Six Blood

Six Blood
41. Cerita Alaina


Alaina selesai mandi dan duduk di sofa dekat meja belajar yang di kamarnya bersama Zee. Alaina bertanya pada Zee tumben Zee pergi ke rumahnya sendirian. Biasanya kalau Alaina yang ajak baru Zee mau pergi. Kata Zee dia mau lihat keadaan Alaina. Berita Alaina sudah tersebar di kelayak ramai bahkan sosial media. Sosial media sudah meliput masalah yang menimpah anak bungsu dari Syof itu. Untuknya wartawan tidak ada yang berani mendatangi rumah keluarga Syof. Karena ada peraturan mutlak yang dibuat Syof. Kalau ada berita atau masalah apa pun tidak ada satu pun dari wartawan yang boleh mendatangi rumah kediaman Syof. Pasalnya jika ada wartawan yang nekat, maka ia akan berujung masuk penjara. Syof telah membuat peraturan itu dan sudah di setuju oleh kejaksaan. Jangan heran jika mudah saja bagi keluarga syof membuat peraturan, orang kaya dan berkuasa ma bebas. Selagi kamu masih berkuasa maka hukum di Negara mu tak kan bisa berkutik untuk menghukum mu. Wartawan hanya pergi meliput ke kantor polisi, di samping kantor memang pusat untuk mengurus banyak kasus, mereka juga jadi bisa mewawancarai salah satu anak Syof yang bekerja di kepolisian yaitu Aslan Syof, yang berpangkat komandan kepolisian Jawa Barat. Peraturan yang dibuat Syof hanya berlaku di rumah kediaman Syof, tetapi tidak diluar rumah. Syof membuat peraturan itu hanya tidak ingin mengganggu ketenangan dia dan keluarganya jika berada di rumah.


"Ai. Kamu bisa suka sama Iksan itu kenapa ai?". Tanya Zee yang tiba-tiba kepo.


"Hmm (berpikir sejenak). Ya karena suka aja. Dia baik, tampan dan pintar. Iksan itu ketua Osis waktu di SMP dulu. Ia memang populer dan disukai kalangan gadis yang satu sekolah dengannya". Ucap Alaina santai. Alaina masih tidak menyangka Iksan bisa se sadis itu. Alaina Kembali mengingat masa waktu SMP.


"Dan salah satu dari gadis itu termasuk lo?". Timpal Zee.


"Iya". Jawab Alaina datar.


"Ya ampun. Berarti hanya karena dia terlihat di mata banyak orang baik, ganteng dan populer, lo jadi ikut suka sama dia?". Gumam Zee.


"Iya. Tapi waktu di SMP dia benar-benar baik Zee. Nggak tahu kenapa sekarang Iksan bisa jadi berubah. Dulu dia nggak pemarah sedikit pun. Mala dia orangnya pemaaf dan penyabar". Tutur Alaina masih mengagumi Iksan yang dulu. "Lo tahu dari mana kalau Iksan itu aslinya baik?". Sela Zee.


"Aku lihat sendiri segala aktifitas dan tindakan yang sering dia lakukan. Aku selalu membuntuti dia secara diam-diam tanpa dia tahu".


"Lo emang polos atau begok si ai. Segala yang lo lihat itu belum tentu itu sifat asli dari orang itu, bisa jadi dia waktu itu hanya menjaga nama baiknya di sekolah. Siapa tahu di luar dia menjadi orang yang berbeda". Ketus Zee.


"Kok lo mala ngatain aku si. Aku yakin apa yang di tampilkan Iksan waktu di masa SMP itu benar-benar sifat aslinya. Aku udah lama nggak berhubungan dengan dia, bisa jadi, sesuatu sudah terjadi dalam hidupnya, dan kejadian itu bikin dia tertekan dan keguncang mentalnya. Aku yakin. Kemaren waktu di puncak, Iksan nggak berniat buat nyelakain aku kok, hanya saja dia seperti menjadi pribadi yang berbeda, waktu aku singgung terkait orang tua. Dia langsung seperti orang pusing, memukul kepalanya beberapa kali buat menghalau sesuatu dari pikirannya. Setelah itu dia baru tidak bisa mengendalikan amarahnya. Aku bisa lihat malam itu pancaran dari mata nya yang terlihat amarah bercampur dengan kesedihan di sertai trauma yang datang secara bersamaan".


"Setelah apa yang dia lakukan samo lo malam itu di puncak, dia hampir merenggut ke virginan lo, bahkan nyawa lo dan kakak lo hampir lenyap dari hidup lo, masih bisa berpikir positif tentang orang itu. Heran gue. Memang cewek langkah lo ai. Sebaik dan sepositif itu dalam menanggapi sesuatu, bahkan itu masalah besar sekali pun. Kalau gue jadi lo mungkin udah marah bangat sama dia, dan bahkan bisa stress atau trauma mungkin". Oceh Zee dengan ekspresi tidak percaya dan nggak habis pikir dengan pemikiran gadis yang di depannya itu, yang baru menjadi temannya beberapa bulan lalu waktu awal masuk sekolah.


"Ya..., karena aku selalu berpemikiran, setiap masalah yang datang dalam hidup itu, adalah sebuah anugrah dan pembelajaran berharga bagi aku untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi dan selalu bersyukur. Kan lo udah tahu juga, kalau aku benci bangat yang namanya perselisihan. Aku sangat menjunjung tinggi prinsip perdamaian, ya walaupun aku yang sering mengalah untuk bisa membuat perdamaian itu kembali utuh dan membaik. Tapi untuk kejahatan yang jika melibatkan atau membahayakan banyak nyawa, soal yang satu itu aku nggak bisa toleransi. Aku akan bantu mencari tahu dan memberikan solusi yang terbaik agar bisa meredakan suatu masalah itu". Jelas Alaina.


"Gue no komen lagi soal itu. Salut si gue dengan pemikiran lo. Soal yang berkaitan dengan nyawa orang banyak itu, maksud lo siapa? Buk zian?". Tanya Zee penasaran.


"You're right. Ada yang aneh dengan sekolah dan dengan pergerakan buk Zian itu. Kamu ingat nggak waktu itu aku minta tolong sama kamu buat urus surat izin sakit aku di sekolah". Menatap Zee.


"Iya gue ingat. Emang lo sakit kemaren ada kaitannya sama buk zian atau sekolah?". Tanya Zee.


"Aku belum cerita masalah ini dengan siapa pun. Yang tahu masalah ini hanya aku dan Rakha".


"Rakha?. Emang kamu tahu sesuatu tentang apa?" Tanya Zee penasaran.


"Aneh juga dia. Jadi lo lihat apa?. Sampai lo jatuh sakit gitu". Ujar Zee.


"Kamu rahasiakan ini semua ya. Janji dulu!". Pinta Alaina.


"Ya. Janji. Dah cerita gue penasaran". Ucap Zee.


Alaina menceritakan semua yang dia alami sore itu pada Zee. Zee terkejut dan nggak percaya apa yang ada disekolah itu, apa penyebabnya, dan siapa pelaku nya serta mayat siapa itu. Zee jadi ikut penasaran, ya walaupun ia takut juga.


"Lo gila ya ai. Nekat bangat. Kalau buk Zian tahu lo diam-diam menyelinap masuk ruangan itu gimana?. Bisa aja nanti nyawa lo lagi jadi taruhannya". Ucap Zee.


"Ya aku nggak sengaja juga Zee. Pokoknya aku harus selidiki kasus ini (meski nyawa lo jadi taruhannya?" Sela Zee").


"Soal itu nanti aja pikirin Zee. Aku pasti bakal baik-baik aja kok". Ucap Alaina dengan percaya diri.


"Tapi itu bahaya lo ai. Kita nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi di sekolah itu, dan kita masih baru juga. Lo urungkan aja niat lo tu ya ai!. Sayang dikit napa sama nyawa lo ai. Jangan mikirin orang mulu ai". Saran Zee.


"Justru karena kita masih baru, kita harus cari tahu hal yang aneh dari sekolah itu Zee".


"Serah lo aja deh ai. Gue nggak ikut ya. Gue masih sayang sama nyawa gue".


"Ya udah. Aku tetap harus selidiki masalah ini!". Ucap Alaina.


"Ya udah kalau lo tetap ngotot. Saran gue lo harus lebih berhati-hati ai. Dan buat rencana dulu, baru bertindak".


"Ya Zee. Thanks".


"Kalau gitu gue pulang dulu ya ai. Udah kesorean kayaknya ni". Ujar Zee.


"Oke. Makasih ya udah jenguk aku dan mau dengerin cerita aku". Ucap Alaina.


"Ya sama-sama. Gue pulang dulu. Bye". Sambil melambaikan tangan ke Alaina dan melangkah pergi meninggalkan kamar Alaina.