Suami Titisan Iblis

Suami Titisan Iblis
Bab 52. Karma Instan


Pukul dua pagi di sebuah perbukitan tengah hutan. Ellard hanya mendengar suara deburan ombak di pantai bawah sana. Sesekali kelelawar dan burung hantu beterbangan di rengah kelamnya malam.


Tidak terlihat tanda-tanda kehidupan di sekitar sini. Bahkan lampu-lampu perumahan penduduk dan kapal nelayan pun tak terlihat. Hanya samar-samar terlihat kelap-kelip dari kejauhan. Sepertinya itu berasal dari sisi pantai yang berbeda.


"Apa yang terjadi? Kenapa GPS sialan ini malah membawaku ke tempat angker begini?"


Ellard menghentakkan kakinya ke permukaan tanah tempat dia berdiri. Bunyi ranting patah karena pijakannya, membuat beberapa tikus yang berkeliaran di antara rerumputan berlari menjauh.


"Tapi bener kok ini mansion dan villa-nya? Apa ini bangunan lama? Dan yang kutempati kemarin ada di tempat yang berbeda?"


Ellard yang merasa kebingungan pun hanya bisa terpaku di dalam kegelapan malam. Dia nggak tahu harus bertanya pada siapa. Tidak ada seorang pun di sana. Sinyal HP pun kadang muncul kadang hilang.


"Ck! Sia-sia aja aku berada di sini. Pagi nanti aku cari tahu lagi, deh. Semoga ada petunjuk lain." Pria berkulit agak gelap itu kembali menyalakan mesin mobilnya, lalu meninggalkan tempat itu.


Ketika menempuh setengah perjalanan, HP Ellard pun berdering. Dia mendapat telepon dari detektif bayaran yang disewanya.


"Halo, apa udah ada kabar baik untukku?" tanya Ellard.


"Sorry, aku kehilangan jejak wanita itu di Bandara Incheon. Sepertinya dia batal berangkat ke Jepang. Karena nggak ada invoice penerbangannya dari Korea ke Jepang," jawab pria di telepon.


"Gobl*k! Harusnya ya kamu carilah! Mau sampai ke benua antartika kamu harus menemukan dan membunuhnya." Ellard mengamuk mendengar laporan yang nggak dia harapkan itu.


"Haaah, aku sih mau aja melakukannya. Asal kamu tepati janjimu. Sampai sekarang kamu belum membayarku sepeser pun. Memangnya menguntit seseorang itu nggak butuh biaya?" balas detektif bayaran tersebut dengan ketus.


"Kamu nggak percaya padaku? Aku pasti membayarmu berkali-kali lipat nanti. Asal kau berhasil membunuh nenek tua itu," balas Ellard dengan sebuah bentakan.


"Aku memang nggak percaya denganmu. Saat ini bisa dibilang kamu miskin, kan? Makanya kamu mengejar-ngejar Nyonya Eleanor dan hendak membunuhnya, untuk mendapatkan hartanya," ucap sang detektif. "Kalau kau mau misi ini tetap dilanjutkan, bayar aku sepuluh juta detik ini juga."


Tertampar oleh kenyataan membuat Ellard terdiam. Jangankan sepuluh juta. Sepuluh ribu pun dia nggak punya saat ini.


Semua barang branded milik Lilith memang bernilai belasan juta. Apalagi kalung milik Anella yang berharga milyaran. Tetapi selama benda-benda itu belum dijual atau diinvestasikan, masih belum bernilai apa-apa bagi Ellard.


"Sudahlah, aku malas melanjutkan misi ini. Anggap saja perjalananku ke Korea Selatan adalah liburan. Aku nggak akan meminta bayaran pada orang miskin kayak kamu," kata sang detektif sebelum menutup telepon.


"Keparat! Inilah alasannya mengapa aku nggak suka jadi orang miskin. Semua orang pergi di saat aku jatuh miskin." Ellard menggumam kesal.


...*** ...


Pagi hari, di apartemen Lilith. Wanita itu tidak tidur semalaman setelah semua kejadian yang menimpanya. Baik Ellard maupun Arella, tidak ada satu pun yang bisa di telepon. Wanita itu pun meminta seseorang untuk melacak keberadaan mereka berdua.


Tok! Tok! Tok!


"Permisi. Kami staf pengelola gedung. " Pintu kamar Lilith diketuk oleh seorang pria.


"Eh? Kenapa pengola gedung datang? Tumben banget?" pikir Lilith ragu. Selama tinggal di sini, dia belum pernah kedatangan pengelola gedung kecuali sengaja diminta.


Tok! Tok! Tok!


"Apa ada orang di dalam?" seru pria itu lagi.


"Ada perlu apa ke sini?" sahut Lilith sambil merapikan ruang tamu yang tampak seperti kapal pecah itu seadanya.


"Ah, tunggu sebentar." Lilith buru-buru memoleskan bedak ke wajahnya agar tidak terlalu pucat. Tak lupa dia juga menyisir rambutnya yang kusut.


Ceklek!


"Silakan ma ..." Ucapan Lilith berhenti di tengah-tengah. "Gawat! Kayaknya mereka bukan pengelola gedung, deh. Mana ada pengelola gedung bertampang preman seperti ini."


Lilith mendadak resah dan ketakutan, melihat empat pria berbadan kekar dan tato di tangannya berdiri di depannya. Keempat pria itu memiliki wajah sangar seperti preman.


"Benar, Bos. Ini wanita itu," ucap salah seorang pria bertubuh paling kecil, yang memegang secarik kertas berisi foto Lilith.


"Si-siapa kalian?"


Lilith buru-buru menutup pintu. Akan tetapi gerakan para pria jauh lebih cepat. Mereka menahan pintu apartemen Lilith, agar tidak tertutup. Satu per satu dari mereka pun menerobos masuk.


"Hei! Siapa kalian! Kalau macam-macam, aku panggil pihak keamanan," seru Lilith.


"Mau panggil pihak keamanan? Huh! Ya silakan aja. Mereka udah bilang, kalau menyangkut hutang piutang pihak keamanan gedung gak mau ikur campur," ujar seorang pria yang dipanggil bos.


"Hutang? Hutang apa maksudmu?" ucap Lilith bingung.


"Hei kalian. Ayo segera sita barang-barangnya! TV, kulkas, semua diambil. Jangan lupa cek lemari di kamar! Baju, jam, perhiasan, tas, sepatu, semua yang bermerk jangan lupa diambil juga!" Griffith sang ketua rentenir mengabaikan pertanyaan Lilith.


"Heh! Kalian udah gila? Kenapa asal sentuh barang milik orang lain? Ini tindakan kriminal namanya. Aku bisa melaporkan kalian pada polisi."


Lilith mendorong salah seorang pria yang hendak mengambil sepatu mahal miliknya. Dia juga mengancam para preman tersebut. Namun pria bertubuh kekar dan rambut gondrong itu hanya tertawa kecil. Tenaga Lilith nggak ada apa-apanya bagi dia.


"Wah, sialan! Perempuan ini udah gila rupanya. Bisanya cuma berhutang, tapi nggak mau bayar," umpat pria itu. Tangan kirinya membuang sepatu murahan ke lantai, dan mengambil sebuah heels seharga dua juta rupiah dari atas rak.


"Kembalikan! Itu milkku!" jerit Lilith sekuat tenaga.


"Ya sudah. Ni, ambillah." Pria tadi melempar heels berwarna maroon itu pada Lilith. Tapi kemudian dia mengambil sebuah mantel bulu brand Perancis dari dalam lemari.


"Itu juga punyaku! Aku membelinya waktu ke luar negeri! Kembalikan!" perintah Lilith memekakkan telinga.


"Hei, iblis betina. Jangan ganggu pekerjaan kami. Kami ini datang karena tidak mendapatkan bayaran pinjaman, sesuai batas waktu yang telah disepakati."


Griffith yang sejak tadi hanya memantau pekerjaan anak buahnya, kini angkat bicara.


"Kami hanya menyita barang-barang berharga sesuai perjanjian. Bahkan ini masih kurang untuk melunasi hutang kalian," sambung Griffith.


"Kau mimpi? Atau salah orang? Aku ini pengusaha sukses. Mana mungkin meminjam uang pada kalian," balas Lilith lagi.


"Lihat surat ini. Ini adalah fotocopy surat perjanjian hutang kalian. Kalau mau lihat yang asli, kamu bisa datang ke kantorku," jelas Griffith dengan nada datar.


"Ellard meminjam uang satu milyar? Lantas kenapa aku yang harus membayarnya? Kalau dia yang meminjam, harusnya dia juga yang wajib mengembalikannya," ucap Lilith tak terima.


(Bersambung)