Suami Titisan Iblis

Suami Titisan Iblis
Bab 33. Rencana Licik Arella


Nah, itu dia tempatnya. Kamu bisa lihat, kan?" Arella berseru, sambil menunjukkan bangunan besar di antara pepohonan besar yang tumbuh rapat dan dipenuhi lumut. "Kamu bisa lihat mansion mewah di antara pepohonan itu, kan?" sambungnya.


Railo pun menyalakan senter yang dibawanya, lalu mengarahkannya ke bangunan yang ditunjuk Arella barusan.


Glek! "Mau ngapain dia di tempat tinggal para hantu ini?" Railo reflek mundur beberapa langkah, saat senternya menerangi bangunan tua yang sudah dipenuhi lumut dan benalu itu.


"Kesalahan terbesarku abad ini adalah mengikuti permintaan konyol Arella, untuk datang ke tempat ini. Bahkan ini terlihat jauh lebih mengerikan dibandingkan foto yang kulihat tadi," sesal Railo.


"Wah, udah lama aku nggak ke sini. Ini bangunan villa dan mansion milik teman papa dulu. Waktu kecil aku sering datang ke sini sama papa dan mama untuk pergi berlibur."


"Pada waktu musim panas, tempat ini dipenuhi burung camar putih yang membawa ikan dari laut. Lalu di bawah sana kita bisa beli ikan, kerang, cumi dan gurita segar untuk di masak di villa. Pokoknya seru, deh."


"Tapi aku nggak suka ikan pari. Baunya amis. Aku lebih suka gurita dan cumi-cumi yang dipanggang di atas bara api. Oh iya, timun laut juga enak.


Arella terus mengoceh mengenang masa lalu, tanpa mempedulikan Railo yang merinding ketakutan melihat gedung hantu tersebut. Matanya berkaca-kaca, teringat kenangan indahnya bersama sang papa yang udah lama pergi. Kini semua itu nggak bisa dilakukan lagi.


"Railo?"


Arella menoleh ke belakang, karena tak kunjung mendengar jawaban dari Railo. Dia mendapati pria itu telah berdiri sejauh sepuluh langkah di belakangnya, dengan kaki gemetaran.


"Kamu kenapa? Kedinginan? Atau kebelet pipis?" Arella mendekati Railo dan memberikan jaketnya pada pria itu.


"K-kamu mau ngapain sih di rumah hantu begini? Aku yakin ada ratusan makhluk halus menghuni di dalamnya. Kamu nggak berencana menyekap kedua iblis itu dan melenyapkan selamanya." Railo berbicara dengan suara bergetar. Wajahnya yang putih, tampak semakin pucat.


"Kamu indigo?" tanya Arella bergidik ngeri. Dia menoleh ke belakang, dan melihat akar-akar tanaman menguasai bangunan megah itu.


"Ng-nggak," jawab Railo.


"Terus?"


Arella mengerutkan keningnya. Namun sedetik kemudian raut wajahnya pun berubah.


"Kau takut hantu? Ahahaha ... Aku baru tahu ada dokter yang takut sama hal-hal beginian? Padahal kamu udah sering melihat jenazah, bahkan melakukan operasi." Arella memegangi perutnya dan tertawa terbahak-bahak melihat sikap aneh Railo.


"Hei, hantu dan ilmu kedokteran itu jauh berbeda. Jangan disamakan, dong," protes Railo. Dia merasa malu, karena ditertawakan sama seorang wanita.


"Mending kita pulang aja, yuk. Kita juga belum makan malam, lho." Pria itu mendesak Arella untuk segera pulang. Tanpa menunggu jawaban rekannya itu, Railo langsung melangkahkan kaki menaiki tangga.


"Tunggu! Di sini nggak ada hantu. Ini memang terlihat seram karena sedang malam hari." Arella membujuk Railo untuk tetap tinggal di sana.


"Saat itu tempat ini sangat ramai. Tapi sekarang kondisinya jadi terbengkalai begini. Aku jadi merasa sedih," kata Arella dengan nada rendah, seperti menahan tangis.


"Kau udah gila? Lihatlah bangunan itu. Aku yakin udah lebih dari lima belas tahun gak ada yang berkunjung ke sini. Tersentuh sedikit aja pasti dindingnya langsung roboh." Railo terus meyakinkan Arella, bahwa bangunan itu tak layak huni.


"Kalau gitu ayo kita buktikan. Ini tempat yang sempurna untuk melakukan rencanaku." Bukannya takut atau gelisah, Arella justru semakin bersemangat mengajak Railo mendekati bangunan tua menyeramkan itu.


Rembulan yang tadi tertutup awan, perlahan mulai memantulkan cahaya matahari ke bumi. Hutan lebat yang tadi gulita, kini sedikit lebih terang. Beberapa pasang bola cahaya mungil, memata-matai mereka melalui sela-sela pohon.


"Wah, kita beruntung. Ada banyak rusa di sini." Arella meminta Railo mengarahkan senternya ke arah bola cahaya itu.


"Rusa? Aku pikir tadi kunang-kunang," balas Railo.


Ternyata benar yang dikatakan Arella. Ketika cahaya senter menyoroti bola-bola cahaya itu, terlihat puluhan rusa berwarna keemasan sedang memandangi mereka berdua. Namun hewan cantik itu kemudian berlari dan bersembunyi di balik pohon, menghindari cahaya terang dari senter tersebut.


"Ayo kita ke sana. Aku akan memberi tahu semua rencanaku."


"Jadi, aku rasa weekend besok adalah waktu yang tepat. Kamu libur kan hari itu?" ucap Arella bersemangat.


"Yaaah, libur sih kalau nggak ada operasi mendadak," balas Railo dengan langkah gontai.


"Nah, anggap saja kamu libur. Lalu kita melaksanakan rencana itu. Dari atas sini kita bisa melihat laut. Jadi sangat cocok untuk melihat matahari tenggelam." Arella mulai memberitahukan rencananya.


"Tepat saat matahari terbenam, kita atur agar terhidang menu seafood yang mewah. Kita juga kondisikan tempat ini terlihat sangat mewah dan berkelas," jelas Arella lagi.


"Kenapa kamu melakukan itu?" tanya Railo bingung.


"Kita butuh effort yang besar untuk mengikat kepercayaan mereka. Ellard dan Lilith sangat menyukai hal-hal mewah yang gratisan," kata Arella.


"Memangnya nggak cukup hanya dengan bergabung di perusahaan besar? Kamu kan memang beneran bekerja di perusahaan jasa itu, walau pun beberapa data terpaksa dipalsukan," kata Railo yang tak nengerti dengan jalan pikiran Arella.


"Aku udah mengenal Ellard selama lebih dari dua puluh tahun. Semakin lama bersamanya, aku justru semakin nggak mengenali sifat tamaknya itu," ucap Arella dengan nada sedih. "Jadi, kamu bisa membantuku, kan?"


"Nggak bisa!" jawab Railo dengan cepat.


"Eh? Kenapa nggak bisa? Permintaanku kan nggak terlalu sulit. Hanya menikmati sunset lalu makan bersama," kata Arella terus memaksakan kehendaknya pada Railo untuk dituruti.


"Arella, coba kamu pikirkan. Area mansion dan villa ini terlalu luas. Dan jangka waktu yang kamu inginkan itu cukup lama. Jadi hal itu sulit dilakukan dan rentan gagal. Silakan bikin rencana lain," ucap Railo dengan tegas.


"Haaah, aku nggak punya rencana lain yang lebih bagus dari pada ini," keluh Arella..


"Kenapa nggak menyewa mansion beneran aja, sih? Atau memindahkan sertifikat gedung-gedung itu kembali atas namamu. Itu jauh lebih mudah," kata Railo.


"Hm, itu nggak menarik. Aku ingin melihat mereka merasakan kebahagiaan semu dulu, baru kemudian aku jatuhkan hingga ke dasar." Arella menyeringai lebar memikirkan rencana jahatnya.


"Terus kalau aku meminjam villa dan mansion beneran, akan keluar banyak modal," sambung wanita itu lagi.


"La, kamu sekarang mirip banget kayak psikopat gila. Aku ngeri melihatnya," ucap Railo.


"Hm ...? Tapi kamu tetap mau membantuku, kan?" Wanita berambut hitam dan bola mata biru laut itu tak lelah membujuk Railo.


"Nggak!"


"Cih, payah banget sih membujuk kamu," Arella berdecih kesal. "Gimana kalau rencana ini berhasil, aku traktir kamu makan es krim dan kue sepuasnya di toko favoritmu selama satu bulan," usul Arella.


"Deal. Sabtu ini akan aku persiapkan semuanya. Jadi lakukan sebaik mungkin," jawab Railo dengan cepat, tanpa berpikir dulu.


Arella tak mampu menahan tawa, melihat sang dokter yang begitu mudah dibujuk hanya dengan es krim.


"Tapi, aku butuh bukti agar kamu nggak ingkar janji. Jadi kamu ulangi lagi ucapanmu, supaya aku bisa merekamnya," kata Railo.


"Aku akan mentraktirmu makan sepuasnya di toko kue favoritmu selama satu bulan, jika proyek ini berhasil." Arella mengulangi ucapannya dengan lantang, tanpa rasa ragu. "Sudah, kan? Ayo kita pergi dan mencari makan malam," ajak Arella lagi.


"Oke, perutku udah bunyi dari tadi," balas Railo bersemangat. "Tapi ngomong-ngomong, kenapa tempat ini terbengkalai? Ke mana pemiliknya?" tanya Railo penasaran.


"Mereka semua mati bunuh diri di villa ini, karena terlilit hutang ratusan milyar. Dan pihak bank tidak mau mengambil alih bangunan ini karena banyak berita seram yang tersebar, setelah kematian mereka semua," jelas Arella sambil menaiki tangga.


"Bangs*t! Kenapa nggak bilang dari tadi?" umpat Railo dalam hati.


(Bersambung)