Suami Titisan Iblis

Suami Titisan Iblis
Bab 40. Cewek Arogan


Bam! Ellard membanting pintu dengan kuat. Beberapa detik kemudian disusul oleh Lilith.


"Sayang, kenapa tadi kamu ngomong kayak gitu? Apalagi sampai menjual namaku sebagai pebisnis properti sukses? Kan agen properti memang biasa menjelaskan biaya perawatan, sama seperti kita yang akan menyewaan ge pada orang lain."


Ellard menumpahkan kekesalan, karena sikap istrinya di depan agen properti tadi. Hembusan napasnya yang berat dan kasar terdengar sangat jelas.


"Itulah dia masalahnya. Kita ini bukan orang biasa lagi seperti dulu. Kita udah beda kelas," ujarnya dengan angkuh. Nada suaranya jauh lebih tinggi dibandingkan sang suami.


"Mungkin saja kita nanti bisa bertetangga dengan artis papan atas atau pengusaha terkenal. Skala pemasukan dan pengeluaran kita juga akan berbeda dibandingkan dulu, termasuk soal biaya perawatan dan pemeliharaan rumah yang akan kita tempati."


Lilith tak memberikan waktu bagi Ellard untuk berbicara. Dia sudah mulai membayangkan hidup mewahnya di penthouse. Bergaya layaknya para pengusaha sukses dan wanita sosialita kelas atas.


"Ck! Menyebalkan. Padahal itu penthouse paling murah, karena sedang ada promo," gerutu pria itu menghentakkan kakinya ke lantai mobil.


"Kamu yang menyebalkan! Kita kan nggak perlu memikirkan soal uang lagi. Penthouse paling mahal sekali pun bisa kita sewa. Untuk apa punya banyak uang, kalau pelit pada diri sendidi," balas Lilith.


"Kamu pikir uang satu milyar itu cuma untuk foya-foya? Itu modal kita untuk mengembangkan usaha. Kalau uang itu habis kamu pakai, mau ke mana lagi kita mencari uang?" Ellard udah nggak bisa meredam emosinya lagi.


"Hei, dengarkan aku. Kamu sekarang udah jadi pengusaha sukses seperti mereka yang biasa muncul di majalah forbes. Kalau kita pakai uang renovasi rumah itu, masih belum ada apa-apanya jika dibandingkan uang masuk yang akan kita terima," jawab Lilith sambil menghembuskan napas dengan kasar.


"Tapi agen properti yang miskin dan nggak tahu diri itu malah menghina kita seenaknya. Ini pasti karena pakaian yang akita pakai bukan merk terkenal," sambung Lilith berdecak kesal.


"Haaaah ... Kalau sampai terdengar sama Arella, citra yang udah kubangun susah payah selama ini bisa hancur. Arella pasti mengenal pemilik agen properti di sini, kan?" gumam Ellard dengan lirih.


"Apa kamu bilang? Di saat seperti ini kamu malah lebih memikirkan perempuan lain dibandingkan aku?" sergah Lilith gak terima.


"Iya! Memangnya kenapa? Kalau hubungan baik kita dengannya lancar, maka bisnis kita juga bakalan lancar, kan? Tapi kalau kamu bersikap kampungan seperti orang kaya baru, dia pasti juga bakalan ilfeel sama sikap kita," kata Ellard.


"Halah! Bisnis atau bisnis? Kau pasti tergoda karena dia lebih kaya, kan?" cibir Lillith.


"Jangan asal ngomong! Aku nggak sepicik itu! Aku melakukan ini semua supaya harta yang kuambil dari Anella berkembang, dan bisa menikahimu di luar negeri," kata Ellard sambil berteriak. Untung saja mobil mereka kedap suara, jadi orang-orang di sekitar tak mendengar ketibutan mereka.


Lilith tersentak kaget mendengarnya. Dia melihat wajah Ellard selama beberapa detik, dan tak melihat gurat kebohongan di wajah itu.


"Apa benar dia melakukan semua ini demi aku?" batin Lilith ragu. "Tapi memang benar, sih. Pelayananku di atas kasur kan nggak ada yang bisa menyaingi?" imbuhnya.


"Ehm, sayang. Maksudku tadi, kita kan sekarang udah mulai naik kelas. Jadi kita jangan mau diinjak-injak diperlakukan seperti orang biasa. Mereka harus kita peringatkan supaya tahu siapa diri kita ini. Kita bukan lagi pengusaha kelas menengah. Iya, kan?"


"Hm," jawab Ellard singkat.


"Terus sekarang kita ke mana, nih? Aku udah nggak mood melihat-lihat rumah," ujar wanita itu. "Ah, gimana kalau kita pergi melihat-lihat mobil? Mobil yang kita pakai ini pasti membawa sial, karena pernah dipakai untuk membawa mayat." Lilith bergidik ngeri mengingatnya.


Tanpa membalas ucapan Lilith, Ellard pun menekan pedal gas, lalu memutar setirnya. Mereka lalu meninggalkan halamana unit penthouse dan apartemen mewah itu.


Beberapa menit kemudian, mereka telah melalui simpang tiga yang mengarah ke area industri automotif. Namun Mobil yang seharusnya berbelok ke kanan, justru mengambil jalan lurus dan melewati beberapa showroom begitu saja.


"Sayang, kita mau ke mana? Showroom mobil sudah kita lalui beberapa kali." Lilith berseru kesal, saat Ellard menekan pedal gas dengan kencang, ketika melalui showroom terakhir di wilayah itu.


Namun Ellard lagi-lagi bungkam. Dia tetap memutar kemudi, menuju pusat kota metropolitan tersebut.


"Apa dia mau mengajakku melihat-lihat mobil sport di kawasan pusat kota, ya? Kalau dipikir-pikir, mobil sport mewah juga cocok untuk kami berdua." Lilith senyum-senyum sendiri memikirkannya.


Akan tetapi, sepuluh menit kemudan harapan Lilith pun kembali sirna. Dia tetap melaju kencang di depan showroom mobil sport, yang sering dikunjungi para artis dan anak pejabat itu.


"Berhenti! Katakan padaku sekarang! Kamu mau membawaku ke mana?" pekik Lilith nggak sabaran.


"Ck! Berisik banget, sih. Aku mau pergi menemui jasa design interior untuk merenovasi toko kita, sebelum uang yang diberikan Arella habis kamu pakai," jawab Ellard dengan bentakan.


"Bukannya emang gitu? Kamu menghabiskan uang milik anella dan segala macam perhiasannya hanya dalam waktu satu bulan. Tapi setelah aku bangkrut, kamu menyalahkanku juga."


Ellard membuang napas kesal berkali-kali. Wajahnya yang tampan tampak bertekuk, dengan kening berkerut dalam. Matanya menatap lurus ke depan, mencari celah di jalanan yang padat merayap.


"Gak usah drama, deh. Kita kan udah sepakat, kalau bakal mencari jasa renovasi yang murah, lalu sisa uangnya kita pakai. Hasilnya juga sama aja, kok," kata Lilith tetap keras kepala.


"Padahal mobil kan juga salah satu modalmu saat ketemu rekan bisnis nanti. Apa kata mereka kalau kita masih membawa mobil butut ini? Terus kita juga harus beli baju baru, supaya nggak dihina oleh orang seperti tadi." Wanita itu tak lelah membujuk Ellard untuk menggunakan uang dari Arella.


...***...


"Gimana? Apa sudah ada mobil yang sesuai dengan selera Anda, Nyonya?" Seorang pria berjas hitam, mendekati Lilith yang asyik melihat-lihat mobil sport mewah.


Setelah bertengkar hebat di mobil tadi, Ellard pun akhirnya mengalah dan membawa sang istri untuk membeli mobil baru.


"Kalau yang ini gimana? Aku suka modelnya." Lilith menunjuk ke sebuah mobil berwarna charcoal metalic yang terlihat gagah.


"Ah, itu ... Aku nggak yakin Nyonya bisa memakainya untuk sehari-hari," jawab marketing itu.


"Kenapa?"


"Mmm ... Gayanya memang oke. Tapi kalau memikirkan biaya pajak dan BBM-nya, mobil sekelas ini Anda pasti nggak akan berani memakainya. Karena... "


"Kamu pikir itu lucu?" Lilith memotong omongan orang itu dengan ketus.


"Eh? A-apa?"


"Apa kamu berpikir kami ini orang miskin, dan gak bisa membeli mobil-mobil ini? Aku bahkan bisa membeli mobil murah ini dengan tunai," sambung Lilith dengan Arogan.


"Hmm, Lilith. Harga mobil ini hampir empat milyar. Sedangkan uang kita cuma satu milyar," bisik Ellard.


"Ck! Kamu diam aja. Biar aku yang mengurus ini," balas Lilith dengan berbisik juga.


"Hei, kau. Pekerjaanmu kan berhubungan dengan orang kaya. Tapi bisa-bisanya kamu merendahkan kami seperti orang miskin begitu. Apa kamu nggak mengenali suamiku yang pengusaha sukses ini?" Lilith membentak pria tadi, di depan banyak orang.


"Lilith, udah. Jangan memperpanjang masalah. Kita pergi melihat mobil di tempat lain aja." Ellard berusaha melerai sang istri dan pegawai showroom itu.


"Aku belum selesai, Ellard. Kita sudah dihina mereka. Aku bahkan ingin menghubungi pengacara paling terkenal untuk membantu kita," kata Lilith ceplas ceplos.


"Hah? Pengacara? Untuk apa?" seru Ellard terlompat kaget.


"Aku ingin menuntut mereka, atas perbuatan tidak menyenangkan. Biar sesekali mereka mendapat pelajaran," kata Lilith lagi.


"Nyonya, maafkan aku. Aku telah bercanda keterlaluan tadi," kata pria itu ketakutan. Dia takut kehilangan pekerjaannya di tempat itu.


"Huh, ya udah. Aku masih memiliki hati untuk mengampunimu."


"Terima kasih, Nyonya."


"Tapi ... Kamu harus bertekuk lutut di depanku sambil memohon permintaan maaf," lanjut Lilith sambil menunjuk ke ujung sepatunya.


"Lilith, ku rasa itu udah keterlaluan," tegur Ellard.


"Biarkan saja dia diberi pelajaran. Dia harus memilih, berlutut di hadapan kita, atau berurusan dengan hukum," desak Lilith.


(Bersambung)