
Shelina dan yang lain sampai di beskem RAKGMATA. Sampai di dalam amarah Shelina meledak.
"Lo pasti tahu kan adek gue ada dimana?". Bentak Shelina sambil mencengkram kra baju Markus.
"Maksud Lo apaan!. Gila ya Lo. Udah dibantuin masih nudu orang. Nggak jelas Lo!". Markus balik membentak dan melepaskan tangan Shelina dari kra baju nya dengan kasar sambil berlalu pergi meninggalkan beskem RAKGMATA.
"Kus..., jangan pergi dulu. Lo mau kemana. Kita diskusikan ini dulu lah". Pinta Gron berusaha menghentikan Markus untuk tidak pergi. Tapi Markus tetap pergi.
"Siallll.....!". Teriak Shelina sambil menendang meja yang ada di depannya.
"Tenang Lin. Kita bakal cari adik Lo. Lo tenang dulu!". Pinta Tara.
"Lo sama Alaina kan!. Lo pasti tahu Alaina ada dimana!". Bentak Shelina pada Zilva.
"Gue nggak tahu Alaina dimana. Waktu itu, Alaina bilang perutnya sakit, jadi dia mau ke toilet bentar. Udah cukup lama Alaina di toilet, tapi nggak kembali-kembali. Akhirnya Markus inisiatif buat nyusul ke toilet. Ketika Korleo ingin ikut sama Markus, kata Markus, jangan barengan takutnya nanti orang curiga. Jadi kita nunggu aja. Tak lama setelah Markus susul Alaina, tiba-tiba di datang dengan wajah panik, dia bilang kalau Alaina nggak ada di toilet". Jelas Zilva.
"Ada yang aneh, berapa menit Markus pergi menjemput Alaina ke toilet?". Tanya Tara
"Sekitar 10 menit. Dan pas dia datang, dia seperti capek gitu sambil berkeringat. Katanya karena kelelahan mencari Alaina". Sambung Zilva.
"Sial!!! (Shelina memukul dinding). Bukti-bukti yang kalian bawa, kalian tarok dimana?. Gue mau lihat!". Pinta Shelina.
"Ada di tas Tara". Ucap Korleo.
Shelina langsung membongkar isi tas Tara. Mereka semua terkejut saat menemukan bukti sudah tidak ada di dalam tas.
"Mana buktinya?". Tanya Shelina.
"Tadi di sini (Korleo mengecek kembali). Kenapa tidak ada". Ujar Korleo bingung.
"Kalian gimana sih. Sekarang benar-benar jadi sia-sia apa yang kita lakukan!. Adek gue hilang, bukti pun hilang". Kesal Shelina.
"Tadi waktu gue pergi susul Shelina kedalam, siapa yang pegang tas gue?". Tanya Tara.
"Kita tidak terlalu perhatikan. Gue sibuk mengawasi CCTV di laptop". Ucap Gron.
"Seingat gue, tas Tara terletak di depan Markus. Jangan-jangan?". Ucap Korleo sambil menutup mulutnya dengan ekspresi tidak percaya.
"Bajingan tu orang!". Teriak Shelina sambil memukul dinding berkali-kali.
Tara dan yang lain menghentikan tindakan Shelina. Sekarang tangan gadis tomboi itu dilumuri darah. Gron segera mengambil kotak obat dan mengobatinya.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan. Bukti sudah tidak ada. Dan Alaina di tangkap. Apa yang harus kita lakukan!". Ucap Korleo dengan gelisah.
"Lapor ke mas Aslan aja. Kita jelasin bagaimana kronologis kejadiannya. Gue yakin mas Aslan pasti bisa bantu". Ucap Zilva.
"Lo gila..!. Kalau lapor ke mas gue, yang ada nanti dia bakal marah sama kita". Ucap Shelina nggak setuju sambil melepaskan tangan yang sedang di obati Gron. Gron bilang belum selesai. Tapi Shelina nggak mau lanjut untuk mengobati tangan nya lagi.
"Tapi apa yang dibilang Zilva ada benarnya Lin. Kita kali ini memang butuh bantuan dari polisi agar bisa menangkap Iraq beserta komplotannya dan membebaskan Alaina". Bujuk Tara.
"Mereka benar Lin. Kita pasti bantu Lo buat jelasin sama mas Aslan kok Lin". Timpal Gron berusaha meyakinkan Shelina.
"Oke. Gue setuju. Kita nggak punya banyak waktu. Gue telpon mas aslan dulu". Ucap Shelina sambil mulai menelpon masnya.
Mengetahui hal itu, Fixran langsung meminta anak buahnya untuk membawa wanita itu keruangan rahasia mereka.
"Siram gadis itu. Agar dia sadar. Cepat". Ucap Fixran dengan suara menggelegar karena amarah.
Anak buah Fixran melakukan perintah, ia menyiram Alaina dengan seember air. Akhirnya alaina bangun. Fixran mendekat ke tempat Shelina di ikat. Alaina yang melihat itu mulai takut dan gemetaran. "Kamu siapa?. Kenapa bisa di ikat di gudang rumah saya. Apa yang kamu lakukan?". Tanya Fixran dengan suara lembut di awal, meninggi di akhir kalimat.
"Sa...saya hanya seorang pelayan pak". Jawab Alaina sedikit gugup.
"Lalu siapa yang meningkat kamu?". Tanya Fixran Lagi.
"Saya tidak tahu pak. Waktu itu saya ke toilet buat buang air pak. Tapi pas bangun saya sudah disini pak". Jelas Alaina dengan suara yang sedikit tersengal-sengal.
Fixran bertanya pada setiap anak buahnya, siapa yang mengikat gadis itu. Salah satu anak buah Fixran baru datang, ia bilang dia yang menyikat gadis itu, karena ia curiga dengan gerak gerik gadis berkacamata itu, makanya dia ikat di gudang belakang rumah.
Fixran meminta anak buahnya untuk membebaskan Alaina. Menurut Fixran gadis itu memang benar hanya pelayan. Tapi ketika Anak buah Fixran ingin melepaskan ikatan Alaina, tiba-tiba ada seseorang yang menghentikan nya.
"Jangan coba-coba untuk melepaskan nya". Ucap seseorang yang baru datang.
"Iraq". Ucap Fixran sambil menghampiri sang putra.
"Apa maksud kamu nak?". Tanya Fixran pada sang putra.
"Wanita ini adalah anggota dari komplotan yang menyerang aku pa!". Tegas Iraq.
Fixran terkejut. "Bagaimana kamu bisa yakin kalau gadis ini terlibat?". Tanya Fixran.
"Bawa dia masuk". Ucap Iraq memerintahkan anak buahnya untuk membawa seseorang masuk.
Lelaki itu masuk dengan membawa sebuah tas bersamanya. Alaina kaget dengan siapa yang saat ini berdiri di hadapannya. "Kak Markus?. Apa yang dia lakukan disini". Batin Alaina. Markus pun kaget melihat kondisi Alaina yang sedang dalam keadaan terikat. "Ternyata mereka benar-benar menyekap Alaina". Batin Markus.
"Markus?". Ucap Fixran tidak menyangka.
"Iya om. Ini aku Markus putra dari adik om Erlangga Gunawanta". Ucap Markus sambil tersenyum.
"Ya ampun keponakan ku (memeluk Markus dengan bangga)".
Markus meminta waktu untuk berbicara bertiga dengan Fixran dan Iraq. Mereka pun pergi ke ruangan di sebelah tempat Alaina di sekap. Markus menjelaskan semuanya pada Fixran kalau teman-temannya sudah lama menyelidiki kasus terkait kematian salah satu temannya yaitu Raislan anak dari Syof musuh keluarga Gunawan. Dan waktu mereka mengetahui pelakunya adalah Iraq, saat itu juga Markus langsung menghubungi Iraq dan memberitahu Iraq semua yang teman-teman nya rencanakan. Termasuk rencana sekarang.
"Dimana bukti-bukti yang mereka dapat kan?. Udah kamu aman kan?". Tanya Fixran.
"Tenang aja pa. Sepupu aku yang satu ini, sudah memberikan semuanya. Dan aku langsung memusnahkannya. Jadi kita aman". Ucap Iraq sambil merangkul dengan bangga sepupunya itu.
"Ya sudah. Sekarang cepat kamu bereskan anak gadis Syof itu. Dia bisa jadi ancaman buat kasus kamu dan bahkan akan menambah kasus baru, jika polisi tahu kita menawan seseorang". Tegas Fixran.
"Tenang aja pa. Nanti aku pasti bereskan, tapi sebelum itu, kita mau main-main dulu dengan gadis cantik itu. Mubazir kalau di anggurin aja kayak gitu pa". Ucap Iraq sambil mengeluarkan lidahnya penuh nafsu.
"Terserah kamu. Pokoknya harus segera kamu selesaikan!". Ujar Fixran kemudian berlalu pergi.
Selama mereka berdiskusi, Alaina dijaga oleh beberapa anak buah Fixran. Gadis itu tampak gusar dan cemas dengan apa yang akan terjadi padanya. Tapi yang bisa ia lakukan sekarang hanya pasrah dan berdoa semoga segera ada yang membantunya.