
Setelah mereka mengetahui siapa pelakunya, tiba-tiba semua lampu di ruangan itu kelap kelip. Tubuh Zilva dihantam ke dinding dengan sangat kuat. Setelah kegaduhan itu, muncul seorang pria berambut gondrong dengan wajah seram dan pucat. Dan seorang wanita berambut panjang dengan mata nya copot sebelah. Kande dan konde datang untuk menuntut balas mereka.
"Lo nggak papa Zil". Ucap Gron sambil membantu Zilva berdiri. Zilva hanya mendesis kesakitan. Tangan kanan Zilva memar seperti bekas di genggam sangat kuat.
"Kalian semua cepat keluar dari ruangan ini. Masalah ini hanya gue dan Alaina yang bisa selesai kan". Ujar Tara.
"Nggak. Gue ikut disini". Bentak Shelina.
"Bahaya kak. Biar ini jadi urusan aku sama kak Tara aja ya kak. Kakak Lin keluar sekarang". Tegas Alaina.
"Nggak ai. Gue nggak bakalan tinggalin Lo sendiri disini". Tegas Shelina.
"Kalau kakak disini, nyawa kakak akan dalam bahaya kak. Kakak tidak bisa melihat mereka kak. Mereka bukan manusia!. Tegas Alaina untuk menyakinkan kakaknya.
Shelina tetap bersikeras untuk tetap tinggal diruangan itu. Sekarang hanya mereka bertiga yang ada dalam ruangan. Anak-anak yang lain menunggu di luar ruangan.
"Siapa sebenarnya kalian. Kenapa kalian mengganggu kami". Tanya Tara.
"Kau tak perlu ikut campur. Ini urusan ku dengan para pemain jahanam itu". Ucap Konde (Hantu pria gondrong dengan bekas luka bakar di sekujur tubuhnya) suaranya lantang dan menggelegar.
"Apa salah mereka sampai kalian mengganggu ketenangan mereka". Sambung Alaina.
"Kalian yang mengusik ketenangan kita lebih dulu!". Teriak Kande (Hantu perempuan berambut panjang matanya copot sebelah).
"Kami merasa tidak pernah mengusik ketenangan kalian. Apa yang kita lakukan sehingga kalian yakin kalau kita sudah mengganggu ketenangan kalian". Teriak Shelina sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah karena tidak bisa melihat Konde dan Kande. Shelina hanya bisa mendengarkan suaranya.
Mendengar perkataan Shelina Kande marah dan langsung mencekik leher Shelina sampai mengangkatnya tinggi. Alaina berteriak ketika melihat kakaknya di cekik. Ia berusa melepaskan paksa tangan Kande. Tapi tidak bisa, Kande terlalu kuat Alaina terbanting ke lantai. Sementara Tara berusaha melumpuhkan Konde. "Dasar manusia naif!. Kalian telah membuat ukiran dua orang dalam meja yang di tetesi darah itu hidup. Kalian telah memaksa kami untuk keluar dari dunia kami!. Sekarang kami akan membunuh kalian semua. Hihihiiiiiii". Ucap Kande sambil mencekik Shelina. Setelah selesai bicara ia kemudian membanting Shelina ke dinding.
*****
Aslan dan Aoura berjalan keluar kantor untuk jalan-jalan ketaman dan beli es krim buat si kecil.
"Mau kemana ndan?. Bukannya sekarang masih jam kerja ya ndan?". Tanya Fais.
"Ada perlu bentar. Kalian lanjut aja kerjanya. Bentar lagi udah jam istirahat. Saya ada keperluan bentar". Ucap Aslan datar kemudian berlalu pergi.
"Baik pak". Hormat semua anggota kepolisian yang ada dalam ruangan.
Aslan membantu Aoura untuk masuk dalam mobil. Setelah selesai Aslan melihat Alin mengendarai motornya keluar parkiran. "Detektif Alin (Alin menghentikan motornya dan menoleh ke arah Aslan). Mau kemana!. Sekarang masih jam kerja. Kembali masuk!". Tegas Aslan.
"Santai komandan. Kerjaan saya udah kelar. Bentar lagi juga udah jam istirahat. Komandan sendiri juga keluar waktu jam kerja". Ketus Alin. Kemudian kembali menjalankan motornya.
"Alin!". Teriak Aslan kemudian langsung buru-buru masuk mobilnya untuk mengejar Alin. "Kenapa si tu cewek!. Galak bangat. Apa lagi dapet". Grutu Aslan sambil mengendarai mobilnya.
"Ada apa om?. Kok om buru-buru?. Aoura takut om. Jangan bawa mobil ngebut om". Ucap Aoura sambil memasang wajah cemas.
Aslan lupa kalau ada Aoura di mobilnya. "Ya sayang. Maafin om ya. Om sekarang bawa mobilnya pelan". Ucap Aslan sambil tersenyum dan memelankan laju mobilnya.
"Om mau kejar kak Alin ya om?". Tanya Aoura tiba-tiba.
Aslan kaget dan sedikit merem mobilnya. Aoura pun ikutan terkejut. "Maaf sayang. Om kurang fokus".
"Hati-hati om. Kalau om lagi nggak fokus, nggak papa kita nggak usah jalan-jalan dulu hari ini om. Kita pulang aja". Ujar Aoura sambil tersenyum tipis.
Aoura kembali ceria dan duduk tenang hingga sampai taman. Mereka berdua keluar dari mobil. Aslan menemani Aoura beli es krim. Setelah beli es krim mereka duduk di bangku taman.
"Gimana sayang?. Aoura senang?". Ucap Aslan dengan lembut.
"Umm.... suka om. Enak". Jawab Aoura sambil menikmati es krimnya.
"Syukur la kalau Aoura senang". Ucap Aslan sambil mengelus rambut si kecil.
Aoura sibuk dengan aktifitas menjilati es krimnya. Sementara Aslan, sambil menunggu Aoura selesai makan es krim, ia mengedarkan pandangannya ke segala sisi taman. Tak sengaja ia melihat seseorang yang dikenalnya. "Alin!". Gumam Aslan dalam hati.
"Aoura sayang, (memegang kedua bahu Aoura). Aoura tunggu disini bentar ya sayang. Jangan kemana mana. Om mau samperin kak Alin dulu. Oke!". Ucap Aslan. Kemudian langsung cepat-cepat menyusul Alin. Aoura hanya mengangguk sambil terus menikmati es krimnya.
Aslan memanggil nama Alin sambil memegang bahu Alin. Alin kaget dan spontan membalikan tubuhnya ke arah Aslan.
"Komandan. Ada apa?. Kalau komandan mau marah-marah saya lagi nggak ada waktu. Sekarang lagi jam istirahat". Ketus Alin kemudian melangkah ingin pergi.
Aslan memegang tangan Alin untuk menghentikan langkah nya. "Saya bukan mau marah-marah. Saya mau bicara bentar sama kamu". Ujar Aslan.
Alin melepaskan pegangan tangan Aslan. "Ya sudah. Mau bicara apa!". Ketus Alin.
"Kita ngobrolnya duduk di bangku sebelah situ ya". Pinta aslan.
Mereka berdua duduk di bangku taman tepat di belakang bangku Aoura duduk.
"Al, maafin soal Aoura yang sudah mengerjai kamu ya". Ucap Aslan sambil duduk dan menatap ke arah Alin.
"Mengerjai? maksudnya?". Alin pura-pura tidak paham maksud perkataan Aslan.
"Maksud saya, tadi di kantor kamu ketemu dan bicara sama Aoura. Aoura bilang ke kamu kalau dia adalah....". Ucapan Aslan langsung di potong Alin.
"Anak kamu kan. Ya udah lah. Aku udah tahu. Jadi nggak usah di perjelas dan klarifikasi". Sangga Alin datar sambil memperlihatkan wajah betek nya.
"Ia itu benar, kalau Aoura anak aku, Tapi...". Ucapan Aslan di sangga Alin kembali.
"Udah deh Slan. Tapi tapi apa lagi. Saya sudah tahu. Jadi kamu nggak usah jelasin ulang. Saya mau pergi dulu ada urusan!". Ketus Alin sambil berdiri dari duduk nya.
Aslan menarik paksa tangan Alin untuk kembali duduk. "Tunggu dulu Al. Saya belum selesai jelasinnya sama kamu!". Tegas Aslan.
"Jelasin apa lagi si!. Lagian buat apa kamu jelasin semua itu sama aku. Mau kamu udah punya anak dan nikah, kamu nggak perlu jelasin sama saya. Kita cuman teman kerja jadi nggak usah nggak enakan dan harus kamu jelasin sama aku. Udah la Slan saya ada kegiatan lain. Jadi permisi". Ketus Alin.
Aslan berusaha menenangkan Alin. Pria itu menggenggam kedua tangan Alin. "Tapi buat saya, saya perlu jelasin dan lurusin semua kesalahpahaman ini sama kamu Al". Ucap aslan dengan nada lembut.
"Kasih saya satu alasan, kenapa harus kamu jelasin ini semua sama saya?". Alin berucap datar.
"Karena kamu bukan sekedar rekan kerja buah saya. Tapi kamu termasuk salah satu...,". Aslan menghentikan ucapan nya.
"Apa Aslan bakalan ungkapin perasaan nya sekarang sama gue". Suara hati Alin.
"Salah satu apa Slan?". Tanya Alin pelan.