Six Blood

Six Blood
30. Teror


Pagi ini mereka semua sudah kembali beraktifitas seperti biasa. Karena tidak ingin larut dalam kesedihan.


Hari ini merupakan hari pertama Alaina sekolah. Ia lulus pada pendaftaran sekolah yang dia inginkan waktu itu. "Udah siap dik?". Tanya Aslan.


"Udah ni mas". Jawab Alaina.


"Yok berangkat". Ajak Aslan.


"Maaf mas. Kali ini, Aina boleh berangkat sendiri nggak mas?" Pinta Alaina.


"Lo kenapa?" Tanya Aslan.


"Ya nggak papa mas. Nanti mas telat lagi Lo ke kantornya. Kata mas hari ini ada kasus penting yang harus mas selesaikan". Ucap Alaina.


"Ya iya. Tapi nggak papa mas yang antar. Kita searah juga kok". Jawab Aslan.


"Izin pergi sendiri kali ini ya mas. Please!!". Bujuk Alaina.


"Ya udah. Tapi hati-hati ya. Kalau ada apa-apa kabari mas". Ucap Aslan.


"Oke mas. makasih mas". Ucap Alaina.


Farhan dan Prisli keluar dari kamarnya dengan membawa koper. "Aslan dan Aina. Mas dan mbak balik ke Bali lagi ya". Ucap Farhan.


"Masa cuti kita udh habis". Sambung Prisli sambil tersenyum.


"Ya mas. Hati-hati ya mbak, mas". Ucap Aslan.


"Kabarin kalau nanti udah sampai ya mas, kak". Ucap Alaina sambil menyalami tangan mas dan mbaknya.


Farhan dan Prisli berlalu pergi dengan mobilnya menuju bandara di antar supir.


"Kakak kamu mana dik?". Tanya Aslan.


"Ada di kamarnya mas. Tadi udah Aina bangunin buat ke kampus". Ucap Alaina.


"Ya udah. Mas pergi dulu ya. Janji jangan bandel ya di sekolah. Kalau kamu nakal, nanti masih pindahin sekolahnya". Ucap Aslan.


"Sip bos". Sambil memberikan penghormatan pada bapak polisi satu itu dengan tertawa kecil.


Aslan berlalu meninggalkan rumah. Alaina juga ingin pergi sekolah. Ketika ia menuju gerbang rumah, Shelina memanggilnya dari jauh. "Alaina...!". Panggil Shelina sambil berjalan menghampiri Alaina.


"Ya ada apa kak?" Jawab Alaina.


"Lo bareng gue aja ya!". Ujar Shelina sambil menarik Alaina ke arah mobilnya.


"Ta..pi...," Ucap Alaina sambil berusaha menghentikan langka kakaknya itu.


"Tapi apa lagi Aina!" Tanya Shelina.


"Aku udah ada janji kak". Jawab Alaina.


"Janji sama siapa?" Ujar Shelina lagi.


"Te...man". Jawab Alaina sedikit gugup.


"Mana teman Lo?. Kok belum datang juga. Nanti Lo telat. Di hari pertama sekolah lagi". Ucap Shelina.


"Bentar lagi datang kak". Jawab Alaina.


"Ya udah terserah lo. Gue juga udah telat ini. Tapi Lo pergi beneran sama teman kan?". Tanya Shelina dengan mata sedikit melotot.


"Iya kak. Udah duluan aja dulu". Pinta adik bontotnya itu.


"Oke" Ujar Shelina sambil menghidupkan mobilnya dan berlalu pergi.


Alaina menarik napas lega. Dia berjalan ke luar gerbang. "Akhirnya yang di tunggu datang juga". Gumam Alaina.


"Maaf ya. aku telat". Ucap Iksan.


"Nggak papa. Ayok jalan. Aku udah telat". Alaina naik di motor Iksan. Iksan mengendarai motornya. Alaina cemas kalau dia terlambat. "Kamu pegangan. Aku bakal ngebut". Pinta Iksan.


"Ya". Alaina memeluk erat pinggang Iksan agar tidak terjatuh.


"Kita udah sampai". Ujar Iksan.


Alaina turun dan ingin langsung bergegas masuk. Karena halaman sekolah udah sepi. itu tandanya upacara udah selesai. Alaina telat bangat, dia dalam bahaya besar. "Bentar honey". Panggil Iksan sambil menahan tangan Alaina.


"Ada yang ketinggalan san?". Tanya Alaina.


"Ada". Iksan menunjuk pipinya.


Alaina mencium pipi Iksan. "Udah kan?. Aku pergi dulu. Udah telat bangat. Daa...". Ucap Alaina sambil melambaikan tangan dan pergi meninggalkan Iksan. Iksan membalas lambaian tangan Alaina sambil tersenyum kemudian berlalu meninggalkan sekolah Alaina.


Alaina perlahan menuju ruang kelas. "Permisi buk. Maaf saya terlambat buk". Ucap Alaina. Buk Zalin tidak membalas ucapan Alaina. Ia hanya memberikan gerakan mata untuk Alaina segera duduk. Setelah Alaina duduk, baru buk Zalin bicara.


Buk Zalin terkenal di sekolah itu sebagai guru killer. Ia akan sangat marah bila ada murid yang tidak menaati aturannya. Bahkan tidak akan ragu untuk memberikan hukuman berat dan kadang tidak masuk akal pada murid yang melanggar aturan. Para murid menjawab serempak. "Baik buk". Buk Zalin menatap tajam ke arah Alaina. Alaina menundukkan pandangannya.


****


Faleon dari semalam tidak pulang ke rumah. Dia pergi ke klab. Buat hilangin beban pikirannya. Sekarang ia tengah tidur di hotel dengan seorang gadis. Faleon bangun dan siap-siap mau pulang. Ada yang mau di urus nya. Dia harus menemui tim game untuk minta penjelasan dari mereka. Faleon berlalu pergi meninggalkan wanita itu sendirian di kasur. Mungkin wanita itu wanita malam yang sengaja dibayarnya tadi malam buat menemaninya.


***


Shelina sudah masuk jam istirahat. Ia pergi ke toilet kampus untuk cuci muka. Karena iya merasa masih mengantuk. Ketika sedang mencuci muka, Shelina ingin melihat dirinya di cermin toilet. Tiba-tiba Shelina terkejut. Dengan tulisan yang ada di kaca.


"Hi. You Remember Me?. I am Comeback!".


Shelina kaget. Dan langsung pergi meninggalkan toilet. Shelina duduk di taman. "Anjirrt. Siapa yang berani teror gue. Awas aja kalau gue tahu. Habis tu orang". Ucap Shelina kesal disertai cemas".


***


Bel untuk jam istirahat berbunyi. Alaina meninggalkan kelas menuju kantin sekolah. Sekarang Alaina lagi sarapan di kantin sekolah. Sambil sarapan, Alaina melirik kiri kanan. "Sepi bangat ini kantin. Muridnya pada jajan kemana?". Grutu Alaina dalam kesendirian di kantin.


Tiba-tiba ada yang balas ucapan Alaina. "Lo jangan heran. Disini udah biasa kayak gitu". Ucap seorang pria yang datang menghampiri Alaina.


"Kak Deflon". Ucap Alaina dengan ekspresi sedikit kaget.


"Hi. Apa kabar?". Ternyata ingatan Lo kuat juga ya". Ucap Deflon dengan tersenyum.


"Kan belum lama juga kita ketemu waktu itu kak. Ya ingat lah". Jawab Alaina santai sambil kembali menyedot minumannya.


"Lo ngapain, sendirian di kantin?. Masih belum punya teman?". Ujar Deflon sambil duduk di bangku depan Alaina.


"Belum". Gumam Alaina.


"Mau gue temenin?". Goda Deflon sambil mengedipkan satu matanya pada Alaina. Alaina merasa agak risi dengan keberadaan Deflon.


"By the way gue belum sempat tahu nama Lo waktu itu. Nama Lo siapa?". Tanya Deflon.


"Alaina kak".


"Oo Alaina. Nice". Ucap Deflon.


"Lo nggak penasaran apa?. Kenapa kantin ini sepi pengunjung?". Sambung Deflon.


"Penasaran si sebenarnya. Emang kenapa sepi kak?". Tanya Alaina.


Deflon tertawa dan membungkukkan badannya ke arah Alaina. Alaina sedikit bergerak mundur. "Kamu yakin pengen tahu?. Kalau Lo udah tahu, jangan kaget ya ntar". Deflon kembali duduk ke posisi awal.


Alaina ragu-ragu ingin tahu atau tidak. Tapi rasa penasarannya lebih besar dibandingkan rasa takutnya. "Kenapa emangnya kak?". Tanya gadis itu dengan wajah butuh jawaban.


"Murid disini, punya kantinnya sendiri buat makan". Ucap Deflon santai.


"Semacam kantin khusus gitu kak?. Dimana kantinnya?". Tanya Alaina penasaran.


"Ya, di kantin lantai paling atas lah". Ucap Deflon sambil tertawa lagi.


"Di atas ada kantin lagi kak?". Tanya Alaina lagi dengan wajah polos.


"Ya ada lah. Kan sekolah ini besar. Makanya disini sepi karena yang lain udah biasa makan di kantin atas. Di kantin ini, palingan ya anak baru kayak Lo doang yang belanja di sini. Dulu waktu awal-awal gue juga gitu. Setelah tahu ada kantin yang lebih kece, ya gue pindah". Jelas Deflon.


Alaina sebenarnya masih bingung. Tapi ia tidak ingin tahu lebih jauh tentang sekolah yang menurut nya aneh. Ia mengalihkan pembicaraan. "Terus, kakak kenapa bisa ada di sini?". Tanya Alaina.


"Ya karena aku tahu, kalau anak baru bakalan makan disini". Ucap Deflon sambil tersenyum ke arah Alaina.


"Oo gitu. Ya udah kak. Aku masuk kelas dulu. Udah bel". Ucap Alaina sambil sedikit memaksakan tersenyum.


"Oke. Gue antar". Pinta Deflon. Alaina hanya pasrah. Dan dia biarkan Deflon mengantarnya. "Kamu kenapa sekolah disini?". Tanya Deflon sambil berjalan.


"Karena murid disini banyak yang sukses". Jawab Alaina santai.


"Oo cuman karena itu aja?". Deflon kembali melontarkan pertanyaan.


"Iya. Emangnya kenapa kak?". Tanya Alaina.


"Nggak papa. Aku pengen tahu aja". Gumam Deflon.


"Kalau kakak kenapa sekolah di sini?". Alaina melempar pertanyaan.


"Simpel si sebenarnya. Ya hanya karena nggak ada kegiatan". Ujar Deflon dengan santai.


Alaina bingung dan merasa aneh dengan mahluk satu itu. Alaina tidak mau bertanya lagi. Dari pada nanti tambah ribet urusannya.


"Kamu nggak pengen bertanya apa alasannya?". Alaina hanya menggeleng dan mengangkat bahunya. Alaina sudah sampai di kelas. "Aku masuk dulu kak. Makasih". Ucap Alaina sambil berjalan masuk kelas.


"Oke. Sama-sama". Berlalu pergi meninggalkan kelas Alaina.