanan Arumeey.
"Kau tidak makan?. Bukankah tadi kau bilang kau sangat lapar" tanya Kanayan heran dengan makanan yang masih belum disentuh Arumeey.
"Aku sudah tidak lapar. Kau makan lah." Arumeey menyodorkan piringnya ke depan Kanayan.
.................
Pagi hari Arumeey sudah bangun dan bersiap siap. Arumeey mengemasi barangnya dan pergi meninggalkan perguruan tinggi Hwangguna. Seperti biasa, Arumeey menyewa sebuah kuda. Dia datang mengunjungi nenek Maepong.
"Nenekkkkkk" Arumeey berteriak ketika mendapati tubuh nenek Maepong tergeletak di lantai kayu yang kotor.
Arumeey mengangkat dan membalikkan tubuh kurus nenek Maepong. Air matanya jatuh membasahi pipinya.
Dia memeluk erat tubuh nenek Maepong.
"Nenek. Bertahan lah. Aku akan mencarikan obat" ucapnya seraya menangis.
Nenek Maepong membuka matanya secara perlahan.
"Kau sudah datang. Cucuku yang cantik." nenek Maepong tersenyum seraya mengangkat tangannya ingin mengelus wajah Arumeey.
"Nenek. Ku mohon bertahanlah sebentar lagi. Aku akan mendapatkan obat itu. Aku sudah tahu di mana bisa mendapatkan obat itu" Arumeey berkata dengan suara yang bergetar.
"Tidak Arumeey. Kau tidak harus melakukan nya untuk ku. Lakukan itu untuk orang lain. Kau harus melangkah dengan benar." nenek Maepong berusaha menghentikan keinginan Arumeey.
Arumeey mengangkat tubuh nenek Maepong yang sudah tidak berdaya lagi ke atas tempat tidur.
Arumeey mengambil makanan dan minuman lalu menyuapkan ke mulut nenek Maepong.
"Makanlah nenek. Kau harus punya tenaga. Aku akan pergi sebentar" ucap Arumeey dengan mata yang sembab.
Nenek Maepong tidak membantah ia makan setiap suapan yang diberikan oleh cucunya.
Stelah nenek Maepong beristirahat, Arumeey kembali menghampiri kudanya dan berlari cepat ke arah kota taraka.
Tidak berapa lama ia telah sampai di depan istana Hwangguna. Arumeey segera turun dari kudanya.
Arumeey berlari ke arah pintu gerbang. Langkah Arumeey terhenti ke tika prajurit penjaga pintu gerbang menyilangkan tombak di pintu gerbang istana.
"Maaf nona. Anda tidak bisa masuk ke dalam istana." ucap salah seorang prajurit.
"Aku ingin menemui pangeran ke dua" ucap Arumeey dengan tatapan kosong.
"Pangeran ke dua yang melarang kami membukakan pintu ini untuk anda" ucap prajurit itu.
"Apa?? Pangeran ke dua??" ucap Arumeey begitu terkejut.
"Aku tidak perduli. Aku harus masuk ke dalam istana" ucap Arumeey mencoba menerobos.
"Sebaiknya anda pergi dari sini nona. Sebelum kami menyeret anda dengan paksa" ancam prajurit lainnya kepada Arumeey.
Arumeey terdiam sejenak. Dia berpikir untuk melawan ke dua prajurit itu.
"Anda jangan mempunyai pikiran untuk melawan kami nona. Anda akan di cap sebagi pemberontak jika anda melawan kami" lanjut prajurit itu seakan bisa membaca isi kepala Arumeey.