Suami Titisan Iblis

Suami Titisan Iblis
Bab 35. Tanda Tangan Kontrak


Ellard dan Lilith mengekor Arella sambil terkagum-kagum dengan tempat itu. Mereka pikir memasuki ointu besar dengan ukiran indah adalah tujuan terakhir. Rupanya itu hanyalah pintu masuk ke wilayah utama yang lebih luas lagi.


Mentari yang mulai beranjak turun, memantulkan cahaya jingga di kolam renang yang luas. Di bawah sana terlihat deburan ombak yang terhempas di tebing-tebing batu karang, dengan suasana sunset yang memesona.


"Apakah semua wilayah di sini nggak memiliki pantai?" tanya Lilith sedikit kecewa. Padahal dia sudah membawa bikini dan topi pantai di dalam tasnya.


"Oh, ada kok. Kalian bisa lewat jalan di sebelah kiri, lalu turun melalui tangga batu. Kalian bisa bermain sepuasnya di pantai pribadi tanpa terganggu pengunjung lain," jelas Arella dengan gayanya yang sedikit angkuh.


"Wah, luar biasa. Aku jadi penasaran, berapa harga sewa tempat ini selama satu malam?" celetuk Lilith.


"Hm? Ini hanya satu per seratus dari nilai kontrak kalian, kok," kata Arella sambil tertawa kecil. Dia mengajak kedua tamunya berbelok ke kiri, mendekati tangga yang menuju langsung ke pantai pribadi.


"Wow, beneran? Berarti aku juga bakalan kaya raya seperti dia, kalau bisnis ini berjalan lancar. Setelah itu semua ku dapatkan, aku hanya tinggal menyingkirkan Ellard," pikir Lilith tamak.


"Oh, iya. Lautnya sangat cantik, lho. Banyak terumbu karang, ada fasilitas untuk menyelam juga. Kalau mau berlayar juga bisa. Kalian bisa menyelam dan menggunakan kapal, kan?" pancing Arella.


"Em, aku ..."


"Ah, suamiku ini menguasai beragam olahraga. Mulai dari beladiri, golf, senorkling, diving dan berlayar juga bisa," balas Lilith dengan cepat.


Ellard memandang Lilith dengan tajam. "Apa yang kamu bilang?" bisiknya.


"Hati-hati kalau bicara. Kita belum tanda tangan kontrak, jadi harus pandai memikat hatinya. Bukankah tadi dia udah memberi peringatan, supaya kita bersikap baik?" bisik Lilith mengomeli suaminya. "Jadi jangan mengecewakannya sebelum kita menerima tanda tangan kontrak," ancam wanita itu.


"Hm, dasar pembohong."


Arella menyeringai lebar lalu tertawa kecil. Langkah kakinya melambat di tepi tebing karang yang dipagai oleh bunga almanda ungu. Ekor matanya melirik ke sampung, dan melihat Lilith yang sibuk mengomeli suaminya.


"Aku tahu kalau sejak kecil Ellard trauma dengan pantai dan lautan, karena ayahnya meninggal terseret ombak saat liburan. Ellard juga gak pandai berenang. Itu sebabnya aku membawa mereka ke sini," ucap Arella dalam hati. Dia sudah lelah mentertawai kebodohan kedua iblis itu.


Ting! Ting! Ting!


Arella mendadak menerima banyak pesan singkat dari Railo.


"Arella, ada masalah."


"Aku ada operasi enam jam lagi."


"Kita harus segera pulang sebelum malam."


"Hmm, baguslah. Aku nggak perlu berlama-lama membohongi mereka. Ku rasa ini sudah lebih dari cukup, buat meyakinkan mereka," ujar Arella dalam hati.


Dia lalu membalas pesan Railo. "Oke, rencananya kita ubah. Setelah ini aku akan membawa mereka ke ruang makan di lantai dua. Kita akhiri sandiwara ini di sana," tulisnya.


"Sepertinya sudah cukup kita menikmati suasana senja di sini. Kalian bisa melanjutkan bulan madu nanti malam sampai besok pagi."


Arella tersenyum begitu manis. Jemarinya yang lentik bergerak gemulai, menyelipkan rambut di sela telinganya.


"Ayo masuk. Kami sudah menyiapkan hidangan makan malam. Semoga kalian menyukainya," kata Arella lagi.


Mereka bertiga pun memasuki mansion dari tangga samping, lalu menuju ke sebuah ruangan yang lebih mirip balkon di lantai dua. Sebuah meja makan besar telah penuh dengan beragam hidangan seafood dan daging.


"Wow!"


Lilith kembali berdecak kagum, melihat keindahan yang terbentang di depannya. Suasana senja yang mereka lihat di bawah tadi, kembali terlihat di atas sini. Burung camar tampak beterbangan berlatarbelakang langit Jingga dan matahari terbenam.


Kapal-kapal para pelancong di sisi lain pantai itu, bagaikan lukisan siluet yang menghiasi lautan dengan ombak tenang. Sesekali juga terlihat kapal nelayan yang hendak berangkat ke laut.


"Kenapa kamu termenung di sana, Lilith? Ayo kemari. Hidangan lezat ini sudah tak sabar untuk segera di santap." Arella memanggil Lilith.


"Ah, i-iya. Maaf aku terpana melihat keindahan di atas sini. Matahari, langit dan lautnya berpadu sehingga membuat lukisan yang cantik. Udaranya juga sejuk dan segar, karena banyak pepohonan di sini."


Lilith membiarkan kulitnya yang putih pucat, terpapar sinar matahari senja yang merah keemasan. Wanita itu menghirup udara dalam-dalam, lalu melepaskannya perlahan.


"Beneran? Apa aku bisa melihat bintang di langit malam nanti?" tanya Lilith lagi.


"Bukan hanya bintang. Kalau lagi beruntung, kita juga bisa melihat galaksi dan beberapa planet dengan jelas," kata Arella.


Lilith kembali memandang laut dengan senyuman lebar. Hembusan udara dari laut membuat seluruh urat syarafnya rileks. Ketamakan di dalam hatinya pun semakin meningkat, ingin memiliki villa dan mansion seperti ini.


"Arella, memangnya kamar kami ada di mana?" bisik Ellard saat istrinya sedang lengah.


"Ada di lantai ini juga. Tepat di sebelah kamarku. Oh iya, aku sengaja menyiapkan kamar yang memiliki connecting door. Kamu tahu kan maksudku?" bisik Arella sambil mengedipkan sebelah matanya.


Connecting door adalah pintu yang menghubungkan dua kamar. Biasanya digunakan oleh orang tua yang memiliki anak kecil, jadi bisa dengan mudah memantau keadaan mereka.


"Tentu saja aku paham maksudmu. Nanti setelah Lilith tidur, aku akan pindah ke sebelah," balas Ellard dengan senyuman menggoda.


"Hal itu nggak akan terjadi. Karena beberapa menit lagi, aku akan membawa kalian pergi dari sini," ucap Arella dalam hati.


"Ah, Ellard. Gimana kalau kita tanda tangan kontrak dulu baru makan malam. Jadi kita bisa menikmati hidangan ini tanpa terburu-buru," usul Arella. "Yah, itu pun kalau kalian setuju melakukan kerja sama bisnis denganku."


"Hm, ide bagus. Aku juga belum terlalu lapar, karena tadi kita makan dulu sebelum pergi," ujar Ellard setuju. "Sayang, mari ke sini. Kita akan membahas ini dulu."


Pria itu melambaikan tangan pada istrinya yang masih asyik berfoto-foto dengan latar belakang laut, untuk segera mendekat.


"Dalam surat kontrak ini sudah tertulis semua nama bangunan atas nama Ellard."


Arella dibantu Railo yang baru saja datang, mengeluarkan berkas tebal dari dalam map. Mereka memisahkan berkas-berkas tersebut berdasarkan nama gedungnya.


"Jadi gedung yang berada dekat kantor gubernur dan pegunungan selatan, aku jadikan hotel dan ruang pertemuan, lalu gedung kecil di dekat apartemen aku jadikan toko kue milik Lilith serta tempat kursus kue. Lalu apartemen yang ada di luar kota, akan aku kelola kembali," jelas Arella.


"Semua syarat kerjasama, serta keuntungan yang akan kalian peroleh sudah ditulis dengan jelas di dalam kontrak itu," ujar Railo menambahkan.


"Ini ...?" Lilith menunjuk ke salah satu berkas yang telah tergores tinta biru.


"Oh iya, maaf. Karena terlalu bersemangat aku jadi lupa, dan tanda tangan duluan. Kalian nggak keberatan, kan?" kata Arella sambil tertawa kecil. "Kadang-kadang kalau udah kelelahan aku sering ceroboh," imbuhnya lagi.


"Oh, nggak apa-apa, kok. Tapi bolehkah aku membaca isi kontraknya dulu?" ujar Ellard. Tangannya mengambil sebuah berkas yang paling tebal dan hendak membacanya.


"Oh, boleh dong. Nanti kalau ada yang kurang pas, bisa kita perbaiki dan print ulang," jawab Arella dengan santai.


Duk! Lilith menendang kaki Ellard di bawah meja untuk memberi kode.


"Sayang, tim dari kantor Arella pasti sudah menyiapkan semuanya dengan baik. Jadi untuk apa kita membuang waktu untuk membacanya lagi?" kata Lilith dengan senyum kaku.


"Hei, kamu jangan membuat kesalahan dan menyebabkan suasana menjadi canggung, dong. Sejak awal kan dia bilang, untuk bersikap baik dan sopan," bisik Lilith di telinga Ellard.


"Hm, semakin menarik, nih. Sag wanita tamak udah gak sabar untuk menerima uang besar," tawa Arella dalam hati.


"Sini biar aku pindahkan dulu piring-piringnya, supaya kita bisa menandatangani kontrak dengan aman," kata Lilith.


"Jangan! Kamu duduk aja dengan tenang. Biar aku yang menggesernya." Railo bergerak cepat membantu Lilith memindahkan sebagian piring-piring di atas meja makan.


Lilith tersipu melihat sikap peka dari Railo. "Dia tampan, sih. Tapi sayang, cuma asisten saja," kata Lilith dalam hati. Wanita itu tidak tahu, jika sebenarnya Railo adalah seorang dokter dengan jabatan tinggi.


Beberapa saat kemudian.


"Nah, untuk merayakan penandatanganan kontrak ini, mari kita bersulang," kata Arella. Railo dengan cekatan menuangkan vodka ke gelas Arella dan kedua tamunya.


"Huh! Habislah kalian semua!" Arella tertawa puas telah berhasil menjalankan rencananya.


(Bersambung)