
Sakit yang diderita oleh Raja ke delapan Hwangguna telah tersebar ke seluruh penjuru negeri.
Rakyak sudah mulai kembali was was dengan rumor penyakit langka tersebut. Terakhir kali pandemi itu melanda kerajaan Hwangguna, penyakit langka itu telah merenggut banyak jiwa.
Setelah bertahun tahun lenyap dengan ratusan nyawa melayang, tidak disangka penyakit langka itu kini kembali muncul ke permukaan bumi.
Lemahnya kerajaan membuat pemberontak mulai berani menunjukkan tanda tanda kemunculannya. Selain itu banyak petinggi petinggi istana yang meminta agar raja ke delapan segera turun tahta. Mereka menilai raja sudah tidak mampu duduk di singgasananya.
Keributan mulai terjadi saat beberapa petinggi istana menilai putra mahkota tidak pantas memangku kerajaan, mereka meminta agar raja menobatkan pangeran ke dua sebagai penerus tahta.
Namun peraturan kerajaan tidak dapat diubah begitu saja. Pangeran ke dua tidak dapat memimpin kerajaan selama putra mahkota masih hidup di dunia ini.
Beberapa hari yang lalu ada beberapa pemberontak yang mencoba masuk ke istana, mereka menyerang prajurit penjaga dan mengincar nyawa yang mulia raja.
Dengan adanya kejadian itu, istana memperketat penjagaannya. Pangeran ke dua hwangguna dan beberapa prajurit telah berhari hari melakukan penyelidikan dan didapati bahwa ada banyak pasokan senjata ilegal yang keluar masuk kota utama kerajaan Hwangguna.
Setelah kejadian penyerangan yang terjadi di istana, rumor tentang penyakit langka yang diderita oleh raja ke delapan Hwangguna tersebar secepat cahaya kilat ke seluruh penjuru negeri.
................
Di kediaman yang mulia ratu.
"Katakan yang sebenarnya ibu, kenapa kau terus menutupi ini di depan kami, apakah kau berfikir bahwa kami percaya bahwa berita yang tersebar adalah rumor palsu!!" teriak pangeran ke dua pada yang mulia ratu.
Yang mulia ratu hanya terdiam sambil sesekali menyeka air matanya.
"Ibu, sampai kapan kau terus menyembunyikan penyakit yang diderita oleh yang mulia raja'' lanjutnya.
"Bahkan rakyat lebih duluan tahu di bandingkan putra putranya!" lanjutnya dengan wajah yang penuh emosi.
"Putra ku, maafkan ibu, ibu tidak ingin penyakit yang diderita oleh yang mulia raja menjadi sebuah ketakutan bagi semua orang" jawab yang mulia ratu lirih.
"Jadi ibu tidak mempercayai kami?" pangeran ke dua dibuat semakin emosi.
"Kami???? Hah, hanya kau yang tidak tahu penyakit yang mulia raja" ucap putra mahkota dengan senyum sinis.
"Apa??? Jadi, kau sudah mengetahuinya?? Lalu apa yang kau lakukan?" pangeran ke dua mengepalkan tangannya.
Putra mahkota tidak menggubrisnya. Dia hanya duduk sambil meminum teh yang sudah terasa dingin.
PUNCH.....
Sebuah pukulan mendarat di wajah putra mahkota.
"Berengs*ek, berani sekali kau memukulku" putra mahkota bangkit dari duduknya, dengan cepat iya menarik kerah baju pangeran ke dua, saat ia hendak melayangkan sebuah tinju, yang mulia ratu segera menghentikan nya.
"BERHENTI, Sudah cukup putra ku, sekarang bukan saatnya kalian bertengkar" ucap yang mulia ratu berurai air mata.
Putra mahkota melepaskan pangeran dengan tatapan yang masih berapi api. Setelah itu dia pergi keluar meninggalkan yang mulia ratu dan pangeran ke dua.
"Ibu, Aku sangat kecewa" ucap pangeran ke dua, kemudian dia juga pergi meninggalkan yang mulia ratu.
.................
Beberapa bulan kemudian keadaan di istana kembali kondusif meskipun kesehatan raja tidak membaik juga.
Dia begitu berhasrat untuk menduduki singgasana raja.
Namun kelakuan buruknya tidak pudar sedikitpun. Bahkan beberapa hari yang lalu dia kembali membuat malu kerajaan dengan kedapatan bermain cinta dengan murid perempuan perguruan tinggi Hwangguna.
Sedangkan pangeran kedua masih di sibukkan dengan pertahanan istana. Dia dan Arumeey juga hanya sesekali bisa bertemu. Arumeey juga disibukkan dengan kegiatan belajar. Dia benar benar mempersiapkan diri untuk segera naik ke tingkat tujuh.
Hari ini adalah hari ujian akhir Arumeey di tingkat enam. Jika dia berhasil melewatinya maka dia akan naik ke tingkat tujuh. Dia begitu antusias untuk menyelesaikan ujian itu.
Dia dan Kanayan terlihat terburu buru berlarian ke ruang ujian. Hari ini ujian berlangsung dengan juri acak dan dirahasiakan. Ujian yang akan diberikan pun tidak ada yang mengetahuinya.
Sesampainya di ruang ujian Arumeey segera mengambil nomor ujian. Nomor yang tertera merupakan nomor tempat untuk pelaksanaan ujian. Arumeey melihat nomor yang didapatkan nya. Nomor itu menunjukkan ruang sembilan belas.
Arumeey segera menyusuri satu persatu ruangan kecil yang hanya berukuran tiga kali tiga meter.
Setelah mendapatkan ruangannya Arumeey segera membuka pintu dan dia begitu terkejut saat pintu itu terbuka sedikit demi sedikit, wajah orang yang pernah mengancamnya muncul di hadapannya. Juri yang akan mengujinya adalah kepala tabib istana dan di sebelahnya juga ada guru besar Hongdang dan asistennya yang telah duduk menunggu kehadirannya.
"Salam nyonya kepala, salam guru besar" ucap Arumeey sambil membungkukkan badannya.
Hanya guru besar Hongdang yang menjawab salam darinya. Kepala tabib istana hanya terdiam sambil memberikan tatapan yang tajam. Suasana didalam ruangan kecil itu terasa sungguh tidak nyaman bagi Arumeey.
"Duduklah Arumeey" ucap guru besar Hongdang.
Arumeey segera duduk di depan orang orang itu. Ada sebuah meja kecil dan beberapa alat untuk menulis.
"Aku sudah siap guru" ucap Arumeey.
"Kau sungguh sangat percaya diri" ucap kepala tabib istana secara sinis.
Arumeey hanya diam dan menunggu ujian yang akan diberikan.
Guru besar Hongdang melirik asistennya, asistennya dengan cepat mengeluarkan selembar kertas dan menyerahkannya pada Arumeey.
"Itu adalah ujian pertama mu, selesaikan dalam waktu lima menit." ucap guru besar Hongdang.
Arumeey melihat kertas tersebut dan membacanya dengan cermat. Ada empat buah soal yang tertulis. Soal yang tertulis itu memuat pertanyaan tentang pengobatan luka. Arumeey yang sudah menguasai masalah itu dengan cepat menjawab semua soal dengan singkat. Tersisa satu menit dari lima menit yang diberikan.
Guru besar Hongdang memeriksa jawaban yang ditulis oleh Arumeey.
"Selamat Arumeey, kau lulus ujian pertama mu" ucap guru besar Hongdang sambil tersenyum.
"Sekarang kau akan memasuki ujian ke dua" ucap guru besar Hongdang seraya kembali melirik asistennya.
Asisten guru besar hongdang mengambil sebuah kotak persegi panjang. Kotak itu kemudian diletakkan di atas meja yang ada di hadapan Arumeey.
"Buka lah" ucap guru besar Hongdang.
Arumeey membuka kotak itu secara perlahan-lahan. Ada lima buah botol kaca kecil didalamnya. Botol botol yang berjejeran itu terdiri dari satu botol berwarna kuning kusam, hijau tua, biru muda dan dua botol berwarna merah.
"Ambillah botol botol itu dan amati, aku akan memberi pertanyaan setelah kau selesai mengamati botol botol itu" ucap guru besar Hongdang.
tbc....