
Beberapa jam sebelum Ellard terbangun, bersama wanita cantik di sebuah apartemen mewah. Pembicaraan tentang bisnis berlangsung dengan lancar. Rencana semula yang hanya ingin berinvestasi toko kue dan baking class, akhirnya meluas ke bisnis perhotelan.
"Aku sudah pesan makan malam untuk kita. Kalian menyukai menu Asia, kan? Aku memesan soyu ramen, Thai red curry shrimp, ayam betutu serta es kopyor dan kue beras sebagai makanan penutupnya," ucap Arella.
Glek! Ellard menelan liurnya yang mengalir deras. Semua menu itu adalah makanan kesukaannya. Dulu Anella sering sekali memasak menu Asia, dengan bahan-bahan yang segar.
"Emm, Arela ..."
"Duh, maaf. Aku lupa nggak bertanya dulu. Kalian malam ini nggak ada acara, kan? Kalian nggak perlu memaksakan diri menemaniku, kalau memang sibuk," ucap Arella. Suaranya terdengar manja dan penuh harap.
"A-"
"Nggak ada, kok. Kami bebas malam ini." Ellard memotong kalimat Lilith dengan cepat. Bahkan sebelum wanita itu mengucapkan sebuah kata.
"Uh, gimana sih? Katanya dia malam ini mau menemaniku pergi spa. Kok malah membuang waktu sama cewek genit ini?"
Lilith menatap Arella dengan mata berapi-api. Andai saja ini adalah dunia anime, Arella pasti bisa melihat kobaran api di belakang punggung wanita selingkuhan Ellard itu.
"Ah, syukurlah. Pembicaraan bisnis kita cukup sampai di sini aja. Sekarang kita bincang-bincang santai." Arella menyelipkan rambutnya ke balik telinga. Anting mewahnya yang berhuaskan batu zamrud pun tampak mencolok di kulitnya yang cerah.
"Hahaha, memangnya apa yang ingin kamu bicarakan sama orang membosankan seperti kami? Pengalaman hidup kami pasti terdengar hambar, dibandingkan kamu."
Ellard berbicara dengan nada sangat lembut, sambil memperbaiki tatanan rambutnya dengan jari. "Ah, kalian terlalu merendah. Padahal setiap orang pasti memiliki cerita hidup yang menarik.
Arella menghentikan kalimatnya, saat seorang pelayan meletakkan sebotol tequila dan vermouth untuk menemani makan malam mereka.
Ellard pun dengan cekatan menuangkan tequila ke dalam gelas, lalu memberikan gelas pertama pada Arella. Tentu saja hal itu membuat hati Lilith semakin terbakar. Dia merasa bahwa Arella sengaja mencari perhatian pada Ellard.
"Ya ampun, anda baik sekali. Apa Anda memang orang yang sesopan ini?" Arella mengembangkan senyuman termanis di wajahnya, sambil menyambut gelas yang diberikan oleh Ellard.
"Ehm! Anda juga merasa begitu, rupanya? Jujur aja, sikap sopan santunnya ini yang membuatku jatuh hati padanya." Secara tersirat Lilith sengaja menunjukkan, kalau Ellard adalah miliknya dan tidak bisa diganggu lagi.
"Oh ya? Sudah berapa lama kalian menikah? Sejak awal aku melihat kalian mesra banget. Sangat serasi," puji Arella dengan wajah polosnya. "Yah, maksudnya sangat serasi dalam berbuat kejahatan," sambung Arella dalam hati.
"Sebenarnya kami ..."
"Itu ... Kami baru menikah beberapa bulan yang lalu. Tapi kami udah menjalin hubungan sejak tiga tahun yang lalu," jawab Lilith dengan cepat, sebelum Ellard menyelesaikan kalimatnya.
"Wah, luar biasa. Lama juga ya kalian berpacaran. Pantas aaja kalian terlihat serasi," ucap Arella dengan mata berbinar. Diam-diam tangannya merekam pembicaraan mereka. "Apa pakaian Ellard malam ini juga kamu yang memilihkannya?"
"Ya, tentu saja aku yang menyiapkannya. Memangnya kenapa? Apa ada yang aneh?" tanya Lilith pada Arella.
Arella hanya tersenyum simpul, sambil menyeruput tequila dari gelasnya. Lilith masih memandangi Arella tanpa berkedip, demi mendapatkan jawaban.
"Nggak ada yang aneh, kok. Menurutku perpaduannya juga sangat pas. Apalagi dasi dan kemejanya. Cocok untuk acara yang nggak terlalu formal kayak gini. Kamu pinter banget milihin outfit yang cocok untuk suami," puji Arella.
Lilith melirik ke arah Ellard. Dia baru menyadari, jika pria itu mengenakan dasi dan kemeja hadiah dari Anella, yang dulu sengaja diletakkan di toko untuk membuat istri sah Ellard tersebut cemburu.
"Ck! Kenapa dia pakai baju hadiah dari cewek sial itu, sih? Harusnya aku buang aja dari dulu," sesal Lilith dalam hati.
"Hm ... Tapi kalau dipikir-pikir lagi, jam tangannya kurang sesuai, deh. Modelnya seperti jam tangan mahasiswa semester awal," celetuk Arella tiba-tiba. "Sebenarnya sesuatu itu nggak perlu mahal dan bermerk, yang penting padu padannya sesuai," imbuhnya.
"Oh ya? Aku juga merasa gitu dari dulu. Warna hijaunya sedikit mengganggu. Tapi sayang juga kalau yang ini nggak pernah dipakai. Aku juga lupa ini dulu beli di mana," jawab Ellard. Matanya benar-benar berbinar. Dia merasa bahwa selera fashion Arella sama persis dengannya. "Dia punya selera fashion yang tinggi, sama seperti Anella dulu," batin Ellard.
"Apaan sih, wanita ini? Kenapa dia ngomentarin pakaian suamiku segala? Terutama jam tangan hadiah dariku." Darah Lilith semakin mendidih melihat sikap Arella yang sok akrab dengan Ellard.
"Apa aku udah jadi orang menyebalkan? Sekarang dia pasti merasa kesal, kan? Aku tahu jam tangan itu hadiah dari Lilith," batin Arella puas.
"Ah, maaf. Apa aku terlalu lancang karena berkomentar seperti itu? Tapi ini penting untuk pertemuan kita selanjutnya. Karena besok kita akan bertemu dengan para investor dari luar negeri. Kalian tahu, kan? Ada beberapa pengusaha yang melihat tampilan luar dulu sebelum bernegosiasi," kata Arella dengan kedua alis bertaut.
"Duh, gak perlu meminta maaf seperti itu. Nggak masalah, kok. Aku jugasenang menerima kritikan seperti itu, supaya bisnis kita lancar ke depannya," jawab Ellard dengan cepat. Dia nggak tahu, jika pipi Lilith telah menggelembung seperti ikan buntal, karena merasa kesal.
Beberapa pelayan meletakkan menu makan malam utama di meja. Obrolan mereka pun terhenti sementara. Aroma makanan yang menggoda membuat liur menetes.
"Sayang, gimana ini? Aku kan alergi dengan daging ayam boiler. Kulitku bisa gatal-gatal nanti," kata Lilith sengan manja. "Tadi aku sungkan mengatakannya, karena ini pertemuan awal kita. Tapi setelah ayamnya datang, aku mulai merasa mual," sambungnya.
"Hah, dasar pembohong! Jadi dia alergi karena gatal-gatal atau mual?" tawa Arella dalam hati.
"Jangan khawatir, Nyonya. Aku tahu beberapa orang ada yang alergi dengan ayam, makanya aku memilihnya dengan sangat hati-hati. Ini adalah ayam kampung yang dipelihara di pegunungan secara alami. Makanannya hanya biji-bijian," kata Arella.
"Tuh, nggak ada yang perlu kamu khawatirkan. Ayo bersikap profesional. Kalau kamu nggak bisa makan ayam, makanan lain kan masih ada," tegur Ellard.
Arella tersenyum licik pada Lilith, setelah melihat reaksi Ellard barusan. Tapi wanita itu tetap hati-hati pada pasangan tersebut.
"Ini baru permulaan, Lilith," batin Arella.
(Bersambung)