
Ellard termenung di rooftop sebuah mall. Matanya memandang ke depan dengan tatapan kosong. Setelah kepergian Nyonya Eleanor, dia sudah tidak memiliki apa-apa lagi.
Kini semuanya telah pergi. Ibunya, Anella yahg telah menjadi temannya selama dua puluh tahun, hingga ibu mertuanya. Bayangan antara ketiga orang itu hadir, membuat Ellaed tersenyum miris dalam tangisan pilu. Ellard telah melepaskan semua harta paling berharga, demi egonya menguasai harta.
Rrrr ... Layar HP-nya menyala. Sebuah nomor tidak dikenal meneleponnya.
"Ah, pasti para rentenir itu lagi," kata Ellard pasrah. Dia pun mengangkat telepon itu.
"Halo?"
"Halo, Ellard. Kenapa kamu tadi meneleponku sampai dua puluh kali? Apa ada masalah? Tadi aku lagi di dalam kapal menuju ke sebuah pulau." Setelah lima jam berlalu, akhirnya Arella menghubungi Ellard yang sudah hampir putus asa.
Ellard membelalakkan matanya, mendengar suara lembut wanita itu. Semangatnya yang telah sirna, mendadak terisi penuh.
"Ah, i-itu nggak ada, kok. Aku cuma heran, kenapa kamu mengubah rekening pemasukan uang hotel dan gedung di dekat kantor gubernur menjadi milikmu semua?" Ellard yang telah gusar, mengatakan semuanya pada Arella.
"Oh, aku agak kecewa, nih. Ku pikir kamu meneleponku karena kangen. Ternyata ada keperluan lain," jawab Anella dengan suara mende*sa*h manja.
"Em, Arella. Luruskan dulu masalah ini. Kamu nggak sengaja melakukannya, kan?" Ellard mendesak Arella untuk segera meluruskan masalah ini.
"Hmm, kenapa kamu takut gitu? Walaupun uang itu masuk ke rekeningku, tapi itu tetap milikmu juga, kan? Asal kamu tahu, kamu sudah memiliki hatiku," balas Arella.
Meski Ellard tak melihatnya, senyuman tipis terukir di bibir Arella. Dia merasa senang memainkan Ellard seperti ini. Sama seperti memiliki seekor anak anjing yang lucu dan bisa disuruh apa aja.
"Iya, aku percaya padamu, Arella. Tapi tidak dengan Lilith. Kalau dia sampai tahu, bisa-bisa bisnis kita nggak akan berjalan dengan lancar lagi," ucap Ellard.
Secara sengaja dia mendesak Arella untuk mengungkapkan alasan, kenapa rekening miliknya tetap kosong, setelah bisnis berjalan dua bulan.
"Ellard. Itu hanya proses sementara. Aku pun terpaksa melakukannya, karena ada sedikit masalah di perusahaan. Untuk menghindari hal itu, aku pun mengganti rekening penerima uang untuk sementara waktu," jelas Arella.
"Memangnya ada masalah apa? Ellard tidak percaya begitu aja.
"Izin dan beberapa hal lainnya terkait keuangan. Nanti kalau semua sudah normal, aku akan mengembalikan menjadi rekeningmu lagi," jawab Arella.
"Kamu janji, kan? Apa semua sudah tertera di dalam surat perjanjian kita?" Lagi-lagi Ellard menyelidiki Arella. Dia tidak mau lagi tertipu seperti sebelumnya.
"Kalau yang ini sih memang nggak ada dalam kontrak kerja kita. Tapi aku janji akan segera mengirimnya padamu," kata Arella menenangkan pria itu. "Tapi hal itu biasa dalam bisnis. Kamu jangan kayak pebisnis amatir gitu, deh," sambung Arella sambil terbahak.
"Beneran?" tanya Ellard lagi.
"Memangnya kapan aku bicara asal-asalan? Kamu bisa pegang ucapanku. Semua masalah keuangan akan selesai senin depan," kata Arella sambil tertawa kecil.
"Tapi kamu terlalu penakut untuk seorang pebisnis, deh. Jadi terlihat seperti anak mami yang gak pernah berbisnis. Padahal masalah seperti ini adalah hal biasa." Arella tertawa manja sambil menggoda pria itu.
"Hahaha, bukan begitu. Aku nggak khawatir, kok. Aku selalu percaya banget sama kamu. Aku cuma bingung, gimana cara menjelaskannya pada Lilith," kilah Ellard.
"Oh, iya. Renovasi gedungnya udah lama selesai, kan? Akhir-akhir ini kamu nggak mengirimkan laporan padaku," kata Arella lagi.
Ellard yang baru saja bernapas lega, kembali tertimpa beban ratusan ton. "O-oh, semuanya aman, kok," ucap Ellard. Tubuhnya yang gemetaran, mengucurkan keringat dingin sebesar bulir jagung.
"Wah, baguslah. Besok kirimkan videonya padaku, ya. Aku penasaran banget sama hasilnya, tapi belum bisa pulang," pinta Arella.
"O-oke. Besok aku kirimkan videonya," kata Ellard dengan napas tertahan. Kali ini dia nggak cuma berkeringat dingin, tapi malah hampir pipis di celana.
"Ya sudah kalau begitu. Selamat malam. Ah, selamat sore. Aku mau tidur dulu. Sampai jumpa besok." Arella lalu menutup teleponnya.
"Duh, aku harus gimana? Bentuk toko masih sama seperti dulu. Sedangkan semua uang yang dikasih Arella dan kupinjam dari rentenir sudah habis untuk berfoya-foya."
Ellard berpikir keras untuk segera keluar dari kemelut ini. Dia sama sekali nggak sadar, bahwa hidupnya dipermainkan oleh Arella.
"Kenapa harus aku sendirian yang memikirkan hal ini? Sementara Lilith hanya bersenang-senang tanpa membantuku sedikit pun. Padahal dia yang lebih banyak menghabiskan uang itu daripada aku," gumam Ellard kesal.
Sifat Lilith dan Anella memang sangat bertolak belakang. Jika Anella sangat santun, lembut dan pekerja keras, maka Lilith memiliki sifat kasar, boros dan malas bekerja.
"Sepertinya aku tahu, apa yang harus aku lakukan pada Lilith untuk memberinya pelajaran," kata Ellard kembali bersemangat.
Beberapa saat kemudian.
"Jadi gimana? Kapan kamu akan membayar angsurannya? Aku nggak mau melihat rekening kosong lagi," ucap Griffith ketika Ellard menemuinya.
"Kalian tenang saja. Senin depan akan aku bayar," jawab Ellard sambil memasang gayanya yang sombong dan arogan.
"Lalu kalian harus meminta maaf padaku, karena ucapan kalian kemarin yang mengataiku penipu," sambung Ellard lagi.
"Kami minta maaf, kalau ucapan kami membuatmu tersinggung. Tapi memang seperti itulah cara kami untuk bekerja. Lalu, kamu bilang akan membayar angsuran hutangmu minggu depan, kan? Kalau begitu, kita buat surat perjanjian baru.
"Oke. Siapa takut? Tapi ada beberapa hal yang harus kamu ganti lagi," kata Ellard. "Huh, habis kau Lilith," batin Ellard sambil tertawa dalam hati.
(Bersambung)